Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaget nikah 6
Keesokan harinya.
Hari ini Samudra mengajakku menghadiri resepsi pernikahan temannya yang diadakan di sebuah hotel yang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah.
Aku sudah berdandan dari tadi. Meski tidak berdandan berlebihan, tetap saja ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Aku mengenakan dress_selutut berwarna peach dengan rambut panjangku yang sengaja kugerai tanpa menggunakan aksesori yang mencolok, serta sapuan make up yang simpel dan natural saja. Sebab aku memang tidak terlalu suka bermake up berlebihan.
Setelah selesai bersiap-siap, aku segera menghampiri Samudra dan mengajaknya berangkat.
Setelah sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat resepsi pernikahan tersebut. Sangat mewah menurutku pesta pernikahan kali ini, jauh lebih mewah jika dibandingkan dengan resepsi pernikahanku waktu itu. Tapi tidak masalah buatku, sebab aku sendiri memang tidak terlalu suka yang berlebihan. Aku hanya sekadar mengagumi megahnya tempat ini yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen khas pesta pernikahan dan banyak sekali bunga lili di setiap sudutnya—bunga putih yang katanya melambangkan sebuah kesetiaan.
"Indah sekali," gumamku.
Samudra menggandeng tanganku dan mengajakku menghampiri kedua mempelai pengantin untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Setelah itu, kami pun bergabung dengan para tamu undangan yang kebanyakan memang teman Samudra.
Samudra mengenalkanku kepada teman-temannya karena memang ada beberapa teman Samudra yang tidak mengetahui perihal pernikahan kami yang waktu itu terkesan begitu mendadak.
Dan di antara teman-teman Samudra, aku mendadak merasa tidak enak ketika mendapati ada sesosok perempuan cantik berhijab panjang memandang Samudra dengan tatapan yang sulit kuartikan. Sungguh aku tidak ingin berpikiran buruk, tapi aku yakin itu adalah tatapan suka. Atau bahkan, menurutku, tatapan itu lebih dari sekadar tatapan suka.
Hingga sesaat kemudian ada beberapa teman Samudra yang entah bercanda atau sungguhan, mereka mengatakan di hadapanku, "Cieee... ketemu mantan."
_Deg..._ Jantungku mendadak bergetar hebat mendengarnya. Apa mungkin perempuan yang sejak tadi memperhatikan Samudra itu adalah mantan kekasih Samudra dulu? _Ahh... kenapa hatiku seolah berdenyut hanya karena memikirkannya saja._
Sementara Samudra hanya tersenyum menanggapi candaan teman-temannya, membuatku semakin yakin kalau mereka berdua memang dulunya mempunyai hubungan istimewa.
"Oh ya, Ras, kenalin ini Sarah, temanku," kata Samudra mengenalkanku pada wanita cantik di hadapanku ini. Aku pun mengulurkan tanganku dan tersenyum ramah padanya sambil menyebutkan namaku.
"Hai, namaku Sarah. Aku dan Samudra sudah lama saling mengenal," kata perempuan bernama Sarah itu mengenalkan dirinya kepadaku.
"Oh, ya...?" sahutku, mencoba bersikap biasa saja di hadapannya.
"Emm... Sam, aku perhatiin kok sekarang kamu kelihatan kurusan, ya. Agak berubah sih menurutku," kata perempuan itu sekali lagi sambil melirikku dan kemudian mengulaskan senyum penuh arti kepada Samudra.
"Aku memang sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan, jadi aku sering lupa memperhatikan pola makanku akhir-akhir ini," jawab Samudra mencoba menjelaskan kepada Sarah. Ya... Samudra memang sebaik itu, bukan? Dia begitu pandai menyembunyikan kebenarannya. Dan sungguh, aku merasa ada yang menghantam dadaku saat ini. Lagi-lagi secara tidak sengaja aku diingatkan betapa tidak becusnya aku sebagai seorang istri yang merawat suami saja tidak bisa.
"Sam, aku boleh nggak bicara berdua saja denganmu?" tiba-tiba saja Sarah mengatakan itu. _Hai, tunggu. Apa dia tidak peduli dengan keberadaanku? Apa dia tidak lihat? Bisa-bisanya dia mengatakan itu di depanku, istrinya Samudra!_
"Maaf, Sarah, aku tidak bisa. Aku tidak mau menimbulkan fitnah apa pun. Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja di sini, di hadapan istriku juga," jawab Samudra dengan begitu yakin, yang sedikit membuat perempuan bernama Sarah itu terlihat terkejut dengan sikap Samudra yang terkesan dingin. Setelah beberapa saat terdiam, Sarah pun akhirnya berkata, "Aku mau minta maaf sama kamu, Sam. Maaf karena telah meninggalkanmu waktu itu tanpa penjelasan," ucap Sarah dengan begitu beraninya menatap Samudra dengan tatapan yang menurutku sangat menjengkelkan.
_Apa aku cemburu?_ Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya saja dadaku terasa panas seperti mau terbakar saat ini. Ternyata benar mereka berdua dulunya adalah sepasang kekasih. Dan kupikir Samudra pastilah masih memiliki perasaan juga kepada perempuan bernama Sarah ini.
