seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Matahari pagi mulai mengintip dari balik celah ventilasi udara kontrakan, membawa aroma nasi goreng sederhana yang sedang diaduk Dinda di atas kompor satu tungku. Di pojok ruangan, Dika tampak sedang membasuh wajahnya di kamar mandi sempit. Matanya sedikit merah, kantuk masih menggelayuti kelopaknya karena semalam ia pulang lewat tengah malam setelah membantu Pak Galih menyusun stok kiriman barang yang baru datang.
"Dika, sarapan dulu," panggil Dinda lembut.
Dika duduk di meja kayu kecil, gerakannya sedikit kaku karena otot bahunya masih terasa pegal. Tak lama, Dita keluar dari kamar dengan seragam yang rapi, meski tubuhnya masih terlihat mungil, wajahnya jauh lebih segar dibanding seminggu yang lalu.
"Dika," Dinda meletakkan sepiring nasi di depan adiknya, lalu duduk di hadapannya. Tatapannya serius. "Kakak mau ngomong sesuatu. Kakak mau kamu berhenti kerja di toko Pak Galih."
Gerakan tangan Dika yang hendak menyuap nasi terhenti. Ia mendongak, menatap kakaknya dengan tatapan dingin dan tegas yang biasa ia tunjukkan. "Kenapa? Aku nggak capek, Kak. Aku masih kuat."
"Ini bukan soal kuat atau nggak, Dik," sela Dinda cepat. "Sebentar lagi kalian ujian akhir sekolah. Ini penentuan ijazah kamu. Kalau kamu pulang larut terus, kapan kamu belajar? Kalau nilai kamu hancur, semua pengorbanan kita selama ini sia-sia."
Dita yang sedang mengunyah perlahan ikut mengangguk. "Iya, Bang Dika. Dita juga takut Abang sakit. Nanti siapa yang jagain Dita di kelas kalau Abang nggak masuk?"
Dika meletakkan sendoknya, suaranya terdengar berat. "Tapi biaya obat Dita nggak murah, Kak. Bonus dari pabrik Kakak nggak akan cukup buat nebus resep bulanan yang kemarin dokter kasih. Aku nggak mau kita nunggak lagi."
Dinda menarik napas panjang. Ini saatnya ia melancarkan kebohongan yang sudah ia susun semalaman demi ketenangan adiknya.
"Dika, dengerin Kakak. Mulai kemarin, Kakak sudah dipindahkan dari bagian produksi ke bagian administrasi kantor pabrik. Kerja Kakak sekarang di depan komputer, nggak perlu berdiri sepuluh jam lagi. Dan karena posisi ini tanggung jawabnya lebih besar, Kakak dapat tunjangan jabatan dan bonus bulanan yang jauh lebih besar dari gaji lembur Kakak dulu."
Dika menyipitkan mata, menyelidiki kejujuran di mata kakaknya. "Admin produksi dapet bonus sebesar itu?"
"Iya," Dinda berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdebar. "Perusahaan lagi bagus penjualannya. Jadi, Kakak minta kamu fokus sekolah dulu. Nanti, kalau kamu sudah pegang ijazah SMA, kamu bisa cari kerja yang lebih layak, bukan jadi kuli panggul. Bayarannya pasti lebih besar. Dan yang paling penting..." Dinda melirik Dita. "Dita butuh dampingan penuh, Dik. Dia mau ujian, energinya bakal terkuras habis. Dia nggak boleh kecapekan sendirian di rumah kalau Kakak belum pulang."
Mendengar nama Dita disebut, benteng pertahanan Dika runtuh. Ia menatap adik kembarnya yang tampak rapuh namun penuh semangat itu. Benar kata kakaknya, jika Dita tiba-tiba drop saat ia sedang di pasar, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Baik," ucap Dika akhirnya, singkat dan padat. "Aku berhenti. Tapi kalau uang Kakak kurang, Kakak harus jujur sama aku. Jangan disembunyiin."
Dinda tersenyum lega, mengusap bahu Dika. "Iya, Kakak janji. Sekarang habiskan sarapannya, kita berangkat."
***
Setelah mengantar adik-adiknya sampai ke gerbang sekolah, Dinda tidak lagi menunggu jemputan mewah Alan. Semalam ia sudah mengirim pesan singkat pada Leo agar supir tidak menjemputnya di gang. Ia tidak ingin tetangga atau Dika yang mungkin saja tertinggal sesuatu di rumah melihatnya naik mobil mewah. Dinda memilih memesan ojek daring, turun satu blok sebelum gedung perkantoran, lalu berjalan kaki masuk ke dalam kemegahan Ryuga Corp.
Sesampainya di lantai teratas, Dinda mendapati suasana kantor pusat yang lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pria asing dengan setelan jas formal tampak keluar masuk dari ruang rapat besar.
"Selamat pagi, Tuan Alan," sapa Dinda saat memasuki ruangan kerja CEO.
Alan, yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar sambil memegang secangkir kopi hitam, menoleh. Matanya menatap Dinda dengan intensitas yang berbeda pagi ini. "Pagi, Dinda. Saya pikir Anda akan terlambat karena menolak jemputan."
"Saya lebih nyaman berangkat sendiri, Tuan. Terima kasih atas tawarannya," jawab Dinda sopan sambil meletakkan tasnya di meja kerjanya yang berada tepat di sudut ruangan Alan.
"Duduklah. Hari ini agenda kita sangat padat. Ada kunjungan dari investor Singapura pukul sepuluh, dan setelah itu kita harus meninjau laporan keuangan kuartal terakhir," Alan berjalan mendekati meja Dinda.
Dinda mulai membuka tablet kerjanya, mencatat poin-poin penting. Namun, ia menyadari Alan tidak kembali ke kursinya. Pria itu justru berdiri cukup dekat, memperhatikan cara Dinda bekerja.
"Dinda," panggil Alan rendah.
"Ya, Tuan?" Dinda mendongak, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter.
"Kenapa Anda berbohong pada adik Anda soal pekerjaan ini?"
Dinda tersentak. Ia lupa bahwa pria di depannya ini memiliki telinga di mana-mana. "Tuan tahu?"
"Anda takut adik Anda tahu Anda bekerja untuk saya?" Alan mengangkat alisnya, ada nada geli sekaligus penasaran di suaranya.
Dinda menunduk, merapikan tumpukan kertas yang sebenarnya sudah rapi. "Dika itu keras kepala, Tuan. Dia punya harga diri yang sangat tinggi. Dia benci menerima bantuan dari orang yang menurutnya... sombong dan terlalu kaya."
"Jadi menurutnya saya sombong?" Alan terkekeh kecil, sebuah pemandangan langka yang membuat Dinda terpaku sejenak. "Dan menurut Anda sendiri?"
Dinda memberanikan diri menatap mata tajam Alan. "Menurut saya, Tuan adalah orang yang sangat... dominan. Tuan melakukan segala hal dengan cara Tuan sendiri tanpa peduli perasaan orang lain. Tapi, Tuan juga yang menyelamatkan nyawa adik saya. Jadi, saya terjebak di antara rasa hormat dan rasa takut."
Alan terdiam sejenak, menatap bibir Dinda yang bergerak saat berbicara. Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk menyentuh wajah wanita itu, namun ia menahannya. Ia justru menarik kursi dan duduk di tepi meja Dinda.
"Saya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, Dinda. Termasuk membawa Anda ke sini," bisik Alan. Suaranya terdengar seperti sebuah pengakuan tersembunyi.
Wajah Dinda memanas. Ia merasa suasana profesional di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat intim. "Tuan, investor akan datang lima belas menit lagi. Saya harus menyiapkan materi presentasinya."
Alan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata namun terasa sangat tulus. "Anda sangat pandai mengalihkan pembicaraan. Baiklah, kerjakan tugas Anda. Tapi ingat satu hal, Dinda... di kantor ini, Anda bukan sekadar sekretaris. Anda adalah orang kepercayaan saya. Jangan ada lagi rahasia di antara kita, setidaknya dalam hal pekerjaan."
***
Rapat berlangsung alot. Investor dari Singapura itu sangat detail menanyakan alokasi dana untuk pengembangan pabrik. Dinda berdiri di samping Alan, dengan sigap menyodorkan data-data yang dibutuhkan bahkan sebelum Alan memintanya. Koordinasi mereka begitu sempurna, seolah-olah mereka sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun.
Di tengah rapat, Alan menyadari Dinda tampak sedikit pucat. Ia tahu Dinda pasti bangun sangat pagi untuk mengurus adik-adiknya sebelum berangkat kerja. Saat jeda kopi, Alan mendekati Dinda yang sedang merapikan dokumen di pojok ruangan.
Tanpa berkata apa-apa, Alan mengulurkan sebuah cokelat batangan kecil yang ia ambil dari laci pribadinya. "Makan ini. Mungkin bisa membuatmu rileks."
Dinda terkejut. "Tuan, saya tidak apa-apa..."
"Makan, atau saya perintahkan supir untuk mengantar Anda pulang sekarang juga," ancam Alan, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang nyata.
Dinda menerima cokelat itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Tuan."
Saat jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja, sebuah sengatan listrik seolah menjalar di tubuh Dinda. Ia segera menarik tangannya, namun Alan tidak berpaling. Pria itu justru berdiri melindunginya dari pandangan para investor lain yang sedang berbincang di tengah ruangan.
"Setelah ini kita makan siang di luar. Hanya kita berdua. Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan soal rencana pengobatan untuk Dita," ucap Alan pelan, hampir berbisik di telinga Dinda.
Dinda hanya bisa mengangguk patuh. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur Alan begitu peduli pada Dita. Namun di sisi lain, kedekatan ini mulai mengusik hatinya. Ia takut, jika ia terlalu nyaman dengan kehadiran Alan, ia akan kehilangan arah dan melupakan janjinya pada Dika untuk tidak terlalu terlibat dengan "pria kaya" itu.
***
Bersambung...