"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protektif
"Huekkk!"
Kaisar tertegun mendengar suara samar-samar dari dalam toilet wanita. Ia tahu jelas Raline sedang memuntahkan isi perutnya karena mual yang semakin menyiksa seiring bertambahnya usia kandungan.
Ia berdiri di depan pintu toilet. Kedua tangannya mengepal. Rasanya ia ingin gegas masuk dan membantu menenangkan Raline, namun ia sendiri khawatir akan ada yang melihat kelakuannya dan menganggapnya aneh.
Kaisar mencoba sedikit lebih tenang di tempatnya, sembari celingak-celinguk memantau situasi.
"Huekkk!"
Tapi lagi-lagi suara Raline membuatnya tak tenang. Perasaannya semakin tak karuan. Ada rasa khawatir dalam hatinya terhadap Raline yang tak bisa ia abaikan, sebagai pria yang kini telah menjadi suaminya.
Dengan tekad yang kuat, Kaisar membuka pintu toilet wanita dan segera masuk setelah memastikan situasi aman. Ia mengunci pintunya, mencegah siapapun masuk tiba-tiba dan melihat keberadaannya di toilet wanita.
Begitu ia masuk dan mengunci pintu, ia melihat Raline berdiri di depan wastafel (di samping bilik-bilik toilet) dengan kedua tangan mencengkeram tepiannya. Tubuhnya membungkuk, masih terlihat sedang memuntahkan isi perutnya.
Kaisar segera mendekat. Berdiri di sampingnya, lalu menyentuh tengkuk Raline.
"Masih mual?" tanyanya.
Raline tersentak mendengar suara itu. Ia pun menoleh ke arah samping dan terkejut melihat Kaisar kini ada di dekatnya.
"Kai...?"
"Lo... Lo ngapain di sini?" tanyanya panik.
"Gue tadi liat lo tiba-tiba pergi dari kantin, kayak mau muntah. Jadi, gue susul lo kemari. Gue khawatir lo kenapa-kenapa," jawab Kaisar. Raut wajahnya penuh kejujuran.
"Tapi lo gak seharusnya masuk ke sini, Kai," protes Raline. "Kalo ada yang liat lo di sini gimana? Kita bisa dihukum!"
"Ya, ya, ya, gue tau," jawab Kaisar sembari mengurut tengkuk Raline lembut. Seolah tak peduli dengan omelan istrinya itu. "Gak usah mikirin itu dulu. Yang penting sekarang, gimana kondisi lo?"
Raline tidak menjawab. Ia memutar gagang keran hingga airnya mengalir, mengambil sedikit air dan meminumnya.
"Gue udah gapapa," jawabnya pelan. Meski sebenarnya masih ada sedikit rasa tak nyaman di perut.
"Muka lo keliatan pucat banget." Kaisar memperhatikan wajah Raline dari pantulan cermin. "Mending kita ke UKS aja. Biar lo bisa istirahat."
Raline menoleh, menatapnya tajam. "Lo gila ya? Kalo kita ke UKS, nanti gue diperiksa. Terus gue bakal ketahuan hamil, dan semua orang bakal tau soal kehamilan gue. Puas lo?"
Kaisar nyengir, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih bersih.
"Gak kepikiran ke sana gue, hehehe..."
Raline mendelik sebal.
Ia lalu mencuci mukanya, berusaha mengembalikan rona wajahnya agar orang-orang tak curiga akan kondisinya saat ini.
"Atau lo mau balik aja?" kata Kaisar. "Biar gue anterin."
Raline menggeleng. "Gue mau lanjut sekolah. Gue gapapa, kok. Tadi mual mungkin gara-gara makan mie instan."
Kaisar mendengus. "Terus, ngapain lo makan mie instan? Lo kan tau, saat ini perut lo itu gak terima makanan yang gurih-gurih berminyak gitu. Kenapa masih di makan juga? Kemarin di rumah juga lo kayak gini. Masih gak ada kapoknya!"
Kaisar mengomel. Memperlihatkan sikap protektif yang perlahan-lahan mulai sering ia tunjukkan sejak mereka hidup bersama. Ia terus berkacak pinggang sambil menatap Raline yang masih terlihat lemas.
"Gue makan karena gue laper," jawab Raline ketus.
"Lo juga tau kalo gue belum makan dari pagi gara-gara mual. Wajah dong kalo gue makan mie instan sekarang."
"Laper sih laper," sahut Kaisar tak mau kalah. "Tapi kan lo bisa pilih makanan yang lebih sehat, Lin! Bubur sumsum kek, atau roti. Bukannya malah hajar mie instan pedas pas perut lagi sensitif kayak gini. Lo itu kalo dikasih tau susah banget ya, kepala ba..."
