NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Pusat Kota

​Udara pagi di distrik Rust terasa berat oleh sisa kabut industri dan bau logam berkarat yang menjadi ciri khas wilayah tersebut. Asha berdiri di depan sebuah cermin retak di persembunyiannya, menatap wajah yang kini sama sekali tidak menyisakan jejak kelemahan masa lalu. Wajah hasil rekonstruksi itu tampak sangat halus, namun di balik kulit yang sempurna itu tersimpan kedinginan yang sanggup membekukan waktu.

​Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam pekat dengan potongan tajam yang menegaskan otoritas barunya sebagai V. Jemarinya yang ramping membetulkan kerah kemeja putihnya, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlihat cacat. Asha menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma parfum kayu cendana yang mahal menyelimuti tubuhnya, aroma yang akan menjadi penanda kehadirannya di pusat Neovault.

​"Kendaraan sudah menunggu di bawah, V. Identitas digitalmu telah aktif sepenuhnya di pusat kota," ujar nelayan tua itu sambil melangkah masuk ke ruangan.

​Asha mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari bayangan di cermin, matanya tampak berkilau oleh tekad yang sudah lama ia asah. "Hari ini adalah hari di mana Arlan harus menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar membunuhku, Paman."

​"Hati-hati, pusat kota adalah sarang ular yang jauh lebih berbahaya daripada tempat ini," nelayan tua itu memperingatkan dengan suara rendah.

​Asha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata, namun mengandung ancaman yang sangat nyata. "Aku tidak akan menjadi salah satu ular di sana. Aku adalah badai yang akan menyapu bersih sarang mereka sampai ke akar-akarnya."

​Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah kaki yang mantap, bunyi sepatunya di lantai beton terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran Arlan. Di bawah, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam dengan kaca yang sangat gelap sudah terparkir di antara reruntuhan distrik Rust. Asha masuk ke kursi belakang, merasakan kenyamanan kulit asli yang kontras dengan kekumuhan di sekelilingnya.

​Mobil mulai bergerak meninggalkan distrik Rust, melewati batas-batas wilayah yang memisahkan kemiskinan ekstrem dengan kemewahan yang tak masuk akal. Sepanjang jalan, Asha menatap ke luar jendela, melihat bagaimana kota yang dulu menghancurkannya kini tampak begitu rapuh di matanya. Bau udara mulai berubah, dari aroma asap pabrik menjadi aroma segar dari tanaman hias yang tertata rapi di trotoar pusat kota.

​"Aktifkan koneksi ke sistem keamanan Menara Neovault. Aku ingin melihat apa yang sedang dilakukan sang raja di menit-menit terakhirnya," perintah Asha pada perangkat di depannya.

​Layar di dashboard mobil menampilkan rekaman langsung dari kantor Arlan, pria itu tampak mondar-mandir dengan wajah yang berseri-seri. Arlan sesekali meminum wiski mahalnya, terlihat sangat yakin bahwa investasi besar dari V akan menyelamatkan seluruh hidupnya hari ini. Asha merasakan kebencian yang mendalam melihat ekspresi kemenangan palsu di wajah pria itu.

​"Dia benar-benar tidak menyadari bahwa tanda tangannya kemarin adalah vonis mati bagi kekuasaannya," gumam Asha dengan suara rendah.

​Di samping Arlan, Elena terlihat sedang sibuk memilih gaun di sebuah katalog digital, seolah-olah semua krisis telah lewat begitu saja. Asha teringat bagaimana Elena tertawa di atas penderitaannya dulu, dan sekarang giliran Asha yang akan menikmati pertunjukan kehancuran mereka. Komposisi antara dendam dan ketenangan di dalam dadanya kini berada pada titik yang sangat seimbang.

​"Sepuluh menit lagi kita sampai di lobby utama, Nyonya V. Protokol penyambutan sudah disiapkan oleh mata-mata kita," lapor sopir di depan.

​"Bagus. Pastikan Arlan sedang berada di ruang rapat saat aku melangkah masuk ke lobby, aku ingin dia menyambut penyelamatnya dengan hormat," jawab Asha.

​Mobil memasuki distrik bisnis utama, di mana gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca memantulkan cahaya matahari pagi yang menyilaukan mata. Menara Neovault berdiri tegak di tengah-tengah sebagai simbol keangkuhan Arlan yang paling nyata di kota ini. Asha mencengkeram tas kulit di pangkuannya, meraba dokumen pengambilalihan aset yang sudah ia siapkan dengan sangat matang.

