NovelToon NovelToon
Something Between Us

Something Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?

•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.

•karya original dari Nita Juwita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Between 23

Apakah Akan Jadian dan Diner?

**

Sebenarnya Some juga belum yakin atau hanya karena dia mirip saja sama cowok yang di ajak papa waktu itu. Dia cowok yang nampak sudah bekerja dan sepertinya masuk kuliah, tapi kenapa saat ini dia menggunakan seragam SMA. Satu hal yang pasti ia sama sekali tidak melakukan reaksi seolah mereka saling mengenal. Pada dasarnya memang semua anak orang kaya itu sama saja, semakin kaya dia semakin sombong saja tingkahnya. Perjodohan memang kadang hanya berlaku untuk orang yang mementingkan prioritas ketimbang dirinya sendiri. Makannya perjodohan itu kadang tidak begitu berhasil di kalangan atas. Entahlah untuk ini Some tidak tahu..

"Something ngapain kamu diam mulu," ujar Jendra ketika dirinya persis melihat ke arah Something yang sedang sapu - sapu halaman. Hal itu membuat Some melihatnya cuek, dan mempercepat sapuannya.

"Iya,"jawab Some cuek, ia berjongkok untuk membawa gundukan sampah berupa rumput kering itu dan membawanya ke tempat sampah punya Endra.

"Dari tadi kok kayaknya nggak enak hati loe Some," ujar Endra dengan maksud menggoda membuat Some menatapnya kesal. Some sendiri tahu kalau maksud dia Some kena sindrom baper karena kehadiran murid baru di kelompoknya. Baik Dina juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Tapi gengsi cewek itu udah selangit.

"Some kamu itu kerjanya lagi malas banget ya, pokoknya kelompok kamu kerjanya harus lebih banyak," teriak Jendra lagi di seberang mereka. Otomatis atensi sebagian yang ikut memeriahkan lapangan itu melihat ke arahnya. Tapi dengan gercep, "Apaan udah kalian kerja aja yang bener!" ketegasan yang menguar itu membuat mereka kembali fokus.

Some yang merasa kesal, langsung mempersiapkan diri untuk membersihkan halaman dan lapangan sebanyak mungkin. Membuat Endra dan Gilang terkekeh - kekeh, karena sebagian tugasnya dikerjakan Some.

"Some loe beneran udah sendiri aja, bukannya loe pernah bilang kalau loe punya pacar," tanya Gilang yang membantu Some.

"Pacaran di sekolah itu udah lama gue nggak tertarik lagi, kalau itu iya putus nggak jelas gitu," jawab Some masih berusaha fokus pada pekerjaannya, melupakan Gilang.

"Kenapa bisa begitu?" heran Andra yang mungkin cuma mendengar samar. Membuat Gilang dan Some berdecak kesal.

"Ihs loe tuh ya kerja sama," ujar Gilang sambil mendapuk bahu Andra supaya cowok itu nggak membuat kegaduhan.

"Memangnya harus gimana, gue mau sekolah dulu," ujar Some keki. Lantas Andra dan Gilang saling bertatapan dan mengangguk paham.

"Duh murid baru kerja," ujar Dina ketika ia melihat begitu malu dan lambannya Dinner membersihkan halaman. Cowok itu nampak kaku dan merasa tidak nyaman berada diantara siswa OSIS ini.

"Iya Din, gue juga lagi kerja. Maaf ya gue belum bisa jadi teladan kelompok ini," ujar Dinner terdengar merasa bersalah tentu saja kelompok mereka memaafkan. Hanya saja mungkin akan lebih terbiasa jika Dinner juga ikut bergabung agar lebih dekat.

"Enggak aduh maaf banget gue ngomong begitu, maksudnya gimana kalau loe banyak cerita," ujar Dina menawarkan. Ia mengajak Dinner menuju Andra dan Gilang, juga Some.

"Memangnya loe dulu sekolah dimana kenapa bisa pindah ke sini, bukannya ketat banget," ujar Gilang penasaran.

