NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Jejak yang tertinggal

Malam yang panjang dan penuh siksaan mental itu akhirnya menyerah pada fajar yang kelabu. Di dalam kamar yang gelap gulita karena sistem kontrol pusat yang dimatikan Bram, Aluna tidak memejamkan mata sedetik pun. Ia meringkuk di atas lantai marmer yang dingin, tepat di balik pintu jati yang terkunci rapat. Telinganya menempel pada kayu tebal itu, mencoba menangkap setiap getaran suara yang merambat dari ruang kerja Bram di lantai bawah.

Suara tawa kecil Clara yang sesekali terdengar, denting cangkir porselen yang beradu dengan meja kaca, hingga gumaman bariton Bram yang terdengar begitu akrab dengan wanita itu, terasa seperti ribuan jarum panas yang menusuk kewarasan Aluna perlahan-lahan. Setiap suara adalah pengkhianatan. Setiap kesunyian di antara percakapan mereka adalah bayangan mengerikan tentang apa yang mungkin sedang mereka lakukan di bawah sana.

Pukul lima pagi, Aluna mendengar suara pintu depan yang berat tertutup. Tak lama kemudian, deru mesin mobil sedan mewah milik Clara meninggalkan halaman rumah, memecah keheningan pagi yang berkabut. Langkah kaki berat Bram terdengar menaiki tangga kayu mahoni. Namun, Aluna tidak lagi memiliki energi untuk berteriak, memaki, atau memukul pintu. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena dinginnya udara pagi, melainkan karena syok mental yang luar biasa—sebuah kondisi di mana jiwanya merasa telah tercerabut dari raga.

Saat Bram membuka pintu kamar dengan kunci induknya, cahaya lampu koridor masuk menyinari ruangan yang suram itu. Ia menemukan Aluna tergeletak lemas di atas karpet tebal, posisinya masih sama seperti semalam. Wajah gadis itu sepucat kertas, bibirnya membiru, dan napasnya terdengar pendek-pendek serta berat.

"Aluna?" Bram berlutut seketika, kecemasan yang murni merayapi wajahnya yang tampak lelah. Ia menyentuh dahi Aluna yang terasa dingin namun dibanjiri keringat dingin. "Bangun, Sayang. Jangan menakutiku seperti ini. Daddy sudah di sini."

Aluna hanya mengerang lirih, sebuah suara yang sangat tipis dan menyakitkan. Kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Bram dengan pandangan yang kosong—tatapan yang tidak lagi mengandung cinta atau benci, melainkan kehampaan yang menghancurkan hati Bram seketika.

"Sakit, Daddy... di sini sangat sakit..." bisik Aluna sambil menyentuh dadanya dengan tangan yang gemetar, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan sepenuhnya dalam pelukan Bram.

Kepanikan luar biasa melanda kediaman Bramasta yang biasanya tenang. Dokter pribadi keluarga kembali dipanggil dalam status darurat medis. Diagnosanya kali ini jauh lebih berat daripada sekadar demam biasa: Nervous Breakdown. Tekanan psikologis yang bertubi-tubi, isolasi total, dan permainan cemburu yang diciptakan Bram telah membuat sistem saraf Aluna menyerah. Tubuhnya melakukan shutdown total untuk melindungi otaknya dari rasa sakit yang lebih besar.

Bram terduduk di samping tempat tidur Aluna selama berjam-jam, menggenggam tangan gadis itu yang kini dipasangi selang infus. Ruangan itu kini beraroma obat-obatan dan antiseptik. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah yang sangat besar merayap di dada Bram, menggerogoti ego posesifnya yang biasanya setinggi gunung. Ia ingin memberi pelajaran, namun ia tidak menyangka bahwa "malaikat"-nya begitu rapuh di bawah tekanan mental yang ia ciptakan sendiri.

Di tengah kesunyian itu, ponsel Bram di atas nakas bergetar pelan. Sebuah pesan dari Clara masuk.

Clara: "Pak Bramasta, maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Sepertinya ada beberapa dokumen audit dan anting-anting saya yang tertinggal di ruang kerja Anda semalam setelah diskusi kita. Saya akan segera ke sana untuk mengambilnya agar tidak mengganggu operasional kantor besok."

Bram menggeram rendah, sebuah suara penuh kebencian. Kehadiran Clara yang tadinya ia jadikan alat untuk mendidik Aluna, kini terasa seperti gangguan yang sangat memuakkan. Ia merasa Clara terlalu berani mencampuri urusan pribadinya lebih jauh.

"Jangan datang ke rumah. Kirim kurir saja. Aluna sedang sakit parah dan aku tidak ingin ada gangguan apa pun," balas Bram singkat dan sangat dingin.

Namun, Clara bukanlah wanita yang mudah menyerah atau bisa dihentikan dengan pesan singkat. Dua jam kemudian, ia tetap muncul di depan gerbang rumah dengan alasan "dokumen sangat rahasia" yang tidak bisa dipercayakan pada kurir mana pun. Anwar, yang mengetahui status Clara sebagai putri dari rekan bisnis utama Bramasta Group, tidak memiliki keberanian untuk mengusirnya dan terpaksa mengizinkannya masuk ke area ruang kerja di lantai bawah.

