Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suitan
Tak
Tak
Bagas sedang menggali tanah—tepat dihadapan kamar Bayu. Ia sengaja menggali di sana, agar adik lelakinya itu, tetap mengingat saat menjelang senja—untuk menghidupkan pelita.
"Suuuit, suuuit ...."
Terdengar seperti orang yang sedang bersuit padanya.
Bagas menoleh kebelakang, mencari siapa yang sedang menegurnya, tetapi tidak terlihat apapun.
"Ganjen bener, siapa—sih?" ia ngedumel, lalu kembali lagi menggali, mungkin tiga cangkulan lagi sudah cukup untuk mengubur placenta tersebut.
"Suuuiiit suuuiit," suara suitan itu kembali terdengar, tapi kali ini, suitan itu terdengar jauh sekali, yang mana artinya adalah kebalikannya, yaitu jarak sosok itu sangat dekat.
"Siapa, sih? Ganjen banget!" omel Bagas, ditengah rasa takut dan juga jengkel, karena merasa sedang dipermainkan.
Mendadak—bulu kuduknya meremang, dan punggungnya menebal. Bagas menyapu tengkuknya.
Kali ini, bukan hanya suitan, tetapi juga diiringi oleh aroma bangkai yang sangat menyengat, membuat Bagas nyaris pingsan, karena tidak tahan dengan pengaruh energinya.
Bagas bergegas menutup hidungnya, ia sangat faham, saat dalam proses penguburan placenta, pasti ada banyak gangguan, dan itu adalah hal yang sering terjadi.
Sebab, para makhluk astral itu menginginkan placenta bayi, sebagai sumber energi mereka.
"SUuuit, suiiit ...."
Bagas kembali mendengr suitan, dan membuatnya semakin kesal. "Dasar setan laknat! Awas saja kalau kau berani ganggu, ku cangkul kepalamu." ucapnya dengan geram.
Tangannya mengayunkan cangkul, menguruk placenta yang baru saja dikuburnya.
"Sssssttss ...."
"Apa—sih?!"
Bagas menoleh ke arah belakang, seolah ada yang sedang menyentil telinganya, sepertinya sosok pengganggu sedang sengaja mengacaukan pekerjaannya.
Saat bersamaan, ia kelihat Pocong yang sedang menyeret Wewe Gombel, yang mana kondisinya sudah sangat babak belur, melintas dari depan rumah Novita yang sudah hangus terbakar.
Sepertinya, Pocong menjadi pahlawan kali ini, menyelamatkan sosok Wewe Gombel yang terluka parah.
"Para setan pada kenapa—sih?!" Bagas kembali ngedumel, saat melihat kesibukan para the myth yang sangat absurd.
Ia kembali melanjutkan pengurukannya. Akan tetapi, saat ia melihat ke arah bawah, tampak gaun panjang nan lusuh berwarna kuning sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Aaaaaaaa ... Setan laknat!" pekik Bagas yang terkejut saat melihat wajah rusak dari Kuntilanak Kuning yang sedang menatapnya tanpa rasa bersalah.
Rasa panik, membuat Bagas menggetok kepala kuntilanak Kuning dengan sangat kuat.
Tak
Suaranya sangat jelas, dan membuat Kuntilanak Putih dan juga Sundel Bolong yang nangkring dibatang pohon ikut menyaksikannya.
"Perasaan gak gini, deh?" ucap Kuntilanak Kuning, sembari mengusap kepalanya yang benjol.
Bagas yang sudah ketakutan, kembali menggetoknya sekali lagi, lalu melemparkan cangkulnya sembarang arah, dan ngacir masuk ke dalam.
Sedangkan Kuntilanak Kuning yang merasa kesakitan, menangis dengan histeris, lalu ngacir—menghilang.
"Waah, sakit banget pastinya," seru Sundel Bolong, yang memantau dari atas pohon.
"Kenapa dia ada disini? Apakah ada yang merekrutnya untuk bekerja?"
Kuntilanak Putih tampak mengawasi, sebab selama ini, hanya ia dan si Merah saja yang menghuni Desa Getih.
"Sepertinya mereka-mereka itu orang baru, apakah ada orang lain yang ikut tersesat?" Kuntilanak Putih menimpali ucapannya.
"Apakah kamu gak dengar, kalau istrinya si Tresno juga ikut pesugihan, mereka ingin menjadi Sultan bersama."
"Istrinya yang keberapa?"
"Yang ke Tiga. Jadi mereka merekrut Kuntilanak Kuning buat bekerjasama dengan mereka. Dia kan mati beranak, makanya suka banget dengan placenta," Sundel Bolong menjelaskan.
"Kalau yang hitam?"
