NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Jalan Menuju Kota Giok

Matahari pagi menyinari jalan setapak yang membelah hutan lebat.

Xiao Fan berjalan di depan, langkahnya santai namun waspada. Di belakangnya, Liu Ruyan mengikuti dengan pedang kayu terselip di pinggang. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa semangat dari pertarungan melawan Serigala Bayangan tadi malam. Matanya yang tadinya sayu kini memiliki sedikit cahaya.

"Guru," panggilnya tiba-tiba.

"Hm."

"Berapa lama perjalanan ke Kota Giok?"

Xiao Fan menatap jalan di depan. "Dengan kecepatan kita sekarang, tiga hari. Jika kita menyewa kereta di desa berikutnya, mungkin dua hari."

Liu Ruyan mengangguk. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya lagi. "Guru... apa yang akan kita lakukan setelah tiba di Kota Giok? Apa Guru akan... menemui klanku?"

Pertanyaan itu menggantung di udara pagi. Xiao Fan bisa mendengar kegelisahan dalam suara gadis itu. Klan Liu telah membuangnya. Mengirimnya ke Sekte Langit Biru dengan harapan—atau lebih tepatnya, tanpa harapan. Kini ia kembali, membawa sesuatu yang dulu tidak ia miliki: kemampuan kultivasi.

"Aku akan menemui mereka," jawab Xiao Fan akhirnya. "Bukan untuk meminta maaf atau memohon diterima kembali. Tapi untuk mencari tahu tentang segel di dalam dirimu. Seseorang di klanmu pasti tahu sesuatu."

"Dan setelah itu?"

"Setelah itu, kau yang memutuskan. Tinggal di sana, atau terus mengikutiku."

Liu Ruyan terdiam. Ia tidak langsung menjawab, dan Xiao Fan tidak memaksanya.

Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman. Hutan perlahan berubah menjadi perbukitan yang lebih terbuka. Rumput liar setinggi lutut bergoyang diterpa angin. Di kejauhan, asap mengepul dari cerobong-cerobong rumah—tanda sebuah desa.

"Desa Batu Hijau," kata Xiao Fan. "Kita akan beristirahat di sini. Mengisi perbekalan. Lalu melanjutkan perjalanan."

Mereka memasuki desa saat matahari mulai tinggi. Desa itu kecil—mungkin hanya lima puluh rumah dari kayu dan batu. Penduduknya kebanyakan petani dan pemburu. Beberapa anak berlarian di jalan tanah, mengejar ayam yang lepas.

Kehadiran dua orang asing tidak terlalu menarik perhatian. Sampai seseorang berseru.

"Liu Ruyan?"

Gadis itu menoleh. Dari sebuah warung makan sederhana, seorang pria muda berjalan menghampiri. Usianya mungkin delapan belas atau sembilan belas tahun. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tapi matanya menyipit dengan ekspresi yang tidak ramah. Ia mengenakan jubah biru dengan sulaman benang perak—pakaian yang terlalu bagus untuk desa sekecil ini.

"Liu Chen," suara Liu Ruyan berubah dingin. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Pria bernama Liu Chen itu berhenti dua langkah dari mereka. Matanya mengamati Liu Ruyan dari atas ke bawah, lalu beralih ke Xiao Fan. Ekspresinya berubah jijik saat melihat jubah lusuh dan pedang berkarat di pinggang pemuda itu.

"Aku sedang dalam perjalanan pulang dari urusan klan," jawab Liu Chen. "Pertanyaan yang sama: apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya di Sekte Langit Biru? Atau..." ia menyeringai, "...mereka sudah mengusirmu juga?"

Liu Ruyan mengepalkan tangan. "Itu bukan urusanmu."

"Tentu saja urusanku. Kau masih anggota Klan Liu, meskipun kau hanya... sampah tanpa akar spiritual." Liu Chen melirik Xiao Fan lagi. "Dan siapa ini? Jangan bilang kau sudah mencari pasangan? Sesama sampah, kurasa. Cocok."

Xiao Fan tidak bereaksi. Ia hanya mengamati. Sistem di kepalanya bersuara.

[Analisis: Liu Chen. Alam Kondensasi Qi Lapis Ketujuh. Jalur Angin. Anggota cabang kedua Klan Liu.]

Liu Ruyan melangkah maju. "Kau tidak berhak menghinaku. Dan kau tidak berhak menghina Guruku."

"Guru?" Liu Chen tertawa. "Guru apa? Guru memasak? Guru menyapu?"

Ia mengulurkan tangan, hendak menepuk kepala Liu Ruyan dengan nada merendahkan.

Tangannya tidak pernah mencapai tujuan.

Xiao Fan bergerak begitu cepat sehingga Liu Chen hanya melihat bayangan. Dalam sekejap, pergelangan tangan pemuda itu sudah terjepit di antara dua jari Xiao Fan. Bukan jepitan yang kuat. Tapi Liu Chen merasakan sesuatu yang dingin merambat dari pergelangannya ke seluruh lengan. Qi Kematian. Sedikit saja. Cukup untuk membuat lengannya mati rasa.

"Apa—lepaskan!" Liu Chen mencoba menarik tangannya, tapi jepitan dua jari itu seperti baja.

Xiao Fan menatapnya dengan mata datar. "Kau anggota Klan Liu. Bagus. Aku punya pertanyaan untukmu."

"Aku tidak akan menjawab apa pun pada sampah sepertimu!"

Xiao Fan mengabaikan protes itu. "Siapa orang tertua di klanmu yang masih ingat tentang sejarah keluarga? Seseorang yang tahu tentang peristiwa dua puluh lima ribu tahun lalu."

Liu Chen membelalak. "Dua puluh lima ribu tahun? Kau gila? Tidak ada yang hidup selama itu!"

"Kalau begitu, siapa yang memegang arsip klan? Catatan sejarah. Silsilah kuno."

Liu Chen ragu-ragu. Tapi rasa sakit di lengannya memaksanya menjawab. "Paman Pertama... Liu Yuan. Dia penjaga Perpustakaan Klan. Dia yang paling tahu tentang sejarah keluarga."

Xiao Fan melepaskan jepitannya. Liu Chen mundur beberapa langkah, memegangi pergelangan tangannya yang masih mati rasa.

"Terima kasih atas informasinya," kata Xiao Fan datar.

Liu Chen menatapnya dengan campuran takut dan marah. "Kau... siapa kau sebenarnya?"

Xiao Fan tidak menjawab. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Liu Ruyan mengikutinya setelah melemparkan tatapan dingin pada Liu Chen.

"Sampai jumpa di Kota Giok, Liu Chen," katanya pelan.

Mereka meninggalkan pemuda itu berdiri terpaku di tengah jalan, memegangi lengannya yang perlahan kembali normal.

Saat mereka berjalan menjauh, Liu Ruyan berbisik, "Guru... kenapa Guru tidak membunuhnya saja? Dia menghina kita."

Xiao Fan meliriknya. "Membunuh setiap orang yang menghina kita hanya akan membuat kita sama seperti mereka yang dulu menghinaku. Lagipula, dia memberiku informasi yang kubutuhkan. Itu sudah cukup."

Ia berhenti sejenak. "Tapi kalau dia mengganggumu lagi di Kota Giok, aku tidak akan segan-segan."

Liu Ruyan tersenyum kecil. "Baik, Guru."

Mereka melanjutkan perjalanan. Di depan, jalan membentang menuju Kota Giok. Dua hari lagi.

Dan di sana, rahasia tentang Putri Kegelapan menanti untuk diungkap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!