NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CETAK BIRU YANG TERSEMBUNYI

Pukul sepuluh pagi, suasana kesibukan ibu kota terasa nyata, terutama di kawasan segitiga emas Jakarta yang penuh dengan hiruk-pikuk aktivitas para profesional. Berdiri tegak di depan sebuah gedung perkantoran megah yang fasadnya dihiasi kaca gelap kebiruan, Alana merasakan campuran antara gugup dan penasaran. Tempat ini seolah menjadi simbol dunia yang asing baginya, meskipun seharusnya ia merasa lebih akrab. Ia seperti seorang pendatang tanpa izin di dalam kehidupannya sendiri, berusaha memahami tujuan sebenarnya dari langkah yang akan ditempuh.

Di genggaman tangannya, ponsel itu masih memancarkan terang layar dengan pesan singkat yang ia terima pada malam sebelumnya. Pesan tanpa nama pengirim itu sederhana, tetapi berat maknanya: "Datanglah ke kantor Raka besok jam 10 pagi. Lihat sendiri apa yang sedang dia 'bangun' di sana."

Napas Alana sedikit berat saat ia menggenggam erat ponselnya. Sebagai seorang penulis, ia telah menghadapi berbagai alur cerita yang penuh kejutan plot twist yang meminta nyali besar untuk dipecahkan. Mungkin hal ini tak jauh berbeda. Dengan hati yang diliputi keraguan namun juga rasa ingin tahu yang kuat, ia akhirnya melangkahkan kakinya memasuki gedung itu, melewati prosedur pemeriksaan keamanan yang ketat. Lift membawanya menuju lantai 12, lantai yang menjadi pusat kendali firma arsitektur milik Raka Arka-Design & Build, sebuah perusahaan bergengsi yang sering menjadi perbincangan di kalangan profesional.

Sesampainya di sana, kantor tersebut menyambutnya dengan suasana yang tenang dan tertata. Hanya ada suara samar dari printer laser yang bekerja mencetak dokumen, serta percakapan pelan para anggota tim yang sedang berdiskusi. Atmosfer tempat itu begitu profesional, serasa dunia lain dibandingkan keseharian Alana sebagai seorang kreator tulisan.

Namun, langkahnya mendadak melambat ketika tatapan matanya menangkap sosok yang tak disangka-sangka akan ia temui di sana. Ia tengah menuju resepsionis untuk bertanya, namun pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari ruang rapat utama, membuat langkahnya terhenti secara refleks.

Bukan Raka. Sosok itu adalah Maudy, wajah yang tidak mungkin salah dikenali oleh Alana. Perempuan itu terlihat anggun dan berwibawa seperti biasanya, namun bukan hanya kehadiran Maudy yang membuat dada Alana berdegup kencang. Di sampingnya berdiri seorang pria tua berkharisma dengan setelan jas yang tampak mahalpria yang langsung dikenali Alana sebagai ayah Maudy.

Alana segera bersembunyi di balik pilar besar yang dilapisi marmer. Dari posisinya, ia bisa melihat Raka keluar dari ruangan yang sama. Raka tampak kelelahan, memegang beberapa map besar. Maudy memberikan senyum kemenangan ke arah Raka, lalu menyentuh lengan pria itu sekilas sebelum berjalan menuju lift.

Setelah mereka pergi, Alana memberanikan diri mendekati Raka.

"Raka?"

Raka tersentak. Wajahnya yang pucat karena kurang tidur berubah menjadi ekspresi keterkejutan yang nyata. "Alana? Kamu... kenapa ada di sini? Kita kan janji ketemu nanti malam untuk makan malam."

"Siapa yang baru saja keluar dari ruanganmu, Raka? Dan kenapa Maudy bilang kamu belum menceritakan semuanya padaku?" suara Alana bergetar, meski ia berusaha tetap tenang.

Raka menghela napas panjang, pundaknya melandai seolah beban dunia baru saja ditumpukan kembali ke sana. "Ikut ke ruanganku, Lan. Kita bicara di dalam."

Di dalam ruangan kerja Raka yang rapi yang dipenuhi maket-maket bangunan dan aroma kopi Raka meletakkan map cokelat yang tadi ia bawa di atas meja. Map yang sama dengan yang Alana lihat di laci rumah baru Raka kemarin.

