NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Serpihan Kaca di Balik Pualam

​Pagi di Jakarta Selatan selalu diawali dengan orkestra kebisingan yang melelahkan—raungan mesin bus kota, pekikan klakson yang tidak sabaran, dan aroma asap knalpot yang menyerbu melalui ventilasi jendela. Namun, di dalam unit apartemen Kanaya Larasati yang sempit, kesunyian adalah penguasa yang paling tiran. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat mencetak garis-garis tajam dan pucat di atas lantai kayu laminasi yang mulai kusam.

​Naya duduk membeku di tepi tempat tidur, kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap kosong ke arah kopernya yang masih terbuka setengah, berisi tumpukan kemeja flanel dan celana lapangan yang ternoda debu semen—saksi bisu dari beberapa hari paling intens dan membingungkan dalam hidupnya.

​Di telapak tangannya, ponsel pintar itu terasa seberat bongkahan granit yang siap menyeretnya ke dasar laut. Layarnya menampilkan artikel berita yang sama yang telah ia baca puluhan kali sejak fajar menyingsing, hingga setiap kata di dalamnya terasa seperti sayatan pisau di retina matanya: "Merger Properti Terbesar: Arjuna Dirgantara Resmi Bertunangan dengan Aline Wijaya".

​Foto yang menyertainya diambil dari sudut yang sangat profesional, memancarkan aura kekuasaan yang absolut. Juna tampak memegang sebuah pena emas, menandatangani dokumen yang tidak hanya menyatukan dua perusahaan, tetapi juga menyegel nasib dua orang manusia. Aline berdiri di sampingnya, mengenakan gaun sutra yang harganya mungkin setara dengan setahun gaji Naya, memancarkan senyum yang bisa meluluhkan baja namun terasa begitu dingin di mata Naya.

​'Selamat, Arjuna. Kau baru saja merancang penjara emasmu sendiri dengan sangat presisi, lengkap dengan dekorasi permaisuri yang serasi dengan citra kaku milikmu,' batin Naya, bibirnya gemetar karena tawa getir yang tertahan di tenggorokan. 'Dan aku... aku hanyalah selembar serbet kertas yang kau gunakan untuk menyeka peluh di site, lalu kau buang karena tidak lagi estetik bagi meja makan malam tunanganmu. Kau bilang kau takut aku terbakar? Lucu sekali. Ternyata akulah yang sedang membeku sementara kau merayakan kesuksesanmu di bawah lampu kristal.'

​Naya berdiri dengan gerakan yang kaku, kakinya terasa goyah seolah-olah seluruh fondasi apartemennya baru saja diguncang oleh gempa tektonik. Ia berjalan menuju cermin di kamar mandi yang uapnya belum sepenuhnya hilang. Wajah yang terpantul di sana bukan lagi milik gadis idealis yang berteriak menantang Juna di ruang rapat beberapa minggu lalu. Matanya merah, dengan sembab yang sangat jelas meskipun ia telah membasuhnya dengan air es berkali-kali. Kulitnya pucat, kehilangan binar yang biasanya ia dapatkan setiap kali ia berhasil memecahkan teka-teki ruang dan cahaya.

​Ia meraih pensil alis dan lipstik merah marun favoritnya. Ia mulai merias wajahnya dengan kecepatan dan ketegasan seorang prajurit yang sedang bersiap untuk serangan bunuh diri terakhir. Ia memulas lapisan demi lapisan kosmetik, menyamarkan rasa sakitnya di balik topeng profesionalisme yang tebal. Hari ini, ia tidak akan membiarkan satu orang pun di Gedung Dirgantara melihat retakan di hatinya. Ia akan menjadi pualam yang paling keras—dingin, tak tersentuh, dan tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun, terutama oleh Arjuna Dirgantara.

​Lobi utama Gedung Dirgantara terasa seperti ruang tunggu di kediaman bangsawan yang sedang berduka namun dipaksakan untuk berpesta pagi itu. Karangan bunga berukuran raksasa memenuhi setiap sudut, menguarkan aroma bunga lili, mawar, dan melati yang sangat pekat hingga membuat hidung Naya perih dan perutnya mual. Ucapan selamat dari berbagai korporasi mitra, menteri, hingga duta besar terpampang di papan-papan bunga yang berjejer rapi bagai barisan nisan yang mahal.

