“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35.Pagi yang panas.
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela yang tebal, memantulkan cahaya keemasan yang menari-nari di lantai marmer. Suasana di dalam kamar tidur utama istana itu sangat tenang, hangat, dan damai.
Luna ria tidur sangat pulas. Wajahnya yang biasanya tegas dan tajam kini terlihat lembut dan polos. Rambut hitamnya tersebar di atas bantal sutra, dan napasnya teratur dan tenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidur tanpa rasa takut, tanpa rasa dingin, dan tanpa mimpi buruk.
Kasur ini terlalu empuk. Selimutnya terlalu hangat. Dan suasananya... terlalu nyaman.
Dalam tidurnya, Luna ria mulai berguling-guling sedikit. Tangannya yang bebas meraba-raba ke samping, mencari posisi yang lebih nyaman.
Namun...
Bugh...
Tangan Luna ria menyentuh sesuatu. Bukan bantal. Bukan juga selimut.
Itu terasa... kenyal, padat, hangat, dan sangat kokoh. Seperti otot yang terlatih tapi kulitnya halus.
Luna ria masih memejamkan mata. Otaknya yang masih setengah sadar mulai memproses sensasi itu.
Hmm... empuk sekali... pikirnya dalam mimpi. Kenapa rasanya kayak dada pria berotot yang pernah kulihat di klub malam dulu? Hangat... keras... tapi kenyal.
Luna ria masih tertidur menikmati mimpi liarnya, dia masih mengira kalau yang dia lakukan dalam mimpi.
Karena rasanya sangat nyaman dan anehnya membuat tenang, tanpa sadar tangan Luna ria justru menekan-nekan bagian itu berulang-ulang. Jari-jarinya bahkan berani mencubit pelan dan mengusap area 'dada' misterius itu.
Wah, badannya bagus sekali ya... batin Luna ria mulai berimajinasi liar. Pantas saja wanita-wanita di sana pada heboh. Ternyata se-enak ini dipegang. Kulitnya halus banget, kayak sutra. Dan suhunya pas banget, jadi penghangat tangan alami.
Tangan Luna ria semakin berani. Ia mulai menggerakkan tangannya turun perlahan, melewati perut yang rata dan keras, berniat untuk mengeksplorasi lebih jauh ke bawah... ke area yang lebih sensitif dan menarik.
Ayo lihat apa lagi yang enak dipegang...
Namun, tepat saat jari-jarinya baru saja akan menyentuh pinggang bawah...
"Ng..gh... sayang..."
Sebuah suara berat, serak, dan sangat mengantuk terdengar tepat di sebelah telinganya. Suara yang sangat familiar namun keluar dengan nada yang sangat seksi dan lembut.
"Jangan... jangan main-main di sana..." lanjut suara itu dengan desahan pelan. "Aku tidak bisa menahan diri kalau kau meraba seperti itu. Apalagi... rasa sakit di bagian bawah masih terasa lho gara-gara tendanganmu tadi malam. Sakit sekali, sayang..."
BRAAAAKK!!!
Seperti tersengat listrik jutaan volt, otak Luna ria seketika tersadar sepenuhnya!
Mata yang tadi terpejam manja, kini terbuka lebar-lebar! Begitu lebar hingga hampir keluar dari rongga matanya!
Pandangannya langsung tertuju ke samping.
Dan apa yang dilihatnya...
Di sebelahnya, berbaring dengan santai dan wajah masih setengah tertidur, adalah Pangeran Ka el drago mir!
Dan yang membuat jantung Luna ria mau copot... Ka el TELANJANG DADA!
Dada bidangnya yang kekar, berotot sempurna, dengan kulit putih bersih dan sedikit bulu halus di tengah dada, terpampang jelas di depan matanya! Itulah yang tadi dia remas-remas dan tekan-tekan sepuas hati!
Dan yang lebih gila lagi... mereka berdua berada di bawah satu selimut yang sama!
Luna ria bisa merasakan panas tubuh pria itu hanya terpisah oleh kain selimut tipis!
"AAAAAAARRRRGGGGHHHHH!!!!!!"
Teriakan Luna ria mengguncang seluruh ruangan! Suaranya begitu nyaring, tajam, dan penuh kaget hingga membuat kaca jendela bergetar!
"MONSTER!!! PEDOFIL!!! PRIA MESUM!!!!"
Luna ria langsung melompat mundur hingga ke ujung ranjang, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai ke leher, matanya melotot tak percaya menatap wajah tak berdosa pria di depannya.
"K-K-KAU!!! KENAPA KAU ADA DI SINI?! KENAPA KAU TELANJANG?! DAN KENAPA KITA SEKAMAR?!" teriak Luna ria tak bersuara, napasnya memburu cepat, wajahnya memerah padam bukan main.
Ka el yang terbangun karena teriakan itu, hanya mengucek matanya pelan. Ia duduk perlahan, tanpa rasa bersalah sedikitpun membiarkan pemandangan 'asri' di depannya terlihat jelas oleh Luna ria.
"Kenapa teriak-teriak sayang? Pagi-pagi buta suaranya sudah menggelegar, nanti orang dengar," ucap Ka el santai, bahkan ia tersenyum mengantuk yang sangat tampan dan mematikan.
"JANGAN PANGGIL SAYANG-SAYANG!!! JAWAB PERTANYAANKU!" Luna ria melempar bantal ke wajah Ka el dengan keras. "Kapan kau masuk?! Kenapa kita tidur bareng?! Kau pasti sudah melakukan sesuatu padaku kan?! Dasar iblis!"
Ka el menangkap bantal itu dengan mudah dan meletakkannya di sampingnya. Ia menatap Luna ria dengan tatapan jahil dan puas.
"Tenang dong... Jantungmu mau copot ya?" goda Ka el. "Aku masuk tadi malam saat kau sudah tidur pulas. Dan kenapa kita tidur bareng? Ya jelas dong... karena kau istriku. Atau setidaknya calon istriku yang sah. Memangnya mau tidur di mana lagi?"
"ISTRI APAAN! KITA BELUM NIKAH! BELUM ADA UPACARA! BELUM ADA APA-APA!" Luna ria hampir menangis karena panik. "Dan kenapa kau tidak pakai baju?! Gila ya kau?! Tutup itu! Tutup! Jangan pamer otot sana sini!"
Ka el terkekeh pelan. Ia justru sengaja meregangkan kedua tangannya ke atas, membuat otot-otot di lengannya dan perutnya menegang terlihat lebih jelas dan menggoda.
"Kenapa harus tutup? Kau kan tadi yang senang sekali meremasnya? Aku dengar kau bilang 'enak sekali' dan 'kenyal banget' dalam hati tadi?" Ka el mengerutkan kening pura-pura bingung. "Bukannya kau sangat menikmati sentuhanmu sendiri tadi? Sampai mau turun ke bawah lagi tuh tangannya..."
PLAK!
Wajah Luna ria semakin merah, kini bukan hanya merah, tapi sudah seperti kepiting rebus!
"K-KAU DENGAR PIKIRANKU?!"
"Ya tentu saja. Aura kita sudah terikat. Dan jarak kita sedekat ini... otomatis aku bisa merasakan apa yang kau rasakan dan pikirkan," jawab Ka el santai. Ia lalu menggeser tubuhnya mendekat ke arah Luna ria yang sedang mundur ketakutan.
"Jangan mendekat! Maju sedikit lagi aku gigit!" ancam Luna ria memperlihatkan gigi tajamnya.
"Ya sudah, ya sudah. Aku tidak maju," Ka el mengangkat tangan tanda menyerah, tapi matanya tetap menatap Luna ria dengan senyum nakal. "Tapi serius sayang... tadi itu enak. Jarang-jarang ada wanita yang berani meremas dada Pangeran sekeras itu. Biasanya mereka pada gemetar kalau dekat sama aku."
"Dasar narsis! Sombong! Mesum!" Luna ria memukul kasur dengan kesal. "Pantas saja tadi rasanya hangat dan keras banget! Gila! Aku kira bantal aja! Siapa sangka itu dada manusia!"
"Hahaha! Jadi kau mengira aku bantal? Maaf ya, bantal tidak bisa memelukmu dan menghangatkanmu sebaik ini," Ka el menunjuk dirinya sendiri. "Tadi malam kau kedinginan, jadi aku masuk dan memelukmu. Tidurmu tidak tenang, terus mencari sumber panas. Akhirnya kau yang memelukku erat dan menaruh kepala di dadaku sampai pagi. Jadi jangan protes."
Luna ria ternganga.
Aku... memeluk dia?
Ia mencoba mengingat-ingat mimpi indahnya tadi malam. Benar juga... ia bermimpi tidur di atas awan yang hangat dan nyaman. Ternyata itu bukan awan... tapi dada pria ini!
"HUAAAAH! MALU SEKALI!!!" Luna ria menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa nasibku begini! Baru pindah satu malam sudah ketahuan mesum sama musuh!"
Ka el tertawa lepas. Suara tawanya bergema di kamar itu. Ia sangat menikmati ekspresi Luna ria yang berubah-ubah seperti air mendidih. Ini jauh lebih menghibur daripada berkas-berkas kerajaan yang menumpuk di meja kerjanya.
"Sudah jangan malu-malu. Lagipula... tubuhku ini kan milikmu juga sekarang. Silakan saja dipegang kapan pun kau mau, bahkan sepuasmu. Tidak perlu bayar," goda Ka el lagi, kali ini ia mendekatkan wajahnya sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
Luna ria menurunkan tangannya perlahan, menatap mata merah menyala milik Ka el yang penuh godaan.
"Kau..." Luna ria menelan ludah. "Kau benar-benar tidak punya rasa malu ya?"
"Untuk apa malu sama istri sendiri?" jawab Ka el cepat. Tangannya yang besar perlahan terulur, menyentuh pipi Luna ria dengan sangat lembut. Sentuhan itu hangat, membuat jantung gadis itu berdegup kencang lagi.
"Tadi... kau bilang ada yang sakit?" tanya Luna ria tiba-tiba, teringat ucapan Ka el tadi.
Ka el mengangguk sedramatis mungkin, menunjuk ke arah bawah selimut.
"Iya nih... di sini. Tendanganmu tadi malam itu sangat kuat sayang. Hampir hancur 'harta karun' keluarga kerajaan," keluhnya dengan wajah sedih tapi mata tetap tertawa. "Kalau sampai rusak, siapa yang akan memberimu keturunan nanti?"
"BRUK!"
Luna ria langsung mendorong wajah Ka el menjauh dengan keras.
"JANGAN BICARA JOROK! ITU KARENA KAU NAKAL! SIALAN!" Luna ria membuang muka, jantungnya rasanya mau meledak. "CEPAT PAKAI BAJU! SEKARANG JUGA! ATAU AKU TERIAK LAGI BILANG KAU MAU MEMPERKOSA AKU!"
Ka el mengangkat kedua tangannya menyerah sambil tertawa puas.
"Oke, oke. Ibu Negara sedang marah. Baiklah, aku pakai baju."
Perlahan, Ka el turun dari ranjang.
Luna ria langsung memejamkan mata kuat-kuat, tapi karena penasaran, ia mengintip dari celah jari-jarinya.
Astaga... tubuhnya benar-benar sempurna seperti patung dewa perang, batin Luna ria mengakui dalam hati meski mulutnya tetap manyun. Tapi sayang otaknya rusak! Pria gila!
Ka el dengan santai mengenakan kemeja putih longgar yang tidak dikancingkan semua, memperlihatkan sedikit dada bidangnya, dan celana panjang hitam. Penampilannya kini terlihat rapi namun tetap terlihat seksi dan berwibawa.
Setelah berpakaian rapi, Ka el kembali mendekati ranjang, menundukkan wajahnya tepat di depan Luna ria yang masih bersembunyi di balik selimut.
"Sudah ya marahnya?" bisiknya lembut. "Sekarang ayo bangun. Sarapan sudah siap. Pluto pasti sudah menunggu di luar dengan makanan enak. Kau harus makan banyak, supaya nanti kalau main lagi tangannya tidak keriting."
"AKU TIDAK MAU MAIN-MAIN!" bentak Luna ria, tapi pipinya kembali merah.
"Ya sudah, cepat mandi dan ganti baju. Aku tunggu di bawah," Ka el tersenyum lebar, lalu mengecup cepat pipi Luna ria sebelum gadis itu sempat memukulnya.
"Bye bye, Sayang~"
Ka el berjalan santai keluar kamar, meninggalkan Luna ria yang masih terpaku di atas ranjang dengan jantung yang belum tenang.
Begitu pintu tertutup...
"HUAAAAAAH!!!" Luna ria menjerit lagi kali ini ke dalam bantal.
"Gila! Gila! Benar-benar gila! Pagi-pagi sudah bikin jantung copot! Apa-apaan sih hidupku ini! Dada kenyal... ah tidak! LUPAKAN! LUPAKAN!"
Luna ria memukul-mukul bantal dengan kesal dan malu, tapi di sudut hatinya... ada perasaan aneh yang mulai mekar. Perasaan yang hangat dan... menyenangkan.
jangan jodohin dengan lelaki yang hatinya milik orang lain
jangan yang banyak masa lalunya kasihan dia sudah dikhianati di kehidupannya dulu.
Carikan yang setia