​"V, apakah kau merasa gugup setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di gedung itu?" tanya nelayan tua melalui perangkat audio tersembunyi.

​Asha mematikan layar monitor dan menatap lurus ke depan, ke arah pintu masuk utama menara yang kini sudah mulai terlihat di kejauhan. "Tidak ada rasa gugup, Paman. Yang kurasakan hanyalah dorongan untuk segera melihat kehancuran di mata pria yang mengkhianatiku."

​Mobil melambat saat memasuki jalur khusus drop-off di depan lobi megah Menara Neovault yang terbuat dari marmer hitam dan emas. Beberapa petugas keamanan segera mendekat dengan sikap sangat hormat, karena mereka menganggap pemilik mobil ini adalah investor penyelamat perusahaan. Asha menunggu pintu dibukakan untuknya, ia menegakkan punggungnya, membuang sisa-sisa identitas Asha yang rapuh.

​"Selamat datang di Menara Neovault, Tuan V. Tuan Arlan sudah menunggu Anda di ruang rapat direksi," ujar salah satu petugas dengan membungkuk sopan.

​Asha melangkah keluar dari mobil, aroma parfum mewahnya langsung mendominasi udara di sekitar lobi yang sangat luas dan sepi itu. Ia tidak menjawab ucapan petugas tersebut, hanya melangkah maju dengan langkah yang penuh otoritas, membuat suara sepatunya bergema di langit-langit marmer. Setiap orang yang berpapasan dengannya memberikan jalan, terintimidasi oleh aura dingin yang ia pancarkan.

​"Lantai teratas, silakan. Lift pribadi ini telah disiapkan khusus untuk kedatangan Anda," kata sekretaris yang sudah disuap Asha sebelumnya.

​Asha masuk ke dalam lift yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, memungkinkan ia melihat seluruh kota yang perlahan mengecil saat lift meluncur naik. Ia melihat sungai Rust di kejauhan, tempat di mana hidupnya dulu hampir berakhir dalam kegelapan yang sunyi dan berbau anyir. Sekarang, ia kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai pemilik baru dari semua yang Arlan banggakan.

​"Proses pengalihan aset akan dimulai dalam lima menit. Sistem akan secara otomatis membekukan akses Arlan saat kau masuk ke ruangannya," suara nelayan tua terdengar lagi.

​"Aku mengerti. Pastikan semua saluran berita siap untuk menyiarkan kejatuhan besar ini tepat setelah aku memberikan isyarat," perintah Asha tegas.

​Lift berdenting halus saat mencapai lantai teratas, pintu terbuka dan menampilkan lorong panjang menuju ruang rapat utama yang sangat eksklusif. Asha melangkah perlahan, ia bisa mendengar suara tawa Arlan dari balik pintu kayu jati yang tebal, tawa yang akan segera ia bungkam selamanya. Ia berhenti sejenak di depan pintu, merapikan jas hitamnya untuk terakhir kali sebelum melakukan konfrontasi.

​"Tuan V sudah tiba!" seru sang sekretaris sambil membuka pintu ganda yang besar itu dengan gerakan yang sangat dramatis.

​Arlan yang sedang memegang gelas kristal segera berdiri dengan senyum lebar yang sangat ceria, ia melangkah maju dengan tangan terbuka lebar. "Selamat datang, mitra penyelamatku! Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung setelah semua pembicaraan virtual yang menegangkan itu!"

​Elena yang duduk di sudut ruangan juga berdiri, menatap Asha dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan sedikit kekaguman pada penampilannya yang sempurna. Asha tetap berdiri diam di ambang pintu, matanya terkunci pada wajah Arlan yang belum menyadari bahwa ia sedang menyambut mautnya sendiri. Ruangan itu mendadak menjadi sunyi saat aura kedinginan Asha mulai merambat masuk ke setiap sudut.

​"Siapa sebenarnya Anda? Suara Anda ... sangat mirip dengan panggilan virtual semalam, tapi kehadiran Anda terasa berbeda," ujar Arlan, senyumnya sedikit memudar.

​Asha melangkah masuk ke dalam ruangan, membiarkan pintu besar di belakangnya tertutup secara otomatis dengan bunyi dentuman yang sangat solid. "Namaku adalah V, Arlan. Tapi di tempat lain, kau mengenalku dengan nama yang lebih familiar yang sering kau sebut dalam mimpi burukmu."

