NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu Badai

Pagi itu tidak benar-benar tenang.

Langit masih abu-abu, seperti lukisan yang belum selesai. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan di jalan sempit depan apartemen Andra—airnya hitam, memantulkan dunia yang terlihat sama, tapi tidak terasa sama. Sesuatu berubah di udara, tak terlihat namun bisa dirasakan di tulang.

Andra berdiri di depan cermin kecil tergantung miring di dinding. Kemeja putihnya disetrika seadanya, bekas lipatan yang tidak sempurna masih terlihat di bahu kiri. Dia menatap bayangannya sendiri, mencoba meyakinkan seorang pria yang tampak asing di balik kaca itu.

Ponsel di atas meja, layarnya masih menyala.

Pesan dari Mei

"Hari ini kita hadapi bersama, ya, Mas."

Ia menarik napas pelan seolah sedang menarik keberanian udara yang menipis.

"Bersama..." gumamnya.

Tapi untuk pertama kalinya, kata itu terasa berat bukan karena ragu tapi mulai mengerti ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kata.

---

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen Mei berdiri di depan lemari kecilnya. Pintu kayu ukiran—warisan dari neneknya—terbuka lebar deretan pakaian mahal tergantung rapi, teratur, sempurna. Setiap helai adalah representasi dari dunia yang selama ini menjadi miliknya: dunia di mana segala sesuatu bisa dibeli, diatur, dan dikendalikan.

Mei menatapnya lamat, lalu, dengan gerakan pelan, menutup pintu lemari. Hari ini, dia tidak ingin menjadi Mei Hartono yang tersusun rapi, selalu tahu jawaban, punya rencana cadangan.

Ia lalu mengambil kaos polos warna krem dari laci. Celana panjang hitam, sepatu flat sudah usang. Pakaian yang tidak akan pernah dipilih oleh ibunya, tidak akan pernah dimasukkan majalah, dan tidak akan pernah menarik perhatian di pesta mana pun.

Tapi pakaian ini adalah dia.

Ponselnya bergetar. Nama di layar membuat jantungnya berdetak lebih cepat sekaligus berat.

"Kamu di mana?" suara ibunya langsung, tanpa salam, tanpa basa-basi."Dengan dia?"

Mei menatap bayangannya di cermin, terlihat lebih kecil, sederhana, tapi entah mengapa—terlihat lebih nyata.

"Dia sudah pulang, Ma" jawabnya lebih tenang .

Sunyi sejenak, hanya ada suara napas di ujung telepon, dan sesuatu yang lebih berat dari kata.

"Itu bukan dunia kamu, Mei, " Suara ibunya turun setengah nada. "Kamu tahu itu."

"Kalau bukan dunia Mei...kenapa Mei merasa hidup?"

"Itu fase, semua orang punya fase."

Mei tersenyum tipis. "Ini bukan fase, Ma, tapi cerita hidup Mei."

Tidak ada jawaban.

Karena untuk pertama kalinya, gadis itu tidak bicara sebagai anak yang mencari pengertian tapi seorang wanita sudah menemukan dirinya sendiri—dan memilih untuk tidak mundur.

---

Jam tujuh kurang lima menit.

Andra sudah duduk di ruang tunggu kantor, di kursi plastik yang dingin dan tidak pernah nyaman. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat dari biasanya, jari-jarinya pucat di buku-buku jari.

Beberapa karyawan lewat melirik, berbisik pelan.

Atmosfernya berbeda hari ini, sesuatu yang beredar di udara—gosip, atau lebih buruk dari itu: informasi. Andra bisa merasakannya di tulangnya, insting yang ditempa oleh tahun-tahun hidup di bawah radar pantauan

Pintu ruang rapat terbuka. Seorang staf HRD melongokkan kepala. "Masuk."

Dua orang duduk di sisi lain meja. Yang satu dia kenal: Ibu Lina dari HRD, wanita yang selalu tersenyum di koridor tapi hari ini wajahnya seperti topeng Betawi. Satu lagi, pria paruh baya dengan setelan jas terlalu mahal untuk ukuran kantor, tidak memperkenalkan diri. Tapi Andra tahu—dari cara dia duduk, matanya menilai sebelum berbicara—dia ini bukan orang biasa, pejabat atau tokoh omas.

"Kami mendapat laporan," kata Ibu Lina nada formal. "Tentang hubungan pribadi Anda... dengan pihak eksternal berpotensi menimbulkan konflik kepentingan."

Andra diam tidak mengkonfirmasi, tidak menyangkal—hanya menunggu.

"Apakah Anda mengenal Meisyah Hartono?"

Nama itu jatuh seperti palu di ruangan yang sunyi. Andra merasakan getaran di dada, tapi wajahnya tetap datar.

"Iya."

"Sejauh apa?"

Ia tidak langsung menjawab menatap keduanya silih berganti. Dalam diamnya, ada sesuatu yang sedang dipertimbangkan—bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seseorang bahkan tidak ada di ruangan ini.

