NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Suasana Jakarta di pukul 21.56 WIB mulai menunjukkan wajahnya yang lain. Kemacetan horor yang tadi sore menjerat setiap jengkal aspal kini telah luruh, menyisakan jalanan yang lengang dan deretan lampu jalan yang berpendar kuning statis. Sandi memanfaatkan momentum itu; ia memutar tuas gas Ninja 150RR hijaunya dalam-dalam. Raungan mesin 2-tak yang ganas membelah kesunyian malam Jatinegara, menciptakan resonansi yang memantul di dinding-dinding ruko yang sudah tertutup rapat. Kecepatan itu seolah mewakili isi kepalanya yang masih berpacu antara kenangan ciuman Saskia dan realita perpindahan hidup yang akan terjadi besok pagi.

Tak butuh waktu lama bagi Sandi untuk memarkirkan motornya dengan presisi di teras sempit rumah kontrakannya. Bunyi logam panas dari knalpot yang mendingin menjadi latar suara saat ia melangkah masuk.

"Sandi pulang, Bu," ucapnya lirih sembari melepas jaket yang masih menyisakan aroma parfum Saskia di bagian bahunya.

Ibu Sandi yang sedang duduk di atas tikar pandan menoleh, wajahnya nampak sedikit letih namun ada binar lega di matanya. "Macet sekali ya, San? Tante Desi tidak komplain kan kamu pulangnya hampir jam sepuluh begini?"

Sandi menggeleng sembari menyalami tangan ibunya. "Sandi ga ketemu Tante Desi sih tadi bu, semoga aja ga komplain. Tadi berangkatnya saja yang parah, Bu. Pulangnya tadi sudah lowong. Ini... semuanya sudah Ibu kemas?" tanya Sandi sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kini nampak asing karena tumpukan kardus dan karung-karung berisi pakaian.

Ibu Sandi mengangguk mantap, jarinya menunjuk ke sudut ruangan. "Iya, semua pakaian, peralatan dapur yang kecil-kecil, sampai buku-buku sekolah kamu sudah Ibu masukkan. Paling cuma baju ganti buat besok pagi saja yang Ibu sisakan di luar."

Sandi terdiam sejenak, menatap tumpukan barang itu. Ada rasa sesak sekaligus syukur yang beradu. Ia lalu berjongkok di samping ibunya. "Bu, sepertinya besok Sandi nggak usah sekolah saja ya? Biar Sandi bantu-bantu di sini."

Dahi Ibu Sandi berkerut, ia menatap putranya lekat-lekat. "Loh, kenapa begitu? Kamu kan sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian, jangan sering bolos."

"Bukannya mau bolos, Bu. Tapi kan besok mau angkut-angkut barang ke mobil pickup. Kalau Sandi sekolah, masa cuma Ibu sama sopir sewaan Tante Desi doang yang kerja bakti? Nggak tega Sandi ngebayangin Ibu harus angkat-angkat sendiri," ujar Sandi dengan nada protektif yang tulus.

Ibu Sandi tersenyum, mengelus rambut putranya dengan sayang. "Nggak apa-apa, San. Toh barang kita juga nggak banyak. Paling yang penting-penting saja yang dibawa, seperti lemari kayu kecil itu dan beberapa kursi. Kasur busa ini, meja makan yang sudah reyot, dan barang-barang besar lainnya sepertinya ditinggal saja. Di paviliun sana, Kayaknya udah semuanya sudah disiapkan dengan lengkap dan layak. Kita nggak perlu bawa beban lama ke tempat baru."

Sandi menghembuskan napas panjang, kepalanya manggut-manggut mengerti. "Iya sih, Tante Desi memang orangnya perfeksionis. Pasti disana jauh lebih nyaman. Ya sudah kalau begitu, besok Sandi tetap sekolah."

