Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Malam di mansion Enver-Valerio biasanya setenang pusara, namun di dalam kamar utama yang luas di lantai dua, atmosfer terasa mencekik. Logan bergelut dengan seprai sutranya yang kini basah oleh keringat dingin. Napasnya pendek-pendek, matanya yang terpejam bergerak gelisah di balik kelopak, sementara otaknya menyeretnya kembali ke sebuah labirin bawah sadar yang paling ia takuti.
Dalam mimpi itu, Logan berdiri di sebuah lorong gelap yang dingin. Di depannya membentang sebuah dinding kaca besar yang tebal dan tak tertembus suara. Di balik kaca itu, pemandangan neraka dimulai.
Ia melihat Elena. Gadis yang dulu ia puja seperti dewi, kini tampak hancur. Elena berada di sana, dikelilingi oleh bayangan-bayangan pria yang wajahnya kabur namun perbuatannya nyata. Elena tertawa, mendesah, dan menyerahkan dirinya pada sentuhan banyak tangan. Logan memukul kaca itu dengan kepalan tangannya, namun tak ada bunyi yang keluar. Ia hanya bisa menyaksikan pengkhianatan itu diputar ulang dalam bentuk yang sepuluh kali lebih menjijikkan.
Namun, tiba-tiba pemandangan itu berubah. Di tengah kerumunan bayangan hitam itu, muncul sosok yang tidak seharusnya ada di sana.
Vivian.
Vivian berdiri di samping Elena, mengenakan lingerie sutra tipis yang hampir transparan—pakaian yang sama dengan yang Logan bayangkan dalam obrolan mesum mereka. Wajah Vivian tampak pucat dan penuh ketakutan. Salah satu pria yang tadi menyentuh Elena kini mengalihkan tangannya ke arah Vivian, meraba bahunya, turun ke pinggangnya.
"Vivian! Jangan! Vivian, lari!" Logan berteriak sekuat tenaga. Ia menghantamkan tubuhnya ke kaca tebal itu hingga bahunya terasa retak. "Vivian, kumohon jangan... jangan sentuh dia!"
Di balik kaca, pria itu menarik tali lingerie Vivian. Sesaat sebelum tangan kasar itu menyentuh lebih dalam, Vivian memutar kepalanya. Matanya yang jernih dan penuh air mata menembus kaca, menatap tepat ke dalam manik mata Logan yang hancur.
"Tolong aku, Logan... Tolong..."
"VIVIAN!"
Logan tersentak bangun dengan sentakan hebat. Tubuhnya terduduk tegak, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar sementara matanya menyapu kegelapan kamarnya yang nyata. Dinginnya AC mansion tidak sanggup mengusir rasa panas yang membakar kulitnya.
Mimpi itu terasa terlalu nyata. Bau parfum Elena yang memuakkan dan aroma lili milik Vivian bercampur menjadi satu dalam ingatannya. Elena... Vivian... kenapa mereka muncul bersamaan dalam kehancuran itu?
Dengan tangan yang masih gemetar, Logan meraih ponselnya di nakas. Jam menunjukkan pukul 02.14 dini hari. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh sisa-sisa trauma dan ketakutan kehilangan yang mendalam, ia mencari kontak Vivian.
Panggilan itu berdering. Satu kali... dua kali... tiga kali...
"Halo?" suara Vivian terdengar parau, sangat jelas bahwa ia baru saja terenggut dari tidurnya. "Logan? Ada apa?"
Logan tidak langsung menjawab. Ia hanya mendengarkan suara napas Vivian di seberang sana, memastikan bahwa wanita itu nyata, bahwa dia aman di apartemennya, bukan di balik kaca terkutuk itu.
"Vivian..." suara Logan keluar dalam bisikan yang hancur.
"Iya, kenapa? Tidak bisa tidur, hm?" Vivian mencoba menyesuaikan kesadarannya. Suaranya melembut, ada nada keibuan yang tidak sengaja muncul. "Kenapa menelpon jam dua pagi? Kau sakit?"
"Aku mimpi buruk, Sayang," ucap Logan.
Kata 'Sayang' itu meluncur begitu saja dari bibir Logan, tidak lagi terdengar seperti godaan nakal, melainkan sebuah pegangan hidup. Vivian di seberang sana terdiam sejenak. Desiran aneh merayap di dadanya mendengar nada rapuh pria yang biasanya sombong itu.
