Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERPIHAN SANG ARSITEK
Ruang server itu mendadak terasa seperti arena.
Hendrawan memutar tongkatnya dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk sekadar pria paruh baya yang terbiasa duduk di balik meja. Belati di ujung tongkat itu berkilat memantulkan lampu darurat merah yang terus berkedip. Raka mengukur jaraknya—tiga meter. Cukup dekat untuk berbahaya, cukup jauh untuk masih punya ruang berpikir.
"Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari generasi kalian?" Hendrawan melangkah perlahan ke samping, mengitari Raka seperti predator. "Kalian terlalu percaya pada teknologi. Kalian lupa bahwa di akhirnya, segalanya diselesaikan dengan tangan."
Raka tidak menjawab. Ia justru memperhatikan ritme langkah Hendrawan. Kaki kanannya sedikit tertinggal. Cedera lama. Lutut, mungkin.
"Dian," ucap Raka tanpa memindahkan pandangannya dari Hendrawan. "Mundur ke sudut. Sekarang."
Dian menurut tanpa protes. Ia menarik Arsenia bersamanya, ponselnya masih terangkat, kameranya masih menyala.
Hendrawan meluncat.
Gerakannya mengejutkan—lebih cepat dari yang Raka perkirakan. Ujung tongkat menyapu dari kiri atas ke kanan bawah. Raka miringkan tubuhnya, menghindari setipis kertas, namun lengan bajunya terkoyak di bahu. Ia merasakan dingin logam menyentuh kulitnya.
Hampir.
Raka tidak membalas dengan pukulan. Ia justru mundur satu langkah, membiarkan momentum Hendrawan yang terlalu jauh terbawa ke depan. Lalu dalam sepersekian detik, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Hendrawan yang memegang tongkat—memutar ke atas, berlawanan arah sendi.
Bunyi krak yang pelan.
Tongkat berjatuhan ke lantai beton.
Hendrawan mendesis kesakitan namun tidak menyerah. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mencabut sesuatu dari dalam jas—sebuah alat suntik kecil yang tadi tersembunyi di balik lipatan kain.
"Zat yang sama yang kugunakan untuk ayah Arsenia," bisiknya dengan napas yang terengah. "Koma kimiawi. Cantik, bukan?"
Raka mengunci rahangnya. Jarak sudah terlalu dekat untuk mundur.
Dari sudut ruangan, Arka—yang sejak tadi berpura-pura masih tersungkur—bangkit.
Tidak ada yang memperhatikannya. Semua fokus pada Raka dan Hendrawan.
Arka meraih kabel server yang terlepas dari racknya. Panjang. Berat di ujungnya.
Ia melempar.
Kabel itu melilit pergelangan tangan kiri Hendrawan tepat saat jarum suntik itu hampir menyentuh leher Raka. Hendrawan tersentak, alat suntik itu meleset—menancap bukan ke kulit Raka, melainkan ke udara kosong, lalu jatuh dan pecah di lantai.
Raka menggunakan jeda itu.
Satu gerakan. Hendrawan tersandar ke dinding server dengan punggungnya, lengannya diplintir ke belakang, pipinya menempel dingin di permukaan besi hitam.
"Sudah," kata Raka, napasnya berat namun suaranya datar. "Sudah selesai."
Hendrawan tertawa.
Bukan tawa yang dipaksakan. Bukan tawa kekalahan. Melainkan tawa seseorang yang sudah mempersiapkan segalanya termasuk akhirnya.
"Kau pikir ini selesai?" suaranya serak, tertahan oleh posisi yang membatasi napasnya. "Aku bukan arsitek tunggal, Raka. Arsitek tidak pernah bekerja sendiri. Ada biru-biru lain... ada nama-nama yang bahkan tidak ada dalam satu pun berkas yang kau temukan."
"Itu urusan Interpol," jawab Raka.
"Interpol." Hendrawan tertawa lagi, lebih pelan kali ini. "Anak naif."
Suara helikopter semakin dekat. Cahaya sorot mulai menerobos jendela kaca, menyapu interior ruangan dengan putih yang menyilaukan. Di kejauhan, sirene mengisi udara malam kota.
Arsenia melangkah maju. Kakinya gemetar, namun tatapannya tidak.
Ia berdiri di depan Hendrawan—pria yang selama bertahun-tahun duduk di sebelah ayahnya, menandatangani dokumen di hadapannya, bahkan pernah menghadiri ulang tahunnya yang ke-tujuh dengan membawa hadiah kotak musik kecil berwarna emas.
"Linden Medical Center," ucap Arsenia, suaranya nyaris berbisik. "Di lantai berapa ia berada?"
Hendrawan menatapnya lama. Sesuatu bergerak di balik matanya—sesuatu yang bukan penyesalan, namun mungkin saudara jauhnya.
"Lantai enam. Kamar 614," jawabnya akhirnya. "Nomor yang dia pilih sendiri. Tanggal lahir istrinya."
Arsenia mengangguk satu kali. Lalu ia berbalik dan tidak melihat Hendrawan lagi.
Pintu baja ruang server dijebol dari luar oleh tim SWAT delapan menit kemudian.
Raka menyerahkan Hendrawan dengan kedua tangan terikat—menggunakan kabel jaringan yang dirobek Arka dari belakang server. Sederhana. Efektif.