"Nah, gitu dong. Jaga prestasi kamu, sebentar lagi kamu ujian Nasional, belajar yang benar," sahut Ibunya lembut. "Ayo sekarang kita tidur. Sudah malam sekali, Ibu tidak mau kesiangan shalat Tahajud. Ibu mau curhat sama Gusti Allah, minta doa supaya kepindahan kita besok membawa berkah buat kamu dan keluarga Saskia."

Sandi mengangguk patuh. Mereka berdua akhirnya merebahkan tubuh di atas kasur tipis yang permukaannya sudah mulai terasa keras karena busanya yang menipis dimakan usia. Kasur itulah yang menjadi saksi bisu tumbuh kembang Sandi; tempat ia menangis saat ayahnya meninggal, tempat ia belajar hingga larut malam saat ujian SD, dan kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya di Jatinegara.

Di kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu jalan dari celah ventilasi, Sandi menatap langit-langit plafon yang bocor. Di telinganya masih terngiang tawa Saskia, dan di bibirnya masih terasa perih yang manis. Besok, ia tidak hanya pindah rumah, tapi ia sedang melangkah masuk ke dalam sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang laki-laki yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Fajar menyingsing di ufuk timur Jatinegara, membawa semburat warna ungu keemasan yang menembus celah-celah ventilasi kayu rumah kontrakan Sandi. Suara adzan Subuh berkumandang saling bersahutan dari corong-corong masjid di sekitar gang sempit, memecah kesunyian malam yang tadinya begitu lelap. Sandi mengerjapkan matanya, merasakan dinginnya ubin semen yang merambat melalui kasur tipisnya.

Saat nyawanya mulai terkumpul, pemandangan pertama yang ia lihat adalah punggung ibunya yang terbalut mukena putih, sedang bersujud dengan khusyuk di atas sajadah usang. Keheningan itu terasa sakral, seolah sang ibu sedang membisikkan seluruh harapannya untuk lembaran hidup baru mereka hari ini.

"San, mandi sana, terus shalat. Jangan sampai kesiangan, udara pagi ini bagus buat paru-paru kamu," ucap Ibu Sandi pelan sesaat setelah mengakhiri doanya dengan usapan tangan ke wajah.

Sandi mengangguk pelan, badannya masih terasa sedikit kaku. "Iya, Bu. Sandi mandi dulu."

Ia melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut rumah. Guyuran air sumur yang sedingin es seketika melenyapkan sisa kantuknya. Setelah berpakaian rapi dengan seragam putih-biru yang sudah disetrika licin oleh ibunya, Sandi menunaikan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Di atas sajadahnya, ia sempat terdiam sejenak, membayangkan bahwa ini adalah kali terakhir ia bersujud di bawah atap yang selama bertahun-tahun melindunginya dari hujan dan panas.

"Ibu, Sandi pamit ya. Berarti kita nanti tidak ketemu di sini lagi, tapi langsung di rumah Saskia sore nanti," pamit Sandi sembari meraih tas sekolahnya.

Ibu Sandi mengangguk mantap, meski ada guratan haru yang tak bisa disembunyikan. "Iya, Nak. Nanti setelah kamu berangkat, Ibu sekalian mau keliling sebentar, pamitan sama tetangga kanan-kiri yang sudah sering bantu kita. Kamu hati-hati bawa motornya, jangan pikiran melayang ke mana-mana."

Sandi mencium tangan ibunya dengan takzim. "Iya, Bu. Sandi berangkat ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," balas sang ibu sembari melambaikan tangan, menatap punggung putranya yang melangkah keluar gerbang dengan dada yang kini terasa lebih lapang.

Sandi segera menghampiri Ninja 150RR hijaunya. Ia memutar kunci kontak dan menarik tuas gas hingga mesinnya menderu rendah di tengah pagi yang masih berkabut tipis. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Jika biasanya jok belakang dan bagian depan motornya penuh sesak dengan bungkusan plastik berisi pakaian bersih milik pelanggan laundry yang harus ia antar sebelum bel sekolah berbunyi, kini motor itu terasa begitu ringan.

