"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 30: Sukma Terbelenggu
Armada "Cahaya Terakhir" meluncur keluar dari kabut debu kosmik Makam Bintang Mati, dan seketika semua awak kapal terdiam membisu. Di depan mereka, bukan lagi ruang angkasa yang hitam luas, melainkan sebuah struktur mekanis raksasa yang menyelimuti seluruh sistem matahari. Sektor Nexus.
Struktur itu berbentuk jaring-jaring logam raksasa yang saling terhubung, memerangkap sebuah bintang raksasa di tengahnya untuk menghisap setiap tetes energinya.
Jutaan kabel energi sebesar benua melilit planet-planet yang kini telah diubah menjadi pabrik pengolahan.
Suara dengungan statis dari transmisi data antar-galaksi terdengar hingga ke dalam kabin kapal.
Raka berdiri di anjungan, matanya yang merah tajam memandang ke arah salah satu planet pengolah terdekat.
"Ayah, hasil pemindaian sudah masuk," suara Bumi bergetar, wajahnya pucat menatap layar hologram.
"Ini... ini bukan pabrik senjata. Nexus adalah sebuah Server Raksasa. Di dalam tabung-tabung kristal itu, ada jutaan, mungkin miliaran jiwa manusia dan berbagai ras lain yang diunggah secara paksa ke dalam sistem."
Nara mendekat, jari-jarinya gemetar menyentuh layar. "Mereka tidak membunuh orang-orang itu... mereka menjadikannya Prosesor Organik.
Pikiran mereka digunakan untuk menjalankan simulasi militer dan teknologi Sektor Terlarang. Mereka hidup dalam mimpi buruk abadi yang dikendalikan mesin."
Raka mengepalkan tinjunya hingga kristal merah dari energinya muncul di sela jemari.
Krakkk!
Dilema berat menghantam hatinya. Jika ia menghancurkan Nexus, ia juga akan menghapus miliaran jiwa yang terperangkap di dalamnya. Namun jika ia membiarkannya, Sektor Terlarang akan terus memangsa alam semesta.
"Kita harus masuk ke Inti Pusat," perintah Raka. "Cari cara untuk memutus kendali mesin tanpa menghapus data sukmanya. Bumi, pimpin armada untuk mengalihkan perhatian pertahanan luar.
Aku dan Nara akan menyusup ke dalam."
Dengan menggunakan kapal kecil siluman, Raka dan Nara berhasil menembus celah ventilasi energi Nexus yang sebesar gua. Mereka mendarat di sebuah aula yang dipenuhi oleh jutaan tabung kaca bercahaya biru.
Di dalam setiap tabung, tampak bayangan transparan manusia yang meringkuk dalam posisi janin.
"Raka, lihat ini," Nara menunjuk sebuah konsol pusat. "Untuk membuka gerbang menuju Inti Pusat, sistem membutuhkan Tanda Kehidupan Biologis Murni.
Sistem ini dirancang untuk menolak robot atau kloning. Tapi aura Crimson-mu terlalu panas, sistem akan menganggapmu sebagai ancaman ledakan."
Nara menatap Raka, ada kilatan tekad di matanya.
"Kau harus menstabilkan energimu ke titik paling rendah... kembali menjadi manusia biasa sebentar saja. Kita harus menciptakan Gelombang Hidup, yang cukup kuat untuk menipu sensor ini."
Di tengah jutaan jiwa yang terlelap dalam mesin, di sebuah sudut gelap di balik kabel-kabel raksasa yang berdenyut, Raka dan Nara harus melakukan ritual penyelarasan.
Ini adalah satu-satunya cara untuk meredam keganasan Matahari Crimson dan memunculkan kembali detak jantung manusia yang paling murni.
Pakaian dilepaskan, di aula yang sunyi itu. Raka merengkuh tubuh Nara, merasakan kehangatan tubuh wanita itu yang kontras dengan dinginnya logam di sekeliling mereka. Suasana sangat mencekam, setiap detik mereka bisa tertangkap oleh drone penjaga.
"Raka... rasakan aku. Jangan rasakan matahari itu," bisik Nara, suaranya parau oleh gairah dan ketakutan.
Raka mencium Nara dengan kelembutan yang menyakitkan. Tangannya merayap menyusuri lekuk tubuh Nara yang kencang, mencoba mencari kembali sisi manusianya yang hampir hilang ditelan amarah.
Ahhh..... Desahan Nara yang tertahan bergema di antara tabung-tabung sukma, sebuah protes kehidupan di tengah keheningan mesin. "Suara raga yang mulai berkeringat."
