Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaratan Darurat di Tanah Air
Pesawat Airbus A350 yang membawa Arkan dan Ziva mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan guncangan kecil yang menyentak kesadaran Ziva. Selama 16 jam penerbangan dari New York, Ziva hampir tidak menyentuh makanan pesawatnya. Matanya merah dan sembab, ia terus menggenggam tasbih kecil pemberian ibunya yang selalu ia bawa di dalam tas.
Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Ia tahu, saat pintu pesawat terbuka, mereka tidak hanya akan menghadapi berita tentang kesehatan ayah Ziva, tapi juga kemarahan absolut dari seorang Wijaya.
"Ziv, kita langsung ambil penerbangan domestik ke Makassar. Aku sudah pesan tiketnya lewat ponsel tadi saat transit di Singapura," bisik Arkan sambil membantu Ziva berdiri.
Ziva mengangguk lemah. "Ar... kalau Papa lo beneran ada di sana gimana? Kalau dia cegat kita di terminal?"
Arkan menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. "Dia boleh punya bandara ini, tapi dia nggak punya hak buat ngatur ke mana aku melangkah buat nemuin mertuaku."
Konfrontasi di Terminal 3
Begitu mereka keluar dari garbarata dan menuju area transit, sesosok pria berjas rapi dengan rambut yang mulai memutih namun tetap tampak gagah sudah berdiri menunggu. Bukan anak buahnya, melainkan Pak Wijaya sendiri. Ia berdiri di tengah arus penumpang yang berlalu lalang, memegang tongkat kayu hitam dengan kepala perak—simbol otoritasnya.
"Arkananta," suara Pak Wijaya berat, menggema di antara kebisingan bandara.
Arkan berhenti tepat tiga langkah di depan ayahnya. Ia menarik Ziva sedikit ke belakang punggungnya, sebuah gestur perlindungan yang otomatis.
"Papa ngapain di sini? Harusnya Papa di kantor, atau di Makassar kalau Papa beneran peduli sama besan Papa," sindir Arkan tajam.
Pak Wijaya menatap putranya dengan tatapan dingin yang bisa membekukan darah siapa pun. "Papa sudah mengirim tim dokter kepresidenan ke Makassar. Ayah Ziva sudah sadar. Dia stabil. Tidak ada alasan bagi kalian untuk merusak jadwal kuliah kalian di luar negeri hanya untuk drama emosional seperti ini."
"Drama emosional?" Ziva tiba-tiba bersuara, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Itu bapak saya, Om. Bapak yang nungguin saya pulang tiap lebaran, bapak yang kerja keras di laut buat sekolahin saya sebelum ketemu keluarga Om. Bagi Om ini drama, tapi bagi saya ini nyawa!"
Pak Wijaya melirik Ziva sebentar, lalu kembali menatap Arkan.
"Arkan, jika kamu melangkah ke gerbang keberangkatan Makassar itu, semua rekeningmu akan dibekukan. Apartemenmu di London akan dikosongkan. Dan Ziva... beasiswanya akan dicabut atas dasar 'pelanggaran kode etik perilaku' yang sudah Papa siapkan drafnya."
Hening sejenak. Para penumpang lain mulai memperhatikan ketegangan di antara mereka.
Arkan menarik napas panjang. Ia perlahan melepaskan jam tangan mewah pemberian ayahnya dan meletakkannya di lantai bandara. Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil kartu kredit hitam miliknya, dan mematahkannya di depan mata Pak Wijaya.
"Ambil semuanya, Pa," ucap Arkan tenang, suaranya sangat rendah namun mematikan. "Ambil uang Papa, ambil apartemen itu. Mulai detik ini, aku bukan lagi 'aset' Wijaya Group. Aku cuma Arkan, suami dari Ziva. Dan kalau Papa berani nyentuh beasiswa dia, aku bakal pakai kemampuan finansial yang Papa ajarkan buat hancurin reputasi Papa lewat media internasional. Papa tahu kan Ziva punya banyak temen jurnalis di New York?"
Wajah Pak Wijaya berubah menjadi merah padam. Ia tidak menyangka Arkan akan menggunakan "senjata" yang ia ajarkan untuk menyerang balik.
