"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
"Paksu, kalau kancingnya lepas satu karena dada Paksu terlalu bidang, Tante Amara bakal marah besar nggak ya?"
Suara tawa renyah Calla memecah keheningan di dalam ruang ganti butik pengantin premium yang bernuansa putih gading itu. Calla berdiri di depan cermin besar, masih mengenakan gaun kebaya brokat modern panjang berwarna putih tulang yang pas di tubuh mungilnya. Matanya melirik jenaka ke arah tirai pembatas di sebelahnya, tempat Alaric sedang bersiap.
Tirai beludru abu-abu itu perlahan bergeser, menampilkan sosok Alaric Vance yang sudah mengenakan PDU (Pakaian Dinas Upacara) militer lengkap dengan atribut pangkatnya. Pria itu tampak sangat gagah, namun wajah tegasnya terlihat sedikit kaku saat mencoba membetulkan kerah tinggi seragamnya yang sangat ketat.
"Kain seragam ini sudah diukur sesuai standar komando, Calla," jawab Alaric dengan suara baritonnya yang tenang dan lambat, melangkah mendekati cermin. "Hanya saja... penjahit di butik ini sepertinya membuat potongannya terlalu pas di bagian bahu."
"Bukan salah penjahitnya, Paksu," Calla berbalik, menatap suaminya dengan binar mata yang penuh kekaguman. Ia melangkah mendekat, lalu menjinjitkan kakinya untuk membantu merapikan kerah seragam Alaric. "Otot dada sama bahu Paksu aja yang makin hari makin padat. Ismut aja sampai mau copot jantungnya lihat Paksu segagah ini."
Alaric menundukkan pandangannya, menatap wajah polos istrinya yang berjarak hanya beberapa senti dari dadanya. Semburat hangat kembali muncul di telinganya yang bersih. "Kamu juga... sangat cantik, Ismut. Kebaya itu sangat cocok untukmu."
"Wah, pujian langka dari Komandan Pasukan Khusus!" Calla cengengesan, sengaja merapatkan tubuhnya hingga brokat kebayanya bergesekan halus dengan kain tebal seragam PDU Alaric. "Berarti Ismut udah pantas ya bersanding di sebelah Paksu buat acara pedang pora dua minggu lagi?"
"Kamu selalu pantas, Calla," bisik Alaric rendah, matanya menggelap menatap bibir ranum Calla yang mengingatkannya pada kejadian panas semalam.
"Aduh, pengantin baru ini bener-bener ya, di depan cermin butik pun masih sempat-sempatnya dunia milik berdua!"
Suara bariton yang sangat familiar tiba-kira terdengar dari arah pintu masuk ruang ganti, membuyarkan atmosfer intim di antara mereka. Om Januar, paman sekaligus wali Calla, berjalan masuk dengan setelan jas formalnya yang rapi, diikuti oleh Mama Diah yang langsung tersenyum lebar.
"Om Januar!" Calla langsung menjauhkan tubuhnya dari Alaric dengan wajah yang sedikit memerah, namun sedetik kemudian ia kembali memasang wajah tanpa dosanya. "Om kok telat sih? Ismut udah capek berdiri dari tadi tau!"
"Om harus menyelesaikan rapat kerja dulu di kantor, Sayang," ujar Januar, melangkah mendekat lalu menepuk bahu kokoh Alaric dengan takzim. "Bagaimana, Alaric? Seragamnya tidak ada masalah? Sebagai walinya Calla, Om harus memastikan semuanya sempurna sebelum hari H."
"Siap, tidak ada masalah, Om. Hanya perlu sedikit pelonggaran di bagian bahu belakang agar lebih leluasa saat prosesi pedang pora nanti," jawab Alaric tegas dengan sikap hormat khas militernya.
Mama Diah mendekat, membelai lembut lengan Calla yang berbalut brokat indah. "Duh, anak Mama cantik sekali... Alaric, kamu beruntung sekali bisa mendapatkan Calla. Awas ya kalau setelah resepsi nanti kamu masih kaku seperti kanebo kering di rumah dinas!"
"Siap, Ma. Saya akan berusaha sebaik mungkin," sahut Alaric formal, membuat Calla langsung menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak.
"Tuh, Ma, denger sendiri kan? Paksu kalau ngejawab pertanyaan Mama udah kayak lagi laporan ke jenderal lapangan," bisik Calla jahil pada Mama Diah.
Setelah sesi ukur baju dan fitting terakhir selesai, Om Januar mengajak keponakan dan menantunya itu untuk makan siang di sebuah restoran privat tersembunyi yang terletak tidak jauh dari butik. Suasana ruangan yang tenang dengan alunan musik instrumental klasik membuat tempo siang itu berjalan sangat lambat dan santai.
