Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Matahari baru saja bersinar di ufuk timur, memberikan cahaya keemasan masuk melalui jendela kamar.
Sinar kehangatan pagi itu hancur ketika dari kamar suara bentakan seorang pria menggema di pagi ini.
Tidak hanya kamar, seolah suara itu merambat ke seluruh sudut rumah mewah itu.
Di dalam kamar Melina masih mendapatkan bentakan saat sang suami mau berangkat bekerja.
"Kamu emang jadi istri nggak becus!" bentaknya.
Suara bariton Ishan Ganendra menggelegar, penuh hinaan dan nada caci maki dari mulutnya yang di arahkan pada istrinya.
Ishan sudah rapi dan harus bersiap untuk berangkat ke lokasi syuting film terbarunya.
Pria itu mengenakan atasan kaos berwarna biru dongker polos membalut tubuh atletisnya dan celana bahan berwarna gelap formal.
Di tangannya, menggenggam beberapa lembar naskah yang tergulung, yang sesekali naskah itu di gunakan untuk menunjuk wajah Melina dengan kasar.
"Istri yang nggak becus! Anak panti asuhan begini nih! Kok gua bisa sial nikahin bini modelan kaya lu!" tunjuknya lagi menggunakan naskah di tangannya.
Melina berdiri mematung di hadapan suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tubuhnya yang di balut daster rayon berwarna hijau muda bermotif bunga, rambutnya yang hitam tampak basah dan berantakan.
Rambut panjang memang lama keringnya, karena sisa tadi habis mandi.
Tangannya meremas handuk kecil yang di gulung tergenggam di tangannya.
Terlihat jemari-jemarinya gemetar hebat menahan rasa takut dan malu yang bercampur aduk saat ini.
"Mas... aku udah siapkan semuanya, Mas," ucap Melina dengan suara lirih yang bergetar, mencoba membela diri meski nyalinya menciut.
"Alah alasan kamu!" potong Ishan cepat.
Terlihat mata Ihsan sudah menatap tajam ke arah Melina dengan kilatan amarah yang tak tertahankan.
Sementara mata, Melina sudah mengeluarkan air mata yang jatuh di pipi mulusnya.
"Saya ini punya jadwal padat! Harusnya kamu sudah siapkan semuanya sebelum saya bangun!" bentaknya.
"Nggak usah nangis!" lanjutnya menunjuk wajah Melina dengan menggunakan naskah.
Ishan membentak Melina pagi ini, entah salah apa istrinya---yang jelas bagi Ishan, Melina hanyalah parasit.
"Kalo kerja kamu lambat begini, apa bedanya kamu dengan parasit!" lanjut Ihsan.
"Dasar Matre! nikahin saya karena uang 'kan?!" bentaknya.
Melina hanya menunduk dengan bulir air mata yang sudah mengalir deras, sungguh sangat kejam Ishan.
Harusnya dia sadar, apa yang di ucapkannya semalam---bukankah Ishan memerintahkan Melina tak menyentuh barang-barangnya.
Dan kenapa sekarang Ishan menyalahkannya atas apa yang dilakukan Melina.
Bukankah itu perintahnya.
"Mas...kamu 'kan yang nggak mau aku menyentuh barangmu," isak tangis Melina.
"Alasan!" teriaknya.
Satu tamparan melayang pagi ini mengenai pipi kanan Melina.
Plak!
Suara tamparan menggema di setiap sudut kamar, Melina menundukkan kepalanya dalam bulir-bulir air mata, dan rambutnya yang masah menetes ke lantai marmer.
Tangan Melina memegang pipinya yang sudah merah karena tamparan dari suaminya.
Pagi ini Melina berusaha bangun paling awal, demi berdoa memohon petunjuk.
Namun kenyataannya sia-sia, malah dirinya mendapatkan bentakan dan tamparan di pagi pertamanya sebagai seorang istri.
Sebenarnya sebelum menikah Ishan sudah Redflag, dan kenapa dengan bodohnya Melina setuju dengan pernikahan ini.
Ishan melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka.
Melina mundur ketakutan dengan memegang pipinya yang merah, gadis ini ketakutan karena merasakan aura kemarahan dari tubuh suaminya.
"Jangan harap status 'istri' ini membuat kamu bisa menikmati kemewahan di rumah saya ya!" titahnya dengan mata melotot.
"Mas saya---"
Ucapan itu di potong oleh Ishan, seolah Melina tak diizinkan berbicara.
"Ingat perjanjian kita semalam, kamu disini karena terpaksa bukan, jadi kamu disini jadilah pembantu yang berguna kalo tidak menjadi istri yang benar!" ujar Ishan dengan penuh penekanan.
Setelah melontarkan kata-kata menyakitkan kepada istrinya, Ishan berbalik badan dengan kasar dan melangkah pergi meninggalkan kamar.
Menutup pintu dengan dentuman keras.
BLAM!!!
Melina mendengar dentuman pintu yang di tutup hanya bisa memejamkan matanya, tubuhnya masih berdiri di tempat yang sama.
Tubuhnya terduduk di atas ranjang, hatinya terasa terhimpit----kemewahan yang terasa mencekiknya.
Hari pertama pernikahannya di mulai bukan dengan romantis, sebagai pasangan pengantin pada umumnya.
Tapi dengan KDRT dan luka batin yang baru saja ditoreh oleh pria yang baru saja menjadi suaminya.
"Ya allah salah apa hamba...hiks...kenapa engkau memberikan hamba cobaan seperti ini," ucapnya dengan tubuh yang lemas.
"Hamba nggak pernah nyakitin orang lain, setiap hamba nyakitin orang lain---pasti hamba selalu minta maaf pada orang tersebut," lanjut Melina dengan air mata yang membasahi pipinya di pagi hari.
Melina merenung, jika dirinya bercerai kemana dirinya harus pergi.
Biasanya jika suami istri bertengkar atau mengalami KDRT maka pihak istri akan pergi ke rumah orangtuanya.
Namun, Melina---mau pergi kemana, dirinya tak bisa ke panti asuhan lagi.
Saat dirinya merenung terdiam dengan air mata, tiba-tiba ponselnya berdering.
Drrrt....Drrttt.
Melina segera menghapus air matanya, dan berdiri menuju sofa dimana ponselnya di letakan.
Di layar ponsel tertera nama Alvaro.
"Al...ngapain dia nelepon gua?" pikir Melina.
Melina menghela napas dan mengangkat ponsel itu, dan benar saja suara sahabatnya membuyarkan lamunannya.
"Hallo Assalamualaikum Al, kenapa?" tanya Melina.
"Hallo wallaikumsallam, Mel lo oke 'kan?" tanya Alvaro di sebrang telepon.
Melina menghela napas, dirinya mengusap air matanya dan tersenyum.
"Iya gua fine kok," jawab Melina dengan terkekeh.
"Eh bentar, tapi kenapa suara lu serak?" tanya Alvaro.
"Gua abis bangun cokk," jawab Melina.
"Oh oke deh," ujar Alvaro di sebrang telepon.
"Eh BTW nyokap lu gimana tante Ni Luh?" tanya Melina.
"Fine sama kaya lu," sahut Alvaro.
Alvaro menelepon Melina karena merasa jika ada yang tak beres pada Melina, tapi setelah mendengar Melina mengatakan baik-baik saja Alvaro bisa menghela napas lega.
Untuk Melina dirinya sengaja menutupi aib rumah tangganya, karena baginya rumah tangga adalah privasi yang harus di jaga.
Ibarat pakaian yang di pakai istri, begitu juga pakaian yang di pakai suami.
*
*
*
*
*
*
*
*