Aku membeku di hadapan mereka berdua. Aku bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi sesekali Samudra menatapku, dan aku hanya menunduk sambil berusaha menata hatiku yang semakin tidak karuan. Kupikir Samudra juga mengerti perasaanku saat ini karena pada saat itu juga dengan erat dia menggenggam jemari tanganku yang mendadak menjadi dingin.
"Aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi, Sarah. Insyaallah aku sudah ikhlas. Terlebih lagi sekarang ini aku sudah menikah dengan Laras dan itu yang menjadi prioritasku sekarang," jelasnya.
Ucapan Samudra tersebut, demi Tuhan, mampu meremas dadaku sekali lagi hingga membuat mataku seketika menjadi basah. Melihatku yang bereaksi seperti ini membuat Samudra langsung mengeratkan genggaman tangannya, kemudian dia berbisik di telingaku, "Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa pulang sekarang." Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya.
"Ya sudah, aku permisi dulu. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi," ucap Samudra kepada Sarah, kemudian segera membawaku pergi dari tempat yang membuatku merasa tidak nyaman tersebut.
"Tunggu!" ucap Sarah ketika kami hendak pergi. "Sam, apa kamu bahagia?" tanya Sarah tiba-tiba, seolah memaksa menuntut penjelasan dari Samudra.
"Iya, aku bahagia. Tidak ada alasan untukku untuk tidak bahagia dengan hidupku," jawab Samudra dengan yakin sambil tetap menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan untuk pulang.
"Bohong... kamu tidak bisa membohongiku, Sam. Lihatlah kamu yang sekarang. Kamu berbeda sekali dengan Samudra yang kukenal dulu," ucap Sarah mencoba memprovokasi. Entah bagaimana dia bisa merasa begitu yakin dengan kesimpulannya sendiri. Tapi Samudra tak lagi menanggapinya dan memilih untuk segera mengajakku pergi dari tempat ini. Aku masih mendengar lamat-lamat Sarah terus berbicara meskipun kami sudah menjauhinya.
Sementara di sepanjang perjalanan pulang kami masih saling diam. Samudra tidak mengatakan apa pun, demikian pula denganku yang memilih bungkam meski sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kuutarakan kepada Samudra saat ini.
Hingga kami tiba di rumah, kami masih sama-sama terdiam. Kejadian tadi cukup bisa memengaruhi emosiku. Buktinya, hingga malam larut aku masih belum bisa memejamkan mataku. Kulihat Samudra juga tidak ingin menjelaskan apa pun padaku, membuatku merasa semakin tidak enak hati. Dalam diam aku tergugu dalam tangis. Aku merasa aku bukanlah istri yang layak untuk Samudra. Meski sakit sekali, tapi aku membenarkan ucapan Sarah tadi yang nyatanya masih terngiang-ngiang di telingaku. _Apa benar Samudra hanya berpura-pura bahagia bersamaku?_ Sungguh memikirkannya membuatku semakin terisak dalam tangisanku hingga suara berisikku mampu mengusik Samudra yang kuyakini sudah tertidur dari tadi.
Aku merasakan ada yang menyentuh pundakku dari belakang. Aku merasakan hembusan nafas itu begitu dekat di tubuhku. Kemudian aku pun merasakan Samudra mengecup rambutku dari belakang. Aku masih terisak dan tidur membelakanginya.
"Kenapa menangis?" tanya Samudra dengan suara yang begitu dekat berbisik di telingaku.
Aku kemudian membalikkan tubuhku menghadap Samudra yang tengah merebahkan tubuhnya di hadapanku. Samudra mengusap air mata yang masih mengalir di pipiku.
"Jangan menangis, aku tidak mau melihatmu menangis, apalagi menjadi penyebab kamu menangis," ucapnya dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan.
"Mas, aku minta maaf," ucapku seketika. Aku memberanikan diri menatap matanya dengan sungguh-sungguh. "Mas, kalau kamu tidak bahagia bersamaku, katakan saja. Aku pasti akan menerimanya," ucapku lagi. Kali ini air mataku semakin deras mengalir di kedua pipiku. Aku sungguh takut membayangkan hal buruk yang mungkin akan dikatakan oleh Samudra kepadaku.
"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak bahagia, Ras?" tanyanya dengan tatapan tajam yang langsung menembus ke dalam mataku yang masih berair.
"Aku bukan istri yang baik. Benar kata Bunda dan Sarah, sejak bersamaku kamu berubah, Mas. Kamu tidak terawat baik seperti dulu. Dan itu artinya aku sudah gagal menjadi istri yang baik untukmu," ucapku dengan suara yang bergetar. Sungguh sakit sekali saat mengatakan kebenaran ini.
Samudra menarikku dalam pelukannya dan sesekali mengecup puncak kepalaku yang bersembunyi di dadanya. Untuk sesaat Samudra hanya terdiam dan tetap memelukku.
"Terima kasih kamu telah hadir di hidupku, Ras. Kamu berharga. Dan demi Allah aku bahagia dan bersyukur memiliki kamu," ucap Samudra, yang otomatis membuatku membeku dengan kata-katanya. Benarkah yang dia ucapkan?
---