Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. LDM
Beberapa hari berlalu, Kondisi Ibu Sisil makin membaik. Kara dan yang lainnya juga sudah bertemu dengannya, Tante Mira sangat bahagia melihat mereka semua berkumpul kembali.
Terutama dengan Kara, karena tante Mira juga tahu bagaimana pernikahan keduanya yang tidak harmonis. Dia memberi nasehat, terkadang sesuatu yang kita benci, adalah hal yang paling berharga.
Sisil juga ditawarkan untuk bekerja di perusahaan Tama sebegai Asisten, agar si Dika ada teman yang membantunya. Dika langsung ingin bersujud syukur, karena selama ini dia memang keteteran.
Sisil tidak menolak, dia memang sangat butuh pekerjaan. Dulu, Tama sudah memintanya untuk bekerja di perusahaannya, tapi Sisil menolak, karena di tempat kerja sebelumnya dia masuk karena usahanya sendiri.
Sekarang dia masuk lewat jalur dalam, mungkin ada orang yang tidak suka akan hal itu. Tapi kali ini dia tidak peduli, dia hanya ingin bekerja dan dapat gaji untuk mengganti uang Kara.
Karena Kara sudah melunasi utang-utangnya di semua tempat, sedangkan Dion dan Dika juga berpatungan untuk membeli rumah kecil untuknya.
***
"Bagaimana?" tanya Tama pada seseorang ditelpon.
"Tuan, aku sudah menemukan beberapa bukti! Aku akan mengirimnya ke kantor!"
"Tidak perlu, langsung bawa ke rumah!" balas Tama sambil melihat arlojinya yang sudah hampir jam pulang.
"Baik Tuan!"
Panggilan terputus, Tama beranjak ke luar ruangan. Tama mendengar suara Dika yang terdengar menahan Emosi yang sedang mengajari Sisil.
"Pulang!" Seru Tama.
Dika dan Sisil menoleh bersama. Dika segara bersiap mengantar Tama turun ke lobby, sedangkan Sisil membereskan barang-barangnya dan membawa pekerjaannya pulang ke rumah untuk dipelajari.
Sisil menggunakan motor metik yang dibelikan Kara, dia sempat menolak karena rumah baru yang dibeli Dion tidak jauh dari Perusahaan Tama.
Ayah Sisil dulunya seorang pekerja konstruksi, dia yang akan bertanggung jawab atas proyek Ayah Tama dan Ayah Bintang, setelah proyek itu selesai beliau baru akan membeli saham di Perusahaan Ayah Tama, tapi umur tidak yang tau.
...----------------...
Tama turun dari mobil, bertepatan dengan seorang Pria yang tadi menelponnya. Dia membawa berkas dan langsung memberikan kepada Tama.
"Tuan! Semua penyelidikan ada di dalam berkas, berikut dengan bukti digitalnya!"
"Baik! Kamu sudah berkerja dengan baik. Aku akan menelponmu jika butuh bantuan lagi.!" Ujar Tama.
"Terima kasih Tuan! Saya pamit!" balasnya dan berlalu pergi menggunakan motor. Untuk masalah biaya, Tama sudah melunasinya lebih awal, dan hanya akan menerima bonusnya
Tama melangkah masuk, dan Ternyata Kara juga baru turun. Dia sedikit terlambat karena dia mandi terlebih dahulu.
***
Di malam hari Tama tiba-tiba berpamitan, jika dirinya akan keluar Negri. Ada pertemuan dengan kolega bisnisnya.
Kara terdiam sejenak, ini pertama kalinya dia akan berjauhan dengan Tama. Rasanya sedikit enggan, tapi dia tidak boleh egois.
"Berapa hari?" tanya Kara.
"Paling lama dua Minggu!" Suaranya terdengar ragu, Tama juga tidak tahu pasti berapa lama dia di sana.
"Kapan kamu berangkat? Aku akan mempersiapkan barang yang kamu bawa!" Ini adalah hal baru baginya, dia akan bertanya kepada Pak Rudi.
"Lusa! Tidak perlu siapkan banyak barang!" Tama sangat tidak suka pergi jauh dengan membawa banyak tentangan.
Dia lebih memilih yang simpel, ada uang maka semuanya akan beres. Tinggal pesan, semuanya ada di sana.
"Emm baiklah.. Kamu pergi sama Dika?" Kara hanya mengenal Dika di Perusahaan Tama, sekarang bertambah dengan Sisil.
