NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Badai di Balik Jeruji

Sirene meraung membelah sunyi malam di Lapas Cipinang. Suaranya bukan lagi sekadar peringatan rutin, melainkan jeritan tanda bahaya level merah. Lampu sorot dari menara penjaga berputar liar, menyapu lapangan tengah yang kini telah berubah menjadi lautan manusia penuh amarah. Asap dari kain-kain yang dibakar mulai membumbung, menyesakkan paru-paru dan mengaburkan pandangan.

Arkan Xavier terbangun bukan karena suara sirene, melainkan karena getaran pintu sel besi yang dihantam benda tumpul. Di koridor Blok B, teriakan takbir bercampur dengan makian kasar saling bersahutan. Kelompok Bongkeng telah memulai pergerakan mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.

"Keluar! Semua keluar! Hari ini kita ambil alih tempat ini!" teriak salah satu narapidana yang berhasil merebut kunci cadangan dari seorang sipir muda.

Arkan berdiri di tengah selnya. Teman selnya, seorang kakek tua bernama Pak joko yang ditahan karena kasus sengketa tanah, gemetar hebat di pojok tempat tidur. "Tuan Arkan... apa yang harus kita lakukan? Mereka akan membunuh kita jika kita tidak ikut."

"Tetap di belakangku, Pak Joko," perintah Arkan.

Suaranya rendah, namun memiliki gravitasi yang membuat ketakutan Pak Joko sedikit mereda.

Arkan melangkah keluar sel tepat saat Bongkeng lewat dengan membawa potongan besi tajam yang ujungnya merah oleh darah. Bongkeng berhenti, menatap Arkan dengan mata yang liar oleh adrenalin.

"Xavier! Ini saatnya! Tunjukkan pada mereka cara membunuh yang benar! Kau ahli dalam hal ini, kan?" Bongkeng menyodorkan sebilah pisau rakitan ke arah Arkan.

Arkan menatap pisau itu, lalu menatap Bongkeng. Bayangan wajah Aisyah yang tenang saat menjahit luka musuhnya terlintas kilat di benaknya. Aku sudah berjanji, batin Arkan.

"Aku tidak akan ikut dalam kegilaanmu, Bongkeng," ucap Arkan tegas. "Hentikan ini sebelum gas air mata dan peluru karet mulai bicara. Kalian hanya akan menambah masa hukuman kalian sepuluh tahun lagi!"

"Pengecut!" ludah Bongkeng. "Habisi dia!"

Dua anak buah Bongkeng menerjang. Arkan tidak bergerak maju; ia bertahan. Dengan gerakan defensif yang elegan—hasil dari bertahun-tahun latihan bela diri tingkat tinggi—ia membelokkan serangan pertama, memutar lengan penyerang hingga terdengar bunyi klik sendi yang lepas, lalu memberikan tendangan dorong ke dada penyerang kedua hingga ia terpental menabrak jeruji.

Arkan tidak mengejar. Ia hanya berdiri tegak, melindungi pintu selnya. "Siapa lagi?"

Melihat ketangguhan Arkan, Bongkeng menggeram namun memutuskan untuk tidak membuang waktu. "Biarkan dia membusuk di sini! Ayo menuju blok administrasi!"

Di luar, di paviliun panti asuhan, Aisyah tersentak dari sujudnya. Ia baru saja menyelesaikan salat Tahajud saat mendengar suara berita darurat dari televisi yang lupa dimatikan oleh Hamdan di ruang tamu.

"Breaking News: Kerusuhan besar pecah di Lapas Kelas I Cipinang. Beberapa narapidana dikabarkan menyandera petugas sipir. Suasana masih mencekam dan pasukan Brimob telah disiagakan..."

Gelas berisi air putih di tangan Aisyah jatuh dan pecah berkeping-keping. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa sesak napas.

"Arkan..." bisiknya lirih.

Hamdan berlari masuk ke ruangan, wajahnya panik. "Aisyah, jangan nyalakan TV! Oh, kau sudah lihat..."

"Bang, Aisyah harus ke sana!" Aisyah menyambar cadar dan tas medisnya dengan tangan gemetar.

"Kau gila? Di sana sedang ada kerusuhan! Polisi menutup akses jalan!" Hamdan mencoba menahan adiknya.

"Arkan ada di sana, Bang! Dia sudah berjanji untuk berubah, dan di tengah kerusuhan seperti itu, orang yang ingin berubah adalah orang yang paling terancam!" Aisyah menatap kakaknya dengan mata yang penuh air mata namun sarat akan tekad. "Ayah... tolong izinkan Aisyah."

Rahman Malik muncul dari balik pintu dengan kruknya. Ia menatap putrinya cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Pergilah, Nak. Bawalah obat-obatan. Di sana akan banyak orang terluka.

Jadilah dokter bagi siapa pun yang membutuhkan, dan mintalah pada Allah agar Arkan tetap dalam lindungan-Nya."

Kembali ke dalam penjara, asap gas air mata mulai masuk ke dalam koridor. Arkan menutup hidungnya dengan sisa baju yang dibasahi air. Tiba-tiba, ia mendengar suara rintihan dari arah pos penjaga di ujung blok.

Arkan melihat sipir muda bernama Rian—sipir yang sering diam-diam membawakannya buku agama tambahan—tergeletak di lantai dengan kaki tertusuk besi. Rian dikelilingi oleh api kecil dari kertas-kertas yang dibakar.