​Arlan mengerutkan keningnya, ia meletakkan gelas kristalnya di meja dengan tangan yang mulai sedikit gemetar tanpa ia sadari sama sekali. "Apa maksudmu? Aku tidak punya banyak waktu untuk teka-teki, mari kita segera bicarakan tentang dana investasi yang sudah kau kirimkan kemarin."

​"Investasi itu bukan untuk menyelamatkanmu, Arlan. Investasi itu adalah uang muka untuk membeli seluruh sisa hidupmu dan perusahaan ini," jawab Asha dengan nada yang sangat rendah.

​Ia berjalan mendekati Arlan, hingga hanya tersisa jarak dua meter di antara mereka, membuat Arlan bisa melihat detail wajah Asha yang tanpa cela. Arlan terpaku, ia merasa ada sesuatu yang sangat salah pada tatapan mata wanita di hadapannya, sesuatu yang membangkitkan memori yang sudah lama ia kubur. Bau parfum Asha mulai memenuhi hidung Arlan, memicu kilas balik tentang malam berdarah di tepi sungai.

​"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Elena yang mulai merasa sangat tidak nyaman dengan situasi mencekam ini.

​Asha tidak melirik Elena sedikit pun, ia hanya menatap Arlan dengan kebencian yang sudah murni dan sangat tajam. "Kau ingat sungai Rust, Arlan? Kau ingat bagaimana airnya terasa sangat dingin saat kau mendorong seseorang untuk tenggelam di sana?"

​Arlan tersentak mundur, tangannya secara tidak sengaja menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer yang mewah. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena wiski kini berubah menjadi putih seperti kain kafan, matanya membelalak karena rasa takut yang luar biasa. Ia menunjuk Asha dengan jari yang gemetar hebat, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.

​"Tidak ... tidak mungkin. Kau sudah mati! Aku melihatmu tenggelam!" teriak Arlan dengan suara yang pecah karena kepanikan yang sangat absolut.

​Asha tersenyum, sebuah seringai predator yang menunjukkan bahwa ia sedang menikmati setiap detik ketakutan yang dialami oleh mangsanya sekarang. "Asha memang sudah mati, Arlan. Yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah V, bayangan yang lahir dari setiap tetes darah yang kau tumpahkan malam itu."

​Elena memegang lengan Arlan dengan kuat, wajahnya dipenuhi kebingungan dan rasa takut yang sama besarnya saat mendengar nama Asha disebut kembali. "Asha? Arlan, apa yang dia bicarakan? Bukankah wanita itu sudah pergi ke luar kota dan menghilang tanpa jejak?"

​"Dia tidak pergi ke mana-mana, Elena. Dia berada di dasar sungai Rust, menunggu waktu yang tepat untuk kembali dan merampas semua yang kalian curi darinya," bisik Asha dingin.

​Arlan mencoba meraih telepon di mejanya untuk memanggil keamanan, namun Asha hanya berdiri tenang tanpa melakukan gerakan apa pun untuk menghentikannya. Saat Arlan mengangkat gagang telepon, tidak ada suara yang terdengar selain nada statis yang monoton dan mengganggu pendengaran. Arlan menekan tombol berulang kali dengan frustrasi, namun sistem komunikasi gedung itu sudah sepenuhnya berada dalam kendali Asha.

​"Keamananmu tidak akan datang, Arlan. Gedung ini sudah bukan milikmu lagi sejak kau menandatangani kontrak jaminan aset utama kemarin sore," ujar Asha.

​Ia mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya dan menunjukkannya kepada Arlan, layar itu menampilkan dokumen pengalihan kekuasaan yang sudah sah secara hukum. "Selamat datang di Neovault yang baru. Dan kau, Arlan Valeska, secara resmi dinyatakan bangkrut dan dipecat dari posisi dewan direksi mulai detik ini juga."

​Arlan jatuh terduduk di kursi besarnya, ia menatap Asha dengan pandangan kosong seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya yang gemetar. Kehancuran yang selama ini ia coba hindari kini berdiri tegak di hadapannya dalam wujud wanita yang pernah ia coba hancurkan dengan cara yang paling keji. Perjalanan menuju pusat kota telah berakhir, dan konfrontasi yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!