Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.02. BERKABUNG.
"Sumiati tidak bisa diselamatkan karena ginjalnya rusak saat di tabrak mobil. Dokter sudah berusaha tapi dia tidak bisa tertolong, mungkin ini sudah takdirnya." ucap kakek enteng kepada pak Wijaya dan Qaisera.
Badan Qaisera langsung mencelos, ia bersandar di tembok kamarnya. Air mata menganak sungai membasahi pipinya. Ia terpukul mendengar berita duka itu yang sangat tiba-tiba, seolah tidak masuk akal.
"Aku tidak percaya, tadi pagi ibu ku sehat-sehat saja....." bantah Qai dengan suara bergetar.
"Maaf, kami baru bisa mengabari kalian, jenazah akan langsung dibawa dari rumah sakit ke pemakaman umum. Sore ini." potong Emely menimpali.
Ia melihat wajah ayahnya memucat, air mata lelakinya menggelinding jatuh. Qai cepat memeluk ayahnya dengan duka yang mendalam.
"Sabar ayah, mari kita mengikuti rombongan kakek."
Keluarga Raharja mengajak Qaisera dan ayahnya menunggu di pemakaman, Qai duduk termenung dengan mata sembab. Ia tidak bisa melukiskan dengan kata-kata kesedihan yang dialaminya.
Mereka berdua hanya bisa menangis saat peti mati mau di turunkan ke liang lahat.
"Peti mewah ini bantuan rumah sakit, tidak boleh dibuka." ucap kakek menahan tangan ayahnya saat mau membuka peti.
"Aku ingin melihat wajahnya untuk yang terakhir kali."
"Wajahnya hancur tidak bisa dikenali, lebih baik urungkan niat mu itu." ucap kakek tegas.
Ayahnya menarik tangannya, ia mematung memandang peti jati yang mengkilat itu perlahan turun ke liang lahat.
Lembayung senja perlahan menghilang di ufuk barat. Peti mewah sudah tertimbun tanah merah, doa terakhir mengalir sedih dari bibir sanak saudara.
Qai memaburkan bunga terakhir di atas nisan sambil berbisik pilu, seolah jiwanya ikut melayang ke langit kelam.
"Tolong bantu aku mencari orang yang menabraknya, dia harus di penj*ra. Nyawa di bayar nyawa..." ucap ayahnya hampir berbisik, kakek hanya mengangguk.
"Besok aku bawa orangnya, bersabarlah." ucap kakek menepuk pelan bahu ayah.
Keesokan harinya kakek menepati janji, dia datang membawa seorang pria yang mengaku menabrak ibunya. Mereka minta maaf dan memberi santunan satu miliar berupa cek.
"Maafkan saya pak Wijaya, waktu itu saya membawa pasien sekarat, jadi buru-buru." ucap pria itu gugup dan menyerahkan cek.
Qai berusaha berdamai dalam hati, tentu ia memaklumi sopir ambulans itu yang tidak sengaja.
Tapi ayahnya menolak dengan keras, dia marah, merobek cek itu, dia tidak terima atas kematian ibu, dia mengamuk.
"Yang mati tidak mungkin hidup lagi, Kau dan Qai butuh biaya hidup. Kedepannya kalian kehidupan sendiri. Terima uangnya mulailah hidup di luar, kau pasti mengerti maksud ku. Aku tidak akan membiarkan kau sengsara." suara kakek keras, ayah di pegangi oleh pengawal kakek.
"Tuan, aku tetap akan mengabdi menjadi sopirmu, asal Tuan memenjarakan pria ini aku sudah puas."
"Wijaya, kau jangan bodoh, Qai sebentar lagi lulus, ia sangat cantik dan menjadi gadis dewasa. ke dua cucu ku adalah laki-laki, jadi, pergaulan mereka harus ada batasnya. Aku akan siapkan rumah di propinsi utara, disana kau bisa mulai bertani."
Waktu itu ayahnya tidak bisa berkata-kata ia terpaksa menurut perintah kakek dan menerima uang itu. Ia pasrah dan tidak bisa menuntut.
"Setelah Qai lulus kami baru bisa pergi dari sini. Hanya lagi enam bulan."
"Tidak apa-apa, selesai masa berkabung pergilah untuk menenangkan pikiranmu. Aku memberi izin dua hari untuk bermain ke utara, pilihlah salah satu rumah. Untuk sementara Qai lulus kalian tinggal disini dulu."
"Terima kasih Tuan." sahut ayahnya lirih.
Hidup Qai mulai berubah, lebih pendiam dan tidak pernah berbaur dengan putra Flores Raharja. Walaupun mereka satu sekolah tapi beda kelas, jadi ada alasan menolak semobil kalau pergi kesekolah.
Pernah ada kecurigaan di hati Qai saat melihat Tuan Flores Raharja tiba-tiba sudah sehat dan pulang dari rumah sakit. Padahal saat dia ikut membezuk tempo hari, Tuan Flores masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, seperti tidak ada harapan hidup karena kedua ginjalnya rusak.
"Ayah Tuan Flores sudah pulang dari rumah sakit, dia terlihat segar bugar." ucap Qai mengguncang tubuh ayahnya yang sedang menonton berita pagi di televisi.
"Mungkin memakai obat modern." sahut ayahnya pendek.
"Aku mengira ayah akan kaget..." gumam Qai berlalu.
Semenjak kematian Sumiati perlakuan keluarga Wijaya juga semakin manis. Qai tidak peduli, hatinya membeku. Kadang Rio, dan Berlin mencarinya, tapi ia memilih mengurung diri di kamar.
*****