​Naya melangkah melewati kerumunan staf yang sedang berkerumun di dekat mesin kopi otomatis. Begitu ia masuk ke dalam lift khusus karyawan, suasana mendadak hening seketika. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata yang tertuju padanya; beberapa memancarkan rasa kasihan yang menjijikkan, sementara yang lain penuh dengan rasa ingin tahu yang jahat, seolah-olah sedang menunggu Naya meledak atau menangis di depan umum. Semua orang di gedung ini tahu tentang rumor "kedekatan khusus" antara desainer junior ini dengan sang CEO saat mereka di Bali dan di site konstruksi SCBD. Dan sekarang, semua orang sedang menunggu untuk melihat bagaimana Naya akan disingkirkan.

​'Tataplah sepuas kalian. Aku bukan tontonan gratis yang bisa kalian nikmati sambil mengunyah roti lapis,' gumam Naya dalam hati, dagunya terangkat satu inci lebih tinggi dari biasanya. Ia memfokuskan pandangannya pada angka lantai yang terus berganti di indikator digital lift, menolak untuk memberikan satu pun kedipan atau reaksi emosional pada penontonnya. Baginya, martabat adalah satu-satunya mata uang yang tersisa saat ini.

​Sampai di lantai dua puluh lima, Naya langsung menuju kubikel barunya. Meja itu tampak begitu asing, terlalu rapi, dan terlalu steril. Ia menyalakan monitor raksasanya, mencoba menenggelamkan diri dalam detail teknis pilar keenam yang belum sempat ia selesaikan sebelum diusir dari site semalam. Ia membutuhkan angka-angka. Ia membutuhkan algoritma. Ia membutuhkan logika yang keras dan tanpa perasaan untuk menenangkan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya.

​Tiba-tiba, bayangan seseorang jatuh menutupi keyboardnya. Naya mendongak dan mendapati Riko berdiri di samping mejanya. Wajah asisten pribadi Juna itu tampak sangat kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia mungkin baru saja melewati malam yang sama hancurnya dengan Naya.

​"Nona Kanaya," suara Riko terdengar sangat ragu-ragu, hampir menyerupai bisikan. "Pak Arjuna memanggil Anda ke ruangan CEO. Sekarang juga."

​Naya tidak menoleh, jemarinya tetap menari di atas keyboard dengan ritme yang konstan, menciptakan bunyi ketukan yang menyerupai detik jam. "Katakan padanya saya sedang sangat sibuk mengaudit margin kesalahan pada struktur serat karbon pilar lobi. Saya baru akan bisa menyerahkan laporannya sore nanti melalui email."

​"Pak Arjuna tidak meminta laporan teknis hari ini, Nona," Riko menarik napas panjang, suaranya mengandung nada putus asa yang halus. "Beliau meminta kehadiran Anda. Secara fisik. Dan beliau bilang... ini adalah hal yang tidak bisa ditunda."

​Naya menghentikan gerakannya secara mendadak. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara dingin dari pendingin ruangan yang terasa mencekik paru-parunya. 'Fisik? Untuk apa lagi? Untuk menunjukkan betapa indahnya cincin tunangannya secara langsung? Atau untuk memberitahuku bahwa perhiasan aslinya sudah tiba?'

​"Baik. Beri saya waktu dua menit untuk menyimpan fail ini," jawab Naya dengan suara yang sedingin es di kutub utara.

​Pintu mahoni ganda ruang CEO terbuka dengan bunyi klik yang sangat kering, seolah-olah kayu itu sendiri sedang memprotes kehadiran Naya. Naya melangkah masuk dengan punggung yang tegak lurus, namun ia berhenti tepat di tengah ruangan yang luas itu. Ia tidak bergerak mendekat sedikit pun ke arah meja kerja Juna yang masif.

​Arjuna Dirgantara sedang berdiri membelakangi pintu, menatap lurus ke arah luar melalui jendela panorama yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang diselimuti kabut polusi. Ia mengenakan kemeja hitam berbahan katun mesir yang sangat kaku, tanpa jas. Lengan bajunya tidak digulung seperti kebiasaannya saat sedang bekerja; kancing peraknya tertutup rapat hingga ke pergelangan tangan, seolah-olah ia sedang mencoba mengurung dirinya sendiri dalam baju zirahnya yang paling ketat agar tidak ada emosi yang bocor keluar.

​"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Naya. Suaranya datar, monoton, dan sepenuhnya tanpa intonasi manusiawi yang biasanya ia miliki.

​Juna tidak segera berbalik. Bahunya tampak menegang mendengar suara Naya. "Riko sudah memberitahumu soal kunjungan ke perpustakaan material internasional sore ini?"