"Gue dari sekolah SMA Nusa Indah itu lho, karena papa gue baru pindah kerja jadi sekolah di sini," jawab Dinner nampak ragu.

"Itu bukannya sekolah elite, cuma orang kaya yang mampu sekolah di sana," jelas Dina yang dipanggil Dinner tanpa bantahan sedikit pun.

"Tapi diterpa rumor, katanya banyak yang nggak benar," ujar Gilang yang membuat Dinner nampak terlihat ragu. Hal itu membuat mereka paham apa yang terjadi.

"Yah tapi gue salah satu yang baik, jangan samakan gue sama mereka," balas Dinner dengan senyum jail yang menunjukan betapa tidak pentingnya kabar itu. Lantas mereka hanya terkekeh saja, lagi pula tidak masalah mau murid baru itu bekas sekolah dimana.

Isu SMA Nusa Indah itu karena kebanyakan siswanya pada nakal, jadi banyak kasus narkoba. Some teringat ketika papanya sempat bilang identitas Dinner, dia sekolah di SMA Nusa Indah, salah satu murid terbaik. Some pikir hanya lulusan dahulu ketika SMA itu dinobatkan sebagai SMA terbaik.

Kehadiran Dinner di sebelahnya sama sekali tidak diketahui oleh Some, sampai dia menoleh dan langsung berhadapan dengan tubuh tegapnya. Jantung Some rasanya berdebar karena kaget, ia tak habis pikir mengapa bisa dipertemukan dengan teman dinner dengan seperti ini.

"Hi," ujar Some untuk pertama kalinya menyapa siswa baru itu. Ia memperlihatkan senyum samar yang Some tahu sering ia lakukan ketita tak sengaja Some melihatnya dari kejauhan. Senyum itu sering ia tunjukan ketika ia sedang berbicara, cowok yang lumayan humoris.

"Hi, nama gue Dinner loe tahu?" tanya cowok itu basa - basi. Memang Some yang pendiam akan senang tiasa memperkenalkan dirinya.

"Gue tahu," jawab Some tegas. Hal yang membuat Dinner terkekeh kecil.

"Jadi gue beneran ketemu sama orang yang gue suka," ujar Dinner lantas membuat Some sendiri kaget. Benarkah ia menyetujui untuk dinner karena suka.

"Apa maksudnya loe beneran ingat?" tanya Some sambil meraba dadanya agar tenang.

"Tenang aja cowok kayak gue nggak mungkin lupa, apa lagi sama orang yang pernah dinner," ujar Dinner lalu tertawa geli. Sekalipun hanya sekali dan belum ada keputusan, Dinner sudah merasa tegang dari pas pertama kali mendengar ajakan papa tempo itu.

"Kayak beneran loe serius mau perjodohan kayak gitu aja," ujar Some sambil memutar bola matanya. Masa cowok punya masa depan macam Dinner mau ikut tawaran ajang begitu.

"Gue tahu gue juga nggak mau kayak gitu, tapi senang sih bisa kenal sama loe disini," ujar Dinner sambil menerawang membuat Some tersenyum. Ia tahu Dinner sama sekali tidak memikirkan perjodohan itu, ia sendiri sadar akan menolaknya.

"Iya deh, gue pikir loe itu jauh dari sini," ujar Some mengingat kalau Dinner mungkin hanya akan menjadi kenangan diantara cowok yang akan ia kencan nanti.

"Serius gue juga mikirnya gitu, tapi ternyata gue ada di dekat loe," jawab Dinner yang lantas membuat mereka tertawa bersama. Yang membuat teman kelompok lain melihat ke arah mereka.

"Ya Dinner teman dinner gue untuk calon perjodohan papa," ujar Some sangat pelan, tersadar kalau sudah jadi bahan tontonan.

"Ya salam kenal, kita bisa temenan kan?" optimis Dinner yang selalu membuat jantung Some berdebar karena ia tidak pernah menyadari sesuatu. Setidaknya perkenalan mereka adalah sesuatu hal yang intens. Some menerima salam itu, meraba tangannya yang benar halus.