Tidak ada lagi bau harum detergen murah yang biasanya mengikuti perjalanannya. Kemarin adalah hari terakhir ibunya membanting tulang sebagai buruh cuci rumahan dengan upah yang tak seberapa. Mulai hari ini, beban berat dari keranjang cucian kotor orang lain itu resmi ditanggalkan, diganti dengan babak baru sebagai pengelola rumah tangga di kediaman mewah keluarga Saskia.

Sandi melajukan motornya membelah jalanan Jakarta yang mulai menggeliat. Di balik helmnya, ia tersenyum tipis. Kebebasannya dari tumpukan cucian pagi ini seolah menjadi simbol kecil bahwa roda nasibnya sedang bergerak ke atas. Ia tak lagi harus malu dengan bau parfum laundry di seragamnya; kini, ia berangkat sebagai calon pelindung bagi gadis yang telah memberikan harapan baru bagi keluarganya.

Udara pagi di area sekolah masih menyisakan sisa embun yang menempel di pucuk-pucuk daun glodokan tiang. Jarum jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan Sandi menunjukkan pukul 05.48 WIB saat ban motor Ninjanya menyentuh aspal parkiran. Suasana masih sangat sunyi; hanya ada deru mesin motornya yang memantul di dinding-dinding gedung kelas yang masih terkunci rapat. Beberapa pedagang kantin tampak sibuk menurunkan boks plastik berisi gorengan, sementara Pak Satpam di gerbang depan masih menyeruput kopi hitamnya dengan santai.

Sandi memarkirkan motor kesayangannya di sudut yang teduh, tempat favoritnya agar cat hijau motornya tidak lekas pudar tersengat matahari. Setelah memastikan kunci stang terpasang sempurna, ia menyampirkan tas punggungnya dan melangkah dengan santai menuju gedung utama. Namun, baru saja satu kakinya berpijak pada anak tangga pertama menuju lantai dua, sebuah suara yang sangat ia kenali memecah keheningan koridor.

"Sandi!"

Sandi refleks menoleh. Di ujung selasar, tampak sosok wanita bersahaja dengan jilbab rapi dan map di dekapan dadanya. Itu adalah Ibu Wulan, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas 3-A yang sangat dihormati karena kesabarannya.

"Selamat pagi, Bu Wulan," sapa Sandi dengan sopan, menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.

Ibu Wulan berjalan mendekat, seulas senyum bangga terukir di wajahnya yang teduh. "Selamat pagi, Sandi. Ibu sudah mengira itu kamu. Sepertinya sejak kelas satu sampai sekarang sudah mau lulus, rekor kamu sebagai siswa paling pagi datang ke sekolah belum terpatahkan ya?"

Sandi terkekeh kecil, jari telunjuknya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Sayang kalau melewatkan udara segar pagi hari, Bu. Di jalan juga belum banyak asap knalpot, jadi otak rasanya lebih plong," jawabnya merendah.

Ibu Wulan mengangguk-angguk, matanya menatap Sandi dengan penuh apresiasi. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ikut Ibu ke kantor guru sebentar yuk? Ada dokumen beasiswa kelas tiga yang belum kamu tanda tangani. Kemarin saat pembagian raport semester lalu, hanya ibumu yang hadir, dan pihak yayasan meminta tanda tangan siswa yang bersangkutan juga sebagai penerima manfaat."

Sandi sedikit meringis, merasa tidak enak hati. "Duh, maaf ya Bu. Kemarin saya memang sibuk sekali membantu pekerjaan Ibu di rumah, jadi tidak sempat ikut ke sekolah. Saya pikir tanda tangan Ibu saja sudah cukup."

Ibu Wulan menepuk bahu Sandi dengan lembut, gestur yang menunjukkan kedekatan seorang guru dengan murid kesayangannya. "Ibu mengerti, Sandi. Semua guru di sini tahu kamu anak yang sangat berbakti dan mandiri. Justru karena itulah yayasan tidak ragu memberikan bantuan ini padamu. Ayo, mumpung anak-anak lain belum datang dan kantor masih sepi."

