NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kekuatan super

Pagi itu, matahari bersinar redup di atas kastil megah kaki Gunung Qingcheng. Udara dingin menusuk, tapi Lin Yan sudah berdiri di depan pintu utama sejak pukul 05.00, menunggu adiknya bersiap. Rambut putih pendeknya tertata rapi—model Comma Hair yang membuatnya tampak seperti artis drama versi preman. Rokok di tangan, asap mengepul di udara pagi.

【Kau semalam tidak tidur?】

"Tidur. Tapi bangun jam 4." Lin Yan menghembuskan asap. "Ada yang mengganggu pikiranku."

【Apa?】

"Firasat. Hari ini akan terjadi sesuatu."

Lin Feng keluar dari kastil dengan pakaian latihan—kaos hitam, celana olahraga hitam, sepatu bot. Rambutnya agak berantakan, masih setengah mengantuk. "Jie, pagi-pagi udah ngerokok aja?"

"Ini sarapanku." Lin Yan membuang puntung, menginjaknya. "Ayo. Kita pergi."

"Ke mana?"

"Tempat rahasia."

Mereka naik ke mobil militer hitam. Mesin menderu, melaju meninggalkan gerbang kastil. Dari balik semak, Baihu dan Lang Shen mengawasi, lalu kembali ke hutan.

Satu jam kemudian, mobil berhenti di sebuah area tandus. Tambang batu tua yang sudah lama ditinggalkan. Bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di mana-mana. Debu beterbangan tertiup angin. Suasana sunyi, hanya suara burung gagak di kejauhan.

Lin Feng turun, menatap sekeliling dengan bingung. "Jie, kita ke mana? Ini tempat angker banget. Kayak lokasi syuting film horor."

"Tempat latihan." Lin Yan berjalan ke tengah area tambang, mengamati bongkahan batu. "Kemarin kau sudah latihan lawan zombie di rumah sakit. Sekarang saatnya kau tahu sesuatu."

Lin Feng mendekat, penasaran. "Apa itu, Jie?"

Lin Yan berbalik, menatap adiknya dengan serius. Mata merah delima itu tajam, tidak bercanda. "Feng'er, kau ingat Jie bilang setiap orang punya potensi kekuatan super?"

"Iya. Tapi Jie bilang itu akan muncul bertahap. Mungkin beberapa bulan lagi."

"Betul." Lin Yan menghela napas, mengeluarkan rokok, menyalakannya. "Tapi Jie... sudah punya kekuatanku sekarang."

"HAH?!" Mata Lin Feng membelalak. "JIE SUDAH BISA?! KAPAN?!"

"Sejak awal." Lin Yan mengisap rokok, santai. "Aku sudah punya kekuatan sejak hari pertama di dunia ini."

Lin Feng terdiam, mencerna informasi. Ia menatap kakaknya dengan campuran kaget, heran, dan kagum. "Jadi... selama ini Jie latihan itu..."

"Untuk mengendalikan kekuatan." Lin Yan mengangguk. "Bukan untuk mendapatkannya."

Lin Yan mengangkat tangan kanannya. Ia memejamkan mata sebentar, berkonsentrasi. Seketika, bongkahan batu sebesar mobil di depannya bergetar, lalu perlahan terangkat ke udara.

"ASTAGA!" Lin Feng menjerit, mundur beberapa langkah, hampir jatuh.

Batu itu melayang, berputar perlahan. Lalu bentuknya mulai berubah—menjadi patung naga yang indah dengan detail sisik dan kumis. Lalu berubah lagi—menjadi bola air raksasa yang mengalir di udara. Lalu menjadi bola api yang menyala-nyala. Lalu menjadi tumpukan tanah. Lalu kembali menjadi batu.

"Apa... apa kekuatan Jie?" bisik Lin Feng, suaranya bergetar.

Lin Yan menurunkan tangannya. Batu itu kembali ke tempat semula dengan bunyi gedebuk. Ia mengisap rokok, lalu berkata, "Reality Warper."

"Apa itu?"