Kejar-kejaran di Makassar
Dua jam kemudian, Arkan dan Ziva sudah berada di udara menuju Makassar. Mereka menggunakan tiket yang dibeli Arkan dengan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam paspornya—uang hasil magangnya sendiri.
Sesampainya di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, mereka tidak menunggu jemputan. Mereka langsung naik taksi menuju salah satu rumah sakit swasta ternama di pusat kota.
Di depan ruang ICU, Ibu Ziva terduduk lemas di bangku panjang. Begitu melihat Ziva, wanita tua itu langsung berdiri dan memeluk putrinya sambil terisak.
"Ziva... Bapak, Nak... Bapak selamat," isak ibunya.
Ziva menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. "Bapak di mana, Bu? Ziva mau liat."
"Bapak masih tidur di dalem, habis operasi kaki. Tapi dokternya baik-baik banget, Nak. Katanya semua biaya sudah ada yang nanggung."
Ziva melirik Arkan yang berdiri di belakangnya. Arkan hanya mengangguk kecil. Meskipun ia membenci cara ayahnya mengontrol mereka, ia tahu ayahnya tidak akan membiarkan ayah Ziva dalam bahaya medis karena itu menyangkut reputasi keluarga juga.
Bayangan di Lorong Rumah Sakit
Di sudut lorong yang gelap, Revan berdiri bersandar di dinding. Ia mengenakan topi hitam dan masker. Ia sudah berada di Makassar sejak berita itu pecah, menggunakan koneksi atletnya untuk memantau situasi. Ia melihat kedatangan Arkan dan Ziva dari kejauhan.
Ia melihat bagaimana Arkan merangkul bahu Ziva, memberikan kekuatan saat gadis itu hampir terjatuh karena lemas.
Revan tersenyum pahit. "Lo beneran nekat ya, Ar. Lo lepasin semua kemewahan lo cuma buat nemenin dia ke sini."
Revan mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Clarissa—yang entah bagaimana masih memantau berita mereka dari pengasingannya di luar kota.
Clarissa: Gue denger Arkan dipecat dari keluarga Wijaya. Ini kesempatan kita buat narik dia balik, Van. Lo dapet Ziva, gue dapet Arkan.
Revan mengetik balasan dengan cepat: "Lo emang nggak pernah berubah, Cla. Gue berhenti di sini. Arkan udah ngebuktiin kalau dia lebih dari sekadar uang bokapnya. Gue nggak akan hancurin kebahagiaan orang yang beneran tulus kayak mereka. Jangan hubungin gue lagi."
Revan memblokir nomor Clarissa, lalu berjalan pergi meninggalkan rumah sakit. Ia tahu, meskipun Arkan sekarang jatuh miskin, Ziva ada di tangan yang paling aman.
Perlawanan Dimulai
Malam itu, Arkan dan Ziva duduk di kantin rumah sakit yang sepi. Arkan menatap layar ponselnya yang sudah tidak memiliki layanan data karena kartunya sudah dinonaktifkan oleh pihak kantor ayahnya.
"Ar," panggil Ziva lirih. "Lo serius mau lepasin semuanya? Lo mau tinggal di mana pas balik ke London nanti?"
Arkan menggenggam tangan Ziva, mencium punggung tangannya. "Aku bakal cari apartemen murah di pinggiran London. Aku bakal kerja part-time di kafe atau jadi tutor matematika. Aku nggak butuh kemewahan itu kalau harganya adalah kebebasan kita."
Ziva menatap suaminya dengan penuh rasa kagum. "Gue bakal bantuin lo, Ar. Gue punya tabungan dari honor tulisan gue. Kita bakal mulai dari nol lagi. Bener-bener dari nol."
Di tengah aroma obat-obatan dan suara mesin rumah sakit, mereka membuat janji baru. Bukan lagi janji remaja SMA, tapi janji sepasang suami istri yang siap menghadapi dunia tanpa perlindungan siapa pun kecuali satu sama lain.
Namun, di Jakarta, Pak Wijaya sedang menatap layar monitor yang menampilkan data beasiswa Ziva. Jarinya bergerak di atas tombol delete. Ia belum selesai. Perang ini baru saja memasuki babak yang paling kejam.