Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Beberapa hari berlalu sejak kelahiran putra mahkota keluarga Mahendra. Kondisi Aluna sudah cukup stabil untuk diperbolehkan pulang ke rumah.
Mobil mewah yang membawa mereka berdua melaju memasuki halaman kediaman megah itu, disambut oleh wajah-wajah yang berdiri di depan pintu utama.
Nyonya Soraya ada di sana, menggendong bunga dan senyum lebar untuk sang cucu. Namun, begitu matanya beralih ke wajah Aluna, senyum itu menghilang. Tatapannya berubah datar, kemudian dingin, persis seperti yang Aluna kenal selama ini.
Aluna tidak berkata apa-apa. Ia menunduk sedikit, lalu mengikuti Arka masuk ke dalam rumah.
...---...
Di kamar, Arka membantu Aluna berbaring dengan hati-hati. Ia menyesuaikan bantal di punggung Aluna, memastikan posisinya nyaman, lalu berdiri dan berjalan ke sudut kamar.
Di meja kerja kecil di sana, ada sebuah map cokelat tebal. Arka mengambilnya, membukanya sebentar, lalu menatap isinya.
Aluna memperhatikan dari tempat tidur, bayi kecil di gendongannya.
Arka mulai merobek kertas-kertas di dalam map itu. Satu lembar, dua lembar, sampai semuanya hancur menjadi potongan-potongan kecil di tangannya.
Aluna terbelalak. "Tu... Tuan Arka? Apa yang Tuan lakukan? Itu kan kontrak perjanjian kita."
Arka membuang potongan kertas itu ke tempat sampah, lalu berjalan kembali ke ranjang. Ia duduk di tepinya dan menatap Aluna.
"Dulu memang ada kontrak," ucapnya pelan. "Dulu memang ada perjanjian bahwa kau hanya sebagai wadah, dan setelah melahirkan kau akan pergi."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi hari ini sudah berbeda. Sejak kau berjuang melahirkan anakku, sejak kau kehilangan ibumu dan menangis di pelukanku, semua aturan lama itu tidak berlaku lagi bagiku."
"Aku merobeknya karena aku tidak mau ada jarak antara kita berdua lagi," lanjutnya. "Kau bukan lagi penyewa atau pekerja di sini, Aluna. Kau adalah ibu dari anakku. Dan kau adalah wanita yang akan menjadi pendamping hidupku."
"Tidak ada lagi kata pergi atau berpisah. Kita akan bersama, mengasuh anak ini, sebagai satu keluarga."
Air mata Aluna menetes. Ia tidak menyangka pria yang selama ini begitu dingin dan berjarak bisa berbicara seperti ini. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih sudah mau menerima Aluna apa adanya."
...---...
Suasana itu belum lama berlalu ketika seorang penjaga rumah mengetuk pintu kamar dan memberi tahu bahwa ada tamu yang datang.
Keluarga Nanda.
Mereka sudah duduk di ruang tamu utama ketika Arka turun. Nanda duduk dengan punggung tegak dan wajah yang sulit dibaca. Ayahnya duduk di sebelahnya dengan tangan bersedekap.
Nyonya Soraya sudah ada di sana lebih dulu. Ekspresinya tampak tidak nyaman.
Ayah Nanda membuka percakapan. "Nah, bagaimana Arka? Kita bisa bahas tanggal pernikahannya sekarang, bukan? Segera saja setelah masa pantang selesai."
Arka berdiri di depan mereka dengan tangan di samping tubuh. "Maaf, Tuan. Maaf, Nanda." Suaranya tenang dan jelas. "Saya harus membatalkan semua rencana pernikahan ini. Tidak akan ada pernikahan antara saya dan Nanda."
Ayah Nanda bangkit dari kursinya. Tangannya memukul meja dan beberapa gelas di atasnya bergoyang. "Apa kata kau?! Bercanda kau?!"
"Kami sudah siap segalanya! Reputasi kami dipertaruhkan! Dan kau mau membatalkan seenaknya begitu saja?"
"Saya serius, Tuan," jawab Arka. "Saya tidak akan menikahi siapa pun kecuali ibu dari anak saya. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya siap menanggung segala akibatnya."
"Akibatnya? Bagus kalau begitu!" Suara ayah Nanda naik beberapa nada. "Karena kau berani menghina putriku dan keluarga kami, kerja sama antara perusahaan kita batal sekarang juga! Semua proyek yang sedang berjalan akan kami hentikan! Semua investasi kami tarik! Jangan menyesal!"
Keluarga Nanda berdiri dan pergi tanpa menunggu jawaban lagi.
...---...