Awalnya Tama akan berangkat dengan Dika, tapi Dika harus di Perusahaan untuk membantu Sisil.
"Tidak, aku berangkat dengan Manager.!"
Kara mengangguk paham, dia kemudian bertanya, bagaimana Sisil di kantor? Apa dia beradaptasi dengan cepat? Apa dia punya teman di sana?
Tama menjawab semua pertanyaan Kara dengan sabar, jika Sisil langsung memiliki banyak teman di kantor.
Karena Sisil memang orangnya sangat seru untuk diajak berteman. Mungkin ada diantara mereka yang tidak suka, tapi mereka tidak memperlihatkannya, karena Sisil terlihat sangat akrab dengan Tama dan Dika.
Kara ikut senang mendengarnya, dia juga akhir-akhir ini sedang memikirkan bisnis apa yang harus dia bangun, dia sangat bosan Seharian di rumah.
Tapi baru sekedar rencana, karena dia ingin menyelesaikan balas dendamnya terlebih dahulu, kebetulan Tama ingin ke luar Negri, dia bisa beraksi dengan bebas.
Dia masih tetap berpura-pura tidak tahu, jika Tama menempatkan seseorang disisinya untuk menjaga dan memantau kesehariannya.
...----------------...
Tiba kebarangkatan Tama ke luar Negri, Kara ingin mengantarnya sampai ke bandara, tapi Tama menolak, karena dia juga sangat enggan pergi.
Rasanya, jika ada waktu luang dia hanya ingin bersama dengan Kara, dia ingin mengembalikan tiga tahun yang terlewat, tapi ke luar Negri juga adalah hal yang sangat penting.
"Kamu hati-hati. Sampai di sana langsung hubungi aku! Jika kamu tidak ada kabar, aku akan mogok makan!" ancam Kara.
"Iya bawel..!" Tama memeluk Kara dengan erat. "Kamu juga baik-baik yaa! Kalau keluar tetap berhati-hati!"
Kara membalas pelukan Tama sambil menghela nafas panjang. Ternyata begini rasanya jika suami ingin berpergian jauh.
Rasanya campur aduk, pantas saja selama ini Ibunya sering ikut dengan sang Ayah jika Dinas di tempat yang jauh.
Setelah berpelukan dan saling memberi kecupan di pipi, akhirnya Tama berangkat menuju bandara, dan Kara baru masuk rumah setelah mobil menghilang dari pandangannya.
...----------------...
Di sebuah kamar yang sempit, Sarah sedang berbincang dengan Arka. Sarah terlihat sangat tidak nyaman berada di ruang sempit itu.
"Sepupumu jahat banget sih,, setidaknya dia menyewakan rumah.!" Kata Sarah dengan jijik.
Arka juga merasa sangat jengkel dengan sepupunya itu. Tapi dia bisa apa, jika dia menolak, bisa-bisa dia tinggal di kolom jembatan.
Sedangkan Kara sudah memblokir nomornya, dia masih ingin mencobanya sekali lagi, siapa tau Kara sudah sadar, dan kembali mencintainya.
"Bagaimana? Apa Kara benar-benar tahu sesuatu?" tanya Sarah dengan khawatir, dia sangat takut namanya terseret, karena waktu itu dia bersama dengan Arka.
Setelah mereka bertemu terakhir kali, Arka langsung mencari sepupunya dan memberi tahu kekhawatirannya, tentu sepupunya Bastian ikut dalam rencana itu.
"Orang suruhan itu tidak melihat tanda-tanda jika Kara sedang merencanakan sesuatu! Kara hanya bertemu dengan para sahabatnya itu!" ujarnya dengan jengkel.
Sarah juga menggerutu, karena semua usahanya sia-sia. Kenapa Kara harus kembali dengan mereka? Dia sangat cemburu, makanya dia ingin menghancurkan persahabatan mereka.
"Ck, kenapa pria itu tidak menabraknya sampai mati?" gumam Sarah dengan pelan.
"Apa maksudmu? Siapa yang kau ingin tabrak sampai mati?" Arka menatapnya dengan menyelidik. Jangan-jangan Sarah telah melakukan sesuatu tanpa sepengatahuannya.
Wajah Sarah terlihat panik dan gugup. "Ehh tidak, kau salah dengar! Aku cuman asal ngomong!".
Arka tentu tidak percaya, dia melihat jelas wajah Sarah yang panik. "Kau jangan membuat masalah lagi. Saat ini kita harus diam terlebih dahulu!"
"Baik!"
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