Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pengumpulan Modal Awal
Dunia tidak digerakkan oleh niat baik, dan kekuasaan tidak bisa dibangun hanya dengan teknik bela diri tingkat tinggi. Vittorio Genovese tahu betul hukum alam itu. Di Italia, ia memiliki aset properti di Tuscany, saham di industri otomotif, dan pundi-pundi emas yang tersimpan di brankas Swiss. Namun di sini, di kamar kost ukuran dua kali tiga meter ini, ia hanyalah Arjuna—seorang mahasiswa hukum yang saldo rekeningnya bahkan tidak cukup untuk membeli satu stel jas Versace original.
"Perang membutuhkan logistik, dan logistik membutuhkan modal," gumam Vittorio sambil menatap layar laptop tua milik Arjuna yang layarnya sudah memiliki garis-garis ungu di pinggirnya.
Rencananya untuk menghancurkan Hadi Sujatmiko dan melawan Lupi di Mare tidak bisa dilakukan dengan mengandalkan uang saku bulanan dari beasiswa yang pas-pasan. Ia butuh modal awal. Bukan sekadar ribuan, tapi jutaan dolar. Dan ia butuh uang itu tanpa meninggalkan jejak digital yang bisa ditarik kembali ke identitasnya.
"JUNA! Lu lagi ngapain sih? Dari tadi mantengin layar mulu, lagi nyari info soal diskon token listrik ya?" Karin muncul di ambang pintu, kali ini ia tidak memakai helm proyek, melainkan sedang memakai masker wajah berwarna hijau lumut yang membuatnya tampak seperti karakter Shrek versi daster.
Vittorio tidak mengalihkan pandangannya dari layar yang menampilkan grafik fluktuasi pasar saham global dan beberapa situs forum gelap. "Aku sedang mencari cara untuk membeli dunia, Karin. Sekarang, bisakah kau tidak menggangguku selama dua jam?"
"Beli dunia palemu peyang! Lu aja kemarin masih nunggak uang laundry sama Mbak Yanti," Karin masuk tanpa permisi, duduk di lantai sambil memegang botol air mineral. "Tapi serius, Jun. Muka lu kalau lagi serius depan laptop gitu... agak nyeremin. Kayak penjahat cyber yang mau bobol bank pusat."
Vittorio menyeringai tipis. "Ide yang bagus, tapi terlalu berisiko. Membobol bank meninggalkan jejak. Aku lebih suka mengambil uang dari mereka yang merasa sudah memilikinya dengan aman."
Vittorio memulai misinya malam itu. Insting mafianya dikombinasikan dengan pengetahuan hukum Arjuna adalah senjata yang mematikan. Ia tidak butuh menjadi peretas kelas dunia; ia hanya butuh memahami psikologi pasar dan celah di duni bawah digital.
Tahap pertama: Arbitrase Duni Bawah.
Vittorio masuk ke sebuah situs judi internasional yang sering digunakan oleh para mafia kelas teri untuk mencuci uang. Dengan modal hanya beberapa ratus ribu rupiah sisa uang sakunya, ia mulai bermain. Namun, ia tidak bermain melawan mesin. Ia menggunakan algoritma probabilitas yang ia pelajari dari seorang matematikawan Rusia yang dulu pernah bekerja sebagai pengolah data untuk keluarganya di Italia.
Dalam waktu tiga jam, uang ratusan ribu itu berubah menjadi puluhan juta. Tapi itu belum cukup. Itu hanya "uang bensin".
"Karin, pinjamkan aku ponselmu sebentar," ucap Vittorio.
"Hah? Buat apa? Mau liat TikTok lagi ya? Udah naik loh follower lu!" Karin memberikan ponselnya dengan ragu.
Vittorio tidak membuka TikTok. Ia mengunduh sebuah aplikasi e-wallet anonim dan mulai melakukan serangkaian transaksi cepat. Ia mengalihkan kemenangan judinya melalui lima negara berbeda sebelum akhirnya mendarat di sebuah akun aman yang tidak terdeteksi.
Tahap kedua: Informasi adalah Emas.
