NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SARAPAN DALAM KEBISUAN

Laluna terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia menoleh ke samping, namun sisi tempat tidur yang ditempati Reihan sudah kosong dan rapi, seolah tidak pernah ada manusia yang berbaring di sana.

Hanya aroma sisa cologne yang samar dan dingin yang tertinggal di bantal sutra abu-abu itu.

Laluna menghela napas, duduk di tepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya. Tidurnya tidak nyenyak. Sepanjang malam ia bermimpi tentang tumpukan kontrak dan wajah ayahnya yang kuyu.

Ia segera mandi, mencoba membasuh rasa lelah dan keterasingan yang menyelimuti tubuhnya. Saat ia keluar dari kamar dengan pakaian paling rapi yang ia miliki, sebuah kemeja linen putih dan celana bahan berwarna krem.

Ia mendengar suara denting piring dari arah ruang makan.

Reihan sudah di sana. Ia duduk di kursi utama, tampak segar dalam balutan kemeja biru muda yang kancing kerahnya terbuka, tanpa dasi.

Di depannya terdapat secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap dan sepiring omelet yang disiapkan oleh koki pribadi yang rupanya datang sangat pagi.

"Duduk," ucap Reihan tanpa mendongak dari tablet di tangannya.

Suaranya di pagi hari terdengar lebih parau, namun tetap mengandung otoritas yang sama.

Laluna menarik kursi di ujung meja yang berlawanan, menciptakan jarak maksimal di antara mereka.

Seorang pelayan wanita paruh baya yang tampak sangat efisien segera meletakkan sepiring sarapan serupa di hadapan Laluna.

"Terima kasih," bisik Laluna ramah.

Pelayan itu hanya mengangguk singkat dan segera menghilang ke arah area servis. Di rumah ini, keramahan tampaknya merupakan komoditas langka.

Selama sepuluh menit berikutnya, hanya ada suara denting garpu yang beradu dengan piring porselen. Keheningan itu begitu padat hingga suara kunyahan terasa seperti gangguan.

Laluna merasa dadanya sesak. Ia terbiasa dengan sarapan yang berisik di rumahnya, suara radio yang menyiarkan berita pagi, ayahnya yang mengeluh tentang harga gandum, dan ibunya yang sibuk menawarkan selai tambahan.

Di sini, ia merasa seperti sedang makan di dalam sebuah makam yang sangat mewah.

"Soal pakaian yang kukatakan semalam," Reihan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari grafik saham di layarnya.

"Dimas akan mengantarmu ke butik sore ini. Aku sudah mengatur janji temu. Kau harus memiliki beberapa gaun formal. Akhir pekan ini ada jamuan makan malam di rumah kakek."

Laluna meletakkan garpunya.

"Jamuan keluarga? Bukankah kau bilang pernikahan ini rahasia?"

Reihan akhirnya mendongak.

Matanya yang tajam menatap Laluna dengan dingin.

"Rahasia dari publik dan media, bukan dari keluarga besar Arta Wiguna. Mereka perlu tahu bahwa kesepakatan ini sudah dilaksanakan agar posisi hukumku tidak diganggu gugat.

Tapi ingat satu hal, Laluna",

Reihan menjeda kalimatnya, menyesap kopi hitamnya yang pekat.

"Di depan kakek, kita adalah pasangan yang serasi. Kau tidak perlu berpura-pura sangat mencintaiku, karena itu akan terlihat palsu, tapi kau harus menunjukkan bahwa kau menghormatiku sebagai suamimu. Bisa kau lakukan itu?"

Laluna mengepalkan tangan di bawah meja.

"Menghormatimu? Sulit menghormati seseorang yang memperlakukanku seperti transaksi properti."

Reihan meletakkan tabletnya perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Laluna dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

"Aku membayar mahal untuk 'transaksi properti' ini, Laluna. Dan sebagai bagian dari kesepakatan, aku mengharapkan profesionalisme. Jika kau tidak bisa mengendalikan lidah tajammu itu di depan keluargaku, maka semua dana bantuan untuk Wijaya Bakery akan kutarik kembali."

Ancaman itu menghantam Laluna tepat di ulu hati.

Ia menelan ludah, kemarahannya mendadak layu oleh kenyataan pahit yang ia hadapi.

"Baik. Aku mengerti."

"Bagus," sahut Reihan singkat.

Ia berdiri, mengambil jasnya yang tersampir di kursi. "Aku akan pulang terlambat malam ini. Ada pertemuan dengan investor dari Singapura. Jangan menungguku."

