NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Hangatnya Sambal Korek

Malam makin larut, tapi suasana di dalam rumah kontrakan Guntur malah makin hangat. Di atas tikar pandan yang sudah agak kusam, semua sudah berkumpul melingkar. Vanesha, sang CEO yang biasanya makan di meja marmer, sekarang terpaksa duduk lesehan dengan sandal jepit hijau yang masih melekat di kakinya.

​"Ayo, Mbak V, jangan malu-malu. Di sini nggak ada protokol perusahaan, adanya protokol perut kenyang," ucap Guntur sambil meletakkan sebakul nasi putih yang masih mengepul. Ibunya Guntur keluar dari dapur membawa nampan besar berisi makanan kesukaan Guntur yang baunya bikin perut keroncongan seketika.

​Begitu nampan diletakkan, mata Guntur langsung berbinar-binar. "Wah! Ini dia... Tempe goreng garit, Tahu goreng, sama Dadar Jagung yang masih anget! Jangan lupa sambal koreknya, Buk. Ini makanan paling mewah sedunia, Mbak V. Sampeyan nggak akan nemu di restoran bintang lima mana pun!" seru Guntur sambil mencuci tangannya di dalam kobokan.

​Vanesha menatap tumpukan dadar jagung yang kuning keemasan itu dengan ragu. "Ini... gorengan semua? Kamu yakin ini sehat untuk makan malam?" tanya Vanesha sambil menaikkan satu alisnya. Guntur tertawa ngakak melihat ekspresi si Mak Lampir. "Sehat itu urusan nomor dua, Mbak. Yang penting lidah bergoyang dan perut nggak demo. Coba dulu ini dadar jagungnya, kalau nggak ketagihan, saya kasih motor saya buat sampeyan!"

​Bapaknya Guntur sudah lebih dulu menyikat satu potong tempe garit dengan sambal yang banyak. "Nggeh, Mbak. Makan seadanya ya, jangan kapok main ke rumah orang susah. Tempenya gurih ini, baru beli tadi sore," ucap Bapaknya rendah hati. Vanesha melihat keluarga itu makan dengan sangat lahap, penuh tawa, dan rasa syukur yang tulus. Bagas yang kepalanya diperban saja sampai nambah nasi dua kali gara-gara dadar jagung Ibunya yang kriuknya juara.

​Karena merasa lapar yang sudah tak tertahankan, Vanesha akhirnya mengambil sepotong dadar jagung. Dia mencocolnya sedikit ke sambal korek lalu menggigitnya pelan. Seketika, matanya membelalak. Rasa manis jagung segar berpadu dengan gurih bumbu dan pedas nendang sambalnya. "Lho... kok... renyah banget?! Kok enak?!" gumam Vanesha nggak percaya.

​Guntur makin menjadi-jadi mode sengkleknya. Dia mengambil sepotong tahu goreng yang masih panas, lalu menyuapkannya ke arah Vanesha dengan gaya sok romantis. "Ayo, Mbak Mak Lampir... mangap! Satu suapan tahu ini bisa bikin stres sampeyan hilang seketika!" goda Guntur. Vanesha awalnya mau nolak, tapi karena suasana yang seru, dia akhirnya pasrah dan mengunyah tahu itu sambil malu-malu.

​Tawa meledak di ruangan itu. Seorang CEO wanita elit Jakarta, sekarang malah sibuk nambah dadar jagung sambil keringatan karena kepedasan sambal korek. Guntur melihat ke arah Ibunya yang tersenyum bahagia, lalu ke arah Bapak dan adiknya yang lahap makan. Hatinya merasa sangat penuh. Meskipun dihina habis-habisan oleh Bu Retno tadi siang, momen seperti inilah yang bikin Guntur merasa jadi orang paling kaya di dunia.

​"Gimana, Mbak V? Masih mau balik ke Jakarta malam ini?" tanya Guntur sambil mengunyah tempe goreng dengan nikmat. Vanesha yang mulutnya kepedasan cuma bisa mengipas-ngipas wajahnya pakai tangan. "Nggak... saya mau ngabisin dadar jagung ini dulu! Dan kamu, Guntur... jangan berani-berani bilang ke anak kantor kalau saya makan sampai nambah begini!" ancam Vanesha yang disambut tawa kencang seisi rumah. Malam itu, strata sosial luntur diganti oleh hangatnya dadar jagung dan canda tawa keluarga Sang Naga

Suasana di ruang tengah semakin ramai. Meskipun cuma beralaskan tikar, Vanesha sepertinya sudah mulai lupa dengan kemewahan kantornya di Jakarta. Dia yang tadinya duduk kaku seperti robot, sekarang mulai berani duduk agak santai sambil terus memegang potongan dadar jagung ketiga di tangannya.