​"Ya. Tapi saya rasa itu adalah pemborosan waktu yang tidak perlu. Saya sudah melakukan riset mendalam secara daring untuk pilar terakhir. Data digitalnya sudah lebih dari cukup," sahut Naya cepat, nada suaranya seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan ini.

​"Ini bukan soal perlu atau tidak. Ini adalah perintah kerja," ucap Juna. Bariton suaranya terdengar sangat serak, sebuah detail sensorik yang tidak luput dari pendengaran Naya yang tajam. "Perpustakaan itu memiliki sampel asli yang baru tiba dari tambang Carrara di Italia utara. Saya ingin Anda memverifikasi tekstur dan koefisien pantulannya secara manual sebelum kita memesan blok pualam terakhir senilai lima miliar rupiah. Saya tidak ingin ada kesalahan estimasi."

​Naya tertawa kecil, sebuah tawa kering yang mengandung racun kekecewaan yang sangat pekat. "Manual? Bukankah Anda sendiri yang bilang di lokasi konstruksi semalam bahwa saya adalah variabel emosional yang mengganggu fokus tim teknis? Kenapa sekarang Anda justru mengirim saya untuk melakukan tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh asisten pengadaan level junior?"

​Juna perlahan memutar tubuhnya. Gerakannya sangat lambat, seolah-olah setiap persendiannya terbuat dari besi yang berkarat. Saat matanya yang hitam kelam bertabrakan dengan mata cokelat Naya, Juna sempat tertegun selama satu detik penuh yang terasa seperti keabadian. Ia melihat lapisan kosmetik tebal yang Naya gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia melihat keberanian yang dipaksakan di balik sorot mata yang terluka itu. Dan yang paling menyakitkan bagi Juna, ia melihat dinding es yang kini Naya bangun—dinding yang persis menyerupai miliknya.

​"Karena aku ingin kau segera keluar dari gedung ini, Kanaya," bisik Juna. Suaranya kini tidak lagi bergetar karena otoritas CEO, melainkan karena sebuah kepedihan yang luar biasa dalam. "Keluar dari aroma bunga ucapan selamat yang munafik itu. Keluar dari bisikan beracun para staf di pantry. Dan keluar dari pandanganku... setidaknya untuk beberapa jam ke depan."

​'Keluar dari pandangannya? Jadi melihatku adalah sebuah beban estetika yang merusak pemandangan indahnya sekarang?' batin Naya meradang, rasa terhina itu kini membakar habis sisa-sisa kesabarannya.

​"Jika kehadiran saya memang begitu menyiksa pandangan Anda yang terhormat, kenapa Anda tidak memecat saya saja detik ini juga, Pak Arjuna?" Naya melangkah maju satu tahap, melanggar garis batas jarak aman yang Juna tetapkan secara implisit. "Atau pindahkan saya ke proyek cabang di pedalaman Kalimantan atau Papua. Saya sangat yakin di sana saya tidak akan mengganggu sirkulasi udara dan estetika hidup baru Anda bersama Nona Aline."

​Rahang Juna mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol tajam sekeras pahatan granit. Ia melangkah mendekat dengan cepat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga aroma parfum vetiver-nya yang dominan kembali mengepung indra penciuman Naya, bercampur dengan aroma alkohol yang sangat samar—seolah pria itu baru saja menenggak beberapa sloki wiski di pagi hari hanya untuk menenangkan sarafnya yang tegang.

​"Kau pikir aku tidak ingin melakukannya? Kau pikir aku menikmati setiap detik kau berada di sini?" desis Juna, wajahnya kini hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajah Naya. Napasnya terasa panas di kulit Naya yang dingin. "Setiap detik aku melihatmu di gedung ini, aku merasa seperti sedang memegang serpihan kaca yang sangat tajam di dalam genggamanku sendiri. Semakin erat aku memegangnya agar ia tidak jatuh dan pecah, semakin dalam kaca itu mengiris daging telapak tanganku. Tapi aku tidak bisa melepaskannya! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi karena dunia di luar sana... adalah tempat Ayahku akan menghancurkanmu dalam satu malam jika aku tidak lagi menjagamu di bawah pengawasanku!"

