Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Tak beberapa lama setelah menjauh dari area sekitar rumah kost itu. Mobil yang mereka tumpangi terlihat mulai membelah jalanan ramai di pusat perkotaan.
Jalanan yang memanjang di antara gedung-gedung tinggi menjulang yang mulai bermunculan, dengan gemerlap lampunya yang silih berganti tertangkap di pandangan.
Sampai akhirnya setelah mengarungi jalan raya kurang lebih sekitar 30 menitan. Mobil itu mulai melambat di saat hendak berbelok memasuki sebuah gerbang kawasan elit.
Kawasan yang bahkan akses masuknya saja lebih dari sekadar sulit, karena dijaga ketat hampir di setiap waktu oleh para penjaga yang ditugaskan.
Wajah mereka juga terbilang seram-seram, tubuhnya tinggi tegap, pake seragam warna hitam.
Mobil lalu berhenti tepat di depan portal.
"Selamat malam, Tuan," sapa salah satunya.
Kaca jendela lalu dibuka. Akan tetapi begitu sang pengemudi menunjukkan kartu namanya. Wajah para penjaga itu lantas berubah menjadi ramah.
"Kalian pikir kami ini siapa?" ujar malas si pengemudi.
"Maaf tuan-tuan. Kalau begitu silahkan jalan," ucap salah seorang penjaga yang langsung tersenyum manis sedikit menahan takut.
Brum!
Pintu gerbang kawasan elit itu akhirnya berlalu, kemudian digantikan oleh deretan mansion mewah beragam rupa.
Ada yang bergaya kuno dengan ornamen klasik, ada juga yang bergaya nyentrik dengan ornamen unik. Intinya setiap mansion yang ada di kawasan elit itu tidak ada satupun yang terlihat biasa-biasa saja.
Semuanya tampak mewah, mahal, dan jauh dari kata sederhana.
Dan di antara jalanan lurus yang teramat mulus, serta rindangnya pepohonan yang menghiasi area taman di sepanjang jalan itu. Dena jadi tau, tempat ini adalah kawasan elit yang menjadi tempat tinggal para orang-orang kelas atas.
Kawasan yang bahkan tidak pernah Dena lihat maupun kunjungi di sepanjang hidupnya.
"Gila, ... tempat ini keren banget!" serunya dalam hati menilai kawasan elit itu.
Sampai akhirnya, setelah melalui belokan pertama sejak mobil itu memasuki gerbang utama.
Pria berambut pirang yang kebetulan sedang berada di balik kemudi—tiba-tiba menoleh ke arah Dena.
"Nona," panggilnya tenang.
Sementara Dena yang semula sedang sibuk mengamati ke luar jendela, sontak terperanjat lalu menatap ke arah pria berambut pirang itu.
"I—Iya, Mas. Kenapa?" tanyanya sedikit gugup.
"Sebentar lagi kita sampai. Rumah Tuan Alvaro ada di depan," ujarnya sembari kembali fokus mengemudi, jarinya menunjuk ke arah yang tidak jauh.
Dena menelan ludah. "Rumah Tuan Alvaro?"
"Jadi Om Alvaro juga tinggal di daerah sini?" gumamnya lirih, akan tetapi ia tidak sadar jika suaranya itu masih mampu didengar oleh mereka.
"Benar Nona." Pria di sebelah kemudi mengiyakan, "Rumah Tuan Alvaro lebih tepatnya berada tepat di ujung jalan ini. Kurang dari satu menit kita akan sampai," sahutnya.
Dena lantas ternganga lebar-lebar, matanya pun membulat besar ketika pada akhirnya mobil itu semakin melambat.
Tepat seperti yang kedua pria itu katakan, mereka akhirnya berhenti di depan salah satu mansion yang berada di ujung jalan itu.
Dena kemudian menatap depan, ke arah sebuah mansion mewah bak istana. Dan menjadi satu-satunya mansion bergaya modern, di antara mansion lainnya yang cenderung memiliki desain klasik.
Lalu begitu gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya. Mobil itu kemudian masuk perlahan-lahan membelah halaman depan yang di sekelilingnya terdapat sebuah taman.
Taman yang berhiaskan bunga-bunga indah bermekaran, dengan berbagi hiasan lampu gemerlap yang memanjakan mata.
Sedetik tidak ada Dena jadi suka memandanginya.
