Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN URUSANKU LAGI
Azzura melangkah masuk ke rumah dengan sisa air mata yang masih membekas di pipinya. Suasana rumah terasa asing dan dingin. Di ruang tengah, ia melihat Nayaka sedang duduk di sofa, hanya menatap layar televisi yang menyala tanpa benar-benar menontonnya. Nayaka bahkan tidak menoleh saat pintu terbuka, sikapnya benar-benar acuh, seolah keberadaan Azzura di rumah itu hanyalah angin lalu.
Azzura mendekat dengan langkah gemetar, dadanya terasa sesak oleh penolakan Satyaka tadi.
"Nayaka..." panggil Azzura lirih.
Nayaka hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan. Sikap tidak peduli itu justru membuat Azzura semakin nekat. Ia berlutut di samping sofa, menatap suaminya dengan tatapan memohon.
"Satya... Satya mutusin aku, Nay," ucap Azzura dengan suara pecah. "Dia nggak mau nunggu aku. Dia bilang kita berempat sedang saling menyiksa."
Mendengar nama Damira secara tersirat dalam kalimat "kita berempat", jemari Nayaka tampak menegang, namun ia tetap diam.
"Tolong, Nay... sesuai janji kamu sebelum kita akad kemarin. Kita akan bercerai setelah satu bulan menikah, kan?" Azzura memegang lengan Nayaka, memohon dengan sangat. "Kamu nggak cinta aku, aku juga nggak bisa tanpa Satya. Satu bulan, Nay. Aku mohon bertahan pada janji itu. Aku mau kejar Satya lagi setelah ini selesai."
Nayaka akhirnya menoleh. Matanya yang merah menatap Azzura dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara benci, kasihan, dan rasa lelah yang luar biasa. Ia melepaskan tangan Azzura dari lengannya dengan perlahan tapi tegas.
"Satu bulan?" Nayaka tertawa getir, suara tawanya terdengar menyakitkan. "Kamu pikir setelah satu bulan dan kata cerai itu keluar, semuanya akan kembali seperti semula? Kamu pikir Satya akan menerima kamu lagi seolah nggak terjadi apa-apa? Atau kamu pikir Damira akan lari ke pelukanku lagi?"
Nayaka berdiri, menatap Azzura dari ketinggian.
"Aku nggak peduli lagi soal satu bulan atau satu tahun, Ra. Tapi satu hal yang harus kamu tahu... Satya benar. Kita semua sedang di neraka. Kalau kamu mau cerai setelah satu bulan, silakan. Aku juga nggak sanggup melihat wajahku sendiri di cermin setiap kali ingat betapa pengecutnya aku sudah melepaskan Damira demi pernikahan sampah ini."
Nayaka melangkah pergi menuju kamar, meninggalkan Azzura yang terisak sendirian di lantai. Di rumah itu, tidak ada kehangatan pengantin baru, yang ada hanyalah dua orang yang sedang menghitung mundur hari menuju kehancuran yang mereka buat sendiri.
Danang yang sedang bersandar di pintu kamar Damira memperhatikan adiknya dengan saksama. Ia menyadari ada perubahan kecil namun nyata pada raut wajah Damira—ketegangan yang biasanya mengunci bibir gadis itu kini sedikit mengendur.
"Kamu kelihatan lebih cerah setelah dari kafe. Kenapa?" tanya Danang, nada suaranya menyelidik namun penuh perhatian.
Damira menoleh, lalu memberikan senyum tipis yang tulus kepada kakaknya. Ia meletakkan tasnya di atas meja rias, seolah baru saja meletakkan beban berat yang selama ini ia bawa.
"Obrolan di kafe sama orang asing bikin mata dan pikiran terbuka lebar, Mas," ucap Damira pelan namun mantap.
Danang mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut. "Orang asing? Siapa?"
"Namanya Satyaka," jawab Damira sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia juga ada di sana kemarin, di masjid. Dia kehilangan orang yang sama dengan cara yang sama. Tapi melihat dia, aku sadar kalau aku bukan satu-satunya yang dunianya berantakan."
Damira menghela napas panjang, kali ini terasa lebih lega. "Dia bilang kita semua egois kalau terus-terusan memelihara rasa sakit ini. Dan benar kata Mas Danang, hidup nggak berhenti di hari pernikahan mereka. Aku mau mulai dari awal, Mas. Bukan buat Nayaka, tapi buat aku sendiri."
Danang tersenyum lebar, ia melangkah mendekat dan mengacak rambut adiknya dengan sayang. "Itu baru adeknya Mas Danang. Kamu nggak perlu buru-buru sembuh, yang penting kamu nggak jalan di tempat."
"Iya, Mas. Satyaka juga bilang... semoga kita bertemu lagi setelah sama-sama sembuh. Kalimat itu bikin aku merasa kalau 'sembuh' itu mungkin saja terjadi."
