NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mesin Ninja 150RR itu kembali menderu pelan, getarannya merambat halus ke seluruh badan motor saat Sandi bersiap menarik tuas gas. Saskia, yang masih setia berdiri di samping jok, menepuk pundak Sandi dengan gerakan yang kini jauh lebih santai dan akrab.

"Sayang? Sini satenya, biar aku yang pegang saja. Daripada digantung di stang, nanti plastiknya goyang-goyang terus kena kaki kamu, ribet bawanya," ujar Saskia sembari mengulurkan tangan.

Sandi melirik kantong plastik berisi tiga bungkus sate yang aromanya masih sangat kuat itu. Tanpa banyak protes, ia melepaskan gantungan plastik tersebut dan memberikannya kepada Saskia. "Hati-hati, kuahnya kental, jangan sampai miring nanti tumpah ke seragam lo," pesan Sandi telaten. Ia memastikan posisi duduk Saskia sudah stabil sebelum bertanya, "Udah siap?"

Saskia mengangguk mantap, mendekap bungkusan hangat itu di pangkuannya. "Siap, Sayang!"

Sandi tersenyum tipis di balik helmnya, lalu meluncur membelah aspal menuju kawasan Jatinegara. Tak butuh waktu lama, deru mesin 2-tak itu mulai memasuki labirin gang sempit yang menjadi urat nadi pemukiman padat penduduk tersebut. Di salah satu sudut gang, beberapa pemuda seumuran Sandi yang sedang nongkrong di atas balai-balai bambu langsung berdiri tegak saat melihat motor hijau yang sangat mereka kenali itu lewat.

"Anjing! Gila lo, San! Udah bawa bidadari saja lo sekarang!" seru salah satu teman tongkrongannya dengan nada iri sekaligus kagum.

Sandi mengerem motornya sejenak, cengengesannya pecah. "Hahaha, ngaco lo! Ini temen sekelas gue. Gue mau anterin dia pulang, tapi mampir dulu izin ke Nyokap. Takutnya Nyokap nyariin kalau gue balik kemalaman," kilahnya memberikan alasan logis agar teman-temannya tidak bertanya lebih jauh tentang status Saskia.

Teman-teman Sandi mengangguk-angguk paham, meski mata mereka masih tak lepas menatap kecantikan Saskia yang terlihat sangat kontras dengan lingkungan kumuh tersebut. "Ya sudah, sono masuk. Jangan lama-lama, nanti Nyokap lo khawatir. Kalau beliau sampai nyari-nyari kemari sambil bawa sapu, berabe urusan kita!"

Sandi tertawa lepas. "Gue balik ya, duluan!" Ia kembali memacu motornya perlahan hingga tiba tepat di depan sebuah rumah petak sederhana dengan cat yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian.

Sandi turun, lalu dengan gerakan sigap membukakan helm Saskia. "Ini gubuk gue, Sas. Gimana? Jauh beda kan sama istana lo di Pondok Indah?" tanya Sandi, ada nada getir yang berusaha ia tutupi dengan candaan.

Saskia tertegun sejenak. Matanya menyapu pemandangan di depannya—sebuah rumah kontrakan kecil dengan teras yang hanya cukup untuk satu motor, dinding yang lembap, dan jemuran yang berdesakan. Hatinya mencelos, bukan karena merasa jijik, melainkan karena ia baru menyadari betapa kerasnya perjuangan Sandi selama ini untuk tetap terlihat tegar di sekolah.

"Nggak apa-apa kok, Sayang. Rumah itu soal orang yang ada di dalamnya, bukan soal megahnya. Yuk kita masuk, perut aku beneran sudah konser nih," sahut Saskia lembut, berusaha menjaga perasaan Sandi agar tidak merasa rendah diri.

Sandi mengangguk, lalu membuka pintu kayu yang berderit pelan. "Sandi pulang, Bu!" teriaknya memberi salam.

Ibu Sandi, seorang wanita dengan guratan lelah namun teduh di wajahnya, baru saja keluar dari kamar mandi dengan tangan yang masih basah. Matanya membelalak saat melihat sosok gadis cantik berseragam sekolah berdiri di belakang putranya.

"Eh, ada Saskia? Loh, kok nggak langsung dianterin pulang, San? Ini sudah jam berapa, nanti Mamanya nyariin loh. Nggak enak kita sama keluarga mereka," ujar Ibu Sandi dengan nada cemas yang kental.

Sandi segera menjelaskan situasi yang terjadi. "Tadi sudah di jalan mau ke rumahnya, Bu. Tapi Saskia mendadak ngerengek minta makan malam pakai Sate Padang Rawamangun. Eh, pas sampai di sana tempatnya penuh banget, nggak ada meja kosong. Jadi kita putuskan bungkus saja dan makan di sini, biar kita bisa makan bareng-bareng sama Ibu juga."

Saskia melangkah maju, memberikan senyum paling manis yang ia miliki. "Iya, Tante. Ayo kita makan malam bertiga dulu. Kan besok Tante sama Sandi sudah resmi pindahan ke rumahku, jadi ini makan malam terakhir di sini."

Ibu Sandi terlonjak kaget, tangannya refleks memegang pinggiran meja. "Eh? Besok, San? Pindahannya besok?"

"Iya, Bu. Tadi Mamanya Saskia bilang, besok pagi mobil pick-up yang disewa bakal datang ke sini buat bantu angkut barang-barang kita," jelas Sandi tenang.

"Wah, kalau begitu kita harus kemas baju-baju dan perabotan malam ini juga, San! Ibu belum siap-siap sama sekali!" seru Ibunya panik, matanya mulai liar menatap tumpukan barang di sudut ruangan.

Sandi terkekeh kecil, mencoba menenangkan suasana. "Nggak harus semuanya dikemasin malam ini, Bu. Barang yang besar-besar saja yang didahului. Kita masih bisa cicil sisanya nanti, lagian kita juga belum pamitan resmi ke tetangga sebelah. Jadi nggak usah buru-buru sampai panik begitu. Sekarang, fokus kita makan malam dulu. Kasihan Saskia kalau kelamaan nunggu, nanti maagnya kambuh dan kemalaman sampai rumah."

Ibu Sandi tersentak, wajahnya penuh rasa bersalah. "Aduh, maaf ya Saskia. Ibu jadi panik sendiri karena kabarnya mendadak banget. Maaf ya kalau penyambutannya jadi begini."

Saskia tertawa kecil, suaranya terdengar merdu di ruangan sempit itu. "Iya Tante, nggak apa-apa kok. Saskia maklum banget."

"Ya sudah, kalau begitu Ibu siapkan piring dan minumnya dulu ya. Kalian duduk dulu," ujar Ibu Sandi bergegas menuju dapur kecilnya.

"Sas, kasih Ibu bungkusan satenya," perintah Sandi.

Namun, Saskia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia meletakkan tasnya di atas kursi kayu dan segera menyusul Ibu Sandi ke dapur. "Biar Saskia bantu ya, Tante. Saskia mau belajar jadi asisten Tante di dapur."

Ibu Sandi tersenyum haru, melihat ketulusan gadis itu. "Iya, ayo. Kita siapkan sama-sama di meja makan."

Sandi berdiri mematung di tengah ruangan, memerhatikan punggung Saskia yang sibuk membantu ibunya menata piring. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan haru yang sulit ia lukiskan dengan kata-kata. Ia tidak pernah membayangkan bahwa teman SD-nya yang dulu sering ia ledek karena sifat "oneng"-nya, kini berdiri di rumahnya sebagai calon tunangan yang begitu rendah hati.

Di dalam hati, Sandi bergumam penuh syukur. Ia melihat sosok Saskia bukan lagi sekadar gadis kaya yang manja, melainkan kepingan takdir yang dikirimkan Tuhan untuk mengubah hidupnya dan ibunya menjadi lebih baik. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan Pondok Indah, Saskia memiliki hati yang seluas samudera, yang mampu menerima "gubuk" Jatinegara-nya tanpa sedikit pun rasa risih.

Meja kayu sederhana di ruang tengah itu kini berubah menjadi pusat kehangatan. Saskia, dengan cekatan yang kontras dengan citra "putri keraton"-nya, menyusun piring-piring berisi sate Padang yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan sempit itu. Kuah kuning kental yang kaya rempah tampak berkilau di bawah cahaya lampu neon yang agak temaram, menggoda selera siapa pun yang menghirup uap panasnya.

Ibu Sandi menyusul dari belakang, membawa teko berisi air putih dan gelas-gelas kaca. Senyumnya tak lepas melihat bagaimana Saskia begitu antusias menyiapkan makan malam di rumah kontrakan yang jauh dari kata mewah ini.

"Ayo Sas, duduk. Jangan berdiri terus, kita makan sama-sama selagi masih hangat," ujar Ibu Sandi lembut sembari meletakkan gelas di depan masing-masing kursi.