Sandi mengekor di belakang Ibu Wulan melewati deretan ruang kelas yang masih gelap. Setibanya di ruang guru yang ber-AC, aroma kertas dan minyak kayu putih tercium samar. Ibu Wulan mempersilakan Sandi duduk di kursi kayu di depan mejanya yang rapi. Ia kemudian membuka sebuah map berlogo yayasan sekolah.

"San, ini rincian beasiswa penuh kamu untuk semester satu ini. Biaya SPP, uang buku, sampai uang kegiatan praktikum sudah ter-cover semua," jelas Ibu Wulan sembari menunjukkan lembaran kertas resmi tersebut. "Pesan Ibu satu, jaga terus prestasimu. Kalau di akhir semester nanti nilaimu tetap stabil atau bahkan naik, pihak yayasan berjanji akan memperpanjang beasiswa ini sampai kamu lulus nanti. Kamu mengerti kan?"

Sandi mengangguk mantap, hatinya bergetar penuh rasa syukur. Di tengah rencana kepindahannya ke rumah Saskia dan impiannya masuk SMA Bhayangkara, kabar ini bagaikan suntikan semangat baru. Ia meraih pulpen yang disodorkan Ibu Wulan dan membubuhkan tanda tangannya di kolom yang tersedia, tepat di samping guratan tanda tangan ibunya yang nampak sedikit kaku namun penuh doa.

Setelah urusan administrasi selesai, Ibu Wulan tiba-tiba meraih sebuah nasi bungkus yang masih hangat dari atas mejanya. Tanpa ragu, ia menyodorkannya kepada Sandi.

"Ini buat kamu, San. Ambil ya. Ibu tahu, anak serajin kamu pasti belum sempat sarapan karena buru-buru berangkat tadi," ujar Ibu Wulan.

Sandi tertegun sejenak, menatap bungkusan kertas cokelat itu. "Ini buat Sandi, Bu? Tapi ini kan jatah sarapan Ibu?"

Ibu Wulan tersenyum tulus. "Ambil saja. Kebetulan hari ini Ibu sedang menjalankan puasa Daud, jadi jatah sarapan yang disediakan ketua yayasan untuk guru ini tidak Ibu makan. Daripada mubazir, lebih baik buat kamu. Makan di kelas saja ya, jangan sampai perut kosong saat jam pelajaran pertama dimulai."

Mata Sandi berbinar, ia menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. "Wah, makasih banyak ya, Bu. Kebetulan perut saya memang sudah mulai konser sejak tadi di parkiran."

"Sama-sama, Sandi. Ingat, jaga terus prestasimu dan jangan kecewakan ibumu yang sudah berjuang keras," pesan Ibu Wulan sekali lagi.

Sandi berdiri, lalu menyalami tangan Ibu Wulan dengan takzim, mencium punggung tangan gurunya sebagai bentuk syukur atas ilmu dan perhatian yang diberikan. "Sandi permisi dulu ke kelas ya, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak buat sarapannya."

Ibu Wulan mengangguk mantap, menatap kepergian Sandi dengan perasaan haru. Ia tahu, di balik seragamnya yang sederhana, Sandi membawa beban hidup yang berat, namun pemuda itu selalu mampu berjalan dengan kepala tegak.

Sandi melangkah keluar ruang guru dengan hati yang riang. Sambil menenteng nasi bungkus hangat, ia menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua. Pagi ini terasa begitu berkah; satu beban biaya sekolah telah terangkat, dan perutnya pun akan segera terisi.

Langkah kaki Sandi terasa ringan saat menapaki lantai dua gedung sekolah. Sebelum masuk ke kelas, ia mampir sejenak ke wastafel di samping tangga, membasuh tangannya hingga bersih dari sisa debu jalanan Jatinegara. Setelah itu, ia melangkah masuk ke kelas 3-A yang masih sunyi senyap, hanya ada deru kipas angin plafon yang berputar malas.