"Maudy dan ayahnya adalah pemilik lahan di mana rumah baru itu berdiri, Alana," ucap Raka dengan suara rendah. "Saat perusahaan ayahku hampir bangkrut dulu, mereka tidak hanya memberikan suntikan dana, tapi juga mengalihkan kepemilikan beberapa aset lahan strategis ke namaku dengan satu syarat: aku harus tetap bekerja sama dengan firma konstruksi milik ayahnya selama sepuluh tahun ke depan."

Alana tertegun. "Maksudmu, kamu masih terikat kontrak bisnis dengan mereka? Meskipun pertunangan itu batal?"

"Secara pribadi, aku bebas. Tapi secara profesional, aku terikat kontrak hukum yang sangat ketat," Raka membuka map itu, memperlihatkan rincian klausul yang rumit. "Lahan rumah yang aku bangun untukmu itu... secara teknis masih dalam pengawasan grup mereka sampai proyek besar di Jakarta Utara selesai. Maudy menggunakan posisi itu untuk terus menekanku."

"Jadi, rumah yang kamu bilang 'milik kita' itu... sebenarnya masih milik mereka?" Alana merasakan perih yang luar biasa di ulu hatinya. "Kamu membangun istana di atas tanah milik orang yang ingin menghancurkan kita, Raka?"

"Aku sedang berusaha membelinya kembali, Lan! Itulah alasan aku bekerja gila-gilaan akhir-akhir ini," Raka mendekat, mencoba meraih tangan Alana, namun Alana mundur satu langkah.

"Kenapa kamu tidak jujur dari awal? Kenapa harus ada nomor asing yang memberitahuku untuk datang ke sini?" air mata Alana mulai mengalir. "Aku bukan mahasiswi kecil di meja nomor 15 yang bisa kamu lindungi dari kenyataan dengan alasan 'demi kebaikan'. Aku ini pasanganmu, Raka. Atau setidaknya, aku pikir begitu."

"Aku hanya ingin rumah itu sempurna sebelum kamu menempatinya. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani oleh utang-utang masa laluku," bela Raka.

"Kejujuran lebih berharga daripada atap yang megah, Raka," bisik Alana. "Dulu kamu pengecut karena menuruti keluarga. Sekarang kamu pengecut karena menyembunyikan kebenaran demi sebuah kejutan. Apa bedanya?"

Alana berbalik, meninggalkan ruangan itu sebelum Raka bisa memberikan pembelaan lebih lanjut. Ia melewati lorong kantor dengan pandangan yang kabur karena air mata. Ia merasa seperti karakter dalam novelnya sendiri yang sedang menuju bab kehancuran yang tak terelakkan.

Malam itu, Alana tidak kembali ke apartemennya. Ia pergi ke perpustakaan kampus tempat segalanya bermula. Meskipun hari sudah malam, area luar perpustakaan masih terbuka. Ia duduk di salah satu bangku taman, membuka buku catatannya yang kini sudah penuh dengan coretan yang tidak beraturan.

Ia mengambil ponselnya dan memblokir nomor Maudy. Namun, kata-kata wanita itu sudah terlanjur meracuni pikirannya. “Apa yang tertulis di kertas seringkali lebih indah daripada kenyataan.”

Alana mulai menulis dengan tergesa-gesa, seolah-olah kata-kata adalah satu-satunya pelindung yang ia punya:

"An architect builds with concrete and steel, thinking they are permanent. But a writer knows that even the strongest walls can be burned down by a single lie. Raka, you gave me a library, but you forgot that I can read between the lines. And between your lines, I found a ghost that I cannot chase away."

Alana yang menatap bayangan gedung perpustakaan yang gelap. Ia menyadari bahwa cinta mereka di masa dewasa ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mengagumi dalam diam. Di dunia nyata, cinta membutuhkan lebih dari sekadar perasaan; ia membutuhkan transparansi yang mutlak, sesuatu yang tampaknya masih gagal dibangun oleh Raka.

Di kantornya, Raka masih duduk sendirian, menatap maket rumah impiannya yang kini terasa seperti penjara kaca. Ia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan pada Alana, namun ia hanya menatap layar kosong itu selama berjam-jam.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!