Damira tidak tahu bahwa di belahan kota lain, perjanjian satu bulan sedang bergulir. Namun untuk saat ini, Damira tidak lagi peduli pada apa yang terjadi di kamar pengantin Nayaka. Fokusnya kini hanya pada satu hal: menata kembali serpihan hatinya yang sempat hancur berkeping-keping.
Keesokan harinya, Damira menguatkan hati untuk kembali ke rutinitas. Mengenakan pakaian kerja yang rapi dan memulas wajahnya agar tidak terlihat terlalu pucat, ia melangkah masuk ke kantor. Meskipun beberapa rekan kerja menatapnya dengan pandangan simpati, Damira berusaha tetap profesional dan fokus pada layar komputernya.
Menjelang siang, Mas Bara, atasan sekaligus senior yang cukup dekat dengannya, menghampiri meja Damira.
"Mira, nanti siang ada meeting di luar, di sebuah kafe. Kamu bisa ikut, kan?" tanya Mas Bara sambil mengecek jadwal di ponselnya.
Damira mendongak, mencoba tersenyum profesional. "Bisa, Mas. Meeting soal proyek yang mana? Terus saya berangkat sama siapa?"
Mas Bara terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang sejak kemarin terasa kaku. "Sama bestiemu itu, si Cantika. Hati-hati ya nanti, jangan malah ngerumpi berduaan," ucap Mas Bara sambil berlalu.
Tak lama kemudian, Cantika menghampiri meja Damira dengan wajah yang penuh semangat, namun matanya tetap memancarkan kekhawatiran saat melihat sahabatnya itu.
"Mir! Wah, akhirnya kamu masuk juga," bisik Cantika sambil merangkul bahu Damira. "Ayo berangkat sekarang, biar kita nggak telat. Sekalian aku mau denger cerita kamu, tapi nanti aja setelah urusan Mas Bara beres."
Damira hanya mengangguk kecil. Ia bersyukur memiliki Cantika yang selalu ceria, setidaknya energi positif sahabatnya itu bisa sedikit menutupi lubang di hatinya. Mereka berdua pun menuju kafe yang sudah ditentukan.
Namun, Damira tidak pernah menyangka bahwa kafe tempat meeting itu ternyata berada di area yang sama dengan kantor Nayaka, atau mungkin... takdir akan mempertemukannya kembali dengan Satyaka di sana?
Pertemuan yang paling dihindari Damira akhirnya terjadi di tempat yang paling tidak terduga. Setelah diskusi proyek dengan Mas Bara dan Cantika selesai, Damira izin sebentar menuju toilet untuk membasuh wajahnya yang mulai terasa lelah.
Namun, baru saja ia keluar dari area toilet, langkahnya terhenti seketika. Di lorong sempit yang sepi itu, sosok tinggi yang sangat ia kenali berdiri mematung.
"Damira..." suara itu terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan putus asa.
Nayaka berdiri di sana, mengenakan kemeja kerja yang tampak sedikit kusut. Wajahnya tidak memancarkan binar pengantin baru sama sekali. Justru sebaliknya, matanya terlihat cekung dan menyimpan kesedihan yang dalam.
Damira merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia teringat kata-kata Satyaka tentang "merelakan". Ia menarik napas panjang, berusaha menjaga agar tangannya tidak gemetar.
"Nayaka," sapa Damira datar. Ia tidak menghindar, tapi juga tidak memberikan celah untuk percakapan emosional.
"Kamu... kamu sudah masuk kerja? Aku pikir kamu masih sakit," ucap Nayaka, langkahnya maju satu tindak seolah ingin mendekat, namun ia segera mengurungkan niatnya saat melihat tatapan dingin Damira.
"Aku sudah lebih baik," jawab Damira singkat. Ia hendak melangkah melewati Nayaka, namun suara Nayaka menghentikannya lagi.
"Mir, tunggu... Soal kemarin, soal di masjid... aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bermaksud menyebut namamu, aku cuma—"
"Sudahlah, Nay," potong Damira tenang, matanya menatap lurus ke arah mantan kekasihnya itu. "Semuanya sudah terjadi. Kamu sudah punya kehidupan baru, dan aku juga sedang menata hidupku kembali. Tidak ada yang perlu dibahas lagi soal apa yang terjadi di depan penghulu."
"Tapi aku dan Azzura... kami punya perjanjian, Mir. Aku cuma butuh satu bulan untuk—"
"Satu bulan atau selamanya, itu bukan urusanku lagi, Nayaka," sela Damira tegas. Ia teringat betapa Satyaka menyebut mereka semua egois jika terus memelihara rasa sakit. "Tolong, hormati istrimu dan hormati privasiku. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi."
Damira melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Nayaka yang berdiri mematung di lorong gelap itu. Di luar, Cantika sudah menunggu dengan wajah cemas. Damira tahu, ini adalah ujian pertamanya, dan ia berhasil melaluinya tanpa harus hancur lagi.
Sementara itu, dari kejauhan di sudut kafe, seseorang memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Satyaka, yang ternyata juga sedang berada di sana, melihat betapa Damira mulai menunjukkan kekuatannya.