"Aku tidak pernah berniat menunggumu," gumam Laluna pelan, hampir tak terdengar.

Namun Reihan tampaknya mendengar. Ia berhenti sejenak di dekat kursi Laluna, aroma tubuhnya yang kuat mendadak mengepung indra Laluna.

Pria itu sedikit membungkuk, membuat wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Laluna bisa melihat detak jantung di leher Reihan yang kuat.

"Pertahankan sikap keras kepalamu itu, Laluna," bisik Reihan dengan nada yang aneh, hampir seperti tantangan.

"Itu membuat permainan ini sedikit tidak membosankan."

Setelah Reihan pergi, Laluna merasa seolah baru saja menyelesaikan marathon. Ia bersandar di kursinya, membiarkan napasnya kembali teratur.

Ia menatap piringnya yang masih setengah penuh. Rasa lapar itu hilang, berganti dengan tekad untuk tidak membiarkan pria itu menghancurkan identitasnya.

Laluna berdiri dan berjalan menuju dapur. Ia butuh melakukan sesuatu agar tidak menjadi gila di apartemen yang luas ini.

Ia membuka kabinet atas dan menemukan beberapa bahan dasar yang tampaknya baru saja dibelikan oleh pelayan: tepung, gula, dan mentega.

Tangannya bergerak secara otomatis. Ia mulai menakar bahan. Baking selalu menjadi terapinya. Ia memutuskan untuk membuat chiffon cake sederhana.

Suara mikser yang memecah kesunyian rumah itu memberikan sedikit rasa tenang. Ia fokus pada tekstur adonan, memastikan putih telurnya mengembang sempurna hingga membentuk stiff peak yang cantik.

Aroma vanila dan mentega panggang perlahan mulai memenuhi ruangan yang biasanya berbau dingin itu. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini, apartemen Reihan terasa sedikit lebih "hidup."

Namun, saat ia sedang asyik memindahkan adonan ke dalam loyang, pintu depan terbuka. Dimas masuk membawa beberapa tas belanja besar. Ia terpaku di ambang pintu dapur, hidungnya kembang kempis menghirup aroma manis yang memenuhi udara.

"Nona... Anda sedang memasak?" tanya Dimas dengan nada tidak percaya.

Laluna tersenyum tipis, senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan di gedung ini.

"Hanya memanggang kue. Aku butuh kesibukan.".

Dimas tampak ragu.

"Tuan Reihan tidak suka bau makanan yang menyengat di ruang tengah, Nona."

"Ini bau vanila, Dimas. Bukan terasi," sahut Laluna tenang.

"Dan jika dia keberatan, katakan padanya ini adalah caraku untuk tetap 'profesional' agar tidak kehilangan kewarasanku."

Dimas hanya bisa terdiam, menatap gadis di depannya dengan pandangan baru.

Sepertinya, kehadiran Laluna di hidup Reihan akan membawa lebih banyak perubahan daripada sekadar status di atas kertas.

Sore itu, sesuai perintah Reihan, Dimas mengantar Laluna ke sebuah butik eksklusif di pusat kota. Di sana, Laluna diperlakukan bak ratu, namun ia tahu semua itu hanyalah bagian dari kostum sandiwara.

Ia mencoba satu per satu gaun sutra yang harganya mungkin bisa menggaji seluruh karyawan pabrik ayahnya selama sebulan.

Saat ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam berwarna emerald green yang membalut tubuhnya dengan sempurna, ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat "Nyonya Arta Wiguna", sebuah boneka cantik yang diciptakan untuk berdiri di samping sang Raja Es.

"Nona sangat cantik," puji pelayan butik itu tulus.

Laluna menatap pantulannya dengan mata yang redup.

"Cantik, tapi tidak bebas," bisiknya pada kaca.

Malam harinya, Laluna kembali ke apartemen sendirian. Ia meninggalkan sepotong chiffon cake yang ia buat tadi siang di atas meja makan, tertutup tudung saji kristal. Ia tidak tahu apakah Reihan akan menyentuhnya, atau justru membuangnya ke tempat sampah karena dianggap mengganggu estetika rumahnya.

Ia masuk ke kamar dan merebahkan diri, menatap kegelapan. Jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya tentang jamuan makan malam akhir pekan nanti. Rahasia apa yang disembunyikan keluarga Arta Wiguna? Dan mengapa Reihan tampak begitu membenci perjodohan ini, namun tetap melaksanakannya dengan sangat disiplin?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!