Di meja makan, Om Januar menatap lekat-lekat ke arah Alaric dan Calla yang duduk berdampingan. Pria paruh baya yang merupakan pengusaha sukses itu menghela napas panjang, ada gurat haru sekaligus rindu di matanya.
"Alaric," panggil Januar pelan.
"Siap, Om," Alaric langsung mengepalkan tangannya di atas lutut, menatap sang paman wali dengan penuh rasa hormat.
"Dua minggu lagi, resepsi pernikahan kalian akan digelar secara besar-besaran. Negara dan seluruh keluarga besar kita akan menyaksikan kalian," Januar menjeda kalimatnya sejenak, melirik Calla yang kini sedang asyik mengunyah potongan daging dengan tenang. "Amanah dari almarhum Papahnya Calla sudah Om tunaikan lewat akad kemarin. Sekarang, di resepsi nanti, Om yang akan menggandeng tangannya untuk diserahkan sepenuhnya kepadamu. Calla ini mungkin keponakan yang manja, keras kepala, dan suka bertingkah ajaib... tapi dia adalah peninggalan paling berharga yang dititipkan ke Om."
Alaric tertegun sejenak. Ia melirik Calla yang tiba-tiba menghentikan kunyahannya dan menatap sang paman dengan mata kucingnya yang mulai berkaca-kaca mengingat mendiang ayahnya. Alaric kemudian beralih menatap Januar dengan tatapan mata elangnya yang paling jujur dan berkomitmen.
"Saya paham, Om," ucap Alaric dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan berwibawa. "Sejak hari pertama saya mengucapkan akad, jiwa dan raga saya sudah berjanji untuk menjaga Calla. Saya tidak akan membiarkan sebutir debu pun menyakiti istri saya, termasuk ego saya sendiri. Amanah almarhum Papah akan saya jaga seumur hidup saya."
"Ih, Paksu... kok ngomongin almarhum Papah bikin Ismut mau menangis sih," cicit Calla lirih, buru-buru meraih tisu untuk menyeka sudut matanya yang mulai basah. "Nanti kalau riasan Ismut luntur, Paksu yang harus tanggung jawab ya."
Januar tertawa terkekeh melihat tingkat kepolosan keponakan kesayangannya itu. "Om pegang janjimu, Alaric. Dan untukmu, Calla... belajarlah menjadi istri prajurit yang tangguh. Kurangi sedikit sifat cegil-mu itu kalau di depan umum, hargai suamimu yang Komandan ini."
"Nggak bisa, Om! Sifat cegil Ismut itu kan suplemen biar Paksu nggak cepat tua di barak," sahut Calla asal, membuat suasana haru di meja makan seketika berubah menjadi penuh tawa geli.
Sore harinya, Alaric dan Calla akhirnya kembali ke pangkalan setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari pusat kota. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah dinas mereka yang sejuk, Calla langsung melemparkan tas kecilnya ke atas meja dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Alaric dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung kokoh suaminya yang masih mengenakan kemeja dalaman PDU.
"Paksu... Ismut capek banget hari ini," gumam Calla dengan suara yang teredam di punggung Alaric.
Alaric menghentikan gerakannya yang hendak membuka jam tangan taktisnya. Ia membiarkan tangan mungil Calla melingkar erat di pinggangnya, lalu perlahan membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan kuncian tangan istrinya. Ia menatap wajah Calla yang tampak sedikit kuyu namun tetap terlihat sangat menggemaskan.
"Hari ini melelahkan untukmu, hm?" tanya Alaric lembut, tangannya bergerak mengusap sela-sela rambut panjang Calla yang mulai berantakan.
"Iya... tapi Ismut seneng banget," Calla mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Alaric dengan binar ketulusan yang amat dalam. "Dua minggu lagi kita beneran bakal berdiri di pelaminan ya, Paksu? Di depan pedang pora, di depan semua orang. Walaupun Papah cuma bisa lihat dari surga, Ismut bersyukur ada Om Januar sama Paksu di sini."
Alaric tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan hanya ia perlihatkan khusus untuk wanita di pelukannya ini. Ia menundukkan kepalanya, mengecup dahi Calla dengan sangat lama dan penuh perasaan, membuat Calla memejamkan matanya menikmati kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Iya, Ibu Alaric," bisik Alaric rendah tepat di depan bibir istrinya. "Dua minggu lagi... dan setelah malam itu, kamu tidak akan bisa lepas lagi dari saya."
Calla membuka matanya, tersum menantang dengan kerlingan nakalnya yang kembali aktif. "Siapa juga yang mau lepas? Ismut malah mau minta di-cap paten seumur hidup, Paksu Komandan."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