Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persidangan
Senin pagi, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
Aku tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di gedung pengadilan sebelum usia 17 tahun. Namun di kehidupan ini, takdir berkata lain.
“Nay, kamu gugup?” tanya Sasha sambil menggenggam tanganku—telapak tangannya dingin dan sedikit basah oleh keringat.
“Gugup? Aku ketakutan setengah mati.”
“Tapi kamu terlihat sangat tenang.”
“Aku ini aktris ulung.”
Rasya yang berjalan di sampingku menyeringai kecil. “Itu benar. Di kehidupan sebelumnya, dia bisa berpura-pura bahagia padahal hatinya hancur berkeping-keping.”
“Rasya, kamu tidak membantu sama sekali,” desisku pelan.
“Maaf. Aku akan berusaha lebih serius.”
Kami masuk ke ruang sidang. Suasana di dalam terasa sangat tegang—seperti tali yang ditarik hingga hampir putus. Jenderal Purnomo sudah duduk di kursi terdakwa, ditemani dua orang pengacara di sisinya. Wajahnya tampak tua dan penuh kerutan, namun matanya… matanya tetap tajam, seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
Dan mangsa itu adalah kami.
“Itu dia,” bisik Sasha dengan suara bergetar.
“Aku melihatnya.”
“Dia menatap kita.”
“Aku tahu.”
Pak Bambang duduk di bangku belakang bersama Om Anton dan beberapa mantan polisi lainnya. Dia mengangguk pelan ke arahku—sebuah isyarat agar aku tetap tenang.
Aku menarik napas panjang.
Kamu bisa melakukannya, Nayla. Kamu sudah melewati hal yang jauh lebih buruk dari ini.
---
Ketua majelis hakim—seorang wanita tegas dengan rambut disanggul rapi—memukul palu. “Sidang terhadap terdakwa Jenderal (Purn) Purnomo resmi dibuka.”
Jenderal Purnomo duduk dengan tenang. Sesekali dia tersenyum—senyum yang membuat bulu kudukku meremang.
Kenapa dia tersenyum? Apa yang sedang dia rencanakan?
Jaksa penuntut umum mulai membacakan dakwaan yang sangat panjang—setidaknya terdiri dari 50 halaman. Aku tidak mendengar semuanya dengan jelas, namun potongan kalimat seperti “pencucian uang”, “penyuapan”, “penghilangan nyawa”, dan “penyalahgunaan wewenang” terus terulang.
Setelah pembacaan dakwaan selesai, tibalah giliran terdakwa memberikan keterangan.
Jenderal Purnomo berdiri tegak. Suaranya berat, dalam, dan sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang terancam hukuman seumur hidup.
“Saya tidak bersalah.”
Terdengar suara tepuk tangan pelan dari beberapa pendukungnya di ruang sidang. Hakim segera memukul palu. “Tertib!”
“Saya tidak bersalah,” ulang Jenderal Purnomo. “Semua tuduhan ini hanyalah konspirasi belaka. Saya telah difitnah oleh mantan anak buah saya yang penuh rasa iri.”
“Di mana bukti yang mendukung pernyataan Anda?” tanya jaksa.
“Saya tidak membutuhkan bukti. Saya telah mengabdi pada negara selama 40 tahun. Reputasi saya sudah berbicara dengan sendirinya.”
Hakim menatapnya dengan pandangan dingin. “Kami akan memanggil saksi pertama.”
Kayla berjalan mendekati meja saksi. Wajahnya pucat dan langkahnya terlihat gemetar—namun matanya tetap tegas.
Dia bersumpah di atas Alkitab.
“Nama lengkap?”
“Kayla Maharani.”
“Hubungan Anda dengan terdakwa?”
“Terdakwa adalah… atasan ayah saya. Dan juga kakak saya. Dan saya.”
Terdengar suara bisik-bisik di seluruh ruang sidang.
“Apa yang Anda ketahui tentang kejahatan yang dilakukan terdakwa?”
Kayla menarik napas panjang. Lalu, dengan suara yang semakin mantap, dia mulai bercerita.
Dia menceritakan tentang perintah pembunuhan, pemberian suap kepada polisi dan politisi, serta pencucian uang melalui perusahaan-perusahaan fiktif. Dia juga menceritakan tentang ayahnya yang disingkirkan begitu saja setelah dianggap tidak berguna lagi.
“Ayah saya meninggal dalam sebuah ‘kecelakaan mobil’ tepat setelah dia mengetahui terlalu banyak hal,” lanjut Kayla. “Saya yakin—seratus persen yakin—bahwa itu adalah perintah dari terdakwa.”
Jenderal Purnomo tertawa kecil. “Omong kosong belaka.”
“Saya memiliki bukti yang nyata,” lanjut Kayla tegas. “Sebuah flashdisk berisi rekaman percakapan, foto, dan dokumen resmi. Semua kejahatan yang telah dilakukan terdakwa ada di dalamnya.”
“Flashdisk tersebut sudah diserahkan ke pengadilan,” tambah jaksa. “Saat ini sedang dalam proses verifikasi keasliannya.”
“Saya bersedia bersumpah bahwa isinya asli,” tegas Kayla.
Jenderal Purnomo menatap Kayla tajam—tatapan yang dulunya pasti membuat siapa saja ketakutan. Namun kali ini, Kayla tidak bergeming sedikit pun.
“Akhirnya,” bisik Rasya di sampingku.
“Iya. Akhirnya.”
---
Kami diberi ruang kecil untuk beristirahat sejenak. Kayla duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.
“Kamu hebat,” kata Sasha sambil menyerahkan segelas air.
“Terima kasih.”
“Aku… aku kagum dengan keberanianmu.”