"Udah ah, berisik! Gue mau keluar!" potong Raline cepat. Ia merasa kepalanya semakin pening mendengar ceramah panjang Kaisar yang mendadak jadi seperti bapak-bapak.
Raline hendak melangkah menuju pintu, namun dengan sigap Kaisar mencekal pergelangan tangannya. Tenaganya tidak kuat, tapi cukup untuk membuat Raline terhenti.
"Tunggu dulu, gue belum selesai ngomong!" tegas Kaisar, matanya menatap Raline dalam-dalam. "Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa di sekolah. Kalo lo pingsan, yang repot juga gue. Lo harus dengerin..."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras di pintu kayu itu seketika memutus kalimat Kaisar. Keduanya tersentak, napas mereka tertahan di tenggorokan. Jantung Kaisar berdegup kencang hingga terasa ke ujung jari.
"Lin? Raline? Lo masih di dalam?"
Itu suara Faiz. Suaranya terdengar sangat dekat, tepat di balik pintu yang terkunci.
Raline membelalakkan mata, menatap Kaisar dengan sorot panik yang luar biasa. Ia memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir agar Kaisar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Kaisar sendiri mematung, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Mereka terjebak di dalam toilet wanita, dan jika Faiz sampai tahu Kaisar ada di sana bersama Raline, rahasia besar mereka terancam terbongkar saat itu juga.
"Iya, gue masih di dalam, Iz!" sahut Raline cepat dengan nada yang berusaha ia buat senormal mungkin. Ia melirik Kaisar dengan tatapan tajam, memberi kode keras agar lelaki itu tidak membuat suara sekecil apa pun.
"Are you okay? Lama banget di dalam, gue khawatir sama lo," suara Faiz terdengar lagi, kali ini nada kecemasannya meningkat.
"Ya! Gue oke, bentar lagi keluar!" jawab Raline setengah berteriak.
"Oke!"
Raline segera menarik lengan Kaisar mendekati pintu toilet. Ia lalu mendorongnya dengan tenaga sisa untuk bersembunyi di balik pintu toilet yang akan terbuka lebar nantinya.
"E-eh... Apa-apaan?" Kaisar berbisik. Tak mengerti apa yang Raline lakukan.
"Ssttt..." Raline meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Lo diam di sini. Gue mau keluar. Habis gue pergi sama Faiz, lo juga pergi. Oke?"
"Tapi..."
"Nurut aja kenapa sih?" Raline melotot tajam.
Kaisar akhirnya menurut. Ia menempelkan punggungnya ke tembok di balik pintu, menahan napas rapat-rapat.
Setelah memastikan posisi Kaisar aman, Raline menarik napas panjang, merapikan rambutnya sebentar, lalu membuka kunci dan melangkah keluar menemui Faiz.
"Lo gapapa?" tanya Faiz seketika begitu sosok Raline muncul. Matanya langsung memindai wajah gadis itu yang masih menyisakan rona pucat.
Raline mengangguk, berusaha memaksakan sebuah senyum tipis. "Gue gapapa. Udah oke kok, cuma butuh cuci muka tadi."
"Tapi muka lo pucat banget, Lin. Lo kayaknya sakit deh. Mau pulang aja atau gue temenin ke UKS?" tawar Faiz, tangannya hampir terulur untuk mengecek suhu dahi Raline, namun Raline dengan halus menghindar.
"Gak usah, Iz. Gue masih bisa lanjut ikut pelajaran. Santai aja, cuma pusing dikit karena laper tadi," tolak Raline tegas namun tetap tenang.
"Katanya tadi tersedak kuah mie instan?" Faiz kini menatapnya heran.
"Eh, i-iya... Maksudnya itu tadi emang tersedak kuah mie instan. Terus kepala gue agak pusing gara-gara tadi gak sarapan dulu." Raline segera menjelaskan, sebelum kebohongannya terbongkar.
"Oh..." Faiz tampaknya percaya.
"Iya."
"Tapi yakin nih masih mau lanjut ikut pelajaran? Jangan dipaksa kalo emang nggak kuat," Faiz memastikan sekali lagi, matanya masih menatap curiga kepada Raline.
"Iya, yakin banget. Yuk, balik ke kelas. Keburu bel masuk bunyi, nanti malah kita telat masuk," ucap Raline sambil segera menarik lengan Faiz, mengajaknya berjalan menjauh dari area toilet secepat mungkin.
Ia terus mengobrolkan hal-hal random untuk mengalihkan perhatian Faiz, memastikan pemuda itu tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Di dalam hatinya, Raline hanya bisa berdoa agar Kaisar cukup pintar untuk segera keluar dan menghilang dari sana sebelum ada siswi lain yang datang.
*****
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya