Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Krisis Yang Mengintai
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk bicara, Zhiyi Pingkan muncul dari dapur sambil membawa botol susu. “Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap!” serunya ceria.
Aku menelan kata-kata yang sudah menggantung di ujung lidahku. Sebelum aku benar-benar memahami rencana Dean Junxian, aku tidak boleh bertindak gegabah atau membuat keputusan terburu-buru. Sekali salah langkah, bukan hanya aku yang bisa dirugikan, tapi juga Sonika.
Kejadian barusan sudah cukup memberiku pelajaran tentang bahaya bertindak tanpa strategi. Selain itu, Sonika masih sangat kecil. Bagi anak seusianya, siapa pun yang memberi makan adalah sosok ibu yang utama. Saat ini, aku tidak memiliki kekuatan untuk mengambil alih dan merawatnya seorang diri. Jika Zhiyi Pingkan berani menyinggungku, bayangkan apa yang bisa terjadi pada anak yang masih polos dan belum mengerti dunia ini.
Dengan sabar, aku mengulurkan tangan ke arah Zhiyi Pingkan, berusaha menenangkan diri, dan berkata, “Berikan botol susunya padaku. Biar aku yang menyuapi Sonika.”
Namun, harapanku langsung mentah. Sonika justru terlihat berseri-seri, matanya berbinar-binar melihat Zhiyi Pingkan. Ia sama sekali tidak menoleh ke arahku; matanya penuh dengan sosok ‘ibu’ yang selama ini menemaninya.
Aku tetap bersikeras. Dengan hati yang berat dan tekad di dada, aku mencoba meraih tangan Dean Junxian untuk mengambil botol itu. Aku menggendong Sonika, berharap ia akan menerima pelukanku, tapi tangan kecilnya menepis tanganku dengan gusar. Sambil merengek, “Mama… Mama…”, ia justru merentangkan tangannya ke arah Zhiyi Pingkan, tak sabar ingin digendong.
Melihat itu, Dean Junxian mengangkat Sonika dan menyerahkannya perlahan kepada Zhiyi Pingkan. Lalu, ia merangkul pundakku, menolongku berdiri, dan berkata dengan nada lembut, “Ayo, kita makan dulu. Jangan terlalu lelah, ya. Nutrisi dari makanan jauh lebih cepat memulihkan tubuhmu daripada obat-obatan.”
Kata-katanya yang terdengar spontan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat. Sepertinya Dean Junxian belum mengetahui rahasia di balik obat itu. Kalau ia tahu, pasti tidak akan berbicara begitu santainya. Ucapannya jelas menyiratkan agar aku makan lebih banyak dan mengurangi minum obat.
Di balik senyum dan kelembutannya, aku tahu ini juga menjadi peringatan bagiku. Aku tidak boleh terlihat terlalu sehat atau bugar. Rasa lemas dan lesu yang ditimbulkan obat itu harus tetap kusimpan sebagai topeng.
Akhirnya, aku terpaksa menyerah. Aku menatap Sonika dengan berat hati, menahan gelombang rindu dan frustrasi, lalu bertekad dalam diam: bersabarlah, sebentar lagi semuanya akan berubah. Anak itu akan kembali padaku. Tunggu saja sampai aku berhasil menyingkirkan perempuan itu dari rumah, putriku akan tetap menjadi putriku tanpa kompromi.
Selama makan, berada di bawah perhatian dan perlindungan Dean Junxian membuatku bisa menelan makanan lebih banyak dari biasanya. Melihat itu, senyum lebar mengembang di wajahnya, matanya berbinar penuh kegembiraan. Ia terus menatapku dengan sorot mata hangat, seolah bahagia melihatku menikmati hidangan.
“Kenapa tersenyum begitu?” tanyaku, mencoba menyembunyikan rasa haru di dada.
“Dasar bodoh, aku senang melihatmu makan dengan lahap!” jawab Dean Junxian sambil menepuk tanganku di atas meja dengan lembut, penuh kasih sayang.
Aku mengerlinginya sambil berpura-pura lemas, menyandarkan tubuh ke kursi. “Mana ada orang menyuapi orang lain seperti menjejalkan makanan ke bebek? Aku sampai kekenyangan begini,” selorohku, mencoba membuat suasana lebih ringan.
Namun sejujurnya, lemas yang kurasakan sama sekali bukan sandiwara. Efek obat-obatan yang kubutuhkan dalam jangka panjang, ditambah dengan seringnya tubuhku kehilangan kesadaran, telah menempatkanku di titik paling lemah. Setiap kali mencoba bangkit, jantungku berdegup tak terkendali, dan rasanya seluruh kekuatanku menguap begitu saja, meninggalkanku nyaris tak berdaya. Sekalipun aku menunda tiga jadwal minum obat terakhir dan merasa sedikit lebih segar, dadaku masih terasa sesak, dan tubuhku lunglai seolah tertimpa beban yang tak terlihat.