Ruang tamu menjadi sunyi setelah pintu depan tertutup.
Tuan Mahendra duduk dengan kedua tangan memegang kepalanya. "Celaka. Ini bencana besar, Nak." Suaranya berat. "Mereka adalah investor terbesar kita. Kalau mereka mundur dan menghentikan semua proyek, perusahaan kita bisa bangkrut dalam hitungan bulan."
Arka diam mendengarkan. Ia tahu risikonya besar. Ia tahu ia baru saja memotong sumber pemasukan terbesar perusahaan keluarganya. Namun ia tidak menyesal.
Saat itulah terdengar suara roda kursi dari arah koridor.
Raka mendorong kursi roda Aluna masuk ke ruang tamu. Aluna tampaknya mendengar keributan dari atas dan meminta Raka membawanya turun.
Nyonya Soraya berbalik. Begitu melihat Aluna, wajahnya berubah merah.
"Lihat ini! Lihat akibatnya!" Jarinya menunjuk ke arah Aluna. "Semua ini karena kamu! Kamu yang bikin masalah ini semua!"
"Ibu sudah bilang dari awal, jangan dekati wanita ini! Sekarang lihat apa yang terjadi! Perusahaan mau bangkrut, proyek gagal semua, nama baik kita hancur!"
"Semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu, Arka jadi nekat memutuskan hubungan sama orang-orang itu!"
Aluna tidak bergerak di kursi rodanya. Ia memeluk bayinya lebih erat dan menunduk.
Jadi benar apa yang dikatakan orang selama ini. Aku memang hanya membawa masalah ke mana pun aku pergi.
"Ibu, jangan salahkan Aluna terus," kata Raka dari belakang kursi roda. "Kak Arka yang ambil keputusan sendiri. Dia yang mau ini."
"Itu maksud Ibu!" balas Nyonya Soraya. "Wanita itu yang bikin Arka tidak berpikir jernih! Dia pikir cinta bisa bayar utang? Bisa selamatkan perusahaan?"
Ia menoleh kembali ke Aluna. "Kamu puas sekarang? Kamu dapat suami, kamu dapat anak, tapi kamu harus bayar dengan menghancurkan masa depan keluarga ini!"
"Maaf," kata Aluna pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar. "Maafkan Aluna, Tante. Aluna tidak bermaksud merugikan siapa pun." Ia mengangkat kepala sedikit. "Aluna pergi saja. Aluna akan pergi supaya Tuan Arka bisa kembali ke Nanda, supaya perusahaan bisa diselamatkan."
"Jangan bicara seperti itu." Suara Arka memotong keras dari tengah ruangan.
Semua orang berhenti.
Arka berdiri dengan kedua kaki terpasang di lantai dan tatapan yang tidak bergerak. "Semua keputusan ini adalah milikku. Aku yang membatalkan pernikahan itu. Aku yang memilih Aluna. Jangan salahkan dia."
Ia menatap ibunya. "Uang bisa dicari lagi. Proyek bisa dibangun lagi. Tapi kalau aku kehilangan Aluna dan anakku, tidak ada yang bisa menggantikan itu."
"Biarlah perusahaan susah dulu. Biarlah kita jatuh dulu. Asal kita tetap bersama sebagai keluarga, aku yakin kita bisa bangkit."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan tapi sama tegasnya. "Tapi kalau Ibu terus menyalahkan dan menyakiti Aluna, apalagi di saat dia baru melahirkan dan baru kehilangan ibunya, aku dan Aluna akan keluar dari rumah ini. Kita akan cari tempat lain."
Nyonya Soraya terdiam. Mulutnya terbuka sedikit. Matanya bergerak dari Arka ke bayi di pelukan Aluna, lalu kembali ke wajah putranya.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia mendengus, lalu berbalik dan berjalan cepat ke kamarnya. Suara pintu tertutup terdengar dari ujung koridor.
Tuan Mahendra masih duduk dengan kepala tertunduk. Raka berdiri diam di tempat.
Arka berjalan ke arah Aluna dan berjongkok di depan kursi rodanya. Tangannya mengusap pipi Aluna yang masih basah.
"Jangan pikirkan soal perusahaan atau uang," katanya. "Itu urusan kami. Tugasmu sekarang cuma satu: pulihkan dirimu, rawat anak kita, dan istirahat yang cukup."
Aluna mengangguk pelan. Satu tangannya menggenggam tangan Arka.
Di luar, matahari sudah mulai turun. Di dalam rumah itu, masalah belum selesai, dan semua orang tahu itu. Tapi untuk saat ini, Aluna memejamkan mata sebentar dan membiarkan dirinya bernapas.