​"Saya bukan pengecut seperti Anda, Arjuna Dirgantara!" balas Naya dengan suara yang mulai bergetar oleh amarah yang meledak. Air matanya mulai menggenang meskipun ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan menangis di depan pria ini. "Saya lebih baik hancur berkeping-keping di luar sana dengan kepala tegak, daripada harus hidup di bawah perlindungan palsu seorang pria yang baru saja menjual jiwanya demi sebuah kontrak merger properti!"

​Juna secara refleks mencengkeram kedua bahu Naya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. Matanya berkilat penuh amarah, rasa frustrasi, dan sebuah rasa posesif yang gila. "Pahamkah kau akan situasinya?! Aku menandatangani dokumen pertunangan itu hanya untuk membeli kebebasanmu! Ayahku sudah menyiapkan seluruh berkas laporan ke pihak berwenang untuk menangkap keluargamu atas dasar hutang lama ayahmu yang sengaja ia buat macet! Kau pikir kenapa bengkel mebel ayahmu bangkrut dalam semalam tujuh tahun lalu?! Itu adalah manuver akuisisi lahan paksa oleh Dirgantara Group, Kanaya!"

​Naya membeku seketika. Seluruh aliran darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir tepat di jantungnya. Dunia di sekelilingnya mendadak menjadi gelap, hampa, dan kehilangan gravitasi.

​"Apa... apa yang baru saja Anda katakan?" tanya Naya terbata-bata, suaranya hampir hilang tertelan kesunyian ruangan yang mencekam.

​Juna segera melepaskan cengkeramannya seolah-olah bahu Naya baru saja berubah menjadi bara api yang membakar telapak tangannya. Ia memalingkan wajahnya ke arah meja kerjanya yang penuh dengan dokumen berserakan. Ia menyadari dengan rasa ngeri bahwa ia baru saja membocorkan rahasia paling gelap yang seharusnya ia bawa sampai ke liang lahat.

​"Ayahmu bukan sekadar perajin kayu yang gagal karena manajemen yang buruk, Kanaya," ucap Juna dengan suara yang mendadak menjadi sangat dingin dan klinis, mencoba dengan putus asa untuk kembali ke mode robotnya yang tanpa perasaan. "Dia adalah korban dari ekspansi lahan pertama yang dipimpin oleh kakekku. Dan seluruh hutang yang ditinggalkan ayahmu saat bengkelnya terbakar misterius itu... hutang itu tidak pernah lunas. Ayahku memegang seluruh sertifikat tanah dan surat hutang asli keluarga kalian. Dan dia menggunakannya sebagai kartu as untuk memaksaku tunduk pada pernikahan politik dengan Aline."

​Naya mundur beberapa langkah dengan gerakan yang limbung, satu tangannya menutupi mulutnya sendiri seolah ingin menahan teriakan yang ingin meledak keluar. Segala kenangan tentang ayahnya yang jatuh sakit karena stres, rumah masa kecilnya yang disita paksa oleh pria-pria berpakaian hitam, dan kemiskinan yang mencekik keluarganya selama bertahun-tahun... semuanya ternyata adalah bagian dari rencana besar keluarga pria yang kini berdiri di hadapannya.

​'Tuhan... jadi selama ini aku sedang bekerja untuk monster yang menghancurkan hidup ayahku? Aku memberikan bakatku untuk membangun monumen bagi orang yang membunuh senyum ibuku?' batin Naya, rasa mual yang luar biasa hebat menyerang ulu hatinya, membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya detik itu juga. 'Dan Arjuna... dia melindungiku dengan cara menjadi bagian dari sistem monster itu? Itu bukan perlindungan. Itu adalah penghinaan yang paling keji.'

​"Pergilah ke perpustakaan material sekarang, Kanaya," ucap Juna tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Naya. Suaranya terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan di ruang pengadilan yang sunyi. "Jangan kembali ke kantor pusat sampai besok pagi. Biarkan Riko yang mengantarmu dengan mobil perusahaan agar tidak ada mata-mata Ayahku yang mengikutimu. Dan jangan pernah berani membahas hal ini lagi dengan siapa pun, termasuk Bastian. Anggap saja ini sebagai bagian dari kompensasi atas kerja kerasmu di proyek Grand Azure."

​Naya tidak menjawab. Ia tidak sanggup mengeluarkan satu patah kata pun karena tenggorokannya terasa seperti tersumbat oleh serpihan kaca. Ia memutar tubuhnya dengan kasar dan berlari keluar dari ruangan CEO yang megah namun berbau darah itu. Ia melewati Riko yang menatapnya dengan pandangan penuh kepedihan dan simpati, ia melewati kerumunan staf yang masih asyik bergosip tentang pesta pertunangan, dan ia terus berlari hingga ia tiba di lobi gedung yang dipenuhi bunga-bunga ucapan selamat.