Vittorio mulai menelusuri data-data publik mengenai perusahaan konstruksi milik Hadi Sujatmiko. Ia mencari "cacat" dalam laporan keuangan tahunan yang sering kali disamarkan dengan istilah akuntansi yang rumit. Menggunakan otak hukum Arjuna, ia menemukan sebuah pola: Double Invoicing. Hadi menggunakan dua tagihan berbeda untuk proyek pemerintah yang sama.
"Aku punya cukup bukti untuk menjebloskannya, tapi itu tidak memberiku modal," gumam Vittorio. "Tapi... jika aku menjual informasi tentang saingan Hadi kepada pihak ketiga yang haus akan proyek itu..."
Ia mulai mengirimkan email-email anonim yang dienkripsi ke beberapa kompetitor besar Hadi. Isinya bukan ancaman, melainkan "sampel" data yang menunjukkan kelemahan strategi tender Hadi di proyek jembatan baru di Jawa Barat.
Keesokan harinya, Vittorio mengajak Karin ke sebuah kafe mewah di pusat kota. Karin tampak sangat tidak nyaman dengan daster santainya yang dibalut jaket jeans, sementara orang-orang di sekitarnya memakai pakaian formal.
"Juna, kita ngapain ke sini? Harga kopi di sini setara sama makan kita seminggu!" bisik Karin sambil bersembunyi di balik menu besar.
"Tenanglah, Karin. Anggap saja ini investasi," jawab Vittorio tenang. Ia mengenakan kemeja hitam yang baru ia beli, rambutnya disisir rapi ke belakang. Aura mahasiswanya hilang sepenuhnya, digantikan oleh karisma seorang eksekutif muda yang haus darah.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mendekat ke meja mereka. Ia tampak gelisah. Pria itu adalah Budiarto, salah satu direktur dari perusahaan saingan Hadi.
"Kau yang mengirim email itu?" tanya Budiarto tanpa basa-basi sambil duduk di depan Vittorio. Ia melirik Karin dengan pandangan menghina. "Dan siapa gadis ini? Pelayanmu?"
Karin baru saja mau menyalak, namun Vittorio menahannya dengan satu tangan.
"Dia asisten pribadiku," ucap Vittorio, suaranya sedingin es. "Dan soal email itu... itu hanya sepuluh persen dari apa yang aku miliki. Sepuluh persen yang bisa membuat perusahaanmu memenangkan tender senilai dua ratus miliar bulan depan."
Budiarto tertawa meremehkan. "Kau hanya seorang mahasiswa. Bagaimana aku bisa percaya kau punya data asli? Bisa saja kau hanya membual."
Vittorio mengambil ponsel Karin dan menggeser layar, memperlihatkan sebuah foto dokumen rahasia yang ia dapatkan dari sistem internal Hadi tadi malam (berkat bantuan Maya yang memberinya akses backdoor).
Mata Budiarto membelalak. "Itu... itu tanda tangan asli Hadi. Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Caraku mendapatkannya bukan urusanmu," jawab Vittorio. "Harganya sederhana. Dua miliar rupiah. Tunai, masuk ke rekening yang sudah aku siapkan dalam bentuk kripto. Tanpa pertanyaan, tanpa kontrak tertulis. Kau dapat proyeknya, aku dapat modalnya."
Budiarto berkeringat dingin. "Dua miliar? Itu terlalu banyak!"
"Dibandingkan keuntungan bersih lima puluh miliar yang akan kau dapatkan dari proyek itu? Aku rasa itu diskon besar," Vittorio berdiri, memberi isyarat pada Karin untuk ikut. "Kau punya waktu sampai jam lima sore. Jika tidak ada konfirmasi, aku akan menawarkan ini kepada perusahaan lain. Dan aku yakin, mereka tidak akan berpikir dua kali."
Vittorio melangkah pergi dengan penuh wibawa, meninggalkan Budiarto yang masih termangu di meja kafe.
Di luar kafe, Karin langsung meledak. "JUNA! LU GILA?! DUA MILIAR?! LU JUALAN APAAN?! LU JUAL GINJAL GUE YA?!"
Vittorio tertawa, sebuah tawa yang jarang didengar Karin. "Tidak, Karin. Aku hanya menjual 'keserakahan'. Di dunia bisnis, informasi adalah komoditas paling mahal."
"Tapi itu bahaya banget, Jun! Kalau si bapak jas abu-abu itu lapor polisi gimana?"
