"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."
Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.
"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."
Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.
"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."
"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."
Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WARNA YANG MEMUDAR
Waktu berjalan begitu cepat, bagaikan pasir yang terus lolos dari sela jari.
Sudah hampir dua bulan berlalu sejak malam di bawah bulan purnama itu. Hitungan di kalender yang dibuat Keyla di kamarnya kini tinggal angka 27.
Hanya tinggal 27 hari.
Perubahan itu tidak bisa lagi disembunyikan. Tidak bisa lagi ditutupi dengan pakaian tebal atau make up tipis. Arsenio... benar-benar sedang memudar.
Pria yang dulu memiliki tubuh tegap dan kulit yang sehat, kini terlihat semakin kurus. Tulang-tulang rusuknya mulai terlihat jelas di balik kemeja yang kini terasa longgar. Wajahnya yang dulu tampan dan tegas, kini terlihat tirus dan sangat pucat, seperti kertas.
Warna hidup di matanya perlahan digantikan oleh kelelahan yang mendalam.
Pagi itu di meja makan, suasana terasa berat.
Keyla menatap piring di hadapan Arsenio. Makanan yang ia masak dengan penuh cinta itu masih penuh, hampir tidak tersentuh.
"Arsen... makan lagi sedikit ya? Cuma tiga suap saja," bujuk Keyla lembut, suaranya memelas. Ia mengambil nasi dan lauk, menyodorkan sendok ke arah bibir pria itu.
Arsenio menggeleng pelan, napasnya terdengar sedikit berat.
"Tidak nafsu, Key. Perutku mual," jawabnya pelan. Suaranya tidak lagi berat dan menggelegar seperti dulu. Kini terdengar lebih halus, lemah, dan serak.
"Tapi kamu harus makan! Kalau tidak makan, bagaimana kamu bisa kuat?" Mata Keyla mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa melihat orang yang paling ia sayangi menyiksa dirinya sendiri seperti ini. "Tolong Arsen... demi aku. Makan ya?"
Arsenio menatap wajah gadis itu. Ia melihat kekhawatiran yang begitu besar di sana. Ia tidak tega. Dengan tangan gemetar, ia akhirnya membuka mulutnya, menelan nasi yang disuapkan Keyla.
Tapi baru sampai di tenggorokan, tubuhnya menolak.
Arsenio menutup mulutnya, lalu berdiri dan berlari kecil menuju wastafel atau kamar mandi terdekat.
EKUK! EKUK!
Muntah.
Semua yang masuk keluar lagi.
Keyla berlari mengejar, memegangi punggung pria itu sambil mengusapnya perlahan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Sakit. Rasanya sangat sakit melihat orang yang dicintai menderita seperti ini.
"Maaf..." Arsenio batuk-batuk, air mata keluar karena rasa perih. "Maafkan aku... aku tidak bisa menelannya..."
Keyla segera mengambilkan air dan membantunya berkumur. Ia tidak marah. Ia hanya hancur.
"Sudah... sudah tidak apa-apa. Jangan dipaksakan," bisik Keyla, memeluk bahu pria itu yang kini terasa begitu ringkih. "Istirahat saja ya. Ayo ke kamar."
Di kamar, Keyla membantu Arsenio berbaring.
Pria itu terlihat sangat lelah, matanya terpejam rapat, keningnya berkerut menahan rasa sakit yang entah datang dari mana.
Keyla duduk di tepi ranjang, tangannya terus mengusap kepala pria itu dengan lembut, mencoba memberikan sedikit kenyamanan.
"Key..." panggil Arsenio pelan tanpa membuka mata.
"Aku di sini," jawab Keyla cepat, mengecup punggung tangan dingin itu.
"Badanku terasa berat... tapi pikiranku terang. Aku bisa mengingat semua hal indah..." Arsenio tersenyum tipis, senyum yang sangat menyakitkan untuk dilihat. "Aku ingat pertama kali melihatmu. Kau marah-marah, wajahmu merah padam seperti tomat. Lucu sekali."
Keyla tertawa kecil di sela tangisnya. "Iya... karena kamu jahat banget waktu itu."
"Ya... aku jahat. Tapi kau mengubahku. Kau membuatku tahu rasanya dicintai sebelum aku mati."
Arsenio akhirnya membuka matanya, menatap Keyla dalam-dalam. Mata itu kini terlihat lebih dalam, lebih gelap, namun penuh dengan cinta yang tak terhingga.
"Keyla... janji sama aku satu hal lagi."
"Apa? Janji apa pun aku janji."
"Kalau nanti aku sudah tidak ada... jangan pernah datang ke makamku. Jangan bawa bunga. Jangan menangis di sana."
Keyla terkejut. "Kenapa? Kenapa Arsen?"
"Karena aku tidak akan ada di situ. Tubuhku mungkin di sana, tapi jiwaku... akan tetap ada di sini. Di rumah ini. Di setiap sudut yang pernah kita lewati. Di hatimu." Arsenio menempelkan tangan Keyla ke dadanya, tepat di jantungnya yang masih berdetak lemah.
"Jadi rindukan aku di tempat kita bahagia. Bukan di tempat yang dingin dan sunyi itu. Oke?"
Keyla mengangguk kuat-kuat, menahan isak tangis agar tidak membuat Arsenio semakin sedih.
"Iya... aku janji. Aku akan rindu kamu di sini. Di tempat kita."
"Pintar..." Arsenio mengusap pipi Keyla dengan jari yang dingin. "Sekarang... bisikkan sesuatu ke aku. Sesuatu yang manis. Agar aku bisa bawa ke mimpi."
Keyla menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.
"Aku sayang kamu, Arsenio Davide. Sangat sayang. Lebih dari apa pun di dunia ini. Kamu adalah hal terindah yang pernah Tuhan kasih ke aku. Walaupun sebentar... itu cukup buat aku bahagia selamanya."
Arsenio menutup matanya, senyum damai terukir di bibirnya.
"Terima kasih, Keyla. Terima kasih sudah mencintaiku..."
Suaranya semakin pelan, hingga akhirnya napasnya teratur dan ia tertidur. Tertidur lelap untuk pertama kalinya tanpa dihantui rasa sakit yang berlebihan.
Keyla tetap duduk di sana, menatap wajah itu.
Ia mengambil kalender kecil di meja.
27 hari lagi.
Hanya 27 hari untuk menumpuk semua kenangan.
Hanya 27 hari untuk mencintai sekuat tenaga.
Sebelum tangan yang ia genggam ini... nanti akan menjadi dingin dan kaku selamanya.
'Tuhan... tolong perlambat waktu.
Aku belum siap melepasnya.
Aku belum siap hidup tanpa suaranya.'