"Pengendali realitas." Lin Yan menghembuskan asap. "Aku bisa mengubah realitas sesuai keinginanku. Apa pun yang aku bayangkan, bisa jadi kenyataan. Api, air, tanah, angin, petir yeah semua elemen. Kekuatan fisik, mental, bahkan menciptakan sesuatu dari ketiadaan."

Lin Feng terdiam, mulutnya terbuka. Ia menatap kakaknya seperti melihat dewa. "Jadi... Jie bisa apa aja? Bisa bikin duit? Bisa terbang? Bisa..."

"Teorinya begitu tapi gak gitu juga." Lin Yan memotong. "Tapi praktiknya tidak semudah itu. Butuh konsentrasi, energi, dan batasan. Aku tidak bisa sembarangan mengubah realitas sesuka hati. Ada harga yang harus dibayar."

【Kau jelasin detail ke dia? Apakah tidak masalah?】 suara Sistem Xiyue di kepalanya.

"Dia adikku. Dia berhak tahu."

【...Kau benar.】

Lin Feng duduk di samping kakaknya di atas batu besar. "Jie... keren banget. Tapi kenapa Jie cerita sekarang? Kenapa tidak dari dulu?"

Lin Yan mengisap rokok dalam-dalam, lalu berkata, "Karena sebentar lagi, dunia akan berubah lebih parah. Manusia akan mulai mendapatkan kekuatan. Zombi juga akan berevolusi. Kau harus siap."

Lin Feng tegang. "Evolusi?"

Lin Yan mulai menjelaskan, suaranya datar tapi penuh informasi berharga—seperti dosen yang sedang mengajar, tapi dosen yang suka ngerokok.

"Seminggu ke depan, zombie akan mulai berevolusi menjadi level 2. Mereka lebih cepat, lebih kuat, dan mulai punya kemampuan dasar—beberapa bisa lari cepat, beberapa punya indra tajam, beberapa bahkan bisa memanjat dinding."

Lin Feng mendengarkan dengan saksama, matanya tidak berkedip.

"Yang lebih tinggi levelnya, mereka punya inti kristal di otak. Kristal itu bisa digunakan manusia untuk meningkatkan kekuatan. Seperti di game-game yang kau mainkan dulu."

Lin Feng mengangguk-angguk. "Jadi kita bisa naik level kayak game?"

"Kurang lebih begitu." Lin Yan membuang puntung rokok. "Tapi ini nyata. Kalau kau mati, mati beneran. Tidak ada respawn, memangnya kau pikir ini game beneran."

"Terus manusia? Kekuatan supernya kapan muncul?"

"Mulai sekarang. Bertahap." Lin Yan mengeluarkan rokok baru, menyalakannya. "Setiap orang punya potensi satu kekuatan. Bisa elemen seperti api, air, tanah, angin, petir, es. Bisa fisik kayak kekuatan super, kecepatan, ketahanan. Bisa mental : telepati, telekinesis, membaca pikiran. Atau yang lebih langka, seperti Jie. Tapi kayaknya sih gak akan ada"

"Jadi Jie punya kekuatan langka?"

"Iya. Tapi jangan harap bisa seperti Jie." Lin Yan mengacak rambut adiknya yang hitam legam dan lembut. "Kau akan punya kekuatan sendiri. Nanti akan muncul saat kau dalam tekanan atau situasi ekstrem. Mungkin pas lagi hampir mati."

"HAMPIR MATI?!" Lin Feng melompat. "JIE! Itu menakutkan!"

"Tenang." Lin Yan tersenyum tipis. "Jie akan pastikan kau tidak mati. Hampir mati doang."

"ITU SAMA SAJA!"

Lin Feng menggerutu, tapi akhirnya mengangguk semangat. "Baiklah... aku akan latihan lebih keras, Jie! Aku mau punya kekuatan keren kayak Jie!"

"Bagus." Lin Yan berdiri, membuang puntung rokok. "Sekarang, Jie mau latihan sebentar. Kau lihat dan pelajari. Mungkin ada sesuatu yang bisa kau tangkap."

Lin Yan berjalan ke tengah area tambang yang lebih luas. Ia memejamkan mata, merasakan energi di sekelilingnya sebuah aliran kekuatan yang tak terlihat, tapi terasa oleh batinnya. Lalu, ia mulai bergerak.