"Dia tidak akan lapor polisi. Karena jika dia lapor, dia sendiri akan terseret dalam kasus spionase industri. Dia terjebak bersamaku sekarang."
Vittorio membawa Karin ke sebuah toko elektronik terbesar di mal itu. Ia membeli laptop gaming spesifikasi tertinggi, beberapa ponsel enkripsi, dan peralatan surveillance mini. Semuanya ia bayar dengan kartu debit baru yang sudah terisi hasil judi semalam.
"Ini semua buat apa?" tanya Karin sambil menatap tumpukan belanjaan itu dengan bingung.
"Ini adalah persenjataan baruku, Karin. Arjuna butuh buku hukum, tapi Vittorio butuh mata dan telinga di mana-mana."
Sore harinya, saat mereka kembali ke kost, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Vittorio.
Transfer Berhasil: 125 ETH (Ethereum).
Jika dikonversikan ke rupiah, angkanya sekitar dua koma satu miliar. Modal awal telah terkumpul.
Vittorio duduk di lantai kamarnya, membongkar laptop barunya dengan kecepatan yang tidak biasa. Karin duduk di sampingnya, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
"Juna," panggil Karin pelan. "Sekarang lu udah kaya. Lu... lu bakal pindah dari kostan ini?"
Vittorio berhenti bergerak. Ia menatap Karin yang tampak cemas. "Pindah? Untuk apa? Apartemen mewah adalah target yang mudah bagi pembunuh bayaran. Kostan ini... dengan Mbak Yanti yang berisik dan Bang Mamat yang selalu terjaga... adalah benteng terbaik yang pernah aku miliki."
Karin tersenyum lega, namun ia segera kembali ke mode semprulnya. "Bagus! Kalau gitu, karena lu udah kaya, lu harus bayarin utang seblak gue seumur hidup! Terus, gue mau kamar gue dipasang AC! Panas banget tau nggak!"
"Pasang saja sesukamu, Karin. Gunakan kartu ini," Vittorio melemparkan sebuah kartu debit tambahan ke arah Karin. "Ganti dastermu dengan sesuatu yang lebih layak jika kau ingin ikut denganku besok. Kita punya misi kedua."
"Misi apa lagi?"
"Membangun pasukan," jawab Vittorio, matanya berkilat tajam. "Uang sudah ada, sekarang aku butuh orang-orang yang tidak takut mati untuk menggunakannya."
Vittorio mulai mengetik di laptop barunya, masuk ke jaringan gelap untuk mencari kontak-kontak lama di duni bawah yang mungkin memiliki koneksi ke Asia Tenggara. Ia tahu, Hadi Sujatmiko sedang menggerakkan pion-pionnya. Selly mungkin sedang menangis di rumah, tapi ayahnya sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pengeluaran dari kampus.
Dan di kejauhan, di pelabuhan Genoa, sebuah kapal kargo besar mulai berlayar menuju Jakarta. Di dalamnya, beberapa pria dengan tato serigala di leher sedang membersihkan senjata mereka. Mereka tidak tahu bahwa di Jakarta, seorang pria yang mereka anggap sudah mati sedang duduk di lantai kost-an kumuh, merencanakan kehancuran mereka sambil ditemani seorang gadis semprul yang sedang sibuk memilih menu makan malam di aplikasi ojek online.
"Juna! Lu mau martabak telur apa martabak manis? Gue yang bayar pake kartu 'sakti' lu ini!" teriak Karin dari kamar sebelah.
"Martabak telur. Dan pesan yang banyak untuk Bang Mamat dan Mbak Yanti juga," balas Vittorio.
Vittorio kembali fokus pada layarnya. Modal awal sudah di tangan. Kini, saatnya menunjukkan pada duni bawah Indonesia bagaimana seorang Genovese mengelola sebuah "bisnis".
Dunia mungkin berpikir Arjuna adalah mahasiswa miskin yang beruntung. Hadi mungkin berpikir Arjuna adalah anomali yang bisa ditekan. Tapi Vittorio Genovese tahu kebenarannya: Ia adalah badai yang sedang mengumpulkan tenaganya di dalam sebuah botol kecil bernama kost-an sederhana. Dan saat botol itu pecah, tidak akan ada yang selamat.
"Ayo kita mulai permainannya, Hadi," bisik Vittorio.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