Sandi menghempaskan punggungnya di sandaran kursi kayu favoritnya. Ia membuka bungkusan nasi dari Ibu Wulan dengan perlahan. Aroma ayam goreng rempah langsung menyeruak, berpadu dengan gurihnya bihun dan pedas manis kentang balado yang menggoda selera.

"Bismillah," gumamnya pelan.

Sandi menikmati setiap suapan dengan khidmat. Namun, tepat saat nasi di bungkusannya tinggal dua suapan terakhir, sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun ritmenya sangat ia kenali terdengar mendekat. Begitu sampai di ambang pintu, sebuah lengkingan manja memecah keheningan kelas.

"Sayang!!!"

Huk... uhuk uhuk!

Sandi tersedak hebat. Sebutir kentang balado seolah tersangkut di tenggorokannya. Wajahnya seketika memerah, matanya berair menahan perih. Saskia, yang baru saja tiba dengan napas terengah karena berlari dari parkiran, malah menghampiri Sandi dengan senyum ceria tanpa menyadari gawat darurat yang ia ciptakan.

Sandi buru-buru merogoh tasnya, menarik botol minum plastik miliknya dan menenggaknya dengan rakus. Glek... glek... glek! Air di dalam botol itu tandas seketika.

Setelah napasnya kembali normal, Sandi menatap Saskia yang masih berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosa. "Oneng! Pe'a lo ya! Gue mau mati keselek bukannya dibantuin, malah cengar-cengir nggak jelas begitu!" protes Sandi dengan suara yang masih agak serak.

Saskia mengerjapkan matanya, sedikit kaget. "Eh, Sayang keselek toh? Aku kira kamu tadi mendadak kaku karena terpesona melihat aku datang pagi-pagi begini."

Sandi menggelengkan kepala, mencoba mengatur detak jantungnya. "Gue kaget karena lo manggil 'Sayang-Sayang'! Lo lupa apa yang kita bahas tadi malam sama Ibu? Awas saja ya, kalau sampai lo keceplosan di depan guru atau anak-anak lain, gue beneran mundur dari perjodohan ini dan gue suruh Nyokap keluar dari rumah lo saat ini juga!"

Wajah Saskia seketika berubah. Ia tampak tersentak dan merasa bersalah. Tanpa ragu, ia berlutut di samping kursi Sandi, mengguncang-guncang paha pemuda itu dengan wajah memelas. "Ihh Say— eh, Sandi, maafin aku. Aku kelewat senang pas di parkiran lihat motor kamu sudah ada. Aku buru-buru lari ke sini karena kangen. Janji deh, nggak bakal diulangi di depan umum."

Sandi menghela napas, lalu mendaratkan sentilan lembut di dahi Saskia. Tak! "Lain kali lihat situasi dan kondisi, Oneng."

Saskia kembali tersenyum manis, mengusap dahinya. "Iya, Say— eh, San."

"Awas, gue mau lanjutin suapan terakhir. Lo sendiri sudah sarapan belum?" tanya Sandi sembari meraih bungkusan nasinya kembali.

Saskia berdiri dan menarik kursi di sebelah Sandi, duduk dengan posisi sangat dekat. "Aku sudah sarapan roti tadi, Yang."

Sandi langsung melotot. "Wewe! Gue cabein beneran mulut lo lama-lama kalau nggak bisa ngerem. Panggil nama gue! Inget itu!"

Saskia nyengir lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Hehe, iya Sandi. Tapi... suapin dong, aku mau ngerasain nasi kamu."

"Gue nggak pakai sendok, Sas. Tangan gue bekas makan nih," tolak Sandi.

"Nggak apa-apa, pakai tangan kamu saja. Aku mau," desak Saskia manja.

"Nggak jijik lo?"

Saskia menggeleng mantap. "Gapapa kok, kan tangan kamu. Aku yakin kamu itu orangnya bersih, San."

