Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mekar di Tengah Badai
Malam itu, hujan turun lebih deras dari biasanya, seolah langit ingin membasuh sisa-sisa kedamaian yang baru saja retak di toko bunga "The White Bloom". Di dalam toko yang biasanya beraroma mawar dan lili, kini tercium aroma yang jauh lebih tajam: pelumas senjata dan dinginnya logam.
Liana berdiri di depan meja kayu besar tempat ia biasa merangkai bunga duka. Namun, di tangannya bukan lagi gunting dahan, melainkan sebuah Glock-17 yang berkilat di bawah lampu neon yang temaram. Ia memeriksa magazinnya dengan gerakan yang tenang, sebuah ketenangan yang lahir dari trauma masa lalu yang telah ia jinakkan menjadi kekuatan.
Arkan berdiri di sudut ruangan, bayangannya memanjang di dinding yang dipenuhi rak-rak pot kosong. Ia mengenakan jaket taktis hitam yang sudah lama tersimpan di dasar peti rahasianya.
Tatapannya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan titik-titik koordinat merah—lokasi persembunyian Vigo dan sisa-sisa anggota The Void yang masih setia pada ideologi berdarah Baskoro.
"Mereka berkumpul di sebuah gudang tua di pelabuhan peti kemas," suara Arkan rendah, nyaris tenggelam oleh suara guntur di luar.
"Vigo tidak akan menyerang toko ini secara langsung. Dia pengecut. Dia akan menunggu kita lengah, atau dia akan mengirim orang untuk membakar tempat ini saat kita tidur."
Liana menoleh, menatap Arkan dengan mata yang tak lagi menunjukkan keraguan.
"Kalau begitu, kita tidak akan memberi mereka kesempatan untuk menunggu. Kita yang akan mendatangi mereka."
Arkan tertegun sejenak. Ia berjalan mendekat, meraih tangan Liana yang masih memegang senjata. Jemari Arkan yang kasar mengusap punggung tangan Liana dengan lembut.
"Liana, aku menghabiskan sepuluh tahun untuk memastikan kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Kau bisa menunggu di rumah aman yang kusiapkan."
Liana menarik tangannya perlahan, namun tidak dengan kemarahan. Ia menatap Arkan lurus ke mata elangnya. "Arkan, kau selalu berpikir bahwa melindungiku berarti menjauhkanku dari bahaya.
Tapi bahaya itu sudah ada di depan pintu kita sejak malam kebakaran itu. Aku bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis melihat rumahnya menjadi abu. Jika kau pergi sendiri, kau hanya akan kembali sebagai monster yang kau benci. Tapi jika kita pergi bersama, kita pergi untuk mengakhiri ini sebagai manusia."
Arkan terdiam. Kalimat Liana menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Ia menyadari bahwa Liana benar. Selama ini, ia menganggap dirinya sebagai perisai, tanpa menyadari bahwa perisai itu terkadang justru mengisolasi orang yang ia cintai.
"Baiklah," bisik Arkan akhirnya.
"Kita selesaikan malam ini. Bersama."
Mereka berangkat menggunakan SUV hitam yang sudah dimodifikasi, melesat menembus badai menuju kawasan pelabuhan yang sepi. Jalanan yang tergenang air memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang.
Di dalam mobil, kesunyian terasa begitu pekat, namun bukan kesunyian yang mencekam, melainkan kesunyian dua orang yang sudah saling memahami tanpa perlu kata-kata.
Sesampainya di pelabuhan, Arkan mematikan lampu mobil dan bergerak dalam kegelapan dengan presisi seorang predator. Mereka menyelinap di antara tumpukan kontainer yang menjulang tinggi seperti raksasa besi. Bau garam laut dan karat menyengat indra penciuman mereka.
"Vigo ada di gudang nomor 04," bisik Arkan sambil menyerahkan earpiece pada Liana.
"Ada empat penjaga di luar. Aku akan mengambil sisi kiri, kau tetap di belakang kontainer biru itu dan berikan perlindungan jika ada yang mendekat dari arah belakang."
Liana mengangguk. Ia mengambil posisi, mengatur napasnya agar tetap stabil. Ia melihat Arkan bergerak seperti bayangan, nyaris tak bersuara. Dalam hitungan detik, dua penjaga di sisi kiri tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara—Arkan menggunakan teknik pelumpuhan jarak dekat yang mematikan namun efisien.
Namun, tiba-tiba sebuah lampu sorot besar menyala dari atas gudang, membutakan pandangan mereka.
"SELAMAT DATANG DI PESTA PERPISAHANMU, ARKAN!"
suara Vigo bergema melalui pengeras suara, diikuti oleh rentetan tembakan yang menghantam kontainer tempat Liana bersembunyi.
"LIANA, MERUNDUK!"
teriak Arkan sambil membalas tembakan ke arah sumber cahaya.
