Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Sebuah Pilihan
Pusaran energi di tengah ruang itu berputar perlahan, namun setiap putarannya terasa berat, seolah menarik sesuatu dari sekelilingnya tanpa memberi kesempatan untuk kembali. Cahaya redup memancar dari dalamnya dengan ritme yang tidak menentu, kadang terang, kadang meredup seperti sesuatu yang berusaha mempertahankan bentuknya di bawah tekanan yang terus meningkat.
Semua orang berdiri di tepi ruang, menjaga jarak secara naluriah tanpa perlu diingatkan. Tidak ada yang langsung bergerak maju, karena bahkan tanpa penjelasan pun mereka bisa merasakan bahwa satu langkah yang salah akan membawa konsekuensi yang tidak ringan. Bayangan di sekitar dinding masih samar, namun jelas bukan sekadar ilusi, karena pergerakannya memiliki pola meskipun sulit ditangkap secara langsung.
Makhluk-makhluk itu belum sepenuhnya muncul, tetapi kehadiran mereka cukup nyata untuk membuat siapa pun tetap waspada. Gerakan mereka halus, hampir menyatu dengan kegelapan, seperti sesuatu yang sudah lama berada di tempat ini dan terbiasa menunggu waktu yang tepat. Tidak ada suara selain gesekan kecil yang sesekali terdengar dari arah dinding.
Kaelvarion Thorne mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar semua tetap diam tanpa perlu mengeluarkan perintah panjang. Sikapnya tenang, tetapi jelas ia sedang membaca situasi dengan serius, tidak hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi juga mencoba memahami apa yang belum terlihat.
“Kita tidak masuk sembarangan.”
Nerithra Solen berdiri di sisi kanan, posisinya sedikit maju dibanding yang lain, matanya tidak lepas dari pusaran itu seolah mencoba menilai perubahan sekecil apa pun. Ia tidak terlihat ragu, tetapi kehati-hatian dalam sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak menganggap situasi ini ringan.
“Energinya tidak stabil. Kalau itu meledak, kita semua bisa tersapu.”
Eryndor Vale mendengus pelan, suara napasnya terdengar lebih keras dari yang seharusnya dalam keheningan seperti ini. Ia terlihat tidak nyaman dengan kondisi yang terlalu statis, seolah diam lebih lama justru membuatnya semakin gelisah.
“Kalau terus diam seperti ini, kita juga tidak dapat apa-apa.”
Lysera Virel langsung menoleh, tatapannya tajam tanpa perlu meninggikan suara. Ia tidak menyukai arah pembicaraan seperti ini, terutama ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan yang cukup.
“Lebih baik tidak dapat apa-apa daripada mati sia-sia.”
Eryndor tidak langsung membalas, tetapi ekspresinya jelas menunjukkan ketidakpuasan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun sikap tubuhnya tetap tegang, seolah menahan sesuatu yang ingin ia katakan.
Serin Althaea melangkah sedikit maju, lalu berhenti sebelum benar-benar mendekat ke pusat ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan pola energi yang mengalir di sekitar mereka dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang.
“Ada ritme. Tapi berubah-ubah. Seperti ada sesuatu yang mempengaruhinya dari dalam.”
Kalimat itu membuat beberapa orang sedikit mengubah posisi, meskipun tidak ada yang benar-benar bergerak maju. Informasi itu cukup untuk menambah ketegangan yang sudah ada, karena berarti apa yang mereka lihat mungkin hanya bagian luar dari sesuatu yang lebih besar.
Alverion Dastan berdiri beberapa langkah di belakang mereka, posisinya tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk memberi ruang pengamatan yang luas. Matanya tertuju pada pusaran itu, namun fokusnya tidak sepenuhnya di sana karena sesuatu yang lain kembali muncul di dalam benaknya.
Notifikasi sistem kembali aktif tanpa peringatan yang halus seperti biasanya. Tampilan itu muncul dengan tekanan yang terasa lebih kuat, seolah sengaja mendorongnya untuk memperhatikan dan tidak mengabaikan.
Pilihan misi kembali terbuka, tetap sama seperti sebelumnya tanpa perubahan yang berarti. Masuk ke area berbahaya atau mengeliminasi target spesifik yang tidak dijelaskan, dengan reward yang masih terlihat terlalu besar untuk ukuran misi yang tidak memiliki kejelasan arah.
Alverion tidak langsung bereaksi, tetapi pikirannya kembali bergerak, mencoba menghubungkan situasi di depan dengan pilihan yang diberikan. Semakin ia memperhatikan, semakin terasa bahwa semua ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih terarah.
Ia mengalihkan pandangannya ke tim, memperhatikan satu per satu tanpa membuat gerakan mencolok. Delapan orang tersisa, masing-masing dengan sikap dan cara berpikir yang berbeda, namun saat ini mereka berada dalam tekanan yang sama.
