"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Malam Pertama
"Mas Prabu! Mas Prabujangga!"
Dengan wajahnya yang berderai air mata, Kharisma mengejar Prabujangga yang dengan santai melangkah di depannya.
Pengakuan bahwa menikahinya adalah bukan karena cinta tapi keterpaksaan membuat sesuatu di dalam diri Kharisma hancur berkeping-keping.
Tanpa alas kaki, dengan gaun yang berat, langkah kecilnya sedikit goyah saat memohon-mohon pada Prabujangga untuk berhenti.
"Mas Prabu! Tolong jangan sita handphoneku, aku ingin bicara pada Papa, Mas," Isak Kharisma pilu, bahunya bergetar karena tangisannya sendiri.
"Saya berhak mengambil semuanya darimu, termasuk benda ini." Tanpa menoleh ke belakang, Prabujangga menggoyangkan ponsel Kharisma yang telah ia rampas sewaktu di dalam mobil. "Semua yang kamu lakukan juga harus atas persetujuan saya. Kamu milik saya sekarang."
"Tapi Papa tidak bilang hal ini sebelumnya, Papa tidak bilang kalau Mas Prabu menikahiku karena terpaksa."
Kharisma melebarkan langkahnya, vokalnya pecah sewaktu berusaha mendekati Prabujangga yang telah mencapai anak tangga terakhir.
Rumah besar dengan hiasan putih ini terlalu sepi, terlalu sunyi untuk ukurannya. Kharisma tidak tau di mana mereka, Kharisma tidak tau pada siapa ia harus mengadu bahwa perasaannya telah disakiti.
"Papa mengatakan bahwa Mas Prabu akan menjagaku, tapi kenapa Mas Prabu malah berkata seperti itu?" Kharisma meraih pergelangan tangan Prabujangga. "Mas..."
Langkah Prabujangga sejenak berhenti, sentuhan yang begitu tiba-tiba menjadi alasan paling logis.
Dia menoleh dingin ke arah Kharisma yang tampak begitu menyedihkan dengan air mata yang membasahi pipi. Gaun pengantinnya begitu tidak cocok jikalau disandingkan dengan ekspresi menyedihkan di wajahnya.
Karena mungkin, hanya Prabujangga yang pernah membuatnya terisak seperti ini. Setelah dua puluh satu tahun diperlukan seperti tuan putri yang rapuh.
"Menjaga dan menyayangi adalah dua hal yang berbeda," ujar Prabujangga dingin, menyentak lepas tangan Kharisma dari pergelangan tangannya. "Saya akan bertanggungjawab atas dirimu mulai sekarang. Saya akan menyediakan segala yang kamu butuhkan. Fasilitas, makanan, minuman, uang, segalanya tanggungjawab sebagai suami untuk menafkahi."
Prabujangga memasukkan ponsel Kharisma ke sakunya, mengamankan benda itu dari sang pemilik yang tengah menangis.
"Tapi kasih sayang adalah satu hal yang tidak akan pernah kamu dapatkan dari saya," imbuh Prabujangga.
Kharisma mendongak, matanya bengkak saat berusaha mencari-cari belas kasihan di mata Prabujangga. Tapi nihil, ia tak menemukan apapun selain ketidakpedulian yang dingin dan jauh pada suaminya.
"Mas—"
"Selama menjadi istri saya, kamu akan tetap diperlakukan dengan layak dan hidup dengan kemewahan seperti sebelumnya," sela Prabujangga, tak memberi kesempatan Kharisma untuk bicara. "Maka selama itu pula kamu harus melaksanakan kewajibanmu sebagai istri saya."
Prabujangga melangkah maju, sengaja mendesak Kharisma mundur hingga punggung Kharisma menyentuh pinggiran tangga.
Tangan Prabujangga terulur, mencengkram kedua sisi pinggang Kharisma hingga perempuan itu berdiri stabil di tempatnya.
"Kamu tau apa kewajiban seorang istri?" Prabujangga berbisik, bibirnya sengaja didekatkan pada telinga Kharisma.
Kharisma menggeleng kaku.
"Naif." Prabujangga terkekeh, mengejek. "Seharusnya di usiamu sekarang ini kamu sudah tau banyak tentang hal itu."
Tangan Prabujangga merayap ke punggung bawah Kharisma, mendapatkan respon menggeliat dari sang pemilik tubuh.
"Tugas seorang istri menurut saya sangatlah mudah," ujar Prabujangga dengan nadanya yang menghipnotis. "Hanya menyiapkan pose terbaik di atas ranjang dan menyenangkan suami yang baru datang bekerja."
"Dan," dia menambahkan dengan suara yang semakin rendah. Tangannya merayap ke depan, membentang di perut datar Kharisma. "Menyiapkan rahim untuk diisi oleh benih. Mengerti maksud saya?"
Sekali lagi, Kharisma menggeleng kelu.
Kharisma tidak pernah mengerti dengan apa yang dibahas oleh Prabujangga saat ini. Segala yang ia tau selalu berdasar dari kedua orang tuanya, dan istilah-istilah yang Prabujangga ucapkan begitu asing baginya. Ditambah lagi dengan keadaannya yang kalut, bagaimana mungkin Kharisma bisa berpikir?
"Bodoh, seperti yang saya harapkan."
Tapi Prabujangga tidak berhenti menyakiti hatinya.
Prabujangga menarik kasar rambut Kharisma hingga ia mendongak, memaksa agar Kharisma menatap laki-laki itu dengan fokus penuh meskipun hatinya terluka.
"Keturunan," Prabujangga menekankan. "Kamu akan memberikan saya seorang anak," jelas Prabujangga. "Seorang putra, lebih tepatnya."
"A-anak?"
Prabujangga mengangguk acuh. "Anak," ulangnya membenarkan. "Kamu akan memberikan saya seorang anak. Haruslah seorang putra yang akan meneruskan semua yang telah saya raih di masa depan."
Dada Kharisma terasa sesak. Kepalanya terasa sakit karena cengkraman Prabujangga yang terlalu erat di rambutnya. Namun di samping itu, rasa sakit yang lebih besar berpusat di dadanya.
"Aku tau kalau menikah pastilah akan memiliki seorang anak, Mas Prabu..." Suara Kharisma terdengar terbata tatkala mencoba bicara. "Tapi jika bukan seorang putra..."
"Maka saya akan menghamilimu berkali-kali hingga saya mendapatkan seorang putra," Prabujangga meneruskan, sorotnya menusuk ke dalam binar polos di mata Kharisma.
"Maka saya akan menghamilimu berkali-kali."
Sialnya, Kharisma belum terlalu mengerti dengan implikasi kata-kata suaminya. Betapa malang nasibnya jika ia tak berhasil memberikan seorang putra.
"Karena saya berpikir sekarang kamu telah mengerti dengan tugasmu," Prabujangga merogoh saku jasnya, memamerkan sebuah kunci yang langsung Kharisma tebak adalah kunci kamar. "kembalilah ke kamar dan bersiap untuk tugas pertamamu. Jangan kecewakan saya. Setelah saya kembali nanti, kamu harus berhasil memberikan penampilan terbaikmu di hadapan saya."
Prabujangga melempar kunci itu ke atas lantai, mendorong kepala Kharisma hingga perempuan itu berakhir bersimpuh menyedihkan pada anak tangga.
"Pergilah ke kamar dan rias dirimu."
...***...
Sudah genap satu jam lamanya Kharisma menangis di dalam kegelapan. Lilin-lilin yang menyala menyinari, tapi tak mampu menerangi kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Segalanya yang terjadi hari ini begitu berlawanan.
Menangis karena meninggalkan Mama dan Papa, tersenyum begitu dipasangi cincin di jari manis, lantas menangis lagi setelah mengetahui kenyataan bahwa suaminya menikahinya bukan karena keinginan.
Lalu selanjutnya, adalah perintah untuk melahirkan seorang putra.
Dengan malangnya Kharisma meringkuk di tempat tidur bertiang empat, seprai sutra mahal dihias oleh kelopak mawar yang indah, yang Kharisma tak tau untuk apa.
Dia terlalu terkejut untuk mengingat perintah Prabujangga akan tugas pertamanya. Melayaninya di malam pertama.
Kharisma memeluk lutut, duduk di tepi tempat tidur dengan kepala ditelungkupkan tak berdaya.
"Papa..."
"Mama..."
Dua kata yang sejak tadi digumamkan meskipun tak membawa perubahan.
Apa yang harus Kharisma lakukan sekarang? Kenapa ia harus terjebak pada situasi seperti ini?
Prabujangga sengaja menyita ponselnya, melarang Kharisma mengadukkan apapun pada sang ayah dan ibu.
Lantas apa yang bisa Kharisma lakukan selain menangis?