Liana tidak panik. Ia merasakan adrenalin mengalir di nadinya. Ia mengintip dari balik celah kontainer, membidik salah satu penembak jitu di balkon gudang.
DOR!
Tembakan Liana tepat sasaran. Si penembak jatuh tersungkur. Liana bergerak lincah, berpindah dari satu kontainer ke kontainer lain, memberikan tembakan perlindungan bagi Arkan agar pria itu bisa mendekati pintu utama gudang.
Baku tembak pecah di tengah badai. Suara petir dan letusan senjata bersahut-sahutan. Arkan berhasil menjebol pintu gudang dengan ledakan kecil, menciptakan lubang masuk yang cukup untuk mereka merangsek ke dalam.
Di dalam gudang, suasana jauh lebih kacau. Puluhan anak buah Vigo mengepung mereka. Arkan bertarung dengan kemarahan yang terkendali, setiap tembakan dan serangannya adalah bentuk penebusan dosa masa lalunya. Sementara itu, Liana berdiri di belakangnya, memastikan tidak ada seorang pun yang mendekat dari titik buta Arkan.
"Vigo! Keluar kau, Pengecut!" raung Arkan.
Vigo muncul dari lantai dua, memegang sebuah botol molotov yang sudah menyala. Wajahnya tampak gila di bawah cahaya api. "Kau sangat mencintai api, bukan Arkan? Bagaimana kalau kita bakar semua ini bersama gadis kesayanganmu!"
Vigo melemparkan botol itu ke arah tumpukan drum kimia di dekat Liana.
"TIDAK!"
Arkan menerjang, mencoba menangkap botol itu di udara, namun ia terlambat. Api mulai berkobar hebat, menjilat dinding gudang dan menciptakan dinding panas yang memisahkan Arkan dan Liana.
Liana terbatuk karena asap yang mulai menebal. Bayangan malam kebakaran sepuluh tahun lalu mendadak muncul di depan matanya. Rasa takut yang murni sempat melumpuhkannya sejenak. Namun, di tengah kobaran api, ia melihat wajah Arkan yang panik di balik dinding api.
"LIANA! BERIKAN TANGANMU!"
teriak Arkan,mencoba menerobos api meski jaketnya mulai terbakar.
Liana memejamkan mata sejenak, menghirup udara yang tersisa. Aku tidak akan mati di sini. Tidak lagi, batinnya. Ia meraih tabung pemadam api yang tergantung di dekatnya, menyemprotkan isinya untuk membuka celah kecil di tengah api, lalu melompat melewati kobaran itu menuju pelukan Arkan.
Mereka berdua berguling di lantai yang dingin. Arkan segera memadamkan api di jaketnya dan memeriksa keadaan Liana.
"Kau tidak apa-apa?"
Liana mengangguk, meskipun wajahnya hitam oleh jelaga. "Aku baik-baik saja. Kejar dia, Arkan. Jangan biarkan dia lari."
Arkan menatap ke atas. Vigo mencoba melarikan diri melalui jendela darurat. Dengan satu gerakan cepat, Arkan membidik kaki Vigo.
DOR!
Vigo terjatuh dari tangga besi, mengerang kesakitan saat Arkan mendekatinya dan menodongkan senjata tepat ke keningnya.
"Selesai, Vigo. Dinasti ini berakhir malam ini," ucap Arkan dingin.
Vigo meludah, darah segar keluar dari mulutnya. "Kau pikir... kau bisa hidup tenang? Bayangan Baskoro akan selalu menghantuimu..."
"Mungkin," jawab Arkan pelan.
"Tapi aku tidak akan menghadapinya sendirian lagi."
Arkan tidak menarik pelatuknya. Ia membiarkan tim kepolisian yang sudah ia hubungi sebelumnya merangsek masuk dan meringkus Vigo beserta sisa-sisa pengikutnya. Arkan menurunkan senjatanya, lalu berbalik menghampiri Liana yang berdiri di tengah sisa-sisa api yang mulai padam.
Mereka berjalan keluar dari gudang saat fajar mulai menyingsing kembali. Hujan telah berhenti, meninggalkan udara yang bersih dan segar. Di kejauhan, sirine polisi meredup, digantikan oleh suara kicauan burung laut.
Liana menyandarkan kepalanya di bahu Arkan yang lebar.
"Apakah ini benar-benar berakhir?"
Arkan mencium puncak kepala Liana yang beraroma asap dan lavender.
"Masa lalu kita sudah menjadi abu, Liana. Dan dari abu itu, kita akan membangun sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka bakar lagi."
Mereka berdiri di sana, menatap matahari yang terbit di cakrawala pelabuhan. Di balik luka dan trauma, ada harapan yang mekar lebih indah daripada bunga mana pun di toko mereka. Perjalanan mereka masih panjang, namun kini, mereka tidak lagi berjalan dalam kegelapan.