"Ya ampun, jadi ini tempat tinggal Om-Om nyebelin itu." Dena terkagum-kagum.
"Mewah banget anjir, kayak tinggal di istana," batin Dena kali ini, mengingat se-lirih apapun ia bergumam selalu saja masih dapat didengar dua manusia di depannya itu.
Dena tidak mau kesalahannya itu terulang lagi.
Mobil akhirnya berhenti, tepat di depan pintu utama mansion itu mengarah. Sementara Dena masih saja terdiam saking kagumnya.
Dan, mau sekuat apapun Dena menahan diri untuk tidak kagum, rasa itu tetap saja sulit untuk tertahan.
...***...
"Silakan turun, Nona ..."
Begitu Dena melangkah turun setelah pintu dibukakan oleh salah satu dari mereka.
Dena kemudian berdiri kaku dengan wajah ternganga tepat di depan mansion mewah itu.
Sebelum akhirnya Dena dipersilahkan untuk melangkah— lalu satu-persatu anak tangga marmer itu Dena tapaki perlahan-lahan.
Bukan karena kali ini Dena gugup atau takut keseleo lagi, hanya saja kali ini ia benar-benar masih tidak menyangka.
Dan di saat yang sama satu kalimat itu sedari tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Seriusan gue mau dikawinin orang setajir ini?" batinnya sulit percaya. Tepatnya sebelum pintu utama yang tingginya bahkan hingga menyentuh langit-langit itu, terbuka lebar untuknya.
Pintu pun terbuka.
Dan Dena lantas berkedip pelan, saat kakinya bahkan mendadak lemas tidak terkira begitu menyadari area di dalam rumah itu tak kalah mewahnya dibandingkan bagian luarnya.
Di depan matanya, ruang tamu yang luasnya bahkan lebih besar dari gedung aula sekolah, lengkap dengan desain interior semi modern, serta hiasan yang sudah pasti tidak murah harganya—berdiri megah di atas lantai marmer mengkilap yang dapat memantulkan wajah Dena.
"Silahkan masuk, Nona. Nyonya dan Tuan muda Yubel sudah menunggu di dalam," ucap pria yang berjaga di sebelah pintu, membungkuk sopan mempersilahkan Dena masuk ke dalam.
Di detik pertama Dena hanya menghela napas ringan sambil masih terdiam di tempat. Di detik kedua kedua kakinya mulai terasa berat untuk diajak melangkah.
Apalagi menapakkan kaki ke dalam rumah itu. Dena merasa tidak pantas.
Hingga seorang perempuan cantik tiba-tiba muncul di depan mata Dena—tersenyum begitu manis menatap ke arah dirinya.
Anggun, elegan, berkelas, dan memakai gaun mewah. Itulah yang pertama kalinya terbesit di benak Dena.
Dena langsung yakin, orang ini pasti mamanya Alvaro.
"Nyonya Yubel!"
Wajah mereka juga mirip, terutama di bagian matanya. Persis! Kayak Alvaro maupun Almika.
Bedanya, kalau Alvaro itu ganteng tapi nyebelin sedangkan Almika itu cantik tapi ngeselin.
Sementara Mama mereka berdua justru terlihat memiliki aura yang berbeda, dengan gaya khas perempuan berusia kurang lebih 48 tahunan, tapi tetap awet muda.
"Ah ini dia...akhirnya calon menantu saya datang juga," ujarnya hangat, wajahnya pun sumringah sambil buru-buru mendekat ke arah Dena.
Dena jadi senyum-senyum canggung, mengangguk sekali lalu mencium punggung tangan perempuan itu.
Biarpun terkenal bandelnya minta ampun, tapi Dena tidak sebodoh itu untuk lupa bersikap santun.
"I-Iya, Tante. Assalamualaikum," ucap Dena, sopan.
Perempuan itu lantas menjawab dengan semestinya, lalu kedua tangannya reflek meraih pipi Dena sambil masih tersenyum lebar menatap gadis itu.
"Ya ampun, Sayang. Kamu kecil banget sih. Kamu masih SMP ya?" tanyanya seperti menahan gemas ingin mencubit-cubit pipi Dena.
Dena segera menggeleng-geleng. Udah segede ini masak iya masih dikira anak SMP. Dena langsung meluruskan kesalahpahaman itu.
