NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PESTA YANG BERUBAH MEDAN PERANG

Enam bulan kemudian.

Gang Tebet tidak pernah seramai ini. Bendera-bendera oranye dan hijau terpasang di sepanjang lorong sempit. Suara sound system yang disewa dengan biaya mahal menggema, memekakkan telinga, memutar lagu-lagu dangdut koplo dengan volume maksimal.

Hari ini adalah hari pernikahan Rina dan Aris

Bukan pesta mewah di gedung bintang lima seperti yang bisa dibeli Aris dengan mudah. Atas permintaan Rina, akad dan resepsi diadakan di halaman musholla tempat mereka pertama kali "bertemu" dalam arti sebenarnya. Aris setuju. Baginya, di sanalah cinta mereka berakar.

Rina tampil menakjubkan. Gaun pengantin putih sederhana namun elegan membalut tubuhnya. Wajahnya bersinar, bukan karena riasan tebal, tapi karena ketenangan jiwa seorang wanita yang akhirnya menemukan pelabuhan yang tepat. Di sampingnya, Aris berdiri gagah dengan jas krem dan peci hitam. Senyumnya tidak pernah lepas, matanya hanya tertuju pada Rina, seolah wanita lain di dunia ini tidak ada.

Semua berjalan khidmat. Acara akad nikah telah selesai dengan lancar. Kini, suasana berubah menjadi sedikit lebih santai saat sesi ramah tamah dimulai. Warga antre mengambil nasi kotak. Ibu-ibu bergosip riang memuji kegagahan Aris. Bahkan Pak RT dan Pak Kapolsek yang dulu ragu-ragu, kini sibuk melayani tamu dengan wajah menjilat, berharap mendapat sisa keberkahan dari sang miliarder.

Namun, di sudut tenda, bayangan hitam mulai muncul.

Dimas datang.

Ia tidak memakai baju koko atau kemeja rapi seperti tamu lain. Ia mengenakan kaos oblong hitam yang sudah kusut, celana jeans penuh noda oli, dan sandal jepit. Matanya merah, bukan karena kurang tidur, tapi karena alkohol dan kemarahan yang sudah mendidih sejak pagi.

Ia membawa serta beberapa teman bengkelnya—para preman kecil kampung yang dikenal suka membuat onar jika dibayar atau diberi minum.

"Lihat itu..." gerutu Dimas, menunjuk ke arah pelaminan dengan jari telunjuk yang gemetar. "Si kaya raya itu akhirnya berhasil juga. Beli wanita kayak beli barang di pasar

Temannya menyenggol lengan Dimas. "Sudahlah, Mas. Udah jadi suami istri sah. Kita pulang aja. Nggak usah cari masalah."

"Diam kau!" bentak Dimas kasar, mendorong temannya hingga hampir jatuh. "Gue nggak bakal diam! Itu hak gue! Rina itu seharusnya jadi istri gue! Gue yang kenal dia duluan! Gue yang jaga dia tiap hari di kampung ini!"

Dengan langkah goyah dan napas berat, Dimas menerobos kerumunan. Ia tidak peduli pada tatapan sinis warga yang mulai berbisik-bisik. Ia berjalan lurus menuju pelaminan, di mana Aris dan Rina sedang menyalami para tamu.

"Hoi! Pengantin baru!" teriak Dimas tiba-tiba, suaranya serak dan melengking, memotong alunan musik dangdut.

Musik berhenti mendadak. Sound system dimatikan oleh operator yang kaget. Keheningan total turun di halaman musholla. Semua mata tertuju pada Dimas yang berdiri di tengah lapangan, dada naik turun karena emosi.

Rina membeku. Wajahnya pucat pasi. Ia mencengkeram lengan Aris erat-erat. "Kak Aris..." bisiknya ketakutan.

Aris tidak melepaskan genggamannya. Ia menatap Dimas dengan tatapan tenang namun waspada. Ia memberi isyarat halus pada dua pengawal pribadinya yang sedari tadi berdiri di belakang tenda untuk tetap diam, kecuali Dimas melakukan kekerasan fisik.

"Mas Dimas," sapa Aris tegas, suaranya terdengar jelas meski tanpa mikrofon. "Ini hari bahagia kami. Jika Mas punya urusan, bicarakan baik-baik nanti saja. Jangan rusak kehormatan hari ini."

