Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17:Jejak Wood-Scent di Balik Pintu
Satu jam yang terasa seperti selamanya itu akhirnya berakhir saat lampu rem mobil perlahan berhenti tepat di depan gerbang besi kostku. Hujan sudah berubah menjadi gerimis tipis, namun sisa-sisa genangan air masih memantulkan cahaya lampu jalan yang remang.
Aku segera melepas jaket milik Danendra yang masih membalut bahuku. Aroma hangatnya seolah sudah meresap ke dalam kemeja kerjaku, meninggalkan jejak yang sulit dihapus hanya dengan mencuci muka nanti.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak," ucapku datar sambil meletakkan jaket itu di atas kursi penumpang. Tanganku sudah menyentuh gagang pintu, siap untuk melarikan diri dari ruang sempit yang hampir membuatku gila ini.
"Zal," panggilnya sebelum aku sempat menarik tuas pintu.
Aku berhenti, namun tidak menoleh. "Iya?"
"Masuklah, langsung mandi air hangat. Aku tidak ingin besok asistenku absen karena flu," suaranya kembali ke nada profesional yang kaku, namun aku bisa mendengar sedikit nada getir di sana.
"Saya mengerti. Selamat malam, Pak Danendra," balasku pendek.
Aku segera keluar dari mobil, menerjang sisa rintik hujan tanpa menoleh lagi. Begitu kakiku menginjak lantai teras kost yang dingin, aku mendengar suara mesin mobilnya kembali menderu, menjauh meninggalkan area gerbang.
Aku bersandar sejenak di balik pintu gerbang yang tertutup, mengatur napas yang tadi sempat tersengal
Saat baru mau melangkah masuk,suara Danesha mengagetkanku,
Satu jam yang terasa seperti selamanya itu akhirnya berakhir saat lampu rem mobil perlahan berhenti tepat di depan gerbang besi kostku. Hujan sudah berubah menjadi gerimis tipis, namun sisa-sisa genangan air masih memantulkan cahaya lampu jalan yang remang.
Aku segera melepas jaket milik Danendra yang masih membalut bahuku. Aroma hangatnya seolah sudah meresap ke dalam kemeja kerjaku, meninggalkan jejak yang sulit dihapus hanya dengan mencuci muka nanti.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak," ucapku datar sambil meletakkan jaket itu di atas kursi penumpang. Tanganku sudah menyentuh gagang pintu, siap untuk melarikan diri dari ruang sempit yang hampir membuatku gila ini.
"Zal," panggilnya sebelum aku sempat menarik tuas pintu.
Aku berhenti, namun tidak menoleh. "Iya?"
"Masuklah, langsung mandi air hangat. Aku tidak ingin besok asistenku absen karena flu," suaranya kembali ke nada profesional yang kaku, namun aku bisa mendengar sedikit nada getir di sana.
"Saya mengerti. Selamat malam, Pak Danendra," balasku pendek.
Aku segera keluar dari mobil, menerjang sisa rintik hujan tanpa menoleh lagi. Begitu kakiku menginjak lantai teras kost yang dingin, aku mendengar suara mesin mobilnya kembali menderu, menjauh meninggalkan area gerbang. Aku bersandar sejenak di balik pintu gerbang yang tertutup, mengatur napas yang tadi sempat tersengal.
Saat baru mau melangkah masuk, suara Danesha mengagetkanku.
"Ciyeee... dianterin siapa tuh? Mobilnya cakep bener, kayak yang punya!" celetuk Nesha yang tiba-tiba muncul dari balik pintu lobi kost sambil membawa botol air minum.
Aku tersentak dan reflek merapikan rambutku yang sedikit lepek. "Taksi online nggak ada yang mau ambil, Nesh. Jadi ya... bareng orang kantor."
Nesha nggak langsung percaya. Dia malah mendekat, lalu mulai mengendus-endus udara di sekitarku seperti detektif. Matanya langsung melotot jenaka.
"Wah, wah, wah! Bau-bau apa nih? Ini bukan bau parfum lo yang biasa, Zal. Ini bau parfum cowok mahal!" Nesha langsung menyenggol lenganku dengan wajah penuh godaan. "Hayo lho... Pak Danendra yang ganteng itu ya? Ngaku lo!"