Tanah di bawahnya bergetar. Retakan-retakan kecil muncul, menyebar seperti ular. Bongkahan-bongkahan batu besar terangkat satu per satu, melayang di udara dalam formasi melingkar.

Lin Yan menggerakkan tangannya dengan lembut, seperti konduktor orkestra. Batu-batu itu mulai berubah bentuk yang satu menjadi bola api menyala, yang lain menjadi balok es membeku, yang lain menjadi tombak-tombak tanah runcing. Ia menciptakan angin puyuh kecil yang berputar di sekelilingnya, lalu mengubahnya menjadi badai pasir yang mengamuk. Dinding api muncul di kiri kanan, lalu dalam sekejap berubah menjadi air terjun yang membasahi tanah kering.

Lin Feng menyaksikan dengan mulut terbuka lebar. Matanya tidak percaya melihat apa yang ada di depan. Ini seperti menonton film xianxia favoritnya, tapi nyata lebih nyata dari apa pun.

"GILA..." bisiknya. "JIE KUAT BANGET!"

Lin Yan terus bergerak. Ia menciptakan petir-petir kecil yang menyambar batu-batu di sekelilingnya, menghancurkannya jadi kerikil. Lalu kerikil itu berubah menjadi ribuan jarum es yang melayang, siap ditembakkan. Lalu jarum es itu mencair, menjadi air, lalu membeku lagi, berulang-ulang.

Setelah setengah jam, Lin Yan berhenti. Napasnya sedikit tersengal, keringat membasahi pelipis. Area tambang itu sekarang hancur lembur, bekas-bekas ledakan di mana-mana, tanah terbalik, batu-batu hancur berkeping-keping, beberapa masih membara, beberapa membeku. Pemandangan seperti medan perang.

Ia berjalan kembali ke arah Lin Feng, mengeluarkan rokok, menyalakannya dengan jentikan jari—kali ini menggunakan api kecil dari ujung jarinya.

"kayak gitu, tapi usahakan jangan memberitahu orang lain tentang kekuatan ku, mengerti?"

"aku mengerti jie!"

"ternyata cukup menyenangkan latihan biasa," gumamnya santai.

【Latihan biasa katanya. Lu hancurin satu area tambang, bodoh.】

"Namanya juga latihan, kalau gak latihan udah benar-benar ku hancurkan tempat ini"

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara mesin mobil. Beberapa kendaraan, mendekat cepat. Lin Yan menoleh, kekuatan mentalnya yang semakin terasah mendeteksi siapa yang datang.

【Kelompok protagonis pria Gu Beichuan. Mereka datang.]

Lin Yan mengerutkan kening. "Kebetulan sekali."

【Atau mungkin mereka mendengar ledakan dari sini. Radius 5 kilometer. Pasti terdengar.】

Dua mobil militer Mengshi itu berhenti tidak jauh dari lokasi, sekitar 50 meter. Lima pria turun dengan gerakan cepat dan terkoordinasi—Gu Beichuan, Hu Feng, Chen Jie, Wang Lei, dan Zhao Ming. Mereka terpaku melihat pemandangan di depan.

Area tambang itu seperti bekas serangan rudal. Tanah terbalik, batu-batu hancur berkeping-keping, bekas terbakar hitam, bekas beku putih, bekas sambaran petir. Kekacauan total.

Gu Beichuan melangkah maju, matanya mengamati Lin Yan yang sedang duduk di atas batu, merokok dengan santai, dan Lin Feng yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi masih kaget. Tidak ada tanda-tanda mereka baru saja bertarung dengan musuh.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Gu Beichuan, nada waspada tapi tidak mengancam.

Lin Yan menghembuskan asap, menjawab malas, "Latihan biasa."

Hu Feng bersiul panjang, matanya berbinar. "Latihan biasa? Ini kayak bekas bom! Atau serangan rudal! Apa kalian perang sama monster?"

Lin Yan mengangkat bahu. "Aku memang agak keras kalau latihan."

