Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Pa, lihat deh. Gaun Airin hari ini paling menonjol, kan? Semua mata juri tamu benar-benar nggak bisa lepas dari Airin. Ini baru namanya panggung seorang Maheswari."
Airin mematut dirinya di depan cermin besar ruang rias VIP gedung serbaguna SMA Garuda. Ia memutar tubuhnya perlahan, membiarkan kain sutra hasil curian itu melambai cantik. Wajahnya dipoles riasan glamor yang membuatnya tampak seperti primadona sejati. Tidak ada raut bersalah, tidak ada beban di matanya. Hanya ada ambisi yang berkilat-kilat.
Ratna tersenyum bangga, jemarinya yang lentik merapikan anak rambut Airin. "Tentu saja, sayang. Kamu itu permata. Mama sudah bilang, kan? Kamu lahir untuk bersinar, bukan untuk sembunyi di gudang seperti kembaranmu yang cacat mental itu."
Prasetya yang berdiri di dekat pintu sambil menyesap kopi hitamnya hanya mendengus meremehkan. "Sampai detik ini, anak tidak tahu diuntung itu belum juga kelihatan batangnya. Papa yakin, paling sebentar lagi dia bakal muncul lewat pintu belakang dengan baju dekil, nangis-nangis minta makan. Biarkan saja. Biar dia tahu rasanya jadi gembel di jalanan."
"Tapi Pa, gimana kalau dia benar-benar nggak datang?" sela Airin, ada nada sedikit cemas dalam suaranya, bukan karena peduli, tapi karena ia butuh Aira untuk menjadi penonton kehancurannya sendiri. "Nanti panggung Airin kurang lengkap kalau nggak ada yang bisa dibandingin."
"Halah, dia itu nggak bisa apa-apa tanpa uang Papa, Rin," Prasetya terkekeh sombong. "Paling mentok dia cuma bisa menjahit kain perca. Tunggu saja, sebelum acara inti dimulai, dia pasti bakal sujud di kaki Papa minta diizinkan masuk."
*
Di barisan kursi terdepan, Alvaro duduk dengan gelisah. Jas hitamnya terasa mencekik lehernya sendiri. Matanya terus bergerak liar, menatap ke arah pintu masuk, berharap melihat sosok berkacamata besar dengan rambut berantakan yang biasanya selalu ada di sana—diam, namun memberikan rasa nyaman yang aneh.
"Al, kok bengong?" Airin tiba-tiba duduk di sampingnya, merangkul lengannya dengan manja. "Bentar lagi namaku dipanggil buat dapet penghargaan 'Siswa Paling Berbakat'. Kamu bangga kan punya calon tunangan kayak aku?"
Alvaro memaksakan senyum, namun hatinya terasa kosong. "Iya, Rin. Selamat ya."
"Kamu kenapa sih? Dari tadi kayak nyari seseorang," tanya Airin dengan nada curiga yang disamarkan.
"Nggak ada. Cuma... kembaranmu ke mana? Kursi di samping orang tuamu masih kosong," Alvaro menunjuk deretan kursi keluarga yang sengaja disisakan satu tempat kosong.
Airin mencibir. "Nggak usah dipikirin, Al. Dia itu lagi kambuh halusinasinya. Mungkin sekarang lagi nangkring di pinggir jalan ngaku-ngaku jadi desainer internasional. Biarin aja, mending kita fokus ke acara kita."
*
Upacara dimulai. Musik megah mengalun, satu per satu siswa dipanggil ke depan panggung untuk menerima ijazah. Prasetya dan Ratna duduk dengan dagu terangkat tinggi, menyapa setiap rekan bisnis mereka dengan keangkuhan yang meluap.
Hingga saat yang mendebarkan tiba. Kepala Sekolah berdiri di depan mikrofon dengan map emas di tangannya.
"Tahun ini, SMA Garuda bangga mempersembahkan penghargaan khusus bagi siswa yang telah membawa nama harum sekolah melalui bakat luar biasa di bidang seni dan desain. Siswa yang membuktikan bahwa kreativitas adalah napas kehidupan..."
Kepala Sekolah berhenti sejenak, menatap ke arah kerumunan.
"Kami memanggil dua siswa yang memiliki nilai praktis tertinggi, yang kebetulan adalah saudara kembar... Aira Maheswari dan Airin Maheswari, silakan maju ke atas panggung."
Hening.
Nama Aira disebut pertama kali berdasarkan urutan abjad dan nilai akademik yang ternyata... lebih tinggi dari Airin.
Lampu sorot bergerak menyisir barisan siswa, mencari sosok Aira. Namun, yang ditemukan hanyalah kursi kosong yang dingin.
Detik berlalu menjadi menit. Bisik-bisik mulai merayap di antara para orang tua murid.
"Di mana Aira Maheswari?" tanya Kepala Sekolah, suaranya menggema lewat pengeras suara. "Apakah ada perwakilan keluarga?"
Prasetya berdeham keras, mencoba menutupi rasa malunya. Ia berbisik pada Ratna, "Anak sialan itu benar-benar ingin mempermalukan kita!"