"Kehormatan?!" Dimas tertawa getir, tawa yang penuh kebencian. Ia melangkah maju, semakin dekat hingga hanya berjarak satu meter dari pelaminan. "Lo ngomongin kehormatan, Tuan Palsu? Lo pikir dengan uang lo, lo bisa beli segalanya? Lo pikir lo bisa ambil wanita gue begitu aja?"

"Saya tidak membeli siapa pun, Mas," jawab Aris dingin. "Rina memilih saya. Dengan kesadaran penuh, di hadapan Allah dan manusia."

"Pilih? Hah!" Dimas meludah ke tanah, tepat di depan kaki Aris. "Dia dipaksa! Dia diancam! Lo pikir dia mau sama lo? Dia cuma takut sama uang lo! Dia cuma kasihan lihat lo si tua bangka sok suci!"

"Mas Dimas, cukup!" suara Rina tiba-tiba keluar, bergetar tapi lantang. Ia berdiri, melindungi Aris dengan tubuhnya sendiri. "Jangan hina Kak Aris! Saya memilih dia karena saya mencintainya! Bukan karena uang!"

"Cinta? Ah, dasar perempuan bodoh!" Dimas menunjuk wajah Rina dengan jari kotor berminyak. "Lo lupa siapa yang pertama kali ngejar lo? Siapa yang setiap hari anter lo makan? Gue! Bukan dia! Dia cuma muncul pas lo udah hancur, terus sok jadi pahlawan! Dia cuma manfaatin kelemahan lo!"

Dimas berbalik menghadap warga, membentangkan tangannya lebar-lebar. "Lihat kalian semua! Kalian semua dibodohi! Si Aris ini cuma orang kaya gila yang bosan main wanita biasa, jadi dia incar anak korban perkosaan biar terasa sensasinya! Besok lusa, kalau dia bosen, dia bakal buang Rina lagi! Sama kayak dia buang kita semua!"

Warga mulai bergumam tidak nyaman. Beberapa mulai percaya omongan Dimas karena hasutan yang dimainkan dengan emosi tinggi.

"Dasar penjilat!" teriak Dimas lagi, kini menargetkan warga. "Kalian semua cuma anjing yang ngiler liat tulang daging si kaya! Kalau gue punya uang sebanyak dia, kalian juga bakal sujud di kaki gue! Tapi karena gue cuma montir miskin, gue dianggap sampah di mata kalian, ya kan?!"

Suasana mulai memanas. Beberapa pemuda pendukung Dimas mulai maju, membentuk barisan di belakangnya. Situasi berubah menjadi keributan yang berpotensi pecah menjadi perkelahian massal.

Aris menurunkan tangan Rina pelan. Ia melangkah turun dari pelaminan, berjalan sendirian mendekati Dimas. Pengawalnya hendak bergerak, tapi Aris mengangkat tangan, menandakan mereka mundur.

"Mas Dimas," kata Aris, kini berdiri berhadapan muka dengan Dimas. Tingginya seimbang, tapi aura Aris jauh lebih besar. "Saya tahu hati Mas sakit. Saya tahu Mas kecewa. Tapi jangan jadikan rasa sakit itu alasan untuk menghancurkan harga diri Mas sendiri di depan semua orang ini."

"Diam lo!" Dimas mendorong dada Aris keras-keras. "Jangan sok menggurui gue! Lo nggak tahu apa-apa soal perjuangan orang miskin!"

Aris tidak mundur selangkah pun. Ia menatap mata Dimas dalam-dalam. "Saya tahu perjuangan, Mas. Tapi perjuangan sejati bukan dengan merusak kebahagiaan orang lain. Perjuangan sejati adalah menerima kenyataan dengan lapang dada, lalu bangkit membangun hidup sendiri. Bukan merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan."

Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke api.

Mata Dimas membelalak. Darahnya mendidih. Harga dirinya sebagai laki-laki diinjak-injak di depan umum.

"BANGSAT LO!" teriak Dimas kalap.

Tanpa peringatan, Dimas melayangkan tinju kananannya sekuat tenaga, mengarah tepat ke wajah Aris.

BUGH!

Suara benturan terdengar nyaring.