"Sejauh saya memilih dia," katanya akhir sederhana, tegas tanpa penyesalan.

Sunyi.

Pria di samping HRD tersenyum tipis senyuman debt kolektor penagih hutang menemukan mangsa "Kamu tahu siapa dia?" tanyanya pelan, dengan nada berat

"Iya."

"Dan kamu tetap lanjut?"

Andra mengangguk sekali, tegas.

Pria itu bersandar di kursinya, menatap Andra sejenak, lalu, dengan nada yang hampir terdengar seperti pujian tapi tidak benar-benar:

"Berani."

Satu kata. Tapi Andra tahu—ini bukan pujian tapi ancaman.

"Perusahaan tidak melarang hubungan pribadi," lanjut Ibu Lina tegas. "Tapi kami juga tidak bisa membiarkan potensi... gangguan."

Andra mengerti sekarang. Ini bukan soal aturan. Ini bukan soal kerja. Ini tekanan—bersih, rapi, dan dibungkus dengan bahasa korporat sopan.

"Jadi?" tanya Andra satu kata, tapi penuh dengan tantangan.

"Kami sarankan...Anda menyelesaikan urusan personal tanpa menyangkut pautkan dengan perusahaan."

"Aneh saja, apa hubungan nya? dia bukan pegawai kantor ini."

Mereka terdiam.

"Lalu apa sarannya?" Andra mengulang, membiarkan ironi tergantung di udara.

Pria itu tersenyum lagi. Kali ini lebih jelas, lebih terbuka—dan lebih menakutkan

"Atau," katanya, suaranya turun menjadi bisikan sok akrab, "kami bantu anda untuk menyelesaikan."

Hening

Sunyi yang penuh dengan ancaman rapi, bukan pilihan.

Andra akhirnya berdiri pelan. "Terima kasih sarannya." Dia tidak menunggu jawaban, atau meminta izin berjalan keluar, punggungnya tegak, langkahnya stabil—tapi sesuatu di dalam dadanya mulai retak.

Dan untuk pertama kalinya, dia sadar dengan kejelasan yang menusuk:Ini bukan hanya tentang cinta tapi perang.

---

Sore di Panti

Mei menunggu di depan panti asuhan sendiri. Tidak ada mobil mewah berhenti di depan gerbang, sopir yang membuka pintu. Hanya dia, berdiri di trotoar masih basah, dengan kaos dan celana panjang.

Beberapa anak panti melambaikan tangan dari balik jendela. Dia membalas, tersenyum—tapi matanya terus mencari satu orang, satu kehadiran menjadi penanda aman baginya.

Langkah kaki terdengar pelan, tidak terburu-buru, tapi juga tidak santai, laki laki itu .

Mereka saling melihat dari jarak beberapa meter. Tidak langsung bicara. Karena mereka tahu—hari ini berbeda sesuatu telah berubah, belum bisa diucapkan tapi sudah bisa dirasakan di udara di antara mereka.

"Mas telat,"

"Dikit."

"Ada masalah?"

Andra tersenyum kecil, "Mulai ada, di kantor

Gadis itu menatapnya lebih dalam mencari sesuatu di balik wajah yang tersembunyi.

" Siapa?"

"HRD dengan seseorang mas gak kenal."

Kening gadis itu mengerut, ancaman itu mulai datang, tapi ia percaya laki laki di depannya ini bukan pria sembarangan. Dia tahu kapan harus pergi, kapan menunggu dan kapan menarik keputusan.

"Mas Takut?"

Andra menggeleng. "Enggak." Dia berhenti sejenak, menatap langit yang masih abu-abu. "Cuma... mas gak nyangka ternyata lebih besar dari yang kita kira."

Mei mendekat satu langkah, jarak di antara mereka menyusut, "Lalu ?"

"Mei...Ia menatapnya lekat, " Mas tidak takut, mas biasa menghadapi ancaman, tapi..."

" Tapi apa ?"

" Mas kasihan dengan mu, Mei, ini semua gara gara mas."

Sunyi. Angin lewat, membawa bau tanah basah dan janji hujan yang belum turun.

Gadis itu tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menggenggam tangannya erat, seperti semalam, malam-malam sebelumnya ketika dunia terasa terlalu besar dan mereka hanya punya satu pilihan.

"Mengapa mas bilang begitu," tanyanya pelan, hampir tenggelam dalam angin. "Apa pun yang datang... kita hadapi bersama."

Andra terdiam, hatinya merasa tenang, namun firasatnya mengatakan sesuatu yang besar akan datang dan tidak bisa dihentikan.

Langit abu-abu, seperti lukisan menunggu sentuhan terakhir, menahan sesuatu yang sebentar lagi akan jatuh. Dan mereka berdiri di sana, berdua, menunggu badai.

" Mas..tetap sayang dengan Mei ?"

1
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!