Sandi hanya bisa menghela napas panjang, tak kuasa menolak binar mata Saskia. "Iya nih, buka mulut lo. Aaa..."

Tepat saat Sandi menyuapkan sejumput nasi ke mulut Saskia, sebuah suara dehaman terdengar dari arah pintu.

"Eehemm! Pagi-pagi sudah adegan suap-suapan saja nih di kelas."

Anggita melangkah masuk dengan gaya santainya, tas sekolah tersampir di satu bahu. Ia menghampiri meja mereka dan langsung menaruh wajah penuh harap. "Gue juga mau dong, San! Aaa..."

Sandi melongo. "Lah, jadi ajang bakti sosial suap-suapan nih?"

"Cepetan! Keburu bel! Pegel nih mulut gue!" seru Anggita tak mau kalah.

Saskia terkekeh pelan meski mulutnya masih penuh dengan nasi. Sandi akhirnya menyerah dan menyuapkan nasi terakhir yang tersisa di bungkusan itu ke mulut Anggita.

"Gila lo pada, nasi gue tinggal dua suap terakhir masih saja diembat," gerutu Sandi sembari melipat kertas pembungkus nasi.

Anggita menyahut dengan mulut penuh, suaranya jadi tidak jelas. "Agian alang anget o alapan i ela (Lagian jarang banget lo sarapan di kelas)."

"Habisin dulu, baru ngomong, Git," potong Sandi sambil terkekeh bersama Saskia.

Setelah menelan nasinya, Anggita baru bisa bicara lancar. "Lagian aneh saja lihat lo bawa sarapan. Biasanya kan lo selalu bilang sudah sarapan di rumah."

"Ini dari Bu Wulan. Tadi pagi gue dipanggil ke ruang guru buat tanda tangan formulir beasiswa. Kebetulan beliau lagi puasa Daud, jadi jatah sarapan dari yayasan dikasih ke gue," jelas Sandi.

Saskia manggut-manggut. "Iya, makanya aku tadi minta juga. Biar bisa ngerasain gimana rasanya sarapan bareng kamu di sekolah, San."

Sandi pun berdiri dari kursinya. "Mau ke mana, San?" tanya Saskia dan Anggita kompak secara serempak.

Sandi tertegun, menatap mereka berdua bergantian. "Bisa barengan gitu ngomongnya? Kompak amat."

Anggita dan Saskia malah tertawa renyah menyadari kekompakan mendadak mereka.

"Gue mau cuci tangan, sekalian isi ulang botol minum ke ruang guru. Kenapa? Mau ikut?" tawar Sandi.

Keduanya menggelengkan kepala secara serempak lagi, persis seperti boneka pajangan. Sandi tertawa geli melihat tingkah mereka. "Lo berdua sudah kayak Unyil sama Ucrit tahu nggak. Ya sudah, gue keluar dulu."

Lagi-lagi, Saskia dan Anggita mengangguk serempak. Sandi hanya bisa menggelengkan kepala, meninggalkan kelas dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

Langkah kaki Sandi bergema pelan di koridor kelas yang mulai riuh dengan kedatangan satu per satu siswa kelas 3-A. Begitu ia melangkah masuk, pemandangan di depannya cukup kontras dengan suasana tegang semalam; Anggita dan Saskia tampak tertawa geli, seolah-olah mereka sudah menjadi sahabat karib sejak lama.

Sandi menghampiri meja mereka sembari menaruh botol minumnya yang sudah terisi penuh. "Weh, asyik bener. Lagi gosipin siapa lo pada? Tumben banget kompak begini," tanya Sandi dengan nada menyelidik.

Saskia mendongak, matanya berbinar dengan kepolosan yang kadang bikin Sandi elus dada. "Gosipin kamu, San! Kan hari ini kamu resmi pindah ke rumahku, kan?"