Wang Lei, pria pendiam itu, berjalan memeriksa bekas-bekas di tanah. Wajahnya serius, penuh perhitungan. "Ada bekas api, bekas es, bekas tanah terbalik, bekas sambaran petir... ini seperti diledakkan berbagai elemen. Bukan satu orang, tapi beberapa." Ia menatap Lin Yan curiga. "Kau latihan sama siapa?"

"Sendiri." Lin Yan mengisap rokok.

"Sendiri? Tidak mungkin." Wang Lei menggeleng.

Chen Jie, si intelektual berkacamata, ikut angkat bicara. "Kecuali... kau punya kekuatan lebih dari satu elemen."

Semua mata tertuju pada Lin Yan.

Gu Beichuan menatap Lin Yan tajam. Ia ingat pertemuan kemarin di rumah sakit, dan informasi tentang zombie di utara yang ternyata akurat—mereka hampir saja terjebak kalau tidak cepat pergi. Pria—atau wanita?—ini menyimpan banyak rahasia.

"Kau punya informasi, kan?" tebak Gu Beichuan tiba-tiba. "Tentang apa yang akan terjadi ke depan. Bukan cuma soal zombie, tapi lebih dari itu."

Lin Yan menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil—senyum misterius yang tidak sampai ke mata. Ia menghembuskan asap rokok, dan berkata, "Kau ternyata cukup pintar, ya. Padalah kelihatannya cuma otot."

Gu Beichuan tidak tersinggung. Malah sudut bibirnya naik sedikit. "Aku hanya mengamati. Kemarin kau tahu pergerakan zombie. Sekarang kau di sini, menciptakan kehancuran yang tidak masuk akal. Kau jelas tahu sesuatu yang tidak kami ketahui."

Lin Yan tertawa kecil—tawa yang datar, khas dirinya. "Baiklah. Karena kau pintar, dan anak buahmu lumayan, mungkin kau pantas tahu sedikit."

Ia berdiri, berjalan mendekat. Kelima pria itu siaga, tapi Lin Yan hanya berdiri beberapa meter dari mereka, masih merokok.

"Seminggu ke depan, zombie akan berevolusi. Level 2." Suaranya datar seperti membacakan berita. "Mereka lebih cepat, lebih kuat, dan beberapa mulai punya kemampuan dasar—ada yang bisa lari cepat, ada yang punya indra tajam, ada yang bisa memanjat."

Hu Feng berseru, "Level 2? Jadi zombie bisa naik level kayak game?"

"Seperti game." Lin Yan mengangguk. "Zombie level lebih tinggi akan punya inti kristal di otak. Kristal itu bisa dipakai manusia untuk meningkatkan kekuatan. Makin tinggi level zombie, makin besar kristalnya, makin kuat efeknya."

Wang Lei bertanya, "Manusia juga bisa naik level?"

"Manusia akan mulai mendapatkan kekuatan super. Bertahap." Lin Yan mengisap rokok. "Setiap orang berpotensi satu kekuatan—elemen, fisik, atau mental. Tapi tidak semua orang berhasil membangkitkannya. Ada yang mati sebelum sempat."

Chen Jie mencatat semua informasi itu di tabletnya. "Kau tahu ini dari mana? Ini bukan informasi yang bisa didapat dari firasat biasa."

Lin Yan menatapnya, lalu menjawab, "Dari sumber terpercaya."

"Siapa?"

"Rahasia."

Gu Beichuan menyipitkan mata. "Kau sudah punya kekuatan?"

Lin Yan tersenyum misterius. "Mungkin."

"Kekuatan apa?"

Lin Yan menatapnya lama, lalu berkata, "Rasa ingin tahu membunuh kucing."

Hu Feng terkekeh. "Wah, misterius sekali. Keren."

Gu Beichuan mengerti. Ia tidak mendesak. Orang ini jelas tidak suka didesak. "Kalau begitu, terima kasih informasinya. Setidaknya kami bisa bersiap. Kami punya keluarga dan orang-orang yang harus dilindungi."

"Terserah." Lin Yan berbalik, berjalan ke arah mobilnya. "Feng'er, kita pulang."