"Eh, enggak, Tante. Saya udah SMA kok."
"Udah SMA?"
"Iya, Tante. Udah kelas dua belas juga," jawab Dena malu-malu.
"Oalah, memangnya usia kamu berapa, sayang?"
"Sembilan belas," jawab Dena sedikit menahan malu, pasalnya itu bukan usia yang lumrah ketika ia masih harus duduk di bangku sekolah SMA.
"Sembilan belas?"
"Pernah tinggal kelas?" Dan yah, perempuan itu langsung berpikir ke arah sana.
"Eh, enggak Tante. Cuma sempat putus sekolah." Dena meringis. "Jadi harus ngulang satu tahun lagi," jelasnya.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ah, begitu ya... Tante jadi ngerti sekarang."
Dena mengerinyit, "Ngerti apa, Tante?"
"Alvaro...tuh anak bisa banget ya nyari calon istri yang masih seger-segernya," kikik perempuan itu.
Dena jadi tersenyum malu, terlebih lagi ketika dirinya dianggap masih seger. Dena jadi merasa seperti ikan yang baru ditangkap nelayan.
"Hehe... Iya, Tante." lirihnya.
"Ah, berarti sebentar lagi kamu lulus dong?"
Dena mengangguk-angguk.
"Ah senangnya, Tante jadi makin nggak sabar pengen gendong cucu dari kamu," goda perempuan itu.
Sedangkan Dena langsung membulatkan kedua bola matanya. "Cu—Cucu, Tante?"
Perempuan itu jadi tertawa lalu mengelus bahu Dena yang mendadak jadi kaku. "Jangan tegang begitu, Tante cuma bercanda kok," ucapnya yang dari pada calon menantunya itu malah jadi ketakutan.
Sebab, secara usia Dena ini masihlah sangat muda, masak iya mau langsung minta untuk dibuatkan cucu. Selain itu ia juga bukan tipe orang tua yang kurang pendidikan, hingga tidak bisa berpikir jauh ke depan.
Dena pun menghela napas lega, sambil tersenyum menatap calon ibu mertuanya itu.
Saat itu juga Alvaro terlihat menuruni tangga rumah. Berjalan pelan dengan satu tangannya tersembunyi di balik saku celana, ia lalu tersenyum tipis menatap ke arah dua perempuan beda generasi itu.
"Oh, lo udah datang? Cepet banget, lo naik ojol ya?" sapa Alvaro yang langsung mendapat lirikan tajam dari Dena.
"Ojol apaan? Yang ada juga gue dijemput sama dua tukang pukul kiriman lo itu!" gerutunya dalam hati.
Sementara Nyonya Yubel sontak menoleh ke arah Alvaro dengan wajah merengut kayak pengen ngomelin anaknya.
"Varo! Kamu ya, bisa-bisanya nggak pernah cerita ke Mama kalau calon istri kamu imut banget!" omelnya walau tetap sambil senyum-senyum.
Alvaro menghela napas kemudian duduk di sofa. "Buat apa Varo cerita, kan sekarang Mama udah bisa lihat langsung," jawabnya.
"Mana udah dipegang-pegang pula. Belum dibayar itu, Ma!" lanjut Alvaro.
Dena jadi terheran-heran. Emang boleh bicara dengan orang tua dengan sesantai itu? Apa nggak takut kena jewer?
Nyonya Yubel reflek menjauhkan kedua tangannya dari wajah Dena sambil meringis. "Eh, iya ... maafin Tante ya sayang. Tante terkadang suka lupa kalau udah liat yang imut-imut," katanya masih sambil menahan gemas.
Dena mengangguk malu, nyaris salah tingkah ketika dirinya disebut imut.
Emangnya gue marmut...
...***...
"Sayang, duduk dulu yuk ... kamu pasti capek," ajak Nyonya Yubel sambil menggandeng tangan Dena.
Dena menurut saja, hingga akhirnya ia pun duduk di sofa yang berada tepat di seberang Alvaro. Sedangkan Nyonya Yubel memilih untuk duduk di antara mereka.
"Silakan diminum sayang," ucap Nyonya Yubel mempersilakan Dena meneguk minuman yang sudah disajikan oleh beberapa orang pelayan.
