Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20.Panggilan yang Menggetarkan Jiwa
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suasana di koridor rumah sakit itu hening sejenak, hanya terdengar suara isak tangis haru dan napas yang tertahan. Semua orang masih terpaku oleh kabar ajaib yang baru saja mereka dengar.
Namun, ketenangan itu tiba-tiba buyar...
KREET...
Suara pintu kamar perawatan terbuka perlahan.
Semua mata serentak menoleh ke arah sana secara bersamaan. Napas mereka seakan tertahan di tenggorokan, jantung mereka berdegup kencang menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di ambang pintu, berdiri tegap sosok yang sedang mereka bicarakan. Gus Aqlan.
Ia sudah tidak berbaring lemah di atas kasur. Wajahnya memang masih terlihat sedikit pucat dan lelah, bekas syok yang baru saja ia alami, namun matanya... Oh matanya! Matanya kini terlihat sangat tajam, jernih, dan bersinar penuh makna.
Tidak ada lagi tatapan kosong atau bingung seperti sebelumnya. Tatapan itu kini penuh dengan kesadaran penuh, penuh dengan rindu yang membara, dan penuh dengan cinta yang sudah lama terkunci rapat di dalam dada.
Langkah kakinya mantap berjalan keluar mendekati mereka semua.
Aisyah mematung kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, seakan ingin meledak. Ia bisa melihat perubahan besar dalam sorot mata pria itu. Seolah-olah orang yang sama, tapi kini sosoknya terasa sangat berbeda, sangat... akrab. Sangat familiar.
Gus Aqlan tidak menatap Zea, tidak menatap Gus Fauzi atau Nova. Matanya terkunci tepat pada wajah wanita yang berdiri di tengah-tengah mereka. Wajah wanita yang selama ini membuat hatinya merasa tenang tanpa alasan yang jelas.
Dengan suara yang terdengar sedikit serak karena baru sadar dan menahan emosi, namun sangat berat, tegas, dan penuh penghayatan, Gus Aqlan memanggil dengan sebutan yang tidak pernah ia ucapkan pada orang lain selama ini...
"AISYAH... AISYAHKU..."
GEDUBAR!!!
Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, begitu alami, begitu fasih, dan begitu menyentuh ulu hati hingga membuat seluruh tubuh Aisyah bergetar hebat.
Aisyah tersentak hebat seakan tersengat listrik ribu volt. Tubuhnya lemas seketika. Air matanya yang tadi sudah hampir berhenti, kini menetes lagi dengan deras tak terbendung.
"Aisyahku"...
Itu bukan sekadar kalimat biasa. Itu adalah panggilan khas yang dulu sering sekali terdengar di telinganya! Sebutan yang dulu selalu digunakan oleh anak laki-laki kecil yang selalu mengikutinya ke mana-mana di Pondok Pesantren At-Taqwa!
Panggilan yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah terdengar lagi di telinganya! Panggilan yang bahkan teman-teman kuliahnya, bahkan Kak Fauzi pun tidak pernah memanggilnya dengan gaya bicara seperti itu!
"pak... Aqlan..." bisik Aisyah terbata-bata, suaranya pecah tertahan isak tangis. "Kamu... kamu ingat panggilan itu? Kamu ingat cara kamu memanggil aku waktu dulu?"
Gus Aqlan mengangguk pelan dan mantap, matanya tidak berkedip sedikitpun menatap wajah Aisyah yang basah oleh air mata. Senyum tipis namun sangat teduh terukir di bibirnya, senyum yang sama persis seperti senyum anak kecil yang dulu sering ia berikan puluhan tahun lalu.
"aku Ingat... ingat semuanya sekarang, Sayang..." jawab Gus Aqlan pelan namun suaranya jelas terdengar sampai ke hati. "aku ingat kamu... Aisyah yang waktu dulu selalu duduk paling depan di majelis taklim, yang suaranya merdu sekali saat menghafal..."
"aku ingat tanganmu yang waktu dulu selalu kecil dan hangat waktu aku pegang... ingat kita main kejar-kejaran di halaman masjid waktu sore hari... kita janji sama ayah mau jadi teman baik selamanya..."
Gus Aqlan melangkah maju selangkah lagi, jarak mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal. Suaranya menjadi lebih dalam, lebih berat, dan penuh wibawa saat ia melanjutkan kalimatnya,
"...Dan Aqlan ingat janji suci itu. Bahwa kamu, Aisyah Adeeba... adalah calon pendamping hidupku yang sudah ditetapkan dan diijabkabulkan secara hati oleh orang tua kita berdua sejak kita masih waktu dulu."
Mendengar pengakuan itu diucapkan secara terbuka dan jelas, Zea langsung menutup mulutnya menahan tangis haru yang meledak. Gus Fauzi dan Nova saling pandang dengan mata berkaca-kaca, mereka mengangguk-angguk penuh rasa syukur yang tak terhingga.
Bahkan Avara kecil yang tidak mengerti arti kata-kata itu, ikut bertepuk tangan kecil dan tertawa riang melihat Om Aqlan bicara manis dan memandang Tantenya dengan wajah bahagia.
"Jadi... selama ini aku merasa nyaman, merasa tenang, merasa seperti sudah kenal lama banget walaupun baru ketemu... itu bukan perasaan semata?" tanya Aisyah sambil terisak pelan, dadanya sesak oleh haru. "Itu karena memang kita... memang kita ditakdirkan dari sononya?"
"Ya, Sayangku..." potong Gus Aqlan lembut. Ia perlahan mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu menangkup wajah mulus Aisyah dengan sangat hati-hati dan penuh sayang, seakan memegang benda paling berharga di dunia.
"Kita adalah takdir yang sama. Kita adalah cinta yang sempat hilang tertutup kabut waktu dan kejadian, tapi kini Allah kembalikan lagi dengan lebih indah, lebih dewasa, dan lebih sempurna dari sebelumnya."
"Aqlan minta maaf... Maafkan Aqlan yang sempat lupa... Maafkan Aqlan yang sempat membuatmu bingung, sedih, dan menunggu. Mulai detik ini, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Ingatan ini sudah kembali, dan cinta ini akan terus ada sampai akhir hayat."
Suasana di koridor rumah sakit itu seakan berstop. Waktu terasa diam. Hanya ada kebahagiaan, air mata haru, dan rasa syukur yang meluap-luap memenuhi ruang itu. Misteri yang selama ini menjadi tanda tanya besar akhirnya terjawab sudah.
Cinta yang sempat terhalang oleh amnesia dan waktu, kini kembali bersinar terang benderang, lebih indah dari sebelumnya.
BERSAMBUNG....