"Mimpi apa sampai suaramu bergetar begitu?" Vivian berbisik, ia memperbaiki posisi duduknya di tempat tidur. "Mau aku nyanyikan lagu nina bobo agar kau bisa tidur lagi?"
Logan memejamkan matanya rapat-rapat. Suara seraknya yang seksi kini terdengar berat oleh beban masa lalu. "Aku pernah mencintainya, Vivian. Sangat mencintainya... sampai aku merasa dunia ini hanya berputar untuknya."
Vivian tertegun. Ia mulai mengerti bahwa mimpi buruk ini bukan tentang monster, melainkan tentang hantu masa lalu bernama Elena. Ia memilih untuk diam, memberikan ruang bagi Logan untuk menumpahkan apa yang selama ini tersumbat di tenggorokannya.
"Namun, dia membalasnya dengan pengkhianatan," lanjut Logan, suaranya kini mulai mengeras oleh amarah yang terpendam dua tahun. "Dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan dia mendesah di bawah kungkungan pria lain di apartemen itu. Apa selama ini dia tidak puas hanya dengan ku saja? Apa aku begitu tidak berarti?"
Vivian bisa mendengar suara kepalan tangan Logan yang menghantam kasur.
"Dan kau tahu apa yang dikatakannya saat aku memergokinya? Dia bilang dia tidak mencintaiku. Dia bilang semua malam yang kami lalui, semua janji yang kami buat... itu tidak ada artinya." Logan tertawa pahit, tawa yang terdengar menyakitkan. "Dia sudah lama tinggal dengan pria yang dia sebut sepupu itu. Itu artinya selama dia berpacaran denganku, selama dia mencium ku... dia pulang ke pria itu. Itu menjijikkan, Vivian. Benar-benar menjijikkan."
Vivian menarik napas panjang, hatinya ikut terasa perih. Ia membayangkan Logan yang berusia delapan belas tahun, pemuda yang tulus, harus melihat dunianya hancur dengan cara paling kotor.
"Kau... masih mencintainya?" tanya Vivian pelan, sebuah pertanyaan yang ia sendiri takut mendengar jawabannya.
"Aku bahkan ingin membunuhnya malam itu," jawab Logan tanpa ragu. "Aku teringat bagaimana dia menangis di pelukanku, mengaku pernah diperkosa sebelum kami bersama. Dia bilang dia trauma, dia takut sentuhan pria. Dan aku? Aku seperti orang bodoh melindunginya, menjaganya, bahkan tidak berani menyentuhnya lebih jauh karena takut dia teringat trauma itu. Alasan sampah itu aku percaya mentah-mentah, Vivian."
Logan terengah, suaranya pecah. "Ternyata dia tidak trauma. Dia hanya sedang bermain peran di depanku, sementara di belakangku dia menjadi pelacur bagi pria lain."
Vivian terdiam. Ia kini mengerti kenapa Logan tumbuh menjadi pria yang tampak playboy. Luka itu terlalu dalam. Dan Logan pernah dibohongi oleh "kesucian" yang palsu.
"Logan," panggil Vivian lembut. "Dengarkan aku."
"Aku mendengarkan mu, sayang."
"Mimpi itu... itu bukan masa depanmu. Itu hanya sisa sampah yang harus kau buang," Vivian mengusap layar ponselnya seolah sedang mengusap pipi Logan. "Kau bukan pria bodoh karena telah percaya. Kau adalah pria hebat karena kau punya hati untuk melindungi seseorang. Kesalahannya ada pada dia yang menyia-nyiakan mu, bukan padamu yang mencintainya."
Logan menyandarkan kepalanya ke dinding kamar, air mata yang jarang ia keluarkan kini menggenang di sudut matanya. "Jangan tinggalkan aku, Vivian. Jangan jadi seperti dia."
"Aku bukan Dia, Logan. Dan aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana," ucap Vivian, memberikan janji yang sebenarnya melampaui batas kontrak mereka.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk ke kamar masing-masing, dua orang yang sama-sama dikhianati oleh masa lalu saling menjaga melalui frekuensi telepon. Logan akhirnya bisa memejamkan mata, bukan karena mimpi itu hilang, tapi karena suara Vivian menjadi jangkar yang menariknya kembali dari dasar neraka masa lalunya.