Situasi ini memaksa mereka untuk tetap bersama, meskipun kepercayaan di antara mereka tidak benar-benar kuat. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang diambil bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal siapa yang berani mengambil langkah lebih dulu.
“Kalau kita ingin masuk, kita harus melakukannya sebagai satu unit,” kata Kaelvarion akhirnya.
Kalimat itu terdengar seperti arahan biasa, tetapi cara ia mengatakannya menunjukkan bahwa ia ingin memastikan kendali tetap berada di tangannya. Ia tidak memberi ruang untuk interpretasi lain, dan itu membuat beberapa orang langsung memahami maksud sebenarnya.
Eryndor menyeringai tipis, tidak sepenuhnya setuju tetapi juga tidak menolak secara langsung.
“Jadi kamu tetap di depan, kita mengikuti?”
Kaelvarion tidak menunjukkan reaksi tersinggung, seolah pertanyaan itu sudah ia perkirakan sejak awal.
“Kalau kamu punya rencana lebih baik, silakan.”
Eryndor membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar, karena dalam situasi seperti ini, keberanian untuk berbicara tidak selalu diikuti dengan solusi yang jelas.
Lysera melangkah sedikit ke depan, mencoba membawa percakapan kembali ke arah yang lebih rasional.
“Kita tidak punya cukup informasi. Masuk sekarang berarti berjudi.”
“Semua keputusan di sini adalah judi,” balas Nerithra dengan nada yang tetap dingin.
Percakapan itu tidak berlanjut terlalu jauh, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa tidak semua orang berada di sisi yang sama. Mereka ingin bergerak, tetapi juga menyadari risiko yang ada, dan dalam kondisi seperti ini, keputusan sering kali diambil bukan karena yakin, melainkan karena tidak ingin diam terlalu lama.
Kaelvarion memanfaatkan momen itu tanpa terlihat memaksa, mengarahkan pembicaraan ke kesimpulan yang ia inginkan.
“Kita sudah sejauh ini. Berbalik tidak memberi kita apa-apa. Masuk memberi kita peluang.”
Serin sedikit mengernyit, masih belum sepenuhnya yakin.
“Dan kalau itu jebakan?”
“Kalau kita terus menganggap semuanya jebakan, kita tidak akan pernah maju.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk memberi dorongan bagi yang sudah ragu. Eryndor mengangguk pelan, sementara Lysera terlihat masih mempertimbangkan, tidak sepenuhnya setuju tetapi juga tidak menolak secara terbuka.
Alverion tetap diam, tidak ikut dalam arus percakapan itu. Di dalam pikirannya, dua pilihan berdiri jelas, masing-masing dengan risiko yang tidak bisa diabaikan.
Mengikuti tim berarti tetap berada dalam jangkauan yang lebih aman, karena setidaknya ia tidak sendirian. Namun itu juga berarti mengikuti arah yang mungkin sudah diprediksi oleh sistem, tanpa benar-benar memahami tujuannya.
Pilihan lain terasa lebih berbahaya, tetapi juga lebih jujur terhadap apa yang ia rasakan sejak awal. Sistem tidak hanya memberi opsi, tetapi juga mendorongnya ke arah tertentu, dan itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ada satu hal yang terus mengganggu, yaitu opsi eliminasi target yang belum ia pahami sepenuhnya. Semakin lama ia memikirkannya, semakin jelas bahwa kemungkinan itu tidak bisa dilepaskan dari situasi yang sedang mereka hadapi.
“Alverion.”
Suara Lysera menariknya kembali ke keadaan sekitar.
“Kamu diam saja sejak tadi.”
Semua mata beralih padanya, termasuk Kaelvarion yang kini memperhatikannya dengan lebih serius dari sebelumnya. Perhatian itu tidak terasa ringan, karena posisi seperti ini bisa menjadi keuntungan sekaligus beban.
Alverion menghela napas pelan sebelum menjawab.
“Karena belum ada keputusan yang pasti.”
Eryndor mengangkat alis, terlihat sedikit tertarik.
“Kamu tipe yang suka menunggu?”
“Tidak. Aku tipe yang tidak suka bergerak tanpa arah.”
Kaelvarion tidak langsung menanggapi, tetapi jelas ia sedang menilai jawaban itu dengan lebih dalam.
“Lalu menurutmu?”
Alverion menatap pusaran energi itu beberapa saat, memperhatikan pola yang tidak stabil tanpa terburu-buru memberikan jawaban. Ia tidak mencoba terlihat yakin, karena memang tidak semua hal bisa dipastikan dalam kondisi seperti ini.
“Tempat itu bukan pusat.”
Beberapa orang terlihat terkejut, karena pernyataan itu bertentangan dengan apa yang mereka lihat.