Ratna berdiri dengan anggun, memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Mohon maaf, Bapak Kepala Sekolah. Putri kami, Aira, sedang dalam kondisi kesehatan mental yang tidak memungkinkan untuk hadir. Kami mohon maklumnya."
Suara Huuu tipis terdengar dari barisan siswa belakang. Gosip tentang Aira yang "gila" memang sudah disebarkan, tapi melihat kursinya kosong di hari sepenting ini tetap terasa ganjil.
"Baiklah, kalau begitu silakan Airin Maheswari untuk mewakili dan menerima penghargaan tertinggi ini sendirian."
Airin melangkah maju dengan senyum kemenangan. Ia berdiri di bawah lampu sorot, memegang piala emas itu dengan angkuh. Saat ia hendak memulai pidato kemenangannya, tiba-tiba terdengar deru mesin mobil yang sangat jantan dari luar gedung.
Vroom! Vroom!
Suara itu begitu keras hingga menggetarkan kaca-kaca gedung. Pintu utama ballroom terbuka lebar oleh dua orang pria berseragam safari hitam yang sangat rapi.
Seluruh hadirin menoleh serentak. Termasuk Alvaro yang langsung berdiri dari kursinya.
Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam berhenti tepat di lobi gedung yang terbuka. Dari dalamnya, keluar seorang pria paruh baya dengan wibawa yang sanggup membekukan udara. Darmawan Galaksi. Di sampingnya, berdiri seorang asisten yang membawa sebuah map hitam bermotif perak.
Darmawan tidak masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arah panggung, tepatnya ke arah Prasetya yang kini wajahnya memucat pasi.
Asisten Darmawan melangkah masuk, membelah kerumunan dengan langkah tegas menuju panggung. Ia tidak mempedulikan pidato Airin yang terhenti. Ia langsung naik ke panggung dan memberikan map itu kepada Kepala Sekolah.
"Mohon maaf atas gangguannya," suara asisten itu terdengar dingin melalui mikrofon cadangan. "Saya di sini atas perintah Tuan Muda Bara Galaksi dan Nona Aira Maheswari."
Seluruh ruangan mendadak gaduh. Nama Bara Galaksi dan Aira disebut dalam satu napas?
"Nona Aira Maheswari secara resmi mengundurkan diri dari segala bentuk keterikatan dengan keluarga Maheswari, efektif mulai semalam. Beliau juga memohon maaf karena tidak bisa hadir menerima penghargaan 'Siswa Berbakat' yang nilainya dicuri oleh saudaranya sendiri," asisten itu menatap tajam ke arah Airin yang kini gemetar hebat memegang piala emasnya.
"Apa maksud kamu?! Keluar dari sini! Ini acara sekolah!" teriak Prasetya, mencoba menghampiri asisten tersebut.
"Tenang, Tuan Prasetya," asisten itu menyeringai dingin. "Nona Aira menitipkan pesan untuk Anda. Beliau bilang... terima kasih atas gudang gelapnya. Karena di sana, beliau belajar bahwa cahaya yang asli tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh tangan yang kotor."
Asisten itu berbalik, menatap seluruh juri dan tamu undangan. "Nona Aira Maheswari saat ini sedang berada di bawah perlindungan penuh Galaksi Fintech dan telah diterima di institusi desain terbaik di Milan dengan beasiswa penuh dari keluarga Galaksi. Beliau sudah menemukan 'dunia' yang baru, di mana bakatnya dihargai dengan martabat, bukan dengan fitnah gila."
Alvaro mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Milan? Galaksi? Bara?
"Aira... pergi?" gumam Alvaro lirih. Ia meremas ijazahnya sendiri hingga hancur. Rasa sesak luar biasa menghantam dadanya. Ia baru saja menyadari bahwa kursi kosong itu bukan hanya kekosongan di gedung ini, tapi kekosongan permanen dalam hidupnya.
Airin berteriak histeris di atas panggung, "BOHONG! DIA PASTI MERAYU COWOK ITU! DIA GILA! JANGAN PERCAYA!"
Tapi tak ada yang mendengarkan Airin lagi. Para tamu undangan mulai saling berbisik sinis, menatap keluarga Maheswari dengan pandangan menghina. Panggung yang tadinya ingin dipamerkan Airin sebagai puncak kesuksesan, kini berubah menjadi panggung sandiwara yang memuakkan.
Ratna jatuh terduduk di kursinya, wajahnya putih seperti kertas. Keangkuhannya runtuh seketika saat menyadari bahwa aset terbesar mereka—Aira—telah lepas dan kini berada di tangan penguasa yang jauh lebih kuat dari mereka.
Asisten itu berjalan kembali menuju pintu, membungkuk hormat pada Darmawan Galaksi yang masih mematung di sana dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan gema sunyi yang sangat menyakitkan di hati Alvaro dan rasa malu yang tak tertahankan bagi keluarga Maheswari.
Aira tidak datang untuk mengemis. Ia telah terbang tinggi, meninggalkan mereka semua di dalam lumpur kebohongan yang mereka buat sendiri.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas