Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Labirin Di Bawah Tanah
Gudang itu mendadak sunyi, jenis kesunyian yang lebih mengerikan daripada suara berondongan peluru. Arga terengah-engah, matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu darurat yang berkedip-kedip merah. Dia melihat ke meja di depannya—koper itu menganga lebar seperti mulut monster yang baru saja memuntahkan isinya. Flash drive, buku agenda, dan sertifikat saham itu raib.
"Elina!" Arga berteriak lagi, suaranya memantul di dinding seng gudang.
Tidak ada jawaban. Viktor, pria bertato kalajengking yang tadi begitu berkuasa, kini terkapar di lantai dengan darah yang mengalir dari bahunya. Dia masih bernapas, tapi matanya menatap langit-langit dengan kekosongan yang dalam.
Arga tidak memedulikan Viktor. Dia berlari menuju pintu besar yang tadi dilewati Elina. Namun, saat dia baru melangkah beberapa meter, sebuah bayangan muncul dari balik tumpukan kontainer. Itu bukan Elina. Itu Dani.
"Tuan Arga! Anda tidak apa-apa?" Dani berlari mendekat, senjatanya terhunus. Wajah asistennya itu tampak kacau, ada goresan luka di pipinya.
"Dani! Di mana Elina? Tadi dia di sini! Dia... dia bicara soal aset Eropa Timur dan kakekku!" Arga mencengkeram kerah baju Dani, mengguncangnya dengan frustrasi.
Dani menatap Arga dengan tatapan iba yang membuat Arga ingin memukulnya. "Tuan... Nona Elina tidak pernah sampai ke sini. Tim kami mencegat mobilnya dua blok dari apartemen dan langsung membawanya ke safe house di pinggiran Praha. Dia aman di sana, masih tertidur karena obat penenang ringan yang terpaksa kami berikan agar dia tidak histeris."
Arga melepaskan cengkeramannya. Dunianya seolah berputar. "Apa maksudmu? Aku melihatnya di monitor! Aku mendengar suaranya di interkom! Dia masuk ke sini, Dani! Dia berdiri tepat di depanku!"
Dani menggeleng pelan. "Itu bukan Nona Elina, Tuan. Itu adalah teknik deepfake suara dan proyeksi hologram tingkat tinggi yang digunakan oleh unit intelijen The Iron Circle. Mereka memancing Anda agar Anda membuka kunci biometrik koper itu. Dan sepertinya... mereka berhasil."
Arga terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Kepalanya berdenyut hebat. Jadi, semua itu palsu? Ketakutannya, harapannya, dan pengkhianatan Elina yang baru saja dia rasakan... hanyalah permainan pikiran?
"Tapi Viktor... dia takut padanya. Dia memanggilnya 'Sang Pewaris'," gumam Arga.
"Itu karena Viktor juga bagian dari sandiwara itu, Tuan. Dia memancing emosi Anda agar Anda merasa Elina adalah kunci segalanya," Dani membantu Arga berdiri. "Kita harus pergi sekarang. Gudang ini akan segera dikepung oleh polisi lokal yang sudah disuap mereka untuk membersihkan jejak."
Saat mereka hendak keluar, Arga melihat sebuah benda kecil terjatuh di dekat tempat Viktor terkapar. Sebuah anting-anting perak berbentuk bintang kecil. Arga memungutnya. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Itu bukan hologram. Itu adalah anting yang dia belikan untuk Elina saat mereka masih di Jakarta, jauh sebelum badai ini dimulai. Anting yang selalu dipakai Elina sebagai jimat keberuntungan.
"Dani," suara Arga mendadak dingin dan tajam. "Kau bilang Elina aman di safe house?"
"Benar, Tuan."
"Lalu kenapa anting ini ada di sini? Anting yang tidak pernah dia lepas?" Arga menunjukkan benda kecil itu di telapak tangannya yang gemetar.
Dani terdiam. Wajahnya yang tadi tampak cemas kini mendadak datar. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Dani perlahan mundur satu langkah, menjauh dari jangkauan Arga.
"Tuan Arga," ucap Dani dengan nada yang sangat formal, hampir robotik. "Ada jarak yang memang diciptakan untuk dilalui, dan ada jarak yang diciptakan agar manusia tidak pernah tahu kebenaran di baliknya."
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Dani, muncul beberapa pria berpakaian taktis hitam tanpa atribut. Dan di tengah-tengah mereka, berdirilah sosok yang paling tidak ingin Arga lihat dalam kondisi seperti ini.
Siska Winata.
Dia tidak lagi tampak hancur seperti saat di ruang rapat Jakarta. Dia mengenakan trench coat merah menyala, bibirnya tersenyum penuh kemenangan, dan di tangannya... dia memegang flash drive milik kakek Arga.
"Arga, Sayang," suara Siska terdengar merdu namun mematikan. "Kamu pikir hanya kakekmu yang punya rahasia? Kamu pikir Elina itu hanya mahasiswi miskin yang beruntung?"
Siska melangkah maju, sementara moncong senjata para pria taktis itu kini mengarah tepat ke jantung Arga.
"Selamat datang di babak kedua, Mantan Suamiku. Kamu mau tahu di mana Elina yang asli? Dia sedang menunggu kita di sebuah tempat yang tidak ada di peta. Dan percayalah, jarak antara kamu dan dia sekarang... adalah jarak antara hidup dan kiamat."
Tepat saat Siska menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan kecil terjadi di langit-langit gudang, menjatuhkan tirai gas air mata yang pekat. Di tengah kekacauan itu, Arga merasakan sebuah tangan kasar menariknya masuk ke dalam sebuah lubang rahasia di lantai gudang.
"Diam atau mati," bisik sebuah suara wanita yang sangat familiar di telinga Arga.