Komisaris Wirawan, yang memimpin tim, memandang ruangan itu dengan alis terangkat: satu tersangka diamankan, satu layar masih menampilkan konfirmasi transmisi ke Interpol, satu ponsel masih melakukan siaran langsung yang kini sudah ditonton lebih dari empat ratus ribu orang, dan empat anak muda yang semuanya tampak kelelahan namun masih berdiri tegak.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Wirawan.
"Tergantung definisi tidak apa-apa," jawab Dian sambil akhirnya menurunkan ponselnya.
Di luar gedung, buldoser di wilayah barat sudah berhenti bergerak.
Rupanya operator buldoser itu—seorang kontraktor yang dibayar melalui tiga lapisan perusahaan cangkang—langsung menerima instruksi pembatalan begitu nama Hendrawan mulai tersebar di siaran langsung. Tidak ada yang mau tenggelam bersama kapal yang sudah jelas akan karam.
Warung Bu Lastri masih berdiri.
Pohon mangga di ujung gang masih tegak.
Raka duduk di tepian trotoar depan gedung Valen Group, jaketnya dilepas, luka goresan di bahunya sudah dibalut seadanya oleh paramedis. Arsenia duduk di sebelahnya, selimut foil melingkar di bahunya yang masih gemetar—bukan karena dingin.
"Kau sudah tahu sejak kapan?" tanya Arsenia pelan. "Bahwa Hendrawan adalah Tuan X."
"Bukan tahu," Raka menatap lampu kota yang memantul di aspal basah. "Curiga. Saat aku menemukan dokumen notaris panti asuhan itu—ada inisial konsultan hukum yang dihapus setengah-setengah. Huruf H dan sebuah garis bawah. Aku tidak bisa memastikan sampai dia masuk sendiri ke ruangan itu."
"Jadi kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan balik."
"Lebih tepatnya, aku menggunakan keangkuhannya." Raka menarik lutut ke dadanya. "Orang yang merasa paling cerdas di ruangan selalu ingin menyaksikan kemenangannya sendiri. Dia tidak akan mau mendelegasikan momen itu."
Arsenia terdiam lama.
"Ayahku masih hidup," ucapnya akhirnya—bukan sebagai pertanyaan, melainkan seperti seseorang yang baru belajar cara mengucapkan kata-kata itu.
"Ya."
"Aku marah padanya, Raka. Selama ini aku menangisinya, dan dia—" suaranya retak di tengah. "Apakah dia tahu? Apakah dia memilih untuk—"
"Tidak." Raka memotong, pelan namun tegas. "Koma kimiawi bukan sesuatu yang bisa dipilih. Hendrawan melakukan itu padanya." Ia menoleh, menatap Arsenia langsung. "Ayahmu korban, bukan pengkhianat."
Air mata Arsenia jatuh untuk kedua kalinya malam itu. Namun kali ini berbeda. Bukan air mata yang sama dengan yang mengalir di ruang server—kali ini ada sesuatu yang lebih ringan di dalamnya. Sesuatu yang menyerupai permulaan.
Di sudut lain, Arka duduk di bangku ambulans, menolak keras saat paramedis mencoba mengecek kondisinya lebih lanjut.
"Aku baik-baik saja," katanya untuk ketiga kalinya.
"Kau pingsan sebelumnya," balas paramedis dengan sabar.
"Itu keputusan strategis."
Dian melintas, mendengar pertukaran itu, dan menyempatkan diri untuk memutar mata sebelum melanjutkan langkahnya.
Arka memanggilnya. "Dian."
Dian berhenti namun tidak langsung berbalik.
"Siaran langsungmu," Arka berkata. "Itu yang membuat semuanya bekerja. Tanpa bukti publik yang real-time, Hendrawan bisa saja menyangkal segalanya."
Dian akhirnya berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku tahu."
"Itu... keputusan yang bagus."
"Aku tahu itu juga." Ia memutar tumitnya dan pergi.
Arka menatap punggungnya sampai menghilang di balik kerumunan, lalu menghela napas panjang ke arah langit malam.
"Keputusan strategis," gumamnya lagi, kali ini pada dirinya sendiri, dengan nada yang jauh kurang meyakinkan.
Sebelum jam dua belas malam, nama Hendrawan Satyagraha sudah menjadi tren nomor satu di seluruh platform. Rekaman siaran langsung Dian sudah diarsipkan dan dijadikan bukti resmi oleh Komisi Antikorupsi. Interpol mengeluarkan notifikasi merah untuk tiga nama lain yang disebutkan dalam dokumen yang berhasil diekstrak dari server—nama-nama yang selama ini bersembunyi di balik nama Hendrawan seperti bayangan di balik bayangan.
Dan di Linden Medical Center, Zurich, seorang perawat malam yang melakukan ronde rutinnya mencatat sesuatu yang tidak biasa di monitor pasien Kamar 614.
Denyut nadi yang—untuk pertama kali dalam berbulan-bulan—mulai berfluktuasi.
Seperti seseorang yang, di kedalaman tidur yang dipaksakan, perlahan-lahan mulai mendengar suara dunia di luar.
Sang Arsitek telah runtuh.
Namun cetak birunya masih tersebar di tangan-tangan yang belum bernama.
Dan Raka Adiwangsa tahu—ini bukan akhir.
Ini baru fondasi dari perang yang sesungguhnya.