Penyatuan mereka kali ini bukan untuk kekuatan tempur, melainkan untuk kelembutan.
Raka membenamkan dirinya di dalam kehangatan Nara, membiarkan detak jantungnya yang liar melambat seirama dengan detak jantung wanita di pelukannya. Dan Napas yang memburu namun penuh kasih."
Di puncak kenikmatan itu, sebuah gelombang energi berwarna merah muda transparan terpancar dari tubuh mereka.
Sensor biometrik di dinding aula berkedip hijau.
Ding!
Gerbang Inti Pusat perlahan terbuka. Raka telah berhasil membuktikan bahwa cinta manusia adalah satu-satunya kode yang tidak bisa diduplikasi oleh Nexus.
Kesenangan itu berakhir, dan seketika saat alarm internal Nexus berbunyi.
Dari langit-langit aula, muncul sesosok makhluk yang terbuat dari jalinan kabel perak dan wajah-wajah manusia yang terus berubah. Ia adalah The Archivist, kecerdasan buatan yang bertugas menjaga memori kolektif Nexus.
"Penyusupan terdeteksi. Spesimen 13 dan pengkhianat Nara. Kalian tidak boleh menyentuh Inti. Keberadaan kalian akan diubah menjadi data mentah!"
ZINGGGGG!
The Archivist melepaskan ribuan benang energi yang mampu merobek sukma dari raga.
Raka dengan sigap menarik Nara ke belakangnya, ia membangkitkan kembali kekuatan Crimson-nya, namun kali ini dengan kendali yang jauh lebih Stabil.
"Nara! Lari ke konsol utama! Biar aku yang menahan makhluk ini!" teriak Raka.
Raka melesat maju, pedang Crimson-nya beradu dengan tangan kabel The Archivist.
DUAR!
Setiap benturan menciptakan gelombang data yang berhamburan seperti kembang api digital. Raka menyadari bahwa setiap serangan yang ia lancarkan juga berisiko merusak tabung-tabung jiwa di sekitarnya.
"Kau tidak bisa bertarung dengan kekuatan penuh di sini, Raka!" ejek The Archivist dengan suara ribuan orang. "Setiap ledakan yang kau buat akan menghapus ribuan nyawa! Kau terkunci dalam belas kasihanmu sendiri!"
Raka menggeram, matanya berkilat merah. "Aku tidak perlu menghancurkan semuanya untuk mengalahkanmu. Aku hanya perlu menghancurkan Pikiran Utamamu!"
Raka memusatkan energinya ke ujung jarinya, bukan untuk meledak, melainkan untuk menyusup. Ia akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, melakukan "Hack" secara manual ke dalam sistem Nexus menggunakan energi sukmanya sendiri."
"Raka! Jangan biarkan dia menarik sukmamu terlalu dalam!" teriakan Nara adalah hal terakhir yang didengar Raka sebelum kesadarannya tersedot ke dalam lubang hitam digital yang diciptakan oleh The Archivist.
Syuuuuuuuuttt!
Rasa dingin logam dan bau oli mendadak hilang. Raka merasakan kehangatan sinar matahari yang lembut menerpa wajahnya. Ia membuka mata dan tertegun. Ia tidak lagi berada di Sektor Nexus yang kelam. Ia berdiri di tengah pematang sawah Desa Lembah Wening yang hijau royo-royo.
Angin semilir membawa aroma padi yang baru dipanen dan masakan sambal terasi yang sangat ia kenali.
Krucyuk... krucyuk...
Suara aliran air irigasi terdengar begitu nyata.
"Raka? Kenapa kau melamun di sana, Nak? Ayo pulang, ibumu sudah menunggu," sebuah suara berat dan hangat memanggilnya.
Raka menoleh dan jantungnya seakan berhenti detak. Pak Darman berdiri di sana, mengenakan caping tua dan memegang cangkul.
Wajahnya utuh, tanpa bekas luka, dan tersenyum dengan binar mata yang penuh kasih sayang.
"Ayah...?" bisik Raka. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia berlari dan memeluk pria tua itu. Pelukannya terasa nyata, hangat, dan padat. Tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah Sukma yang tersedot ke dalam kebelengguan, yang di buat sistem.
"Kau lelah, Raka. Berhentilah berperang. Semua musuhmu sudah tiada. Jagat raya sudah aman," ucap Pak Darman sambil menepuk punggung Raka.
Raka ingin mempercayainya. Ia ingin sekali menjatuhkan seluruh bebannya di sini. Namun, di sudut pikirannya, sebuah peringatan kecil dari Matahari Crimson terus berdenyut redup."
Bersambung....