Kayla tersenyum tipis. “Sebenarnya aku tidak seberani itu. Aku masih gemetar sejak tadi.”
“Tapi kamu tetap maju dan berbicara.”
“Iya. Karena… aku tidak punya pilihan lain. Di luar sana masih banyak anak buah Jenderal yang berkeliaran bebas. Mereka pasti akan memburuku jika Jenderal dibebaskan.”
“Jadi kamu tidak benar-benar berubah?” tanyaku dengan nada sedikit sinis.
Kayla menatap mataku. “Aku memang berubah, Nayla. Tapi butuh waktu. Dan butuh alasan yang kuat.” Dia menunduk. “Kakakku… Rio… memang jahat. Tapi dia juga sebenarnya korban. Dia telah dibentuk dan dididik oleh Jenderal sejak masih kecil. Aku tidak ingin menjadi seperti dia.”
“Terus kenapa kamu memusuhiku di awal?”
“Karena aku mengira kamu adalah musuh. Ternyata…” Kayla menghela napas panjang. “Ternyata kita memiliki musuh yang sama.”
---
Jam menunjukkan pukul 14.00. Sidang dilanjutkan kembali.
“Nama lengkap?”
“Rasya Aldebaran.”
“Usia?”
“15 tahun.”
Terdengar lagi bisik-bisik di ruangan. Seorang saksi berusia 15 tahun dalam kasus sebesar ini memang jarang terjadi.
“Rasya, apa hubungan Anda dengan terdakwa?”
“Terdakwa adalah orang yang memerintahkan pembunuhan terhadap saya.”
“Ceritakan secara rinci.”
Rasya menceritakan semuanya: tentang ancaman yang diterima saat karyawisata, tentang racun yang dicampurkan ke dalam jus jeruk, dan tentang Rio yang bertindak sebagai pelaksana perintah.
“Siapa yang memberitahu Anda tentang rencana pembunuhan ini?”
“Rio sendiri. Saat dia sedang mengancam Andre.”
“Dan apakah Andre bersedia menjadi saksi?”
“Andre sudah memberikan keterangan lengkapnya minggu lalu.”
Jaksa mengangguk. “Tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia.”
Pengacara Jenderal Purnomo segera berdiri. “Saya akan mengajukan pertanyaan silang.”
Pertanyaan silang. Hari yang terasa sangat melelahkan.
“Rasya, apakah Anda tidak pernah bertemu dengan klien saya sebelumnya?”
“Tidak pernah.”
“Lalu kenapa klien saya ingin membunuh Anda? Apa motifnya?”
Rasya terdiam sejenak. “Karena saya mengetahui terlalu banyak hal.”
“Mengetahui apa?”
“Mengetahui kejahatan yang telah dia lakukan. Tentang ayah kandung Nayla. Tentang jaringan korupsi yang dia bangun selama puluhan tahun.”
Pengacara itu tersenyum licik. “Anda hanya menduga-duga saja, bukan? Atau Anda hanya mengaku tahu? Di mana bukti nyatanya?”
Rasya tidak terpancing emosi. “Bukti lengkapnya ada di dalam flashdisk tersebut.”
“Flashdisk yang belum selesai diverifikasi keasliannya?”
“Itu bukan urusan saya.”
Pengacara terdiam. Hakim memukul palu. “Pertanyaan silang selesai.”
Rasya turun dari kursi saksi. Saat melewati Jenderal Purnomo, dia berhenti sejenak.
Dia menatap tepat ke mata Jenderal itu.
Jenderal Purnomo membalas tatapannya dengan tajam.
Di tengah keheningan ruang sidang, Rasya berbisik pelan namun tegas:
“Aku tidak takut padamu. Di kehidupan sebelumnya, aku mati karena orang sepertimu. Tapi di kehidupan ini, aku akan memastikan kamu dihukum setimpal.”
Jenderal Purnomo menyeringai dingin.
“Awas saja, bocah.”
---
Dalam perjalanan pulang, aku membonceng motor Rasya. Di balik pelindung helm, air mataku jatuh tanpa suara.
Rasya tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menggenggam erat tanganku yang melingkar di pinggangnya—satu tangan memegang setang, satu lagi menekan tanganku dengan kuat.
“Kita bisa melewati ini,” ucapnya tenang.
“Aku tahu.”
“Kita sudah melewati hal yang jauh lebih sulit dari ini.”
“Aku tahu.”
“Jangan menangis.”
“Maaf… aku tidak bisa menahannya.”
“Sudahlah.” Dia menghela napas pelan. “Menangislah saja. Aku antar kamu pulang.”
---
Pukul 21.00
Sasha: “Hari ini melelahkan sekali.”
Nayla: “Iya. Rasya hebat sekali tadi.”
Sasha: “Kamu juga hebat, Nay. Meskipun tidak menjadi saksi, kamu tetap ada di sana sampai akhir.”
Nayla: “Aku cuma menonton saja.”
Sasha: “Bahkan menonton butuh keberanian. Apalagi menghadapi tatapan tajam Jenderal yang menakutkan itu.”
Rasya: “Besok sidang dilanjutkan lagi. Kayla akan memberikan keterangan tambahan.”
Nayla: “Kamu yakin dia bisa dipercaya sepenuhnya?”
Rasya: “Untuk saat ini, ya. Tapi kita tetap harus waspada dan menjaga jarak.”
Sasha: “Setuju. Intinya kita tidak boleh lengah.”
Nayla: “Baiklah. Besok kita bertemu lagi di pengadilan.”
Rasya: “Istirahat yang cukup ya.”
Nayla: “Kamu juga.”
Sasha: “Selamat malam, kalian berdua. Aku matikan notifikasi, benar-benar lelah.”
Nayla: “Selamat malam, Sha. Mimpi indah.”
Rasya: “Selamat malam.”