Lin Feng menurut, tapi sebelum masuk mobil, ia menoleh ke kelompok Gu Beichuan. Wajahnya polos, tapi matanya berbinar. "Omong-omong, kakakku itu paling malas di dunia. Tapi kalau soal informasi, dia tidak pernah bohong. Dan dia kuat banget. Kalian beruntung dia mau kasih info gratis."

Lin Yan, yang sudah setengah masuk mobil, memukul kepala adiknya pelan. "Banyak bicara. Cepat masuk."

"Aduh! Iya, Jie!" Lin Feng cengengesan, lalu masuk mobil.

Mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan kelompok protagonis yang masih tercenung.

Hu Feng bersiul pelan. "Orang itu... menarik. Dingin, misterius, tapi sepertinya tahu segalanya. Dan adiknya lucu."

Wang Lei menambahkan, "Bekas 'latihan'-nya luar biasa. Dia pasti punya kekuatan dahsyat. Mungkin lebih dari satu elemen."

Chen Jie mengangguk. "Dari pola kerusakan, setidaknya ada 4-5 elemen berbeda. Api, es, tanah, petir, angin. Kalau satu orang bisa menguasai semua itu..."

"Dia monster," potong Zhao Ming, si teknisi muda. "Monster yang baik hati mau kasih info."

Gu Beichuan diam, berpikir. Matanya masih menatap arah mobil itu pergi. "Dia tahu sesuatu yang tidak kita ketahui. Bukan cuma informasi, tapi sepertinya dia tahu masa depan."

"Masa depan?" Hu Feng mengerutkan kening. "Mungkin dia peramal?"

"Atau mungkin... dia dari masa depan?" Chen Jie berteori.

"Sudahlah." Gu Beichuan memotong. "Yang penting, kita punya informasi berharga. Kita harus segera kembali ke markas, siapkan diri. Evolusi zombie, inti kristal, kekuatan super—ini semua akan mengubah segalanya."

Mereka berbalik, naik ke mobil, dan pergi. Di langit, awan kelabu bergulung, pertanda hari-hari sulit akan segera tiba.

Di dalam mobil, Lin Feng menatap kakaknya dengan kagum. "Jie, keren banget tadi! Mereka semua bengong lihat Jie! Apalagi pas Jie bilang 'rasa ingin tahu membunuh kucing'—wah, kayak di film!"

Lin Yan menguap, menyetir santai dengan satu tangan. "Biasa saja."

"Tapi Jie, kenapa tidak bilang soal kekuatan Jie yang sebenarnya? Reality Warper?"

"Rahasia." Lin Yan mengeluarkan rokok, menyalakannya dengan jentikan jari. "Makin sedikit orang tahu, makin aman. Mereka belum perlu tahu detailnya."

【Kau tidak percaya mereka?】

"Aku tidak percaya siapa pun kecuali adikku. Dan mungkin kau, sistem. Tapi kau bukan orang."

【...Kadang aku lupa kau pasien RSJ.】

"Dan jangan lupakan itu."

Lin Feng tiba-tiba bertanya, "Jie, menurut Jie, kekuatanku nanti apa, ya?"

Lin Yan menoleh, tersenyum kecil. "Terserah. Yang penting kau kuat, jangan mati. Nanti kalau kau dapat kekuatan, Jie akan latih kau lebih keras."

"Ah, Jie!" Lin Feng cemberut. "Doain yang baik dong! Jangan mati melulu!"

"Aku mendoakan yang terbaik untukmu." Lin Yan mengacak rambut adiknya dengan satu tangan—gerakan lembut yang kontras dengan penampilannya yang dingin. "Sekarang diam, Jie mau fokus nyetir. Nanti nabrak zombie."

"Iya, iya."

Mobil melaju meninggalkan area tambang, meninggalkan bekas kehancuran yang jadi saksi bisu latihan seorang gadis gila dengan kekuatan dewa. Di belakang, langit semakin gelap. Evolusi zombie akan segera dimulai. Dan manusia harus siap—atau mati.

Lin Yan, dengan segala kegilaannya, sudah siap.

Pertanyaannya, apakah yang lain bisa menyusul?

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!