​"Loh, Mbak V, kok nambah terus? Katanya tadi takut kolesterol? Itu sambalnya jangan banyak-banyak, nanti besok pagi sampeyan bukannya rapat malah bolak-balik ke kamar mandi lho," goda Guntur sambil menyenggol lengan Vanesha pelan. Vanesha langsung melotot, tapi mulutnya masih penuh dengan nasi dan tempe goreng. "Berisik kamu, Guntur! Ini salah kamu kenapa ibumu masakannya enak banget begini. Kalau saya jadi gendut, kamu yang harus tanggung jawab!"

​Ibunya Guntur tertawa senang melihat tamu cantiknya lahap makan. "Nggeh pun, Mbak V, makan saja yang banyak. Guntur ini memang suka gitu, suka ngerjain orang. Dulu pas masih kecil saja, bapaknya lagi makan dibilang makanannya ada lalatnya, biar dia bisa ambil jatah lauk bapaknya," cerita Ibunya yang langsung membuat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.

​"Walah Buk, jangan buka kartu dong, malu sama CEO nih," sahut Guntur sambil nyengir kuda. Bagas yang dari tadi diam menikmati tahu gorengnya mulai ikut nimbrung. "Mbak V, Mas Guntur ini sebenarnya pahlawan lho. Dia itu berani banget kalau bela orang lemah, tapi kalau di depan Ibuk ya jadi kayak kucing begini, manja banget minta suap." Bagas tertawa sambil melirik kakaknya yang wajahnya mulai memerah.

​Vanesha terdiam sejenak, dia menatap Guntur yang sedang asyik berebut potongan tempe garit terakhir dengan Bapaknya. Ada rasa haru yang aneh di hati Vanesha. Di dunianya yang penuh dengan orang-orang bermuka dua dan persaingan bisnis yang kejam, dia jarang sekali menemukan ketulusan seperti ini. "Guntur... kenapa kamu milih hidup begini? Padahal dengan kemampuanmu, kamu bisa saja punya rumah mewah di pusat kota," tanya Vanesha tiba-tiba, suaranya sedikit merendah.

​Guntur berhenti tertawa. Dia menatap langit-langit rumahnya yang sederhana, lalu tersenyum tipis. "Mbak V, rumah mewah itu cuma bangunan. Tapi kenyamanan itu ada di sini, di tengah-tengah keluarga yang menerima saya apa adanya. Saya pernah punya segalanya, tapi rasanya kosong. Di sini, makan tahu tempe sama sambal korek aja rasanya sudah kayak raja. Lagian, kalau saya jadi CEO beneran nanti, siapa yang bakal ngerjain sampeyan pas lagi nyasar?" ucap Guntur kembali ke mode sengkleknya.

​Vanesha tersenyum kecil, kali ini bukan senyum sinis Mak Lampir, tapi senyum tulus yang sangat manis. "Kamu memang aneh, Guntur. Sombong tapi rendah hati, konyol tapi punya prinsip. Pantas saja banyak yang cemburu sama kamu," gumam Vanesha pelan. Guntur langsung memasang telinga lebar-lebar. "Apa, Mbak? Tadi sampeyan bilang saya ganteng ya? Nggeh, saya tahu kok, makanya Sekar sampai cemburu buta gitu."

​"GR kamu! Sudah, cepat habiskan nasinya! Saya mau minta diajarin Ibuk cara bikin dadar jagung ini, biar nanti kalau saya balik Jakarta, saya nggak kangen-kangen banget sama sambal korek buatan sini," cetus Vanesha sambil berdiri, mencoba berjalan dengan sandal jepit hijaunya menuju dapur bareng Ibunya Guntur. Guntur cuma bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan itu.

​Bapaknya Guntur menyenggol lengan Guntur. "Le, itu Mbak Vanesha sepertinya orang baik, cuma luarnya saja yang keras kayak kulit duren. Sampeyan jangan terlalu sering ngerjain dia, nanti kalau dia jatuh cinta beneran, sampeyan repot sendiri lho," nasehat Bapaknya sambil menyulut rokok lintingannya lagi. Guntur cuma tertawa misterius. "Walah Pak, Sang Naga mah bebas. Mau Mak Lampir atau Macan Kemayu, semuanya pasti takluk di depan keajaiban sarung Guntur!" Malam itu pun ditutup dengan tawa yang pecah, menghangatkan rumah mungil di pinggiran kota itu.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!