“Lelah, ya?” tanya Dean Junxian sambil menatapku dengan tatapan hangat, penuh perhatian, seakan membaca setiap denyut lelahku.
Aku mengangguk, berpura-pura semakin lemah, dan menyandarkan tubuh ke tepi meja. “Aku… ngantuk…” gumamku pelan, suaraku serak oleh kelelahan yang nyata.
Tanpa menunggu, Dean Junxian berdiri, memelukku, dan mengangkatku dengan ringan ke dalam dekapannya. “Ayo, aku antar kamu kembali ke kamar,” ujarnya lembut.
Aku mengalungkan lengan di lehernya, merasakan sensasi hangat dan pedih yang menyesakkan dada. Sudah lama sekali aku tidak dimanjakan seperti ini. Tanpa sadar, kata-kata itu terlepas dari mulutku, keluar begitu saja dari hati yang penuh emosi:
“Sayang… kapan aku bisa benar-benar sembuh? Kenapa rasanya aku malah makin lemas? Padahal, logikanya… setelah minum obat sebanyak itu, seharusnya aku sudah lebih baik.”
Dean Junxian menatapku, tatapannya sulit kuartikan. “Jangan terburu-buru. Ini kan sudah ada kemajuan. Lihat, kamu sudah bisa turun ke lantai bawah,” jawabnya tenang.
Hatiku seketika mencelos. Suaranya terdengar janggal di telingaku. Apakah aku tidak seharusnya bisa turun ke lantai bawah sendiri? Kecurigaan perlahan menetes kembali ke benakku.
Aku memilih diam, menyandarkan tubuh yang lunglai di pelukannya. Di balik rasa aman itu, ada perasaan waspada yang menumpuk merasa bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya ia ungkapkan. Namun untuk saat ini, aku hanya bisa membiarkan dirinya menuntunku, menahan napas, dan menahan rasa hati yang campur aduk.
Saat melangkah keluar dari ruang makan, dari sudut mataku aku menangkap pemandangan yang membuat dadaku sesak. Zhiyi Pingkan sedang menyusui anaknya, matanya sempat melirik sekilas ke arah Dean Junxian yang sedang menggendongku dengan lembut. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk membuat bulu kudukku meremang.
Dean Junxian membawaku menaiki tangga ke lantai dua dengan langkah lebar dan mantap. Sesampainya di kamar, aku dibaringkan di atas tempat tidur. Tubuhku sudah dalam kondisi ‘setengah sadar’ karena kantuk yang menumpuk, dan seketika itu aku merasa kelemahan yang mendera hampir menenggelamkanku sepenuhnya.
Dean Junxian menarik selimut, menutup tubuhku dengan hati-hati, namun ia tidak segera pergi. Ia justru berdiri di samping tempat tidur, menatapku dengan intensitas yang hampir menyiksa. Meski mataku terpejam rapat, aku bisa merasakan tajamnya pandangan itu, seolah ia sedang menelusuri setiap celah perasaanku.
Entah mengapa, tatapan itu membuat kudukku merinding. Tidak ada sedikit pun rasa hangat atau kasih sayang di dalamnya hanya kepastian yang dingin dan menekan. Ia menatapku sekitar sepuluh detik, lalu aku mendengar suara lirihnya memanggil namaku, “Luna…”
Aku tetap bergeming, menahan napas, berpura-pura seolah telah terlelap sepenuhnya. Detik-detik itu terasa seperti berjam-jam; setiap detik yang berlalu menambah rasa cemas yang mencekam.
Tiba-tiba, aku merasakan tubuhnya membungkuk dan mendekat. Napas hangatnya hampir menyentuh wajahku, membuatku kaku ketakutan dan tidak berani bergerak sedikit pun. Indra keenamku berteriak dalam diam: sesuatu yang dilakukannya saat ini jelas berniat jahat.
Tatapan singkat itu, walau sebentar, terasa bagai satu abad. Semua sisa ilusi terakhir yang kupunya tentang Dean Junxian hancur seketika, meninggalkan kehampaan yang dingin dan menusuk.
Kemudian, aku mendengar suara Zhiyi Pingkan yang berbisik lembut namun dingin, “Sudah tidur?” Napasnya yang hangat menjauh perlahan, dan langkah kaki mereka berdua terdengar meninggalkan kamar. Tak lama setelah itu, sebuah suara perintah yang berat terdengar menghancurkan dunia kecilku:
“Awasi dia baik-baik. Kondisinya belakangan ini agak mencurigakan!”
Setelah suara itu hilang, hening menyelimuti kamar. Tubuhku terasa seperti terperosok ke dasar kolam es yang sangat dalam. Selimut yang membungkusku tidak mampu menahan gemetar yang tak kunjung reda. Rasa takut dan ketidakberdayaan menyelimuti setiap sendi tubuhku, meninggalkanku sendirian dengan kedinginan yang menusuk hingga ke tulang.