Saskia mengangguk patuh, menarik kursi kayu yang sedikit berderit. "Yang! Ayo makan sini, jangan bengong di depan pintu terus," panggilnya spontan sembari menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Ibu Sandi yang baru saja akan menuangkan air, seketika menghentikan gerakannya. Sebuah tawa kecil yang tertahan lolos dari bibirnya saat mendengar panggilan akrab yang meluncur begitu alami dari mulut Saskia. Suasana yang tadinya biasa saja mendadak berubah menjadi sedikit jenaka sekaligus canggung bagi Sandi.

"Ehem... San! Sepertinya Ibu ketinggalan berita banyak ya? Panggilan kamu sudah berubah drastis dalam satu malam," goda Ibu Sandi sembari melirik putranya dengan tatapan penuh arti.

Sandi yang baru saja mencuci tangan langsung salah tingkah. Ia menarik kursi dengan kasar untuk menutupi rasa malunya. "Tuh, Bu! Si Oneng ini memang nggak bisa dikasih tahu. Dari tadi pagi ketemu di sekolah, mulutnya sudah asal jeplak begitu. Sandi bahkan sudah ancam dia, kalau di depan teman-teman atau di depan umum dia berani panggil 'sayang-sayang', perjodohan ini Sandi anggap batal!"

Saskia tidak terlihat takut sama sekali. Ia justru menjulurkan lidahnya sedikit ke arah Sandi sebelum menoleh ke arah Ibu Sandi dengan wajah memelas yang dibuat-buat. "Iya, tapi kalau nggak ada orang lain begini, cuma ada kita bertiga saja, boleh kan, San? Tante?"

Ibu Sandi meletakkan teko air dan duduk di hadapan mereka berdua. Wajahnya berubah menjadi lebih bijak. "Sebenarnya secara etika belum boleh, Nak Saskia. Kita kan kemarin baru tahap pembicaraan awal, baru persetujuan keluarga. Tapi kalau nanti sudah diresmikan dalam acara pertunangan, barulah itu pantas dilakukan."

Sandi langsung membusungkan dada, merasa mendapat pembelaan dari sang Ibu. "Tuh, dengerin! Ibu saja bilang belum boleh! Ngeyel sih lo kalau dibilangin. Rasain tuh kena semprot Ibu!"

Saskia mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit cemberut namun matanya tetap berbinar jenaka. "Kan buat latihan saja, San. Kamu itu sudah jadi calon suami masa depanku. Masa belajar memanggil dengan panggilan sayang saja diprotes terus. Nanti kalau sudah nikah aku malah kaku panggilnya, gimana?"

Sandi hanya bisa menoleh ke arah ibunya yang kini sedang menutupi mulutnya, berusaha sekuat tenaga menahan tawa melihat interaksi kedua remaja di depannya.

"Iya, Tante mengerti maksud Saskia," ujar Ibu Sandi akhirnya menenangkan keadaan. "Begini saja, kalau di depan Ibu atau saat kita hanya bertiga seperti ini, Tante nggak keberatan. Tapi tolong, jangan dilakukan di depan banyak orang, terutama di depan Mama kamu dan keluarga besar di Pondok Indah. Tahan dulu sampai tanggalnya ditentukan dan kalian resmi bertukar cincin. Jaga wibawa keluarga masing-masing juga, ya?"

Saskia seketika berubah ceria kembali. Ia tersenyum sangat manis hingga matanya menyipit. "Iya, Saskia janji, Tante! Makasih ya sudah kasih izin latihan."

Ibu Sandi menggelengkan kepala sembari tersenyum haru. "Ya sudah, masalah panggilan kita simpan dulu. Sekarang, mari kita mulai makan malam terakhir di meja ini. Berdoa dulu, yuk."

Sandi memimpin doa singkat, mensyukuri rezeki dan jalan yang Tuhan berikan melalui keluarga Saskia. Setelah itu, mereka bertiga mulai menikmati sate Padang legendaris dari depan Apotik Rini tersebut. Suasana rumah kontrakan yang sempit itu mendadak terasa begitu luas karena dipenuhi oleh tawa, canda, dan cerita-cerita ringan tentang sekolah. Ibu Sandi sesekali menceritakan betapa bandelnya Sandi saat kecil, yang dibalas dengan tawa puas dari Saskia.

Malam itu, di bawah atap Jatinegara yang akan segera mereka tinggalkan, ikatan antara Sandi, Ibunya, dan Saskia semakin menguat—sebuah pondasi keluarga baru yang sedang dibangun di atas sepiring sate dan sejuta harapan masa depan.