Clara tidak langsung mengambil dokumennya. Ia masuk ke dalam ruang kerja pribadi Bram yang aromanya masih sangat kental dengan bau parfum mahalnya yang tertinggal sejak semalam. Dengan gerakan yang sangat halus dan terencana, ia melepaskan sebuah anting berlian miliknya yang lain dan menjatuhkannya di bawah lipatan sofa kulit di ruang kerja tersebut—tepat di posisi yang akan terlihat jelas jika seseorang duduk di sana dengan posisi rendah. Tidak hanya itu, ia sengaja menyemprotkan sedikit parfumnya ke arah bantal sandaran di sofa tersebut, memastikan jejak kehadirannya tertanam dalam di ruangan itu.

"Semoga ini cukup untuk membuat malaikat kecilmu semakin hancur, Bram. Pria sehebatmu tidak pantas menghabiskan waktu dengan gadis ingusan yang lemah," gumam Clara dengan senyum sinis sebelum ia keluar menemui Anwar untuk mengambil dokumennya.

Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang mereda secara perlahan. Kondisi fisik Aluna mulai stabil meski ia menjadi sangat pendiam, hampir menyerupai mayat hidup yang hanya bicara jika ditanya. Bram, yang merasa sangat bersalah dan takut kehilangan kendalinya atas Aluna, mencoba mengembalikan kepercayaan gadis itu dengan memanjakannya secara luar biasa. Ia membelikan perhiasan baru, gaun-gaun indah, dan bahkan mengizinkan Aluna keluar dari kamarnya untuk menemaninya di ruang kerja saat ia sedang memeriksa berkas perusahaan.

"Kau ingin duduk di sofa itu, Sayang? Aku akan mengambilkan selimut bulu yang lembut untukmu. Kau masih butuh banyak istirahat," ujar Bram dengan nada yang sangat lembut, mencoba menghapus bayangan monster yang ia tunjukkan malam itu.

Aluna mengangguk lemah, mengikuti tuntunan tangan Bram menuju sofa panjang di ruang kerjanya. Saat ia duduk dan mencoba merapikan bantal sofa agar ia bisa bersandar, hidungnya menangkap sesuatu yang sangat tajam. Bau parfum yang sangat ia kenal—aroma floral yang elegan namun mematikan milik Clara.

Rasa mual seketika menyerang perut Aluna. Namun, kejutan yang sebenarnya belum berakhir. Saat ia sedikit membungkuk untuk membetulkan letak karpet di bawah kakinya, matanya menangkap kilauan kecil yang tersembunyi di sela-sela lipatan sofa dan karpet. Aluna memungut benda itu dengan ujung jarinya yang gemetar.

Sebuah anting berlian wanita yang sangat mewah dan mahal.

Dunia Aluna seolah meledak kembali dalam sekejap. Oksigen di paru-parunya mendadak hilang. Ia berdiri dengan kaki yang goyah dan tangan yang bergetar hebat, menunjukkan anting itu tepat di depan wajah Bram yang baru saja berbalik membawa selimut sutra untuknya.

"Apa ini, Daddy? Jawab aku... APA INI?!" suara Aluna melengking, penuh dengan rasa sakit yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Bram terpaku di tempatnya. Matanya membelalak melihat anting tersebut. Ia mengenali anting itu. Itu adalah milik Clara yang ia lihat dipakai wanita itu semalam. "Aluna, itu... itu pasti terjatuh saat kami rapat semalam. Aku bersumpah, kami hanya bicara tentang bisnis dan audit Singapura."

"Bekerja sampai pagi di ruangan yang terkunci?! Sampai antingnya bisa jatuh di bawah sofa pribadi Daddy?!" Aluna melempar anting itu sekuat tenaga ke arah wajah Bram, mengenai pipi pria itu hingga meninggalkan goresan kecil. "KAU PEMBOHONG! Kau membawanya ke rumah ini, ke tempat paling pribadiku, dan kau melakukannya di sofa ini?! Di tempat aku biasa duduk bersamamu?!"

"TIDAK! Aluna, dengarkan penjelasanku dulu!" Bram mencoba memeluk Aluna untuk menenangkan histerianya, namun Aluna meronta gila, memukul dada dan wajah Bram dengan tinjunya yang lemah.

"JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN YANG SUDAH MENYENTUHNYA! Aku membencimu! Aku benar-benar berharap aku mati di taman kota itu daripada harus kembali ke rumah terkutuk ini!"

Aluna berlari keluar dari ruang kerja dengan kecepatan yang tak terduga. Namun, kali ini ia tidak menuju kamarnya di lantai atas. Ia berlari menuju dapur bersih di lantai bawah, meraih sebuah pisau buah yang tajam dari rak, dan menempelkan mata pisau itu tepat di pergelangan tangan kirinya—tepat di atas gelang emas putih inisial 'B' yang masih melingkar sebagai tanda kepemilikan Bram.

"Aluna, letakkan pisaunya! Jangan lakukan hal bodoh!" teriak Bram yang baru saja sampai di ambang pintu dapur, wajahnya pucat pasi, ketakutan yang nyata terpancar dari matanya.

"Lepaskan gelang ini, Daddy! Lepaskan semua yang mengikatku padamu sekarang juga, atau aku yang akan melepaskannya dengan cara ini!" ancam Aluna dengan mata yang berkilat penuh keputusasaan dan kegilaan. "Pilih sekarang! Kau melepaskanku secara sukarela, atau kau melihatku mati di depan matamu sendiri!"

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!