Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah sarapan nasi goreng dari warung Bu Atun di ujung gang, porsinya banyak, murah, dan rasanya selalu sama sejak dia pertama kali kos di sini, Arka kembali ke kamar dan membuka laptop bekasnya.
Laptop itu sudah berumur. Layar empat belas inci mulai menguning di pinggirnya, dan kalau dipakai terlalu lama suka mati sendiri karena panas berlebih. Keyboard-nya juga bermasalah: tombol ‘a’ kadang tidak berfungsi kalau ditekan terlalu keras. Tapi untuk sekadar membuka grafik saham dan membaca berita, masih cukup.
Arka membuka beberapa tab: Bloomberg, CNBC Indonesia, TradingView. Lalu dia mulai menggulir halaman demi halaman, membaca berita lama yang dia ingat akan menjadi penanda awal kehancuran.
Dia tidak perlu membaca semuanya. Dia sudah tahu. Tapi dia tetap membaca, tetap mencatat di buku tulis biasa yang dia beli di warung sebelah. Bukan karena takut lupa, ingatan tentang masa depan terlalu jelas untuk itu, tapi untuk menguatkan keyakinannya. Untuk meyakinkan dirinya bahwa ini nyata. Bahwa dia tidak gila.
Januari 2026. Saham energi naik tiga ratus persen dalam tiga minggu. Masyarakat panik membeli pemanas ruangan dan bahan bakar. Pemerintah mengumumkan krisis energi. Harga melonjak. Lalu ambruk setelah distribusi gagal dikendalikan.
*Februari 2026. Harga emas melonjak hampir dua kali lipat. Masyarakat mulai menarik tabungan\, membeli logam mulia. Bank-bank mulai membatasi penarikan tunai.*
*Maret 2026. ATM kosong di mana-mana. Bank membatasi penarikan maksimal dua juta per hari. Kepanikan massal. Kerumunan di depan bank. Beberapa bentrok dengan polisi.*
Mei 2026. Gelombang pengungsi dari Eropa, Amerika, dan Asia utara mulai masuk Indonesia. Pemerintah menutup bandara internasional. Tapi sudah terlambat.
Juni 2026. Zona es mencapai Indonesia.
Arka berhenti menulis. Dia menatap tulisan tangannya di atas kertas bergaris. Lalu menutup buku dan menyandarkan punggung ke kursi plastik yang sedikit goyang karena salah satu kakinya lebih pendek.
Sekarang Desember. Aku punya enam bulan. Cukup.
Dia melihat map kecil di atas meja. Map cokelat berisi fotokopi sertifikat tanah dan surat-surat penting lainnya. Ibu meninggal dua tahun lalu dan meninggalkan dokumen-dokumen ini. Selama ini map itu hanya menjadi tumpukan kertas yang jarang dia buka. Hari ini dia akan membukanya.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas ketika Arka sampai di bank. Bukan bank besar dengan gedung kaca dan marmer, tapi kantor cabang kecil di kecamatan tempat kos-kosannya berada. Dinding luar kusam, pintu kaca otomatisnya agak macet, dan di dalam hanya ada empat meja teller dengan dua di antaranya kosong.
Antreannya tidak terlalu panjang. Arka mengambil nomor antrean: B46. Di layar kecil di dinding, masih tertera B42. Dua orang di depannya. Dia duduk di kursi plastik biru yang berjajar rapi.
Tiga kursi di sebelah kanan kosong. Di depannya, seorang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan sedang sibuk memainkan ponsel. Di sebelah kiri, seorang pria berkemeja batik membaca koran, koran fisik, bukan digital, yang sudah jarang dia lihat akhir-akhir ini.
Semua orang di sini hidup dalam kenyamanan bahwa besok akan sama seperti hari ini. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang siap.
Arka menunggu. Tidak terburu-buru. Dia belajar dari kehidupan pertama bahwa terburu-buru hanya akan membuat kesalahan.
Dua puluh menit kemudian, nomornya dipanggil.
Arka duduk di hadapan pegawai wanita muda dengan rambut diikat rapi dan senyum profesional yang terlatih. Dia membuka map cokelatnya, mengeluarkan satu per satu fotokopi dokumen.
“Selamat siang,” kata pegawai itu. “Ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau tanya prosedur pinjaman dengan agunan,” kata Arka. “Saya punya beberapa aset yang mau saya jaminkan.”
“Baik, asetnya apa saja?”
“Motor satu unit. Apartemen tipe studio di Jakarta Timur. Tanah di desa, sekitar dua ribu meter persegi. Dan kebun sawit di Kalimantan.”
Pegawai itu mengerjap. Mungkin tidak setiap hari ada anak muda seusia Arka yang datang dengan daftar aset seperti itu. Tapi senyum profesionalnya tetap terjaga.
“Baik, Mas. Untuk pinjaman dengan agunan gabungan seperti ini, Mas perlu membawa sertifikat asli, bukan fotokopi. Juga bukti kepemilikan yang masih berlaku, dan surat keterangan dari notaris yang menerangkan bahwa aset-aset tersebut tidak dalam sengketa. Prosesnya bisa memakan waktu dua hingga tiga minggu, tergantung kelengkapan dokumen.”
Arka mengangguk. “Saya akan lengkapi. Terima kasih.”
Dia memasukkan kembali dokumen-dokumen itu ke dalam map, lalu keluar dari bank. Di luar, matahari sudah tepat di atas kepala. Panas. Dia membuka ponsel dan mencari lokasi kantor notaris terdekat.
Sore itu, setelah mengurus keperluan di notaris dan mengumpulkan beberapa berkas yang diperlukan, Arka naik MRT ke pusat kota.
Stasiun MRT terdekat dari kos-kosannya berjarak sekitar sepuluh menit jalan kaki. Dia beli token di mesin otomatis, perjalanan sekali jalan ke Sudirman dikenakan biaya empat belas ribu rupiah. Mahal menurut standar pengeluarannya selama ini, tapi dia tidak lagi memikirkan pengeluaran kecil seperti itu.
Di dalam gerbong, Arka duduk di dekat jendela. Di hadapannya, seorang mahasiswa dengan headphone besar menutupi telinganya tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Di sampingnya, seorang ibu muda mengajari anaknya membaca buku cerita bergambar. Di ujung gerbong, seorang pria tua membaca buku dengan kacamata yang melorot ke ujung hidung.
Semua orang ini tidak tahu. Mereka masih sibuk dengan kehidupan normal mereka. Tidak ada yang membayangkan bahwa dalam beberapa bulan, kota ini akan berubah menjadi kuburan raksasa yang membeku.
Arka melihat bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Wajah yang sama. Mata yang sama. Tapi ada sesuatu di dalam matanya yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan luka. Bukan trauma. Tapi kesadaran yang dingin. Kesadaran bahwa dia sudah melihat akhir dari semuanya, dan dia tidak akan membiarkan akhir itu datang untuknya.
Stasiun demi stasiun berlalu. Setiabudi. Dukuh Atas. Sudirman.
Arka turun.
Lahan kosong itu berada di antara dua gedung perkantoran. Gedung pertama adalah menara kaca biru dengan logo perusahaan asing di puncaknya. Gedung kedua adalah bangunan beton abu-abu dengan deretan AC di setiap lantai. Di tengahnya, tanah seluas sekitar lima puluh kali lima puluh meter terbengkalai, ditutupi rumput liar yang sudah setinggi mata kaki dan beberapa pohon kecil yang tumbuh tidak beraturan.
Pagar seng setinggi dua meter mengelilingi lahan itu. Di pintu pagar, ada papan kayu yang sudah pudar tulisannya: “Dijual. Hubungi nomor yang tertera.”
Arka berdiri di pinggir jalan, menyipitkan mata melawan silau matahari sore. Dia membayangkan hotel tiga lantai berdiri di atas tanah ini. Fasad sederhana, tidak mencolok, seperti hotel keluarga biasa, tidak menarik perhatian. Di bawah hotel, ada bunker baja setebal empat meter. Pintu hidrolik yang berat. Kaca anti peluru. Sistem ventilasi HEPA yang menyaring udara dari salju dan debu. Sumur bor yang mencapai air tanah. Panel surya di atap yang akan menyediakan listrik meskipun sinar matahari mulai berkurang.
Dan di bawah bunker itu, ada terowongan yang menghubungkan ke stasiun MRT yang jaraknya tidak sampai seratus meter dari sini. Terowongan yang akan menjadi jalan rahasia menuju kota bawah tanah impiannya.
Ini akan jadi bentengku.
“Mas, cari apa?”
Arka menoleh. Seorang satpam gedung di sebelah, mengenakan seragam cokelat dengan lencana di dada kanan, berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya tidak curiga, hanya ingin tahu.
“Survey, Pak,” kata Arka. “Lagi lihat-lihat lokasi buat bisnis.”
Satpam itu mengangguk. “Lahan itu sudah lama dijual, Mas. Harganya mungkin mahal. Di sini kan pusat kota.”
“Kira-kira berapa, Pak?”
Satpam itu mengangkat bahu. “Kurang tahu. Tapi dengar-dengar pemiliknya minta di atas tiga puluh miliar.”
Tiga puluh miliar.
Arka tidak terkejut. Dia sudah memperkirakan. Uang dari pinjaman aset tidak akan cukup. Tapi dia punya rencana lain. Januari nanti, dia akan mulai bermain saham. Dengan ingatan tentang pergerakan pasar di masa depan, dia bisa menggandakan uangnya berkali-kali lipat dalam hitungan bulan.
“Terima kasih, Pak.”
Dia berpamitan, berjalan perlahan meninggalkan tempat itu. Matahari mulai bergeser ke barat, bayangannya memanjang di trotoar.
Pulangnya, Arka mampir ke toko olahraga kecil di pinggir jalan. Toko itu sederhana, dengan etalase kaca berdebu yang memajang beberapa pasang sepatu bekas tapi masih layak pakai. Seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan perut sedikit buncit menyambutnya dari balik meja.
“Cari sepatu, Mas?”
“Iya. Yang buat lari. Ukuran empat puluh dua.”
Pemilik toko mengeluarkan tiga kotak dari rak di belakangnya. Arka mencoba satu per satu. Butuh tiga kali percobaan sebelum menemukan yang pas. Hitam. Sol tebal. Masih cukup baru. Bekas pakai, tapi tidak terlalu sering.
“Berapa, Pak?”
“Dua ratus ribu, Mas. Masih bagus itu. Bekas dipakai cuma beberapa kali.”
Arka membayar tanpa menawar. Dulu dia tidak pernah serius olahraga. Di kehidupan pertama, dia baru mulai latihan setelah es tiba. Itu pun karena terpaksa, karena harus kuat untuk berburu, harus kuat untuk melindungi apartemen, harus kuat untuk bertahan hidup. Sekarang dia punya waktu. Enam bulan. Cukup untuk membangun fisik yang tangguh.
Besok pagi jam lima, dia akan mulai.
Malam harinya, Arka duduk di balkon kos-kosan. Kursi plastik yang sama, posisi yang sama seperti biasa. Kopi instan di tangannya sudah dingin, tapi dia tidak merasa perlu memanaskan ulang. Di bawah, di gang depan kos-kosan, anak-anak masih bermain kejar-kejaran meskipun hari sudah gelap. Suara tawa mereka terdengar jelas di antara suara klakson sesekali dari jalan raya.
Ponsel di saku celananya bergetar. Dia mengeluarkannya.
Satu pesan dari Sari.
“Ark, besok kita ketemu yuk. Aku kangen. Udah seminggu kita nggak ngobrol serius.”
Arka menatap layar. Membaca pesan itu sekali, dua kali, tiga kali.
Di kehidupan pertama, dia membaca pesan ini dengan senyum bahagia. Tiga tahun bersama. Tiga tahun percaya. Tiga tahun membangun mimpi. Dan pada akhirnya, Sari membunuhnya dengan dua tembakan.
“Aku sayang kamu.”
Kalimat yang diucapkan setelah peluru kedua masuk. Kalimat yang seharusnya membuatnya merasa dicintai, tapi justru menjadi luka yang paling dalam. Lebih dalam dari peluru. Lebih dalam dari kematian itu sendiri.
Arka masih menatap layar. Jari-jarinya bergerak lambat di atas keyboard virtual. Dia mengetik balasan singkat.
“Ok. Jam 3 di kafe biasa.”
Kirim.
Dia meletakkan ponsel di meja kecil di samping kursi. Menutup mata.
Besok dia akan bertemu Sari. Dia akan melihat wajah itu lagi. Mendengar suara itu lagi. Melihat senyum yang dulu membuatnya jatuh cinta. Dan dia harus bisa duduk di sana tanpa membayangkan peluru, tanpa membayangkan racun, tanpa membayangkan bagaimana Sari memegang tangan Toni saat pistol diarahkan ke kepalanya.
Angin malam Jakarta berhembus hangat. Membawa bau knalpot dan gorengan dari warung di ujung gang.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