​Ia berdiri di tengah trotoar jalan raya Sudirman yang macet total, membiarkan polusi udara dan panas terik Jakarta membakar kulit wajahnya yang masih dilapisi kosmetik tebal. Ia tiba-tiba tertawa—sebuah tawa histeris yang bercampur dengan isak tangis yang menyesakkan dada. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan di dunia ini: cintanya yang baru saja tumbuh pada Arjuna adalah sebuah pengkhianatan terbesar pada ayahnya, dan kebenciannya pada Arjuna adalah satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa memiliki sedikit harga diri sebagai manusia.

​Sore harinya, di dalam perpustakaan material internasional yang sepi, dingin, dan dikelilingi oleh rak-rak kayu jati yang tinggi, Naya duduk meringkuk di lantai di antara contoh-contoh pualam dan sampel kayu dari seluruh penjuru dunia. Ia tidak sedang melakukan verifikasi tekstur seperti perintah Juna. Ia hanya duduk diam, memeluk lututnya erat-erat, menatap sebuah sampel marmer putih yang urat-urat alaminya menyerupai garis-garis luka yang belum mengering di atas kulit.

​Ponselnya di dalam tas terus bergetar tanpa henti. Sebuah pesan masuk dari Bastian.

​"Naya, aku ada di depan gedung perpustakaan. Riko memberitahuku kau dikirim ke sini sendirian. Bolehkah aku masuk? Kau tidak perlu bicara apa pun padaku, aku hanya ingin memastikan kau tidak sendirian di tempat sedingin ini."

​Naya menatap layar ponselnya dengan mata yang sepenuhnya hampa, seolah-olah jiwanya telah ditarik keluar dari tubuhnya. Bastian adalah masa lalu yang bersih. Bastian adalah pria hangat yang seharusnya ia cintai jika dunia ini normal. Tapi hatinya... hatinya sudah terlanjur tertancap dan terjerat di pilar-pilar Grand Azure yang dibangun dari darah, air mata, dan kebohongan keluarganya.

​"Masuklah, Kak. Pintunya tidak dikunci," balas Naya dengan pesan singkat yang diketik dengan tangan yang masih gemetar.

​Beberapa menit kemudian, Bastian duduk di samping Naya di atas lantai karpet yang berdebu. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia tidak meminta penjelasan. Ia hanya menyodorkan satu cup es krim vanilla—makanan penghibur yang selalu Bastian belikan untuk Naya saat mereka masih menjadi mahasiswa tingkat akhir yang kelelahan mengerjakan maket di studio universitas dulu.

​"Dunia ini memang terkadang tidak adil bagi orang-orang baik, Naya," ucap Bastian pelan, matanya menatap deretan sampel material yang tertata rapi di depan mereka. "Tapi kau adalah arsiteknya. Kau punya kekuatan di jemarimu untuk merancang ulang duniamu sendiri, sesakit apa pun fondasi lamamu. Jangan biarkan mereka menang dengan melihatmu hancur menjadi debu."

​Naya mengambil es krim itu dari tangan Bastian, namun ia tidak berniat memakannya. "Bagaimana jika duniamu ternyata dibangun tepat di atas kuburan orang-orang yang kau sayangi, Kak? Apakah desainnya akan tetap terlihat indah di matamu? Atau justru terlihat seperti nisan yang sangat mewah?"

​Bastian menoleh perlahan, menatap Naya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh pengertian. "Maka kau harus memiliki keberanian untuk membangun monumen pengampunan di atasnya, Naya. Bukan monumen kebencian. Karena kebencian adalah material bangunan yang paling tidak stabil; ia hanya akan meruntuhkan struktur yang paling kuat sekalipun saat badai datang."

​Naya terdiam selama waktu yang sangat lama. Kata-kata Bastian masuk meresap ke dalam hatinya, namun di sana ia justru bertemu dengan bayangan Arjuna yang berdiri sendirian di bawah guyuran hujan badai, bayangan Arjuna yang dengan telaten mengobati luka di tangannya, dan suara Arjuna yang menyebutnya sebagai 'serpihan kaca yang tajam'. Naya menyadari dengan ngeri bahwa ia lebih memilih terluka bersama Arjuna daripada merasa aman bersama Bastian.

