Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di dalam ruang kelas 11 IPS 3, suasana masih tampak serius. Bu Ina sedang asyik menjelaskan deretan rumus algoritma matematika di papan tulis. Suara kapur yang beradu dengan papan menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu.
Namun, di salah satu sudut, Karlota duduk dengan perasaan yang amat tidak tenang.
Pikirannya terus melayang ke arah Ziva, sahabatnya. Pandangan matanya tak pernah lepas dari pintu kelas, berharap pintu kayu itu terbuka dan menampakkan sosok mungil Ziva. Namun, hingga jarum jam bergeser jauh, tanda-tanda kehadiran Ziva nihil.
"Lo ke mana sih, Ziv? Kok lama banget ke toiletnya," gumam Karlota lirih, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
"Kenapa, Kar?" tanya Rea yang duduk tepat di depan Karlota, merasa terganggu dengan kegelisahan sahabatnya itu.
"Ziva belum balik," jawab Karlota sambil menghela napas berat. Ada firasat yang terus berdenyut di dadanya, mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Rea menatap pintu, lalu kembali menatap Karlota.
"Lo susulin aja kalau gitu, Kar. Daripada lo di sini nggak fokus, malah makin parno."
Karlota mengangguk mantap. Ia mengangkat tangannya. "Bu..."
"Iya, Karlota? Ada apa?" tanya Bu Ina ramah.
"Anu, Bu... saya mau izin menyusul Ziva ke toilet. Dia sudah lama sekali tidak kembali, saya takut dia pingsan atau terjadi sesuatu," ucap Karlota dengan raut wajah yang sungguh-sungguh khawatir.
Bu Ina tampak menimbang sejenak, lalu
mengangguk. "Oh iya, silakan. Tapi jangan lama-lama ya. Kalau Ziva sudah baik-baik saja, kalian berdua cepat kembali ke kelas."
"Baik, Bu. Terima kasih!" Karlota segera bangkit dan bergegas keluar kelas.
Ia memacu langkah kakinya menuju toilet siswi. Langkahnya bergema di koridor yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu toilet, ia langsung mendorongnya dengan keras.
Brak!
"Loh? Kok kosong?" Karlota mengerutkan kening. Ia mengecek satu per satu bilik toilet, namun semuanya terbuka dan tak berpenghuni. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Ziva di sana.
Ceklek.
Pintu kamar mandi paling ujung terbuka. Karlota menoleh cepat, berharap itu Ziva. Namun, yang muncul adalah siswi lain yang tampak bingung melihat Karlota terengah-engah.
"Lo... lo liat Ziva nggak?" tanya Karlota cepat.
Siswi itu menggeleng. "Gue nggak lihat Ziva, Kar. Gue dari tadi di sini sendiri, nggak ada siapa-siapa."
"Oh, thanks ya." Karlota kembali melangkah keluar dengan perasaan yang makin kalang kabut. Instingnya kini berteriak satu kata: UKS.
Ziva tadi mengeluh sakit perut, mungkinkah dia langsung ke sana?
Di sisi lain, di dalam ruang UKS yang tenang dan berbau antiseptik, Mahendra berdiri bersedekap dada di samping ranjang tempat Ziva terbaring. Di depannya, seorang petugas PMR senior baru saja selesai memeriksa kondisi Ziva.
"Gimana?" tanya Mahendra dengan suara rendah dan datar.
"Ziva nggak papa. Lukanya cuma memar di permukaan, nggak terlalu dalam. Yang penting sering dikasih salep dan minum obat ini. Dia juga kayaknya lagi datang bulan, makanya perutnya nyeri hebat. Kalau dia sadar, lo suruh dia makan dulu sebelum minum obat," jelas petugas itu sambil menyerahkan beberapa kapsul dalam kemasan plastik.
"Hm," jawab Mahendra singkat.
"Ya udah, gue pergi dulu. Lo jagain dia di sini."
Setelah petugas itu pergi, Mahendra memusatkan seluruh perhatiannya pada Ziva. Wajah gadis itu tampak memprihatinkan; penuh luka memar, dan bekas telapak tangan terlihat jelas di kedua pipinya yang gembul.
Rahang Mahendra mengeras. Ada amarah yang berkobar di balik tatapan matanya yang dingin.
Jika saja ia tidak lewat koridor itu tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada gadis ini. Ia menyesal karena tidak datang lebih awal sebelum perundungan itu terjadi.
"Welcome, my dear," bisiknya sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin. Jari jemarinya yang panjang mengusap pipi Ziva dengan gerakan yang sangat lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang kaku.
Mahendra duduk di kursi samping ranjang, mengeluarkan ponsel mahal dari saku celananya. Ia mengetikkan sesuatu dengan cepat, lalu melakukan panggilan telepon.
"Selidiki siapa yang menyentuh kesayanganku!" perintahnya dingin tanpa basa-basi. Begitu selesai, ia langsung mematikan sambungan secara sepihak.
"Aku akan selalu berada di sekelilingmu. Kamu telah menjadi milikku," gumamnya dengan mata menatap tajam ke arah Ziva yang masih terpejam.
Brak!
Pintu UKS terbuka secara paksa. Mahendra menoleh dengan tatapan elang yang sangat tajam. Ia membenci kegaduhan, apalagi di saat ia sedang ingin menikmati kesunyian bersama Ziva.
