NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Mengendalikan Cahaya

Margareth tidak langsung menjawab.

Reaksinya hanya sepersekian detik—kedipan mata yang terlalu lambat, tarikan napas yang sedikit lebih dalam dari sebelumnya. Bagi orang lain, itu tidak berarti apa-apa.

Bagi Raka, itu konfirmasi.

Nama itu bukan kebetulan.

Nama itu bukan ilusi dari seseorang yang baru sadar dari koma.

Nama itu… ada.

“Siapa yang memberitahumu?” tanya Margareth akhirnya.

Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang. Namun ada sesuatu yang berubah—bukan rasa takut, melainkan kehati-hatian yang jauh lebih tajam.

“Bramantyo,” jawab Raka singkat.

Margareth terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak langsung mengontrol arah percakapan.

“Dia sadar?” tanyanya.

“Cukup untuk menyebut nama.”

Hening.

Angin sore melewati jembatan, membawa dingin yang tipis namun menusuk. Di bawah mereka, air sungai bergerak lambat, seperti sesuatu yang menyembunyikan arus lebih kuat di kedalaman.

“Kamu tahu siapa itu,” kata Raka.

Bukan pertanyaan.

Margareth menatapnya lama.

“Mengetahui… dan memahami… adalah dua hal yang berbeda, Raka.”

“Mulai dari yang pertama.”

Margareth menghela napas pelan.

Lalu, tanpa banyak basa-basi, ia berjalan ke sisi jembatan, bersandar ringan pada pagar besi. Raka mengikutinya.

“Eldric K bukan bagian dari sistem,” ucapnya. “Dia adalah alasan sistem itu ada.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Tidak keras.

Tapi dalam.

“Jelaskan.”

Margareth menatap air.

“Delapan tahun lalu, saat aku mulai mengembangkan algoritma Pondasi Abadi, aku tidak bekerja sendiri.” Ia berhenti sejenak. “Bramantyo yang membiayai, ya. Tapi ada satu pihak lagi yang tidak pernah muncul secara langsung.”

“Eldric.”

Margareth mengangguk.

“Bukan sebagai investor biasa. Dia tidak pernah mengatur teknis. Tidak pernah ikut rapat. Tapi setiap kali ada keputusan besar… arah proyek selalu berubah dengan cara yang… terlalu tepat.”

“Seperti seseorang yang sudah tahu hasil akhirnya,” gumam Raka.

“Bukan ‘seperti’,” koreksi Margareth. “Memang begitu.”

Raka menatapnya.

“Dia punya akses ke algoritma sejak awal?”

Margareth menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu bagaimana—”

“Dia memahami cara berpikirnya.”

Sunyi.

Kalimat itu lebih mengganggu daripada jawaban apa pun.

“Algoritma itu bukan sekadar kode,” lanjut Margareth. “Itu adalah representasi dari pola. Cara dunia bergerak. Cara manusia membuat keputusan. Cara sistem runtuh… dan dibangun ulang.”

Ia menatap Raka.

“Dan Eldric… memahami pola itu… bahkan sebelum algoritmanya selesai.”

Raka merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.

Bukan takut.

Tapi sesuatu yang lebih dingin dari itu.

Ketidakpastian.

“Jadi dia bukan sekadar pemain,” kata Raka.

“Dia pembaca permainan,” jawab Margareth.

“Dan sekarang?”

Margareth tersenyum tipis.

“Sekarang dia mungkin sedang membaca kita.”

Raka tidak bereaksi.

Namun di dalam kepalanya, potongan-potongan mulai tersusun ulang.

Jika Eldric tahu pola—

jika dia bisa membaca arah sebelum orang lain—

maka semua yang terjadi sejauh ini…

bukan kebetulan.

“Merger itu,” kata Raka pelan. “Larasati tidak merencanakannya sendiri.”

“Tidak mungkin.”

“Dan keputusan untuk menghentikan pendanaanmu—”

Margareth mengangguk pelan.

“Bukan karena dia tidak membutuhkan aku lagi.”

“Lalu?”

Margareth menatap Raka.

“Karena seseorang sudah mendapatkan semua yang dia butuhkan dariku.”

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini lebih berat.

Lebih jelas bentuknya.

Lebih dekat dengan sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.

“Cetak biru yang kamu pegang,” kata Raka, “itu masih aman?”

