Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di atas warisan
Deru mesin Nyx dan motor biru Galaksi membelah kesunyian malam menuju kawasan industri di pinggiran kota. Lokasi gudang distribusi keluarga Kencana terletak di area yang cukup terisolasi, tempat yang sempurna untuk sabotase.
"Zelene, status?" bisik Cassia melalui earpiece di balik helmnya.
"Oracle di sini. Tiga motor Vipers terpantau di gerbang belakang. Mereka membawa jeriken bensin, Cassie. Mereka benar-benar mau membakar gudang itu. Polisi butuh sepuluh menit untuk sampai, kalian harus menahan mereka!"
"Sepuluh menit terlalu lama," sahut Galaksi dari motor sebelah. "Cassie, lo tutup jalan keluar mereka. Jangan biarkan satu pun motor lolos. Gue masuk ke dalam."
Cassia mengangguk mantap. Ia memacu Nyx menuju gerbang belakang, sementara Galaksi melesat ke arah pintu utama untuk menghadang para penyabotase.
Di gerbang belakang, Cassia melihat dua orang anggota Vipers sedang bersiap menyiramkan bensin ke tumpukan palet kayu. Salah satu dari mereka adalah orang kepercayaan Zidane yang dulu pernah Cassia kalahkan.
"Berhenti!" teriak Cassia sambil melompat turun dari motornya yang masih menyala.
"Si Hantu lagi?" salah satu dari mereka menyeringai, mengeluarkan sebuah rantai besi dari balik jaketnya. "Kali ini nggak ada Kalingga yang jagain lo, Dek!"
Mereka meremehkan Cassia karena tubuhnya yang ramping. Namun, Cassia bukan lagi gadis yang hanya tahu cara memegang sisir. Dengan gerakan gesit yang ia pelajari dari menonton latihan Acheron, ia menghindari ayunan rantai itu, lalu dengan satu tendangan akurat, ia menjatuhkan jeriken bensin dari tangan lawan lainnya.
Bugh!
Cassia melakukan sweep rendah, menjatuhkan salah satu lawan, lalu mengunci tangannya. "Berani kalian sentuh aset keluargaku, kalian nggak akan pernah bisa jalan lagi!"
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari dalam gudang. Hati Cassia mencelos. Kak Galaksi!
Di dalam gudang, Galaksi sedang berhadapan dengan sisa anggota Vipers. Rupanya, mereka sudah memasang jebakan petasan besar untuk memicu api. Galaksi berhasil melumpuhkan dua orang, namun ia tidak menyadari ada satu orang lagi yang bersembunyi di atas kontainer.
"Sheq, awas!" teriak Cassia yang baru saja masuk setelah membereskan orang di luar.
Cassia tidak berpikir dua kali. Ia melihat sebuah pipa besi yang akan jatuh menimpa Galaksi karena ledakan kecil tadi. Ia berlari dan mendorong Galaksi menjauh.
KRAK!
Pipa itu memang tidak mengenai mereka, tapi serpihan beton dari plafon yang runtuh menggores punggung tangan Cassia hingga berdarah cukup banyak.
"Cassie!" Galaksi menangkap tubuh Cassia. Matanya yang biasanya dingin kini memancarkan amarah yang luar biasa melihat darah mengalir di tangan gadis itu.
Galaksi menoleh ke arah anggota Vipers terakhir. Dengan satu gerakan yang sangat cepat dan brutal, ia melumpuhkan orang itu hingga tak berkutik. "Sudah gue bilang... jangan pernah sentuh dia."
Suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Galaksi segera menarik Cassia keluar sebelum mereka terlihat. Mereka berhenti di sebuah taman kecil beberapa kilometer dari gudang.
Galaksi segera mengambil kotak P3K dari bagasi motornya. Ia menarik tangan Cassia dengan kasar namun gerakannya saat mengobati luka itu sangat lembut.
"Gue bilang jangan ambil risiko bodoh, Cassia!" suara Galaksi meninggi, ia tampak sangat terpukul melihat luka itu. "Kalau tadi pipa itu yang kena lo, gimana?!"
Cassia menatap Galaksi, ia bisa melihat tangan pria itu sedikit gemetar. "Aku nggak bisa biarkan Kakak terluka demi menjaga warisanku, Kak. Kita kan tim."
Galaksi terdiam. Ia menatap wajah Cassia yang kotor terkena debu gudang namun matanya tetap bersinar kuat. Tanpa sadar, Galaksi mendekatkan wajahnya, dahinya bersandar di dahi Cassia.
"Lo benar-benar bikin gue gila," bisik Galaksi pelan.
Tiba-tiba, ponsel Cassia bergetar hebat. Nama 'Kak Lingga' terpampang di layar.
"Halo, Kak?" suara Cassia bergetar.
"Cassie! Kamu di mana?! Kakak baru bangun dan lihat jendela kamu terbuka! Gudang distribusi kita ada yang sabotase, Kakak baru dapat laporan!" suara Kalingga terdengar sangat panik dan penuh kecemasan.
Cassia melirik Galaksi. "Aku... aku lagi sama Kak Galaksi, Kak. Tadi aku nggak sengaja dengar suara motor berisik lewat depan rumah, aku takut, jadi aku telepon Kak Galaksi dan dia ajak aku menjauh dulu."
Kebohongan kecil lagi. Cassia terpaksa melakukannya karena ia tahu Kalingga akan meledak jika tahu adiknya baru saja bertarung di dalam gudang yang terbakar.
Malam itu, setelah kembali ke rumah, Kalingga memeluk Cassia dengan sangat erat. Ia tidak peduli soal kerugian gudang, ia hanya peduli adiknya selamat.
"Maafin Kakak, Cassie. Kakak tidurnya terlalu lelap sampai nggak tahu ada bahaya," ucap Kalingga penuh penyesalan.
Cassia membalas pelukan itu, matanya menatap perban di tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju panjang. "Nggak apa-apa, Kak. Kita aman sekarang."
Namun, saat Cassia masuk ke kamarnya, ia menemukan sebuah kiriman bunga hitam dan sebuah catatan di jendela yang baru saja ia tutup.
Catatan: "Kemenangan kecil di gudang bukan akhir. Phantom, Valkyries, Acheron... kalian semua akan terbakar bersama-sama. —E"
Elara belum menyerah. Dia punya sekutu baru yang lebih gelap dari sekadar geng motor sekolah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...