"Dia kan peliharaannya Ki Priyono, masa gak tau, sih? Kamu kurang update—ya?" cibir Sundel Bolong, dengan memajukan bibirnya.
Kuntilanak Putih mengerutkan keningnya. "Bukannya selama ini, Ki Priyono yang dimintai tolong oleh Ratih buat menyembuhkan Bayu?"
Sundel Bolong terbahak. Ia merasa jika pertanyaan Kuntilanak Putih terlalu polos.
"Kamu tahu, kenapa kamu ini Kuntilanak paling lemah diantara bangsamu? Karena kamu tidak dapat mendeteksi semua itu." Sundel Bolong meremehkannya.
Kuntilanak Putih mencelos hatinya, tapi memang benar, ia adalah yang terlemah, sehingga tidak ada yang juga merekrutnya bekerja.
"Apakah ini konspirasi persetanan?"
"Tentu saja. Emangnya kamu percaya ma dukun? Mereka itu munafik. Pastinya si Ratih tertipu, atau ia sengaja, ingin mencari tahu siapa pelakunya," sahut Sundel Bolong, sembari mengupil.
Kuntilanak Putih mengangguk mengerti, dan ia mulai faham.
"Ya, sudah aku mau balik dulu, besok ada pekerjaan penting. Kamu kalau mau dapat kerjaan, coba rayu si Rini—puterinya Ratih. Dia sedang galau, mana tau dia mau sesat bareng-bareng." ujar Sundel Bolong, lalu beranjak bangkit dari tempatnya.
"Ya, doain aku—ya, moga dapat kerjaan," sahut Kuntilanak Putih, lalu keduanya berpisah.
Sementara itu, Bagas berlari masuk ke dalam rumah, dan wajahnya cukup pucat.
Saat bersamaan, ia hampir saja menabrak si Mboknya.
"Bagas! Kamu ini kenapa, sih?" Ratih mengomel, yang di dengar oleh Alawiyah dan juga Bayu.
"Si Mbok kenapa, Mas? Coba lihat sana," Alawiyah menyarankan, dan membuat Bayu keluar dari kamar.
Sedangkan Bagas tampak mengatur nafasnya yang tersengal.
"—Mbok. Itu ari-arinya belum selesai ku kubur, ada kuntilanak Kuning yang tiba-tiba muncul."
Nafas Bagas tersengal, dan putus-putus. Penuturannya, membuat Ratih terkejut, lalu bergegas menuju teras.
Ia melihat ke arah jendela kamar Bayu, tampak tanah basah yang bekas digali.
"Bagas, Bagas, ceroboh sekali kamu. Kalau sampai ada makhluk astral yang mengambilnya, kan bahaya." Ratih mengomel, lalu menguruk tanah yang belum tinggi.
Setelah selesai menguruknya, Ratih baru menyadari, jika ia merasakan bulu kuduknya meremang, sisa dari perwujudan sang lelembut.
Ratih kembali masuk ke dalam, dan Bayi menghampirinya, sedangkan Bagas sudah lebih baikan.
"Mbok, Rini kenapa gak kelihatan, ya?" ia teringat akan adik perempuannya.
"Astaga." Ratih baru tersadar, ia tak mengingat puterinya itu sama sekali, sebab ia terlalu sibuk mengurusi jasad Intan dan juga Alawiyah yang baru lahiran.
Rasanya tubuhnya sangat begitu lelah, dan ia menarik nafasnya dengan berat. "Besok kita jenguk dia. Sebab hari ini sudah sangat larut malam. Semoga dia baik-baik saja." Ratih berharap dalam doanya.
Bayu kembali ke dalam kamarnya, dan melihat Alawiyah yang masih terus mendekap putera mereka.
"Dia tampan, wajahnya mirip seperti ibunya," ucap Bayu, sembari mencolek ujung hidung yang bangir pada bayi mungil tersebut.
Alawiyah tersenyum sumringah. Ia menatap Bayu dengan penuh cinta.
"Kita beri nama apa pada putera kita?" Alawiyah meminta saran.
"Mas menyerahkannya padamu, Sayang." Bayu mengecup ujung kepala sang istri.
"Bagaimana kalau Ghaisan Ar Rayyan?" Alawiyah menatap suaminya.
Bayu mengulas senyum yang sangat manis, senyum yang sudah lama dirindukan oleh Alawiyah.
"Sangat bagus, ya—sudah, kita beri nama itu saja," Bayu menyetujuinya.
Namun, tiba-tiba Alawiyah teringat akan sesuatu.
"Mas, setelah selesai masa nifas, kita balik ke kampungku saja, ya. Aku tidak mau tinggal disini." pintanya pada Bayu.
#ngomongindirisendiri 😄
biar mau maem dan minum dlu smgt kk siti
tetap semangaaaaaat 💪💪💪