Selain minuman, di atas meja juga terdapat banyak sekali berbagai jenis hidangan penyambut. Dena pun menikmatinya, walau sambil tetap menjaga sikap agar tetap terlihat santun.
Sembari menjamu kedatangan Dena. Alvaro lantas menatap ke arah mamanya.
Tenang, dingin, nyaris seperti ingin bertanya serius. "Gimana calon istri Varo, Mama suka?" tanyanya.
Perempuan berusia 48 tahun itu mengangguk-angguk sambil meletakkan kembali gelasnya di atas meja, lalu melirik Dena sekilas dengan tersenyum manis.
"Ya iya dong. Kalau yang kayak gini Mama nggak mungkin bilang nggak suka, Varo," jawabnya.
"Jadi Mama setuju Varo nikah sama dia?" Alvaro lebih memastikan lagi.
"Udah ah, kamu nggak usah banyak nanya. Memangnya kamu wartawan. Cepet, langsung nikahin aja," sahut sang Mama seraya melirik sambil senyum-senyum ke arah Dena, yang lagi sibuk mengunyah donat.
Alvaro mencebik.
"Nggak mau ah, Ma," kata Alvaro yang seketika membuat mamanya menoleh dan lantas menatapnya tajam-tajam. bahkan, Dena pun ikut menoleh, masih dengan keadaan pipinya yang menggembung imut, penuh akan donat.
"Jangan bercanda, Varo! Nikahin atau mama marah nih!" kecamnya.
"Varo nggak mau!"
"Kenapa?"
"Ya Varo nggak mau nikahin dia, sebelum Mama kenalan dulu," sahut Alvaro sembari bersikap sedikit lebih tegak.
"Varo berani taruhan. Mama pasti belum kenalan?" tanyanya seratus persen yakin. Mamanya itu pasti belum kenalan.
"Seratus juta Varo kasih ke Mama kalau mama memang sudah tau namanya," tantang Alvaro.
Si Mama spontan menepuk dahi, lalu meringis.
Benar juga tebakan Alvaro. Gara-gara udah keburu kegirangan bakal punya menantu imut. Ia sampai lupa belum memperkenalkan diri.
"Oh iya ... Ya ampun, Varo. Mama lupa belum sempat kenalan."
Alvaro menghela napas panjang. "Di mana-mana kalau ketemu orang baru sebaiknya kenalan dulu, Ma. Bukannya langsung disayang-sayang, kayak yang udah kenal aja!" sindir Alvaro.
Mamanya jadi nyengir, "Ya gimana. Namanya juga lupa. Terus gimana dong?" sahutnya.
"Yaudah, biar Varo aja yang ngenalin," kata Alvaro seraya menatap ke arah Dena yang langsung berhenti mengunyah.
"Heh, calon istri!" panggilnya.
"Kenalin ...Nyonya Anita Yubel, perempuan yang ngelahirin gue 28 tahun lalu ..." ucapnya pada Dena.
"Dan, Calon ibu mertua yang bakal sayang banget sama lo," imbuhnya meski sedikit malas.
"Salim!"
Dena menganggukinya, lalu menoleh ke arah Mama Nita yang selalu saja menebar senyum. Berdiri, kemudian berniat untuk menyalimi tangannya.
"Udah, kamu duduk aja. Tadi kan udah salim," sahut Mama Nita yang merasa Dena tidak perlu salim lagi.
Dena pun duduk kembali.
"Kalau kamu, Sayang. Nama kamu siapa?" tanya balik Mama Nita.
"Saya Dena, Tante," jawabnya.
"Yang lengkap!" cibir Alvaro.
"Ee ..eee. Saya Dena, calon istrinya Om— eh, maksud saya Kak Alvaro, Tante," ucap Dena gugup sampai-sampai hampir keceplosan memanggil Alvaro 'Om'.
"Dena aja?"
Dena meringis, bisa-bisanya ia lupa menyebutkan nama panjangnya, efek terlalu grogi apa ya?
"Audrea Dena Prasella, Tante," ralatnya.
Mama Nita kembali tersenyum. "Wah, nama yang cantik, sama seperti yang punya nama," pujinya.
Dena jadi malu, jarang banget ada yang memujinya. "Makasih, Tante."
Mama Nita mengangguk sekali, lalu menatap ke arah Alvaro yang malah terlihat geli sendiri saat mendengar calon istrinya terus-terusan dipuji.