Karlota, si pelaku pembukaan pintu bar-bar, langsung mematung. Nyalinya menciut seketika saat bersitatap dengan mata tajam Mahendra.
"S-sorry..." gumamnya canggung sambil menggaruk kepala.
Mahendra tidak mengindahkan permintaan maaf itu. Ia bangkit dari duduknya, berjalan melewati Karlota begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Bahunya sempat bersenggolan dengan Karlota, namun ia terus melenggang keluar.
"Gila! Ganteng-ganteng kutub banget sih! GGK—Ganteng-Ganteng Kulkas!" gerutu Karlota kesal setelah Mahendra menghilang.
"Apa dia nggak liat ada orang segede gajah di sini?"
Namun, kekesalannya menguap saat matanya menangkap sosok yang terbaring di ranjang.
"Astaga, Ziva!"
Karlota berlari ke samping ranjang. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat keadaan sahabatnya yang babak belur.
"Ziv, lo kenapa... kok bisa kayak gini..." suaranya bergetar menahan tangis.
"Eeugghh..."
Lengkuhan Ziva membuat Karlota segera menghapus air matanya. Ziva perlahan membuka mata, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Karlota..." bisik Ziva saat melihat wajah sahabatnya.
"Lo nggak papa, Ziv? Mana yang sakit? Bilang sama gue!" tanya Karlota beruntun.
"A-air..." pinta Ziva lemas. Karlota dengan cekatan mengambilkan gelas air dan membantu Ziva duduk bersandar untuk minum.
Setelah merasa sedikit lebih baik, Ziva menatap Karlota yang masih tampak frustasi. "Nggak usah lebay deh, Kar. Gue nggak papa beneran."
"Apa lo bilang? Lebay? Gue khawatir setengah mampus dan lo bilang lebay? Oke, gue nggak bakal perhatian lagi kalau lo sekarat!" marah
Karlota, meski sebenarnya itu hanya luapan rasa khawatirnya.
Ziva terkekeh kecil, lalu meringis karena sudut bibirnya perih. "Iya, sorry. Tapi beneran, gue udah mendingan."
"Siapa yang buat lo kayak gini, Ziv? Kasih tau gue! Gue bakal kasih perhitungan!"
"Biasa... kakak tiri gue sama para cecunguknya," jawab Ziva datar, seolah sudah terbiasa dengan perlakuan itu.
"Sanya?! Berani-beraninya tuh anak main keroyokan! Liat aja nanti!" Karlota mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Eh, Kar... tadi yang bawa gue ke UKS siapa?" tanya Ziva penasaran, teringat siluet laki-laki yang menangkapnya sebelum pingsan.
"Itu salah satu mubar yang tadi pagi kita liat. Gue belum tau namanya, tapi dia yang nungguin lo di sini sebelum gue dateng."
Tak lama kemudian, pintu UKS kembali terbuka. Sosok pemuda jangkung berwajah datar masuk. Itu Mahendra. Ia menenteng dua kantong plastik sedang. Tanpa bicara, ia mendekati ranjang, meletakkan plastik itu di meja nakas.
"Makan," ucapnya singkat, menatap Ziva sekilas dengan tatapan sulit diartikan, lalu berbalik pergi lagi.
Ziva dan Karlota hanya bisa melongo. "Itu cowok yang bawa lo ke UKS tadi, Ziv," bisik Karlota setelah Mahendra keluar.
"Kaya kulkas," celetuk Ziva.
"Kutub utara, Ziv! Dingin banget! Tapi tampan parah..." sahut Karlota. Ia kemudian membuka plastik yang ditinggalkan Mahendra. Matanya membelalak.
"Gila... Ziv, liat!"
"Kenapa?"
"Isinya ada pembalut sama Kiranti! Kok dia bisa tau lo lagi dapet?" seru Karlota heran sambil mengangkat barang-barang tersebut.
Ziva terdiam, wajahnya sedikit memerah. "Ini tanggal 27... oh, iya, gue jatuh tempo."
"Mungkin dia nanya petugas PMR tadi," Karlota mengangkat bahu, lalu membuka plastik satunya lagi.
"Ada bubur ayam, nasi goreng, sama air mineral juga. Lo mau yang mana?"
"Gue bubur aja, Kar. Nasi gorengnya buat lo aja, gue lagi nggak selera makan nasi keras," ucap Ziva.
Karlota pun mulai membantu Ziva menyiapkan makanannya.
Sementara itu, di rooftop sekolah, Mahendra kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. Tiga pemuda lainnya sedang asyik dengan ponsel mereka.
"Dari mana aja sih lo, Bos?" tanya salah satu temannya.
"Rahasia," jawab Mahendra singkat sambil duduk di sofa usang.
"Ya elah, main rahasia-rahasiaan. Kita kepo, tadi lo tiba-tiba ngilang pas ada keributan di toilet," timpal yang lain.
"Toilet," jawab Mahendra berbohong demi menutupi perhatiannya pada Ziva.
"Buset, ke toilet doang lama bener. Semedi lo di
sana?"
Mahendra tidak menjawab. Ia hanya menatap langit dengan pandangan tajam. Pikirannya kembali pada Ziva. Ia sudah memutuskan; gadis mungil itu kini masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Siapa pun yang menyentuh Ziva, berarti sedang berurusan dengan maut. Posesivitas Mahendra baru saja dimulai, dan Ziva, tanpa ia sadari, telah menjadi pusat dari gravitasi dunianya.