Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. SWOT di Kandang
Sebuah pensil tumpul dan robekan kertas semen menjadi senjata pertamanya malam ini.
Saskia duduk bersila di atas jerami kering. Punggungnya menyandar ke tiang kayu kandang yang sudah lapuk, tapi masih cukup kokoh untuk menopang tubuh ringkihnya. Di sebelah kirinya, Si Belang tidur dengan tenang. Nafasnya teratur, perutnya naik turun dengan ritme yang stabil. Di sudut lain, dua Limosin tua, Ndut dan satu lagi yang belum sempat ia beri nama, berdiri berdekatan.
Lampu minyak tanah di dekat palung kayu berkelip-kelip, nyala apinya kecil dan tidak stabil. Tapi cukup untuk menerangi kertas semen bekas yang ia bentangkan di atas pahanya.
"Oke," gumam Saskia pada dirinya sendiri. "Kau dokter hewan, bukan konsultan bisnis. Tapi kau bisa berpikir. Kau bisa menganalisa."
Pensil tumpul itu mulai bergerak.
Di sudut kiri atas kertas, ia menulis dengan huruf kapital yang sedikit miring karena ujung pensilnya tidak runcing: SWOT.
"Strengths. Kekuatan."
Pensilnya mengetuk-ngetuk kertas. Ia menoleh ke arah Si Belang. Sapi itu masih tidur, bulunya yang tadinya mengelupas sekarang sudah mengering. Keropeng coklat kehitaman menutupi bekas-bekas lukanya.
"Aku punya ilmu kedokteran hewan modern. Dua belas tahun pengalaman riset, penanganan wabah, dan praktik lapangan. Itu aset yang tidak dimiliki peternak manapun di desa ini."
Pensilnya mulai menulis.
"Kedua: Air Suci."
Ia berhenti sejenak. Jemarinya menyentuh bawah hidungnya sendiri. Darah sudah berhenti mengalir, tapi sisa-sisa keringnya masih terasa lengket di antara hidung dan bibir. Efek samping yang harus ia bayar setiap kali menggunakan air itu.
"Air Suci bisa menyembuhkan ternak yang hampir mati. Tapi ada harga yang harus dibayar. Energi vital. Darah. Sesuatu yang lebih fundamental. Aku harus menghitung dosisnya dengan tepat. Tidak boleh sembarangan."
Itu dua kekuatan utama. Cukup untuk memulai.
"Weaknesses. Kelemahan."
Yang ini lebih mudah ditulis. Terlalu mudah.
"Pertama: tubuh ini. Anemia kronis. Fisik lemah. Mudah pingsan. Tidak bisa kerja berat lebih dari dua jam tanpa istirahat."
Ia menatap lengannya sendiri yang kurus. Pembuluh darah kebiruan masih tembus jelas di bawah kulit pucat.
"Kedua: modal nol. Tabungan kosong. Utang koperasi 78 juta. Tanah terancam disita."
"Ketiga: kerabat toksik. Bibi Laras dan Paman Harto. Mereka akan jadi penghalang. Selama dua tahun mereka menguras hasil panen tanpa perlawanan. Mereka tidak akan berhenti dengan sukarela."
Pensilnya bergerak lebih cepat sekarang.
"Opportunities. Peluang."
Saskia mengangkat wajahnya dari kertas. Matanya menatap langit-langit kandang yang retak. Cahaya lampu minyak membuat bayangan-bayangan aneh di genting tanah liat.
"Pasar daging premium Indonesia."
Ia ingat data yang pernah ia baca di jurnal peternakan sebelum meninggal. Data itu tersimpan rapi di kepalanya, seperti kebanyakan data riset yang pernah ia teliti.
"Kebutuhan daging sapi nasional: 700 ribu ton per tahun. Produksi lokal: hanya 400 ribu ton. Defisit 300 ribu ton harus impor. Itu hampir setengah kebutuhan."
Pensilnya mulai menulis lagi, kali ini lebih cepat. Tulisan-tulisannya miring dan tidak rapi, tapi ia tidak peduli.
"Segmentasi premium: restoran fine dining, hotel bintang lima, Japanese steakhouse, dan specialty butcher. Pasar ini bergantung 90% pada impor. Daging Wagyu dari Jepang, Angus dari Australia. Harga per kilogram bisa mencapai 1,5 juta sampai 3 juta rupiah."
"Celah: tidak ada produsen lokal yang konsisten menyuplai Wagyu kualitas premium. Semua pemain besar masih bergantung pada impor. Kalau aku bisa memproduksi Wagyu lokal dengan kualitas setara atau mendekati impor, aku bisa memotong rantai pasok dan menawarkan harga lebih kompetitif."
Ia berhenti menulis. Nafasnya sedikit memburu. Kegembiraan intelektual mengalir di pembuluh darahnya, dan itu hampir melupakan rasa lapar yang masih menggerogoti perutnya.
"Target: bibit Wagyu Fullblood. Bukan persilangan. Bukan F1. Fullblood. DNA murni dari Japanese Black. Itu kuncinya."
Tapi bibit Wagyu Fullblood harganya puluhan juta per ekor. Itu baru satu ekor. Untuk memulai breeding program yang serius, ia butuh minimal tiga ekor betina dan satu pejantan. Atau setidaknya, satu betina dan akses ke semen beku pejantan unggul.
"Itu hampir dua ratus juta," bisiknya. "Dari mana?"
Pensilnya pindah ke kotak terakhir.
"Threats. Ancaman."
"Pertama: Bibi Laras dan Paman Harto. Mereka tidak akan tinggal diam kalau melihat perubahan di peternakan ini. Begitu mereka tahu sapi-sapi ini punya nilai ekonomi, mereka akan mencoba mengambil alih."
"Kedua: koperasi. Utang jatuh tempo. Tanah bisa disita kapan saja."
"Ketiga: kompetitor. Begitu aku mulai memproduksi Wagyu, pemain besar akan melihat. Mereka punya modal, koneksi, dan kekuatan pasar yang tidak bisa aku lawan sendirian."
Saskia meletakkan pensilnya. Matanya menatap kertas SWOT yang sudah penuh dengan tulisan miring dan coretan-coretan kecil.
Ia tidak punya modal. Tidak punya koneksi. Tidak punya kekuatan fisik. Yang ia punya hanyalah ilmu di kepalanya, Air Suci di ruang spasialnya, dan tiga ekor sapi yang dua di antaranya masih sekarat.
Tapi ia juga punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: perspektif seorang dokter hewan modern yang terjebak di tubuh gadis desa. Ia tahu apa yang salah dengan industri peternakan Indonesia. Ia tahu celah di pasar premium. Ia tahu cara menangani penyakit ternak yang tidak diketahui peternak lokal.
Dan yang paling penting: ia sudah mati sekali.
Tidak ada yang lebih buruk dari kematian.
Saskia melipat kertas SWOT itu dan menyelipkannya ke balik kain jaritnya. Lalu ia bangkit, memegang tiang kayu untuk menjaga keseimbangan.
"Modal," gumamnya. "Aku perlu modal."
Kakinya melangkah keluar kandang. Udara malam Malang Selatan yang dingin langsung menyambutnya. Bulan sabit menggantung di langit, memberikan cukup cahaya untuk melihat jalan setapak menuju rumah.
Rumah itu lebih mirip gubuk. Dinding anyaman bambu yang sudah menghitam. Atap genting yang bolong di beberapa bagian. Pintu depan yang engselnya sudah berkarat dan berderit setiap kali dibuka.
Saskia masuk. Ruang tamu kecil dengan meja kayu yang sudah reyot. Dapur di sudut dengan tungku tanah liat. Dan kamar tidur di bagian belakang.
Kamar tidur Saskia Utami.
Ia belum pernah masuk ke kamar ini sejak terbangun di tubuh ini. Tapi memorinya tahu persis di mana semuanya. Tempat tidur kayu dengan kasur kapuk yang sudah tipis. Lemari pakaian kecil dengan cermin retak. Dan di bawah lantai papan dekat kaki tempat tidur...
Saskia berlutut. Jemarinya meraba celah di antara dua papan lantai. Kukunya yang pendek dan kotor menyelip di celah itu, lalu mengangkat salah satu papan yang longgar.
Di bawahnya, terbungkus kain batik lusuh, ada sebuah kotak kayu kecil.
Saskia membukanya.
Di dalamnya, berkilau diterpa cahaya bulan yang masuk dari jendela, ada seperangkat perhiasan emas. Kalung. Gelang. Anting. Cincin. Semuanya emas kuning dengan desain tradisional Jawa. Tidak terlalu berat. Mungkin total dua puluh gram, dua puluh lima gram.
Perhiasan ibunya. Satu-satunya warisan yang tidak berhasil dijarah Bibi Laras.
Memori Saskia Utami berbisik di kepalanya: ibunya menyembunyikan perhiasan ini sebelum meninggal, berpesan agar hanya dijual dalam keadaan darurat yang benar-benar darurat.
"Ini darurat, Bu," bisik Saskia. "Ini darurat."
Ia menutup kotak itu dan menyelipkannya kembali ke bawah lantai. Lalu ia berdiri dan berjalan ke jendela.
Dari balik jendela, ia bisa melihat pagar bambu yang membatasi tanahnya dengan jalan desa. Dan di sana, berdiri dengan tangan bertolak pinggang, Bibi Laras menatap ke arah rumah.
Matanya menyipit. Menghitung. Menduga-duga.
Saskia menatap balik tanpa berkedip.
Silakan menghitung, Bibi. Kalian menghitung salah.
Dari balik jendela, mata serakah Bibi Laras terus mengawasi. Silakan menghitung, bibi, kalian menghitung salah.