Apalagi melihat Dena yang senyum-senyum sendiri. Wah! Nggak bisa dibiarkan ini.
"Senyum mulu lo! Kemarin waktu ngobrol sama gue juga nggak begini!" sindirnya.
Dena tersentak kecil lalu melirik ke arah Alvaro, "Memangnya kenapa? Saya nggak boleh senyum?" sahutnya.
"Boleh, tapi kalau gigi lo kering, tanggung sendiri!" sinis Varo.
"Kalau kering ya biarin!" Dena mendengus. "Yang penting gigi saya rapi! Wlek..." balas Dena sambil menjulurkan lidahnya.
"Rapi? Oh iya." Alvaro menatapnya dan memang, gigi calon istrinya itu rapi sekali.
"Eh? Itu apa, kok ada cabe? Lo nggak gosok gigi ya?!" godanya, padahal gigi Dena selain rapi juga bersih. Alvaro memang sengaja ingin membuat Dena naik pitam.
Lucu katanya.
Eh, Dena beneran panik, lalu buru-buru mengambil kaca dari dalam tas mungilnya untuk bercermin."Mana ada! Gigi saya bersih tau!" dengusnya.
"Ada!"
"Mana?"
"Itu.."
"Manaaa?"
"Ya nanti, kalau udah gue kasih," balas Alvaro yang kini gantian menjulurkan lidahnya.
Dena jadi makin geram.
Mama Nita pun dibuat tertawa. "Udah ah, jangan bikin Mama ketawa terus," lerainya.
Alvaro lalu ikut tertawa sambil masih meledek Dena sejadi-jadinya.
Dena jadi membesengut. Pengen banget nimpuk wajah Alvaro pake bantal sofa biar diam sekalian.
Sementara Alvaro masih saja menatapnya dengan ekspresi meledek. Menyebalkan!
"Udah nggak usah diladenin. Calon suami kamu emang suka rada-rada," ujar Mama Nita yang malah sudah mewakili keinginan Dena untuk melempar bantal sofa ke arah Alvaro.
Dena mengangguk saja lalu mengabaikan Alvaro.
"Yaudah, kalau begitu langsung saja ya," kata Mama Nita setelah keadaan kembali pulih, ia lalu melirik ke arah Alvaro.
"Varo, tunjukan keseriusan kamu untuk melamar Dena di depan Mama!" tegas Mama Nita yang sedetik kemudian wibawanya sebagai orang tua akhirnya muncul juga.
Dena jadi menelan ludah. Ternyata Mama Nita punya sisi tegasnya tersendiri. Wah, hebat ya, bisa memporsikan setiap sikapnya secara rinci.
Bukan orang sembarangan ini mah...
Tanpa berlama-lama lagi, Alvaro lantas berganti posisi. Dari yang awalnya terlihat malas-malasan, kini berubah menjadi lebih bersikap tegap nyaris sempurna.
Alvaro kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya. Berupa wadah cincin berbahan kaca dengan bentuk heksagonal.
klik!
Wadah itu lalu Alvaro buka tepat di depan mata Dena, hingga sebuah cincin berlian yang tampak begitu mahal—tersemat rapi di dalamnya.
Dena spontan melebarkan mata. Cincin itu nyaris sangat berkilau.
Sementara Alvaro menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Dena dengan penuh keseriusan.
Dena terdiam, perasaannya seperti tiba-tiba kacau di detik pertama ketika Alvaro berubah sikap.
Ini beneran, gue mau dilamar?
"Audrea Dena Prasella," ucap Alvaro kali ini tidak main-main sembari mengangkat cincin berlian itu setinggi wajah Dena.
Dena jadi deg-degan. nyaris tegang hingga badannya panas dingin hampir keringetan.
"Dengan ini saya ingin melamar kamu untuk menjadi pendamping hidup saya, untuk sekarang atau pun selamanya ... Mau kah kamu menerima lamaran saya?" ucap Alvaro melamar Dena tanpa basa-basi.
Di waktu yang sama. Semua mata kontan tertuju pada Dena, termasuk Mama Nita dan beberapa pelayan yang berdiri di sekeliling mereka.
Lamaran Alvaro. Suasana penuh keseriusan itu, serta tatapan mereka yang menunggu-nunggu jawabannya, seketika membuat Dena jadi tegang beneran.