Suara detak jam dinding tua di ruang tengah rumah kontrakan itu seolah berpacu dengan denyut jantung Sandi yang kian menghangat. Makan malam sederhana namun penuh makna itu akhirnya usai, menyisakan piring-piring bersih yang aroma bumbunya masih tertinggal di udara. Sandi bangkit, merapikan duduknya, lalu menatap sang Ibu dengan tatapan meminta izin.

"Bu, Sandi antar Saskia pulang dulu ya. Sudah mau jam delapan malam, takutnya nanti jalanan makin padat dan kemalaman sampai Pondok Indah," ujar Sandi pelan namun tegas.

Ibu Sandi mengangguk dengan binar mata yang teduh. "Iya, Nak. Hati-hati ya di jalan, jangan mengebut. Saskia, terima kasih banyak ya sudah repot-repot bawakan sate Padang yang enak sekali ini. Sampaikan salam hangat Tante buat Mama kamu."

Mendengar itu, Saskia tidak sekadar membalas dengan senyuman formal. Tanpa rasa canggung atau jijik sedikit pun terhadap daster lusuh yang dikenakan Ibu Sandi, ia melangkah maju dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. "Iya Tante, sama-sama. Saskia juga senang sekali bisa makan malam bareng-bareng malam ini. Rasanya hangat banget," ucapnya tulus.

Ibu Sandi tertegun sejenak, lalu tangannya yang mulai keriput terangkat untuk mengelus lembut kepala Saskia. "Mulai besok kita akan lebih sering bertemu, Nak. Jadi kita bisa makan sama-sama lagi sesering mungkin."

Saskia mengangguk antusias, lalu dengan sopan meraih tangan Ibu Sandi untuk disalimi. Pemandangan itu membuat Sandi terenyuh. Di balik sifat "Oneng" dan manja yang sering ia ledek, Saskia memiliki kerendahan hati yang luar biasa. Ia tidak memandang rendah asal-usul Sandi, justru ia memeluk dunia Sandi dengan tangan terbuka.

"Sayang! Kok malah bengong di depan pintu?" tegur Saskia membuyarkan lamunan Sandi.

Sandi tersentak, mencoba menormalkan ekspresi wajahnya. "Eh, sudah toh acara peluk-pelukannya? Ayo berangkat."

"San, ingat pesan Ibu, jangan mengebut ya. Jaga Saskia baik-baik," timpal Ibunya sambil terkekeh melihat wajah putranya yang memerah.

Saskia segera meraih helmnya, dan seperti sebuah ritual harian, jemarinya kembali kesulitan menemukan celah pengait di bawah dagu. Sandi, yang sudah hapal dengan "keteledoran" itu, menarik lengan Saskia mendekat. Dengan telaten, ia memasangkan helm tersebut, memastikan bunyi klik yang mantap terdengar.

"Iya, Bu. Ibu istirahat saja duluan, jangan dipaksakan," sahut Sandi.

"Ibu mau kemas baju-baju dulu sebentar di kamar, baru istirahat. Biar besok pagi tinggal angkat," jawab Ibunya.

Sandi menggelengkan kepala pelan. "Jangan dipaksakan ya, Bu. Kalau capek, tinggalkan saja. Biar Sandi yang bereskan semua pas pulang nanti."

Setelah Saskia naik ke atas jok belakang Ninja hijau, ia melambaikan tangan dengan riang. "Tante, Saskia pamit ya! Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam," balas Ibu Sandi sembari berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan hingga deru motor Sandi menghilang di ujung lorong gang Jatinegara.

Motor Ninja 150RR itu kembali membelah aspal malam, menuju kawasan elite Jakarta Selatan. Di sela-sela perjalanan, Saskia yang memeluk erat perut Sandi menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. Angin malam yang menerpa seolah menjadi musik latar bagi percakapan mereka.

"Sayang?" bisik Saskia.

"Iya," jawab Sandi singkat, matanya tetap fokus menembus kegelapan jalanan.

"Makasih ya, Sayang. Kamu sudah mau menuruti permintaan aku untuk makan bareng. Bahkan kamu mengajak aku makan sama Ibu juga. Suasananya tadi seru banget, aku merasa diterima," ucap Saskia dengan nada yang sangat tulus.

Sandi mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya. "Iya, sama-sama. Terima kasih juga sudah buat Ibu ceria malam ini dengan tawa dan canda lo yang ajaib itu."