Perlahan-lahan Kharisma mengangkat wajahnya, menatap cincin di jari manisnya yang dipasangkan oleh Prabujangga beberapa saat yang lalu. Saat Kharisma tidak tau bahwa ia dinikahi karena terpaksa.
"Kenapa Mas Prabu jahat sekali? Kenapa..."
Tepat saat itu, suara kunci yang diputar terdengar, disusul oleh suara derit pintu yang menandakan kedatangan seseorang.
Yang tak lain adalah Prabujangga.
Kharisma menelan ludah, tubuhnya langsung menegang. Matanya menatap ke arah jam dinding, tak menyadari waktu yang berlalu begitu cepat kala ia menghabiskan menit demi menit untuk menangis.
"M-mas Prabu?"
Kharisma memeluk lututnya erat-erat, kepalanya tertunduk tak berani untuk memandangi kedatangan suaminya secara langsung.
Prabujangga berdiri di ambang pintu, tak lagi mengenakan jas formalnya. Tatanan rambutnya juga mulai berantakan. Kemeja putihnya digulung hingga di bawah siku, tapi Kharisma tak sempat memperhatikan hal lainnya saat mendengar suara rendah laki-laki itu.
"Bukankah sudah saya perintahkan untuk bersiap?" Suara Prabujangga terdengar jelas dan mencekam di dalam kamar remang-remang.
Langkah kaki Prabujangga terdengar mendekat meskipun teredam oleh karpet. Bayangannya menari-nari di dinding, semakin membuat Kharisma ketakutan. Tubuhnya gemetar, semakin menciut di tempatnya.
"Bangun."
Kharisma menoleh Kakaku ke arah Prabujangga yang menjulang di hadapannya, laki-laki itu menatapnya dengan tajam.
"M-mas Prabu—"
"Saya bilang. Bangun."
Tak memberikan Kharisma lebih banyak waktu, dengan kasar Prabujangga menarik lengan Kharisma hingga perempuan itu terhuyung-huyung menyesuaikan langkahnya.
"Saya sudah memberikan perintah yang jelas. Waktu yang cukup. Tapi lihatlah bagaimana kamu menyia-nyiakannya," ujar Prabujangga, cengkramannya mengerat hingga mengundang ringisan dari bibir Kharisma.
"M-maaf, m-maaf Mas—ahh!"
Kharisma menjerit kala tubuhnya dilempar hingga menabrak meja rias. Botol-botol parfum bergetar, nyaris jatuh dari tempatnya karena guncangan. Perut Kharisma membentur tepian meja yang keras, tangannya menapak pada permukaan kayu yang dipoles.
"Seharusnya saya menanyakan pada orang tuamu cara yang benar untuk memerintah gadis bodoh ciptaan mereka." Prabujangga mendekat, dadanya yang padat dan bidang menekan punggung Kharisma.
Melalui cermin besar meja rias, tatapan mereka bertemu.
"Bagaimana caranya saya selera padamu jika wajahmu saja seperti ini," Prabujangga berbisik tepat di telinga Kharisma, tangannya dengan kasar meraih rahang Kharisma dan mendongakkan perempuan itu untuk menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin.
Menyedihkan. Satu kata yang tepat untuk mencerminkan kondisi mengenaskan Kharisma.
Riasannya luntur karena air mata. Maskara yang meninggalkan noda hitam di sekitar mata, bedak yang hanya tersisa setengah, serta lipstik merah yang terpoles di bibirnya kini mulai menghilang.
"Tapi apa boleh buat? Kamu yang memutuskan untuk keras kepala, kan?"
Kharisma memejamkan matanya, napasnya berhenti saat merasakan hembusan napas Prabujangga menerpa lehernya.
"Saya bisa saja bersikap lembut jika tiga puluh detik yang lalu kamu menyambut kedatangan saya dengan gaun tidur tipis dan wajah yang cantik. Tapi sepertinya kamu menginginkan hal lain." Jari-jari Prabujangga menekan keras rahang Kharisma. "Kamu ingin saya mengambil kepolosanmu dengan cara yang kasar. Bukankah begitu, Kharisma?"
Untuk pertama kali setelah satu bulan yang lalu bertemu, nama Kharisma akhirnya disebutkan oleh mulut Prabujangga.
Tapi, Kharisma menganggap itu bukan sebagai hal yang harus disyukuri sekarang.
Jeritan kaget kembali terdengar kala suara kain yang dirobek kasar memenuhi ruangan.
Prabujangga tak main-main dengan ucapannya.
Bersambung...