"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepatu Baru dan Kenangan Pahit
POV Zhira
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kehidupanku berjalan seperti roda yang terus berputar pada porosnya yang sama—penuh dengan rutinitas, tuntutan, dan rasa sakit yang tersimpan rapi di sudut hati.
Hari ini adalah hari Minggu. Biasanya hari Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu semua anak, hari di mana bisa bermain sepuasnya atau jalan-jalan bersama keluarga. Tapi bagiku, hari Minggu seringkali menjadi hari yang paling melelahkan secara batin.
Pagi itu, suasana rumah terlihat sedikit berbeda. Ada tumpukan baju baru dan kotak sepatu yang tersusun rapi di ruang tengah. Mata Rara dan Bimo berbinar-binar melihatnya.
"Wah! Itu sepatu baru ya, Bu?" seru Bimo antusias.
"Iya sayang, ini buat kamu dan Rara. Besok kan mau masuk sekolah, masa sepatunya sudah kecil dan sobek begitu," jawab Ibu sambil tersenyum lebar. Ia membuka kotak sepatu berwarna merah muda untuk Rara dan biru tua untuk Bimo. Modelnya sangat bagus, solnya tebal dan warnanya mengkilap.
Aku berdiri mematung di dekat pintu, menyaksikan pemandangan itu dari jauh. Sepatuku... aku melihat ke bawah, melihat sepatu hitamku yang sudah pudar warnanya, talinya sudah diganti beberapa kali, dan bagian ujungnya sudah mulai mengelupas. Aku sudah memakannya selama hampir dua tahun.
Setiap kali aku memberanikan diri bilang, "Bu, sepatu Zhira sudah rusak," jawabannya selalu sama: "Masih bisa dipakai kok, hemat ya. Kamu kan kakak, harusnya mengerti keadaan. Adik-adikmu masih kecil, mereka lebih butuh yang baru."
Dan hari ini, kenyataan itu terlihat begitu nyata di depan mataku.
Ibu memakaikan sepatu baru itu ke kaki adik-adikku. "Coba jalan-jalan, enak nggak? Empuk kan?" tanyanya.
"Enak sekali, Bu! Ringan!" teriak mereka senang. Mereka berlari-larian kecil di ruang tamu, suara klepak-klepak sepatu baru itu terdengar begitu nyaring, seolah mengejekku.
Aku ingin pergi, ingin kembali ke kamar dan mengunci diri. Tapi kakiku seolah terpaku di tempat.
Tiba-tiba Ibu menoleh ke arahku. Tatapannya menangkap pandanganku yang sedang menatap sepatuku sendiri.
"Kenapa melongo? Iri ya?" tanya Ibu dengan nada datar, bahkan sedikit sinis. "Sudah bilang kan, kamu itu sudah besar. Sepatu yang lama masih bagus kok, tinggal dibersihkan saja pasti kinclong lagi. Jangan suka menuntut macam-macam, orang tua juga punya kewajiban lain."
Dadaku sesak. "Zhira nggak iri, Bu. Zhira cuma... sepatu Zhira sudah bocor kalau kena hujan. Kakiku jadi basah dan dingin," jawabku pelan, berusaha menjelaskan dengan sebaik mungkin.
"Bocor sedikit juga nggak mati! Dulu Ibu sekolah jalan kaki berkilometer pakai sepatu tambal pun bersyukur! Kamu ini anak zaman sekarang manja sekali! Punya sepatu aja ngomel terus!" bentak Ibu, suaranya mulai meninggi.
Rara dan Bimo yang tadinya tertawa, kini menjadi diam dan menunduk takut.
"Zhira cuma minta sedikit saja pengertian, Bu..." suaraku bergetar menahan tangis yang ingin meledak. "Zhira juga anak Ibu, kan? Kenapa hal sesederhana sepatu baru saja Zhira nggak pernah dapatkan? Kalau adik yang minta, langsung dibelikan. Kalau Zhira yang minta, dibilang manja dan boros."
"BRUK!"
Sebuah bantal sofa terlempar ke arahku, mengenai bahuku dengan cukup keras.
"MULUTMU ITU! Berani sekali kamu membanding-bandingkan! Ibu sudah berkorban banyak buat kamu, tapi kamu tidak pernah bersyukur! Dasar anak durhaka! Pergi sana dari sini! Ibu malas melihat wajahmu!"
Aku tidak berlari kali ini. Aku hanya berdiri tegak, membiarkan air mata mengalir deras membasahi pipi. Aku menatap Ibu lekat-lekat, berusaha mencari setitik rasa sayang di sana, tapi yang kutemukan hanyalah kemarahan dan kekecewaan yang seolah sudah mengakar kuat.
"Baik, Bu. Zhira pergi. Zhira nggak akan minta apa-apa lagi. Mulai sekarang, Zhira akan pakai sepatu itu sampai hancur berkeping-keping. Zhira janji, nggak akan pernah minta apa-apa lagi," ucapku lirih, namun tegas.
Aku berbalik badan dan berjalan keluar rumah. Langkah kakiku terasa berat, bukan karena sepatu yang rusak, tapi karena beban di hati yang makin hari makin terasa menindih.
Aku berjalan menuju halaman belakang, tempat di mana ada gudang tua yang jarang orang kunjungi. Aku duduk di tangga kecil depan gudang itu, memeluk tubuhku yang gemetar.
Kenapa rasanya aku seperti orang asing di rumah sendiri? Kenapa kasih sayang itu terasa begitu mahal harganya bagiku?
Aku melepas sepatuku, memeriksanya. Benar kata Ibu, fisiknya masih utuh, tapi kenyamanannya sudah hilang. Sama seperti hubungan kami. Terlihat baik-baik saja dari luar, tapi di dalam sudah retak dan bocor di mana-mana.
"Tante Bibi bilang aku berharga..." bisikku pada diri sendiri. "Tante Bibi bilang aku anak baik..."
Tapi kenapa orang yang seharusnya paling mencintaiku di dunia ini, yang melahirkanku, yang memberiku nama, justru yang paling sering membuatku merasa tak berharga?
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon kelapa di dekat sana. Suaranya berdesir, seolah ikut bersedih mendengar cerita hatiku.
Aku tahu, besok pagi aku tetap harus memakai sepatu ini ke sekolah. Aku harus berjalan melewati teman-temanku yang berseragam rapi dan sepatu yang mengkilap. Aku harus pura-pura kuat, pura-pura tidak peduli.
Tapi siapa yang tahu, bahwa di balik senyum tipis dan sikap pendiamku, ada hati kecil yang terus menerus terluka, berharap suatu hari nanti... entah kapan... seseorang akan datang dan berkata, "Sudah cukup, Nak. Kamu tidak perlu kuat sendirian lagi."
Namun harapan itu, sama seperti sepatu tuaku, perlahan mulai pudar dan kehilangan warnanya.
POV End