Sandi langsung pasang ekspresi siaga satu. Ia melirik kanan-kiri, memastikan tidak ada telinga "intel" sekolah yang mendengar. "Beda rumah ya, mohon diperjelas biar nggak jadi fitnah. Gue tinggal di paviliun belakang rumah Saskia, bukan satu atap sama Saskia. Catat itu, Sas!" tegas Sandi.

Saskia justru mengerucutkan bibirnya. "Padahal kalau satu atap lebih enak lagi tahu, San."

Anggita meledakkan tawa gelinya, hampir saja ia tersedak sisa nasinya tadi. "Lo ngaco saja, Sas! Sandi tuh harga dirinya setinggi langit. Kalau keluarga lo nggak nyiapin paviliun terpisah di belakang rumah, gue yakin Sandi bakal nolak mentah-mentah tawaran itu."

Sandi menjentikkan jarinya ke arah Anggita. "That's right! Tepat sekali."

Saskia tampak tidak mau kalah, ia ingin menjelaskan posisi Sandi di keluarganya sekarang. "Kan Kakekku sudah mau menj—"

Tak!

Sebuah sentilan mendarat telak di kening Saskia. Kali ini Sandi tidak main-main, tatapannya tajam menghujam mata Saskia, memberi sinyal "bahaya" yang sangat jelas. "Apa? Mau lo lanjutin lagi omongannya?"

Anggita terlonjak kaget, matanya membelalak melihat Sandi yang mendadak "ganas" dan tangannya memukul lengan Sandi secara refleks. "Lah, ngapa San? Kok Saskia lo sentil begitu? Kasihan itu keningnya sampai merah!"

Sandi tetap menatap Saskia dingin. "Dia kalau nggak disentil, otaknya nggak bakal lurus ngomongnya. Isinya belok-belok mulu."

Anggita yang tidak tahu menahu soal rahasia perjodohan itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Aneh lo berdua. Eh, gue ke kantin dulu ya. Gue mau beli sandwich, perut gue masih butuh asupan. Lo mau nitip nggak?"

Sandi merogoh kantong celananya, hendak mengeluarkan uang receh. "Gue titip kacang kulit kalau nggak makaroni yang pedas, Nggi. Buat ngemil pas pelajaran dimulai biar nggak ngantuk."

Baru saja Anggita hendak meraih uang Sandi, tangan mungil Saskia bergerak lebih cepat menahannya. "Pakai uangku saja nih, Nggi. Sekalian kamu pakai uangku juga buat sandwich-mu," ucap Saskia sembari menyodorkan selembar uang berwarna biru.

Anggita tersenyum lebar, matanya berbinar melihat "traktiran" dadakan. "Wah, kalau dibayarin mah, haram buat gue nolak. Rezeki anak soleha! Lo mau beli apa, Sas?"

"Ada cokelat bar nggak?" tanya Saskia penuh harap.

Anggita mengernyit sejenak. "Ada sih, tapi merk-nya bukan kayak di minimarket atau mal yang biasa lo makan. Merk lokal kantin punya, nggak apa-apa emang?"

Saskia mengangguk mantap tanpa ragu. "Nggak apa-apa, yang penting cokelat."

"Oke! Makaroni pedas buat Sandi dan cokelat bar buat Tuan Putri. Gue cabut dulu!" Anggita segera melesat meninggalkan kelas menuju kantin.

Begitu sosok Anggita hilang dari pandangan, Sandi langsung menoleh tajam ke arah Saskia. Aura di sekitar mereka mendadak dingin. "Sekali lagi lo keceplosan soal kakek atau perjodohan itu depan anak-anak, kita batal, Sas! Paham lo?"

Saskia seketika menciut. Ia menunduk dalam-dalam, merasa sangat bodoh karena hampir saja membongkar rahasia besar mereka. Dengan gerakan dramatis namun tulus, ia mulai memukuli mulutnya sendiri berkali-kali. "Maaf... mulut nakal! Maaf Sandi... aku tadi kelepasan."

Sandi menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang naik-turun. "Hampir saja, Sas. Kalau Anggita curiga, bisa berabe urusannya seantero sekolah."

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!