**

Selesai dengan membersihkan lapangan, akhirnya kelompok Some berkumpul di bawah pohon rimbun. Ada bangku bekas yang dijadikan tempat duduk Some dan Dina, selain anak cowok pada mencari kursi bekas lalu di duduki. Mereka akan membahas strategi untuk memenangkan calon ketua OSIS, sekalipun kelompok itu hanya mewakili dan pastinya koordinasi itu tidak dipentingkan sama sekali.

"Jadi gimana sekalipun gue jarang banget masuk OSIS, tapi untuk pemilihan ini gue bakalan lebih eksited," ujar Gilang sambil melihat keseriusan Dina dan Some berpikir. Dilain sisi Dinner hanya mendengarkan, meskipun fokusnya memang selalu terarah pada Some. Mungkin karena dirinya yang masih penasaran akan cewek itu, karena sempat dinner malam itu.

Jika saja yang lain tahu, mungkin dia akan gelagapan untuk menjawab pertanyaan mereka.

"Kenapa emangnya loe mau jadi ketua OSIS, kenapa nggak dari dulu loe rajinkan kegiatan loe," balas Dina sambil memutar matanya. Dari dulu emang Gilang tak begitu antusias ketika bahkan Dina saja berusaha keras agar selalu datang rapat begitu Some.

"Itu tentang pilihan gue Din, nggak bisa di bantah. Lagian kalau gue jadi ketua emang gua bangga karena apa," ujar Gilang menimpali dan menatap Dina kesal.

"Sama saja dengan Some, dia sama sekali nggak punya untuk dibanggakan," ujar Dina lalu menjitak kepala Gilang agar cowok itu tak selalu membuat keributan.

"Tapi bukannya visi dan misi juga harus kita kerjakan," ujar Andra sambil menunjukan buku catatan kosong untuk di isi. Ia tahu Some sempat membuat publik gempar, dengan postingan fotonya menggunakan seragam SMA Bhakti Darma sebagai promosi menjadi ketua OSIS. Ia melampirkan visi yang sungguh keren. Sampai tidak sadar padahal dia bukan cewek yang berprestasi.

"Hmmm bagaimana kalau gue bantu bikin. Gue bisa isi misi itu dengan kegiatan sosial yang banyak, meskipun gue ragu emang gue bisa," ujar Dinner yang membuat mereka segera menganggukan kepala. Karena percaya pada cowok itu.

"Loe harus bisa Dinner, kan loe cowok lumayan pinter, kepemimpinan loe juga kadang berpengaruh di kita," puji Gilang dengan senyum kecil yang membuat Dinner merasa dekat.

"Baik lah, tapi tetap saja untuk visinya punya Some lebih bagus," ujar Dinner sambil melirik ke arah cewek itu yang nampak menulis beberapa misi miliknya. Hal itu membuat dirinya tersenyum.

"Makasih," ujarnya tak pernah menduga kalau secara tidak sengaja Dinner melihat postingannya. Yang emang dia bagikan ke semua siswa SMA Bhakti Darma.

"Jadi," ujar Dinner seolah mencari keputusan.

"Gini gue tulis," ujar Andra menginterupsi lalu mengambil buku dan pulpen di tangan Gilang. Dia dengan cekatan, meminta mereka berdiskusi agar lebih ke rehabilitasi sempurna.

"Oke, gue pengen memimpin OSIS ini dengan kesederhanaan gue, dan hal yang gue suka," ujar Some meskipun agak ragu. Sempat pada tercengang tapi kemudian diberi tepuk tangan meriah.

"Oke, gapapa," tegas Dina.

"Gue bakalan jadi wakil yang bijaksana, dengan aturan - aturan yang kompeten, " ujar Dinner juga agak ragu. Mereka sempet tercengang, lalu gimana jadinya kalau kesukaan dan kompeten itu disatukan.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!