Margareth tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Tidak sepenuhnya,” katanya akhirnya.

Raka menatapnya tajam.

“Apa maksudmu?”

Margareth membuka tasnya.

Namun bukan untuk mengeluarkan sesuatu.

Melainkan untuk memastikan sesuatu masih ada.

“Atas kertas, iya—aku masih memegang bagian terbesar dari algoritma asli,” ucapnya. “Tapi… kalau Eldric benar-benar sudah memahami polanya…”

Ia mengangkat bahu sedikit.

“Dia tidak membutuhkan keseluruhannya.”

Raka mengusap wajahnya pelan.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—

ia merasa mereka sedikit terlambat.

“Ada satu hal lagi,” kata Margareth tiba-tiba.

Raka menoleh.

“Apa?”

“Dia tidak akan muncul.”

Raka menyipitkan mata.

“Kita sudah tahu itu.”

Margareth menggeleng.

“Bukan itu maksudku.”

Ia menatap Raka lurus.

“Dia tidak akan muncul… bahkan ketika kita pikir dia sudah muncul.”

Kalimat itu menggantung.

Tidak langsung dipahami.

Namun cukup untuk membuat sesuatu terasa salah.

“Seseorang seperti itu,” lanjut Margareth, “tidak bergerak secara langsung. Dia tidak memberi perintah. Tidak mengirim pesan. Tidak meninggalkan jejak komunikasi.”

“Lalu bagaimana dia mengendalikan semuanya?”

Margareth tersenyum tipis.

“Dengan membuat orang lain berpikir bahwa keputusan itu adalah milik mereka sendiri.”

Raka terdiam.

Lalu satu kemungkinan muncul di kepalanya.

Perlahan.

Namun tajam.

“Larasati…”

Margareth tidak menjawab.

Namun matanya mengatakan cukup.

“Kalau begitu,” kata Raka, “Larasati bukan hanya eksekutor.”

“Tidak pernah,” jawab Margareth. “Dia adalah node.”

“Node?”

“Titik dalam jaringan. Bukan pusat. Tapi cukup penting untuk membuat seluruh sistem tetap berjalan.”

“Dan jika node itu hilang?”

Margareth menatapnya.

“Sistem akan menyesuaikan.”

Raka menghembuskan napas panjang.

“Jadi kita tidak bisa hanya menjatuhkan Larasati.”

“Tidak cukup.”

“Dan kita tidak bisa menemukan Eldric.”

“Tidak dengan cara biasa.”

Hening.

Zurich tetap bergerak seperti biasa.

Namun bagi mereka—

semuanya terasa seperti permainan yang aturannya baru saja berubah.

“Raka,” ucap Margareth pelan.

Ia jarang memanggil nama dengan nada seperti itu.

“Ada satu hal yang perlu kamu pahami sebelum kamu melangkah lebih jauh.”

Raka menatapnya.

“Apa?”

Margareth mendekat sedikit.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk membuat suaranya tidak terdengar oleh siapa pun selain Raka.

“Semakin dekat kamu ke Eldric…”

Ia berhenti.

Matanya tidak goyah.

“…semakin besar kemungkinan bahwa setiap langkah yang kamu ambil… sudah ia perhitungkan.”

Raka tersenyum tipis.

Bukan karena santai.

Tapi karena ia akhirnya melihat bentuk musuhnya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku hanya perlu melakukan sesuatu yang tidak bisa dia prediksi.”

Margareth menatapnya lama.

Lalu—

untuk pertama kalinya—

ia tertawa kecil.

“Masalahnya, Raka…”

Ia mundur satu langkah.

“Orang seperti Eldric… tidak memprediksi langkah.”

“Dia memprediksi manusia.”

Kalimat itu menutup percakapan mereka.

Bukan karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan.

Tapi karena keduanya tahu—

permainan ini sudah naik satu tingkat.

Di tempat lain.

Di ruangan tanpa jendela.

Layar-layar masih menyala.

Data terus bergerak.

Namun satu hal berubah.

Satu variabel baru telah masuk ke dalam sistem.

Ketidakpastian.

Dan untuk pertama kalinya—

seseorang yang tidak pernah salah membaca pola…

mulai memperhatikan lebih serius.

Bukan karena terancam.

Tapi karena tertarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!