NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Bakso Urat dan Ancaman Tersembunyi

​. Motor butut Genta akhirnya berhenti tepat di depan sebuah warung bakso pinggir jalan yang uapnya masih mengepul. Bau kaldu dan bawang goreng langsung membuat perut Clarissa keroncongan tidak karuan.

​. Clarissa turun dari motor sambil cemberut, meskipun sebenarnya dia sudah tidak tahan ingin makan. "Genta, pokoknya aku nggak mau tahu, pesankan yang paling enak! Aku sudah lapar banget!"

​. "Siap, Mbak Bos! Bakso urat super satu, cabainya yang banyak biar Mbak Bos makin pedas seperti omongan tetangga yang suka nyinyir!" teriak Genta sambil tertawa cekikikan.

​. Clarissa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bodyguard-nya yang satu ini. Meskipun orangnya konyol dan "sengklek", tapi Clarissa merasa aman jika berada di dekat Genta.

​. Saat sedang asyik menunggu bakso datang, Genta tiba-tiba terdiam. Matanya yang tadi jenaka berubah menjadi tajam. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sekitar tempat itu.

​. "Mbak Bos, jangan jauh-jauh dari saya ya. Perasaan saya nggak enak, sepertinya ada yang mengintai dari kejauhan," bisik Genta pelan, wajahnya berubah serius tidak seperti biasanya.

​. Clarissa yang hampir menyendok sambal langsung berhenti. "Jangan menakut-nakuti dong, Genta! Ini sudah malam, lho."

​. Tanpa mereka sadari, di kejauhan, ada sebuah mobil hitam dengan lampu mati yang sedang parkir dengan mesin tetap menyala. Orang-orang bermasker di dalamnya sudah bersiap menunggu perintah untuk menyerang dan merusak suasana makan bakso tersebut.

​. "Target sudah di posisi. Bersiaplah, saat mereka mulai makan, langsung sikat!" ucap salah satu orang misterius itu melalui radio panggil.

​. Iki lur, Bab 27 yang mulai tegang! Jangan lupa Like, Komen, dan Share ya rek, biar Genta bisa cepat beli knalpot baru dan nggak jadi bodyguard sengklek terus!

​. Baru saja Clarissa ingin menggigit bakso uratnya yang kenyal, suara decitan ban mobil terdengar sangat keras. Mobil hitam yang tadi mengintai langsung melesat dan berhenti tepat di depan warung bakso, menghalangi jalan keluar.

​. "Mbak Bos, merunduk!" teriak Genta. Dengan sigap, dia menarik tangan Clarissa agar bersembunyi di balik meja kayu yang tebal.

​. Empat orang berbadan besar dengan penutup wajah keluar dari mobil. Mereka membawa tongkat pemukul dan terlihat sangat garang. "Serahkan perempuan itu, atau kamu mati di sini, Bodyguard konyol!" bentak salah satu dari mereka.

​. Genta yang tadi serius, tiba-tiba malah cengengesan. Dia berdiri dengan santai sambil membetulkan letak sarungnya yang agak melorot. "Waduh, Mas-mas sekalian. Ganggu orang makan bakso itu dosanya besar, lho. Apalagi Mbak Bos saya ini kalau lapar galaknya melebihi singa kena sariawan!"

​. Para preman itu tidak peduli. Mereka langsung merangsek maju. Genta dengan cepat melepas sarung kotak-kotaknya dan memutarnya seperti baling-baling helikopter.

​. Wush! Wush!

​. "Rasakan ini! Jurus Sarung Sakti Anti Galau!" Genta mengibaskan sarungnya dengan kecepatan tinggi. Ujung sarung yang sudah dipelintir keras itu menghantam tangan preman yang membawa tongkat hingga senjatanya terlempar jauh.

​. Clarissa yang mengintip dari balik meja hanya bisa melongo. "Genta! Itu sarung buat sholat atau buat tawuran?!"

​. "Dua-duanya bisa, Mbak Bos! Yang penting halal!" jawab Genta sambil melakukan gerakan salto yang gagal dan malah mendarat dengan posisi terduduk, tapi uniknya dia berhasil menendang tulang kering preman lainnya.

​. Salah satu preman mencoba memukul Genta dari belakang, tapi Genta dengan lincah masuk ke dalam sarungnya sendiri lalu berguling seperti trenggiling, membuat lawannya kebingungan dan saling bertabrakan sendiri.

​. "Target terlalu lincah! Mundur dulu!" teriak pemimpin preman itu setelah melihat dua temannya tersungkur karena kena sabetan sarung "sakti" Genta yang aromanya ternyata juga cukup mematikan karena belum dicuci tiga hari.

​. Iki lur, aksi Genta yang makin sengklek tapi jago! Jangan lupa Like, Komen, dan Share terus ya rek, biar Genta bisa beli sarung sutra yang lebih kuat buat lawan musuh di Sidoarjo nanti!

​. Melihat anak buahnya kocar-kacir terkena sabetan sarung sakti Genta, si pemimpin preman mendengus marah. Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat yang berkilau terkena lampu jalan. "Cukup main-mainnya! Habisi mereka sekarang!"

​. Genta yang tadi masih cengengesan, langsung memasang kuda-kuda serius lagi. Dia menarik tangan Clarissa agar segera naik ke atas motor bututnya. "Mbak Bos, pegangan yang erat! Kita balapan sama takdir!"

​. "Baksonya belum habis, Genta! Sayang kuahnya!" teriak Clarissa panik sambil terpaksa meloncat ke boncengan motor.

​. "Nyawa dulu, Mbak Bos! Nanti saya belikan pabrik baksonya kalau saya sudah kaya!" Genta langsung menginjak pedal gas dengan sekuat tenaga. Suara knalpot motornya meledak-ledak seperti petasan tahun baru, mengeluarkan asap hitam pekat yang menutupi pandangan para preman.

​. Breeem! Ngenggg!

​. Motor butut itu melesat membelah kegelapan malam menuju perbatasan Sidoarjo. Di belakang mereka, mobil hitam tadi kembali mengejar dengan kecepatan tinggi. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan di jalanan yang mulai sepi dan berkabut.

​. Genta sesekali menoleh ke spion yang kacanya sudah agak retak. "Waduh, mereka niat banget ngejarnya. Kayaknya mereka naksir sama motor saya yang antik ini, Mbak Bos!"

​. "Fokus menyetir, Genta! Itu di depan ada portal perbatasan!" teriak Clarissa sambil memejamkan mata rapat-rapat.

​. Genta melihat sebuah jebakan kayu besar melintang di tengah jalan perbatasan Sidoarjo. Tidak ada jalan memutar. Genta menggertakkan gigi, lalu menarik tuas gas sedalam mungkin. "Pegangan, Mbak Bos! Kita akan terbang sedikit!"​

. Mobil hitam di belakang mereka semakin dekat, sementara di depan, bahaya yang lebih besar sudah menunggu di balik kabut Sidoarjo. Siapakah yang sebenarnya memerintahkan para preman itu?

​. "Terima kasih Gusti,Allah Bab 27 telah selesai hamba tuliskan. Semoga setiap kata di dalamnya membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para pembaca. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dijauhkan dari segala kesulitan, dan dipertemukan kembali di bab selanjutnya dalam keadaan sehat walafiat. Amin."

​. Iki lur, penutupan Bab 27 sing nggarai deg-degan! Ojo lali Like, Komen, mbek Share terus yo rek, ben Genta iso slamet mlewati portal perbatasan Sidoarjo!

​. BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!