Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Sinta Sesungguhnya
Adrian melangkah gontai keluar dari kamar Dinda. Tubuh dan pikirannya sudah kacau, benar-benar hancur oleh rentetan kejadian gila yang tak pernah terbayangkan seumur hidupnya. Dengan sisa tenaga yang ada, dia merebahkan tubuhnya di atas sofa beludru di ruang tengah.
Sambil menatap langit-langit yang remang, Adrian berbisik lirih pada kegelapan, "Bagaimana bisa semuanya jadi sejauh ini? Dinda. Bagas. Maafkan aku."
Perlahan, rasa lelah yang luar biasa memaksa kelopak matanya tertutup. Adrian tertidur.
Namun, tidurnya tidak membawa ketenangan. Kesadarannya terseret masuk ke dalam dunia mimpi yang terasa sangat nyata. Dalam mimpinya, Adrian mendapati dirinya berdiri di tengah hutan larangan Jarian. Suasananya gelap, diselimuti kabut merah yang pekat. Di depannya, tampak bayangan Dinda dan Bagas yang diselimuti ranting-ranting pohon berduri, tubuh mereka terlihat samar.
"Dinda? Bagas?. Kalian di sini? Aku akan jemput kalian besok malam bersama Aki Sukra!" Panggil Adrian, berlari mendekat.
Dinda menatap Adrian dengan mata yang mengalirkan air mata darah, wajahnya pucat pasi sarat penderitaan.
"Jangan percaya, Yan. Tolong, jangan biarkan dia mendekat lagi.". Dinda dengan suaranya bergema penuh gema ketakutan.
"Maksudmu apa, Din? Siapa yang jangan dipercaya? Aku ke sini buat nebus kesalahanku!" Adrian bingung mendengar apa yang disampaikan dinda.
"Sinta, Yan! Sinta! Kamu harus tahu yang sebenarnya!". Bagas memotong dengan suara parau dan tersengal-sengal.
"Sinta? Kenapa dengan Sinta? Kenapa namanya dibawa-bawa sampai ke dalam Jarian?". Adrian tertegun, jantungnya berdegup cepat.
"Dia bukan seperti yang kita kira, Yan. Selama ini kita pikir Sinta membantu untuk menyelamatkan dinda. Tapi dia lah yang menuntun Dinda ke tempat ini! Dia yang membisikkan perjanjian itu ke telinga Dinda!". Bagas mencoba menggerakkan tangannya yang terikat akar gaib, menunjuk ke arah kegelapan di belakang Adrian.
"Dia tidak berniat membantumu menyelesaikan ini, Adrian. Jarian belum puas. Perjanjian itu tidak akan selesai sampai kamu juga ikut menjadi bagian dari hutan ini. Sinta menginginkanmu sebagai korban selanjutnya!". Dinda yang tubuhnya perlahan mulai ditarik semakin dalam oleh akar pohon.
"Jangan biarkan dia mendekatimu besok malam, Yan! Jaga dirimu. Aaaaghh!" Bagas berteriak.
Akar-akar hitam mendadak melilit leher Dinda dan Bagas, menarik mereka dengan kasar ke dalam tanah lembap Jarian.
"Dinda! Bagas!!!" teriak Adrian histeris.
GAAASSSSSS!
Adrian tersentak bangun, langsung terduduk di atas sofa dengan napas memburu dan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jantungnya berdegup seolah ingin melompat keluar dari dada. Dia melihat sekeliling ruangan masih gelap, dan jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.
Mimpi itu terasa terlalu nyata untuk disebut bunga tidur. Pesan dari Dinda dan Bagas begitu benderang di kepalanya. Kini, teka-teki itu semakin rumit dan mengerikan. Musuh yang harus dia hadapi besok malam bukan hanya makhluk gaib di dalam hutan, melainkan sosok perempuan bernama Sinta yang selama ini berada di dekatnya.
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi, Adrian melangkah terburu-buru membelah kabut tipis menuju rumah Pak RT. Langkahnya yang masih agak pincang akibat luka semalam tidak dia hiraukan. Informasi dari mimpinya terlalu berharga untuk ditunda.
Sesampainya di teras rumah Pak RT, Adrian langsung mengetuk pintu kayu dengan tidak sabar. Tok! Tok! Tok!
"Pak RT! Pak!" panggil Adrian setengah berteriak.
Pintu terbuka, menampilkan wajah lelah Pak RT yang tampaknya juga tidak tidur semalaman karena mengurus jenazah Maman. Melihat wajah Adrian yang tegang dan pucat, Pak RT langsung mempersilakannya masuk.