Tapi Aris tidak terjatuh. Dengan refleks cepat hasil latihan bela diri bertahun-tahun (yang jarang ia pamerkan), Aris menangkis pukulan itu dengan lengan kirinya, lalu menangkap pergelangan tangan Dimas erat-erat.

Dimas mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Aris seperti besi. Tidak bergerak sedikit pun.

"Sakit... lepaskan!" rintih Dimas, wajahnya meringis kesakitan.

Aris mendekatkan wajahnya ke wajah Dimas, suaranya rendah namun mengintimidasi, hanya terdengar oleh mereka berdua dan Rina yang sudah berlari mendekat.

"Dengar saya baik-baik, Mas Dimas," bisik Aris tajam. "Hari ini adalah hari suci saya dan Rina. Jika Mas melanjutkan kekerasan ini, saya tidak akan segan-segan memproses Mas secara hukum. Bukan sebagai Tuan Aris, tapi sebagai suami yang melindungi istrinya. Dan percaya saja, dengan sumber daya yang saya punya, Mas bisa menghabiskan sisa hidup Mas di balik jeruji besi karena penganiayaan dan gangguan ketertiban umum."

Dimas terdiam, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat mata Aris yang tidak mengandung rasa takut, hanya ketegasan baja. Ia sadar, ia kalah. Secara fisik, secara sosial, dan secara hukum.

"Lepaskan..." desis Dimas lemah, air mata frustrasi mulai mengalir di pipinya.

Aris melepaskannya perlahan, lalu mendorong tubuh Dimas mundur几步. "Pulanglah, Mas. Dinginkan kepala. Jangan kembali ke sini sampai Mas bisa menghormati pilihan Rina. Jika Mas masih mencintai dia, buktikan dengan menjadi pria baik yang sukses, bukan preman yang mengganggu pesta pernikahan."

Dimas terhuyung mundur. Ia menatap Rina yang menangis di samping Aris. Tatapan itu penuh luka, dendam, dan keputusasaan yang mendalam.

"Lo akan nyesel, Rin..." gumam Dimas parau, suaranya hampir tak terdengar. "Lo pilih emas palsu, dan buang berlian asli... Lo akan nyesel..."

Tanpa kekuatan lagi, Dimas berbalik badan. Ia berjalan tertatih-tatih keluar dari kerumunan, diikuti oleh teman-temannya yang kini terlihat malu dan takut. Sorak-sorai ejekan dari beberapa warga terdengar di belakangnya, tapi Dimas tidak peduli. Dunianya telah runtuh sepenuhnya hari ini.

Saat Dimas hilang di ujung gang, keheningan kembali menyelimuti lokasi pernikahan. Semua tamu menahan napas, menunggu reaksi Aris.

Aris menarik napas panjang, lalu menoleh pada Rina. Wajahnya yang tadi keras seketika melunak. Ia mengusap air mata di pipi istrinya dengan lembut.

"Sudah selesai, Sayang," bisik Aris. "Dia sudah pergi. Tidak ada yang bisa mengganggu kita lagi."

Rina memeluk Aris erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Maafkan aku, Kak... gara-gara aku, hari kita jadi rusak..."

"Tidak," potong Aris tegas, membelai rambut Rina. "Hari kita tidak rusak. Justru hari ini membuktikan bahwa cinta kita kuat. Badai apapun yang datang, kita akan hadapi bersama. Mulai sekarang, tidak ada lagi masa lalu. Hanya kita, dan masa depan kita

Perlahan, musik dinyalakan kembali. Lebih pelan kali ini, mengalunkan lagu religi yang syahdu. Warga yang tadinya tegang, mulai kembali tersenyum dan bertepuk tangan pelan, menyambut kembalinya suasana haru

Di atas pelaminan, Aris dan Rina berdiri kembali, bergandengan tangan. Mereka tahu jalan ke depan tidak akan selalu mulus. Bayangan Dimas dan trauma masa lalu mungkin masih sesekali muncul. Tapi hari ini, mereka telah memenangkan pertempuran terbesar: mempertahankan cinta di tengah badai kebencian.

Dan di sudut gang yang gelap, jauh dari sorot lampu pesta, Dimas duduk sendirian di atas trotoar, memeluk lututnya, sementara hujan mulai turun lagi, seolah langit turut menangisi kegagalan seorang pria yang terlalu terlambat menyadari arti cinta sesungguhnya.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!