"Tolong... Tuan Arkan..." suara Rian hampir hilang tertutup hiruk pikuk.

Arkan bimbang. Jika ia keluar dari zona aman selnya, ia akan dianggap sebagai bagian dari pemberontak oleh pasukan Brimob yang mungkin masuk sebentar lagi. Jika ia tetap di sini, Rian akan mati terpanggang atau kehabisan darah.

Sumpahku adalah untuk menyelamatkan nyawa, Arkan teringat kata-kata Aisyah.

Arkan keluar dari sel. Ia berlari menerjang asap. Beberapa narapidana mencoba menghadangnya, namun Arkan tidak lagi menahan diri. Dengan pukulan-pukulan cepat dan efisien, ia menjatuhkan setiap orang yang menghalanginya menuju Rian.

Ia memanggul tubuh Rian di pundaknya. Berat Rian yang hampir 80 kilogram terasa ringan di bawah tekanan adrenalin. Namun, saat ia hendak kembali ke area aman, pintu jeruji utama Blok B meledak. Pasukan Brimob dengan tameng dan senjata pelontar gas air mata masuk.

"Tiarap! Semua tiarap atau kami tembak!" teriak komandan pasukan.

Arkan berdiri di tengah koridor, memanggul seorang sipir yang terluka. Di matanya, ia melihat moncong senjata diarahkan padanya. Ia perlahan berlutut, meletakkan Rian dengan sangat hati-hati di lantai, lalu mengangkat kedua tangannya yang bersimbah darah sipir tersebut.

"Jangan tembak! Aku membawa petugas yang terluka! Dia butuh bantuan medis segera!" teriak Arkan.

Beberapa petugas medis polisi segera berlari mendekat. Mereka tertegun melihat seorang narapidana justru melindungi petugas mereka di tengah kerusuhan.

Fajar menyingsing di depan gerbang Lapas yang kini dijaga ketat oleh panser dan kawat berduri tambahan. Aisyah berdiri di baris terdepan warga yang menunggu kabar, tas medisnya sudah terbuka. Ia telah membantu beberapa warga sekitar yang terkena dampak gas air mata sejak dua jam lalu.

Pintu gerbang besar terbuka. Beberapa ambulans keluar mengangkut korban luka. Tak lama kemudian, rombongan narapidana yang dianggap sebagai "kooperator" dan tidak ikut kerusuhan dibawa ke tenda medis darurat untuk diperiksa.

Aisyah menyisir setiap wajah. Hingga akhirnya, ia melihat sosok pria dengan seragam oranye yang robek-robek dan wajah yang hitam oleh jelaga.

"Arkan!" teriak Aisyah, suaranya parau.

Arkan menoleh. Meski tangannya kini diborgol kembali ke depan karena prosedur keamanan ketat pasca-rusuh, ia tersenyum lebar saat melihat cadar hijau zamrud itu tetap setia menantinya di balik garis polisi.

Aisyah berlari mendekat, polisi sempat menghalangi namun Leo—yang entah bagaimana sudah berada di sana sebagai perwakilan pengacara—memberikan kode. Aisyah diizinkan mendekat dalam jarak dua meter.

"Anda terluka?" Aisyah memeriksa wajah Arkan dengan pandangannya, mencari tanda-tanda cedera serius.

"Hanya goresan kecil, Aisyah," bisik Arkan.

Suaranya terdengar sangat lelah namun penuh kedamaian. "Aku menyelamatkan Rian. Aku tidak melanggar sumpahku padamu."

Aisyah memejamkan mata, air mata syukurnya jatuh membasahi cadarnya. "Alhamdulillah... Alhamdulillah."

Komandan Lapas mendekati mereka. Ia menatap Arkan dengan pandangan hormat yang baru.

"Nomor 7042, tindakanmu menyelamatkan Petugas Rian telah dicatat oleh kamera pengawas dan saksi mata. Kau tidak hanya menyelamatkan nyawanya, kau juga mencegah Blok B jatuh ke dalam pertumpahan darah yang lebih parah."

Arkan hanya mengangguk kecil. Ia menatap Aisyah kembali. "Aisyah, setelah ini mungkin aku akan dipindahkan ke sel isolasi sementara untuk penyelidikan. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja selama aku tahu kau masih mendoakanku."

Aisyah mengeluarkan sebuah botol kecil antiseptik dan kapas dari tasnya. Ia memberikannya pada petugas penjaga. "Tolong... bersihkan lukanya. Dia pria yang baik."

Saat Arkan dibawa kembali masuk ke dalam, ia sempat menoleh satu kali lagi. Di tengah kehancuran penjara dan aroma asap yang menyengat, ia melihat fajar yang sesungguhnya: wanita yang mencintainya tanpa syarat, yang telah merubah serigala menjadi seorang manusia yang punya harga diri.

Malam itu, di sel isolasi yang dingin dan gelap, Arkan tidak merasa kesepian. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang kini selaras dengan ayat-ayat yang ia pelajari dari Hamdan.

Di tengah api, aku menemukan air. Di tengah kerusuhan, aku menemukan ketenangan. Karena penjara yang sesungguhnya bukan tembok ini, melainkan hati yang menolak untuk mencintai kebenaran.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!