Saskia cengar-cengir di balik punggung Sandi. "Sekarang kita langsung pulang, Yang?"

Sandi sedikit menoleh. "Lah, memang mau ke mana lagi, Oneng! Ini sudah malam, besok kita sekolah pagi. Harus bangun awal kalau nggak mau telat."

"Aku masih pengen berduaan lama-lama sama kamu, Yang," rengek Saskia manja.

Sandi bergidik pelan, merasa merinding dengan gombalan terang-terangan itu. "Eh, Pe'a! Lo memang aslinya begini atau baru kali ini saja begini, Sas?"

"Maksudnya?" tanya Saskia heran.

"Iya, maksud gue... lo kalau pacaran memang se-agresif dan se-manja begini?" selidik Sandi penasaran.

Saskia menggelengkan kepalanya di bahu Sandi. "Nggak. Aku pacaran sambil gandengan tangan saja belum pernah, San. Cuma sama kamu saja aku begini, nggak tahu kenapa. Rasanya beda saja, lebih aman, lebih nyaman, dan lebih tenang."

"Dih, ngibul lo ya! Mana ada zaman sekarang pacaran nggak gandengan," timpal Sandi tak percaya.

"Sumpah, San! Aku cuma sama kamu saja bisa begini. Nggak ada rasa canggung atau malu sama sekali. Rasanya kayak sudah terbiasa saja kalau sama kamu. Apalagi dengan status baru kita sebagai calon tunangan, rasanya jadi makin sah buat manja-manja," ujar Saskia jujur.

Sandi terdiam sejenak, membiarkan mesin motor menderu mengisi kesunyian. "Jujur Sas... sebenarnya, apa sih yang lo lihat dari gue? Selain alasan-alasan klise yang pernah lo sebutkan?"

Saskia terdiam, menatap profil wajah Sandi dari samping melalui celah helm. Matanya berbinar menatap garis rahang Sandi yang tegas. "Yang, jujur ya... selain kamu selalu buat aku nyaman dan aman karena sifat protektif kamu, aku itu suka wajah kamu, San. Kamu itu ganteng, tinggi, hidung kamu mancung. Dan yang paling penting... senyum tengil kamu itu lho, bikin aku kangen setengah mati, tahu nggak?"

Sandi menoleh sedikit ke belakang, keningnya berkerut. "Lah, bukannya Nanda juga ganteng ya, Sas?"

Saskia menggeleng mantap. "Kan aku sudah pernah bilang, aku sama Nanda itu cuma karena nggak enak sama Papa. Papanya Nanda rekan bisnis Papa. Aku nggak pernah suka sama dia. Dia itu egois, suka menuntut, dan kalau dibandingkan, kamu jauh lebih ganteng, jauh lebih laki, San. Apalagi senyum tengil kamu setiap selesai bikinin aku istana pasir waktu kita SD dulu sembari ngomong begini 'gitu aja ga bisa, huh!', itu membekas banget. Bikin kangen dan gemas!"

Sandi tertawa lepas mendengar kata "tengil" disebut berulang kali. "Senyum ya senyum saja kali, Sas. Nggak usah pakai embel-embel tengil juga."

Saskia ikut tertawa renyah. "Tapi itu yang aku suka dari kamu! Kamu tengil tapi penuh perhatian dan kasih sayang di dalamnya. Jadi, tolong jangan buang sifat tengil kamu ya, Sayang. Itu ciri khas kamu yang buat aku sayang banget sama kamu."

Sandi tersenyum manis, kali ini senyumnya tulus tanpa kesan meledek. Melihat senyuman itu dari jarak dekat, Saskia merasa sangat gemas. Tanpa peringatan, ia mencium bahu Sandi dan... hup! ia menggigit bahu Sandi dengan kuat.

"Aaakh! Sas! Pe'a lo! Main gigit-gigit saja! Masih kurang daging sate tadi?" ringis Sandi kaget dan kesakitan.

Saskia tertawa puas. "Habisnya kamu senyumnya bikin gemas sih!"

Sandi hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah. "Ya sudah, pegangan yang erat. Gue mau mengebut nih, sudah kemalaman kita. Jangan gigit-gigit lagi!"

"Oke Sayangku, kuserahkan nyawaku kepadamu!" seru Saskia semangat sembari memeluk perut Sandi erat-erat dan membenamkan wajahnya di punggung kokoh pemuda itu. Sandi hanya bisa menghela napas panjang, namun bibirnya tak berhenti tersenyum manis sepanjang jalan.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!