​Malam harinya, di lantai tiga puluh Gedung Dirgantara, Arjuna Dirgantara sedang duduk sendirian di tengah kegelapan ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh pendaran lampu jalanan dari luar. Di hadapannya, selembar dokumen kesepakatan pertunangan dengan Aline Wijaya tergeletak begitu saja dengan sisa-sisa tinta hitam yang sudah mengering di atas kertas bertekstur mahal itu.

​Juna meraih pemantik api peraknya, menyalakannya, dan menatap lidah api kecil yang menari-nari di depannya. Ia ingin sekali membakar dokumen itu. Ia ingin membakar gedung pencakar langit ini. Ia ingin membakar seluruh nama besar keluarga Dirgantara yang telah merenggut nyawa ibunya dan kebahagiaan masa muda Naya.

​Namun, ia teringat kembali pada wajah ayahnya yang tanpa ekspresi. Ia teringat kembali pada ancaman tentang sertifikat hutang asli milik keluarga Larasati yang tersimpan di dalam brankas baja sang Chairman.

​'Aku akan menjadi tiran yang jauh lebih kejam dan lebih berkuasa dari Ayah, agar suatu hari nanti aku memiliki kekuatan absolut untuk merebut kembali sertifikat itu dan mengembalikannya padamu, Kanaya,' bisik Juna pada kegelapan ruangan yang sunyi itu. 'Kau mungkin akan membenciku seumur hidupmu di gedung ini. Kau mungkin akan memilih untuk menikah dengan Bastian dan melupakan namaku selamanya. Tapi setidaknya, kau tidak akan pernah lagi merasakan ketakutan akan kehilangan rumahmu dan martabat keluargamu.'

​Juna mematikan pemantiknya dengan satu gerakan tegas. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kulitnya yang dingin, memejamkan matanya yang terasa sangat panas, dan membiarkan satu tetes air mata yang sangat langka mengalir melewati pipinya yang kaku—sebuah tanda biologis bahwa mesin yang selama ini ia banggakan sebagai 'sempurna' baru saja mengalami kerusakan permanen di bagian yang paling vital: jantungnya.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah halaman belakang rumah sederhana yang asri di pinggiran Jakarta, sepuluh tahun yang lalu. Suara ketukan palu kayu yang ritmis dan aroma serbuk gergaji kayu jati yang segar memenuhi udara sore yang hangat dan keemasan.

​Kanaya remaja, yang saat itu baru berusia lima belas tahun dengan rambut yang diikat kuncir kuda, sedang membantu ayahnya menghaluskan permukaan meja kayu jati pesanan seorang klien besar dari pusat kota. Ayahnya tersenyum sangat lebar, menyeka keringat yang bercucuran di dahinya dengan handuk kumal yang tersampir di bahunya.

​"Naya, lihat baik-baik sambungan ini," ucap ayahnya lembut, menunjuk pada sebuah sambungan kayu yang sangat presisi tanpa menggunakan satu buah paku pun. "Ini namanya teknik sambungan purus dan lubang. Kekuatannya bukan terletak pada seberapa banyak lem atau paku baja yang kau gunakan, tapi pada kejujuran setiap lekukan kayu yang saling mengisi dan mendukung satu sama lain."

​Ayahnya membelai rambut Naya dengan tangan yang kasar dan penuh kapalan. "Ingat pesan Ayah ya, Nak. Di dunia ini, banyak orang mencoba membangun gedung tinggi dengan cara memaksa atau menindas orang di bawahnya. Tapi bangunan yang paling abadi di dunia adalah yang dibangun dengan kejujuran hati. Jika kau suatu hari nanti benar-benar menjadi arsitek besar, jangan pernah paksa sebuah material menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Biarkan dia bicara dengan bahasanya sendiri."

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di depan rumah mereka. Seorang pria berpakaian necis dengan koper kulit turun, membawa sebuah map tebal yang berlogo Dirgantara Group di bagian depannya. Senyum di wajah ayah Naya seketika memudar, tangannya yang tadi terasa sangat hangat membelai rambut Naya mendadak menjadi sangat dingin dan gemetar hebat.

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada mata ayah Naya yang seketika dipenuhi oleh rasa ketakutan yang sangat mendalam dan keputusasaan, tatapan yang sama yang kini terpantul jelas di mata cokelat Naya saat ia menyadari bahwa seluruh narasi hidupnya telah dirancang oleh tangan-tangan dingin yang sama yang telah menghancurkan senyum ayahnya sore itu.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!