"Apaan sih, Nesh? Tadi di mobil dingin banget, jadi cuma dipinjemin jaket bentar," sahutku cepat, berusaha berjalan mendahuluinya menuju tangga.
"Oalah, dipinjemin jaket? Romantis banget sih!" Nesha justru makin gencar mengekoriku sambil tertawa-tawa. "Ehem! Kayaknya ada yang zirahnya mulai retak nih kena siraman hujan bareng si Bapak Pusat. Udah deh Zal, nggak usah sok dingin gitu. Kalau hati udah mulai anget, ya bilang aja!"
"Nesha, stop. Gue capek mau mandi," ucapku sambil menahan senyum kaku agar tidak terlihat goyah.
"Mandinya yang bersih ya, biar bau parfum 'Calon Imam' itu nggak bikin lo nggak bisa tidur!" teriaknya lagi sebelum aku menutup pintu kamar.
Begitu pintu terkunci, aku menyandarkan punggungku di sana. Sial. Nesha benar. Aroma wood-scent ini benar-benar tertinggal di kemejaku, seolah Danendra baru saja memelukku erat. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak merasa benci dengan aroma itu.
Sisa dua belas hari lagi, dan godaan Nesha barusan justru membuat tembok yang kubangun terasa jauh lebih sulit untuk dijaga.
Aku melangkah lunglai menuju kamar mandi. Bunyi gemericik air dari shower yang menghantam lantai keramik seketika mengisi kesunyian kamar kost-ku. Begitu tubuhku berdiri di bawah guyuran air dingin, aku memejamkan mata rapat-rapat.
Namun, di balik kelopak mataku, kegelapan itu justru memutar ulang rekaman kejadian malam ini. Bayangan Danendra yang melonggarkan dasinya, jemarinya yang menyentuh ventilasi AC agar tidak mengenaku, hingga tatapan redupnya saat meminta maaf karena membuatku terjebak bersamanya.
"Stop, Azzalia," bisikku, suaranya nyaris tenggelam oleh suara air.
Aku memutar keran shower ke arah air hangat, berharap uapnya bisa membilas aroma wood-scent yang seolah sudah meresap ke dalam pori-poriku. Aku menyabuni lenganku berkali-kali, mencoba menghapus sensasi hangat yang tadi sempat menjalar saat Danendra menyelimutiku dengan jaketnya.
Pikiran ini benar-benar tidak bisa kompromi. Mengapa setiap kali aku merasa sudah berhasil membangun jarak, semesta selalu memberikan celah baginya untuk menyelusup masuk? Mengapa hatiku yang biasanya sekeras karang, mendadak terasa seperti pasir yang mudah hanyut saat berhadapan dengan perhatian kecilnya?
Aku segera menepis bayangan wajah Danendra yang bersimpuh di ruangan Pak Bram tadi pagi. Aku tidak boleh luluh. Mengizinkannya masuk kembali ke hidupku berarti mengizinkan luka lama itu kembali berdarah. Aku lebih suka hidup dalam kedinginan yang kukenal daripada kehangatan yang suatu saat nanti bisa menghancurkanku lagi.
"Fokus, Zal. Fokus," gumamku pada diri sendiri.
Aku harus fokus menata hidupku di kota ini. Aku harus fokus pada sisa tiga belas hari magang ini sebagai seorang profesional, bukan sebagai gadis yang hatinya sedang goyah. Begitu selesai mandi, aku membungkus tubuhku dengan handuk tebal dan keluar dari kamar mandi.
Kemeja kerja yang berbau parfum Danendra tadi sudah kumasukkan ke dalam keranjang cucian paling bawah, tertimbun baju-baju lain agar baunya tak lagi menghantui. Aku harus menjaga hatiku tetap di tempatnya,di balik zirah yang kuat dan tak tersentuh. Karena pada akhirnya, setelah dua belas hari berlalu, dia akan pergi, dan aku harus tetap berdiri tegak di atas kakiku sendiri.
Besok adalah hari baru, dan aku berjanji tidak akan ada lagi "refleks" atau "momen lemah" seperti malam ini.