“Maksudmu?” tanya Serin.
“Energi di sana tidak stabil karena dipengaruhi sesuatu dari bawah. Kalau kita masuk langsung, kita hanya menghadapi efeknya, bukan sumbernya.”
Nerithra menyipitkan mata, mencoba menilai kemungkinan itu.
“Kamu bilang ada sesuatu di bawah?”
“Mungkin.”
Jawaban itu tidak pasti, tetapi cukup untuk mengubah cara mereka melihat situasi. Kaelvarion terdiam sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya, bukan karena yakin, tetapi karena melihat kemungkinan baru.
“Menarik.”
Lysera menatap Alverion, mencoba membaca apakah itu hanya dugaan atau sesuatu yang lebih.
“Kamu yakin?”
“Tidak sepenuhnya.”
Kejujuran itu membuat suasana sedikit berubah, karena tidak ada upaya untuk meyakinkan secara berlebihan. Eryndor mendecakkan lidah, jelas tidak menyukai arah pembicaraan yang semakin panjang.
“Jadi kita buang waktu lagi?”
Kaelvarion mengangkat tangan sedikit, menghentikan kemungkinan perdebatan yang tidak perlu.
“Tidak. Kita tetap masuk.”
Ia menunjuk ke arah sisi kiri ruang, di mana ada celah sempit yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan.
“Ada jalur di sana. Kemungkinan mengarah ke bawah.”
Serin mengangguk pelan, karena ia juga merasakan aliran energi yang lebih kuat dari arah itu.
Keputusan diambil tanpa banyak perdebatan kali ini, tetapi ada perubahan kecil yang tidak bisa diabaikan. Beberapa orang mulai memperhatikan Alverion lebih dari sebelumnya, dan itu berarti posisinya dalam kelompok mulai berubah.
Mereka bergerak perlahan ke sisi kiri ruang, langkah lebih hati-hati dengan formasi yang lebih rapat. Tekanan di udara terasa semakin jelas, dan bayangan di dinding mulai bergerak lebih aktif, tidak lagi sekadar menunggu.
Alverion berjalan di tengah, tetap menjaga ritme tanpa terlihat tergesa. Pikirannya terus bergerak, karena ia tahu jalur ini tidak sepenuhnya dipilih secara acak, melainkan bagian dari arah yang sudah terbentuk sejak awal.
Saat mereka mendekati celah sempit itu, suara gesekan kembali terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Bayangan mulai keluar satu per satu, tidak lagi bersembunyi, menunjukkan bentuk yang masih samar tetapi cukup untuk dikenali sebagai ancaman.
“Bersiap,” kata Kaelvarion.
Semua langsung mengambil posisi tanpa perlu diingatkan lagi. Ketegangan meningkat dalam hitungan detik, dan perhatian semua orang terfokus ke depan.
Di tengah situasi itu, Alverion membuat keputusan tanpa mengubah ekspresi. Ia melirik ke sisi berlawanan, di mana ada lorong kecil yang hampir tidak terlihat, cukup sempit untuk dilewati satu orang.
Dari arah itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda, lebih dalam dan lebih berat dibanding jalur yang dipilih tim. Sistem di dalam dirinya kembali berdenyut, seolah memberi dorongan tanpa kata.
Ia menarik napas pelan, memastikan langkahnya tidak mengganggu ritme di sekitarnya. Lysera berada beberapa langkah di depan, Eryndor fokus ke bayangan yang mulai mendekat, dan Kaelvarion sudah bersiap memimpin serangan.
Tidak ada yang memperhatikan ke belakang.
Saat makhluk pertama melompat keluar dari bayangan, perhatian semua orang terpecah dalam sekejap. Itu cukup untuk memberinya celah yang ia butuhkan.
Alverion melangkah mundur perlahan, satu langkah diikuti langkah berikutnya tanpa suara yang berarti. Gerakannya halus, tidak tergesa, tetapi cukup cepat untuk keluar dari jangkauan pandang tanpa menarik perhatian.
Bayangan di dinding menutup pergerakannya secara alami, dan dalam beberapa detik, ia sudah tidak lagi terlihat oleh tim. Suara benturan mulai terdengar dari belakang, menandakan pertarungan telah dimulai, tetapi ia tidak menoleh.
Ia terus melangkah masuk ke lorong sempit itu, menjaga ritme dan arah tanpa ragu. Cahaya di dalamnya jauh lebih redup, dan udara terasa lebih padat, seolah ia benar-benar bergerak menuju sesuatu yang lebih dalam.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di depan, tetapi keputusan sudah diambil tanpa ruang untuk kembali. Dalam tempat seperti ini, pilihan bukan hanya menentukan arah, tetapi juga menentukan apa yang harus ditinggalkan.