"Pak RT, saya tidak bisa tenang. Saya butuh penjelasan sekarang juga. Tolong jujur sama saya, Pak siapa sebenarnya Sinta? Dan apa hubungannya dengan penunggu Jarian?". Adrian langsung duduk, suaranya bergetar menahan gejolak.
Pak RT seketika mematung. Cangkir teh hangat yang baru saja diletakkannya di atas meja bergoyang kecil. Wajah pria paruh baya itu berubah drastis, guratan penyesalan dan ketakutan mendadak tergambar jelas di matanya. Beliau menarik napas panjang, lalu duduk di hadapan Adrian.
"Dinda dan Bagas datang ke mimpi saya semalam, Pak! Mereka bilang Sinta yang menjerumuskan Dinda dan sekarang mengincar saya untuk jadi korban selanjutnya. Tolong, Pak, jangan ada yang ditutupi lagi. Ini urusan nyawa teman-teman saya!". Adrian menjelaskan dengan tubuh gemetar mengingat kejadian semalam.
"Tiga tahun lalu, Sinta adalah bidan desa di sini. Dia anak yang baik, cantik, dan ditugaskan untuk melayani kesehatan warga di puskesmas pembantu dekat balai desa. Semua warga suka sama dia, sampai akhirnya dia mengenal Maman.". Pak RT menunduk, menautkan jemarinya yang gemetar. Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa saat, beliau akhirnya mulai berbicara dengan suara yang berat.
"Maman yang baru saja meninggal semalam?". Adrian menyela, teringat jenazah Maman yang menghitam.
"Benar. Mereka menjalin hubungan rahasia sampai akhirnya Sinta hamil. Sinta meminta pertanggungjawaban, tapi Maman pengecut. Dia menolak. Bukan cuma menolak, Maman yang takut nama baiknya hancur malah membalikkan fakta. Dia memfitnah Sinta di depan warga, menuduh Sinta menggunakan ilmu hitam dan pelet untuk memikatnya.". Pak RT mengangguk pelan)
"Lalu warga memercayai fitnah Maman?". Adrian bertanya.
"Bapak yang salah, Nak Adrian. Warga mengusir dan menghujat Sinta namun bapak tidak bisa berbuat apapun. Sinta yang sebatang kara tidak kuat menghadapi tekanan mental dan aib itu. Akhirnya, malam itu juga dia memilih jalan pintas. Sinta mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di dahan pohon beringin tua.". Pak RT suaranya bergetar penuh penyesalan.
"Pohon beringin yang ada di lubang Jarian?". Adrian dengan matanya membelalak.
"Iya. Tepat di titik Jarian yang penuh dengan tumpukan sampah itu. Sejak kematiannya yang tragis dan penuh dendam, aura tempat itu berubah total. Jiwa Sinta yang murni berubah menjadi hantu penasaran yang sangat haus akan dendam. Dia bersekutu dengan kekuatan hitam penguasa Jarian." Pak RT menjelaskan.
"Jadi penyakit aneh Maman selama ini adalah ulah Sinta?". Tanya Adrian.
"Benar. Sinta menyiksa Maman perlahan-lahan dari dalam, menghisap energinya sampai mati seperti yang kamu lihat semalam. Tapi dendam Sinta ternyata tidak berhenti di Maman saja, Hantunya menjelma, berkeliaran, dan mulai memengaruhi orang-orang luar atau warga yang hatinya sedang lemah, kosong, atau dipenuhi rasa iri dan cemburu seperti yang terjadi pada Dinda. Sinta memanfaatkan kelemahan hati Dinda untuk dijadikan tumbal baru bagi Jarian.". Pak RT membenarkan cerita.
Adrian terdengar melepaskan napas yang tertahan di dadanya. Segala kepingan puzzle mengerikan ini akhirnya menyatu dengan sempurna. Rasa cemburu Dinda adalah ilusi gaib yang diciptakan oleh hantu Sinta yang asli untuk memanipulasi pikiran Dinda.
"Berarti. Sinta sengaja memancing kami sejak awal untuk datang ke desa ini. Dia menggunakan saya sebagai umpan agar Dinda gelap mata dan menyerahkan jiwanya.". Adrian mengepalkan tinjunya di atas meja.
"Dan sekarang, setelah Maman mati, target utama Sinta adalah kamu, Adrian. Nanti malam, saat ritual penyeberangan dimensi dilakukan oleh Aki Sukra, kamu tidak hanya akan berhadapan dengan penguasa ghaib Jarian, tapi kamu harus siap menghadapi dendam kesumat dari hantu bidan Sinta." Pak RT menatap Adrian dengan tatapan memperingatkan.