NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pacu jantung di jalur pantura

Mendengar nama ibunya disebut, Bagas Putra kehilangan kendali. Dia nyaris menerjang Arvin, kalau saja tidak ditahan oleh Eno Surya dan Dewi Laras.

"Lo tahu dari mana?!" bentak Bagas. "Kalau lo bagian dari rencana ini, gue pastiin lo nggak bakal bisa jalan pakai kaki lo sendiri besok!"

Arvin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Wajahnya yang biasa klimis kini terlihat kuyu. "Gue denger pembicaraan bokap gue sama pengacara Pak Gunawan sejam yang lalu. Pak Gunawan tahu kalian dapet bukti di Jakarta. Dia mau pakai Ibu kalian sebagai alat tukar. Kalau kalian nggak serahin bukti itu malam ini, mereka bakal 'ngamanin' keluarga kalian di daerah."

"Laras, hubungi Ibu sekarang!" perintah Bagas cepat.

Tangan Laras gemetar hebat saat menekan tombol panggil. Satu kali, dua kali... hanya nada sambung. Di percobaan ketiga, telepon diangkat.

"Halo, Bu? Ibu di mana?" suara Laras hampir hilang.

"Laras? Ibu di depan rumah, ini ada tamu katanya temen sekolah kamu mau kasih titipan paket..." suara Ibu Laras terdengar tenang di seberang sana, tidak tahu apa-apa.

"IBU MASUK RUMAH! KUNCI PINTU! SEKARANG!" teriak Laras histeris. "Halo? Bu?!"

Telepon terputus.

"Kita balik ke daerah sekarang!" Bagas langsung lari ke arah mobil.

"Gas, pakai mobil gue!" teriak Arvin sambil melempar kunci sedan mewahnya. "Mobil boks kalian nggak bakal nyampe tepat waktu. Mobil gue udah gue modifikasi mesinnya, jauh lebih kencang."

Bagas menangkap kunci itu, menatap Arvin sejenak dengan penuh keraguan. "Kenapa lo bantu kita?"

"Karena gue juga muak jadi boneka mereka, Gas. Udah, jalan!"

Mereka membagi tim. Juna dan Gia tetap di Jakarta bersama Arvin untuk mengurus publikasi bukti di internet sebagai jaminan keamanan—jika terjadi sesuatu pada tim lapangan, bukti itu akan otomatis terunggah ke semua media massa. Sementara Bagas, Laras, Eno, dan Rhea memacu sedan hitam itu menembus kemacetan Jakarta menuju jalan tol.

Bagas mengemudi seperti orang kesetanan. Jarum spidometer menyentuh angka 160 km/jam saat mereka memasuki Jalur Pantura. Di dalam mobil, suasana sangat mencekam. Hanya ada suara deru mesin dan napas mereka yang memburu.

"Eno, hubungi bokapnya Bagas! Pak Surya harus tahu!" teriak Rhea Amara yang duduk di kursi belakang sambil mendekap tas berisi kartu memori berharga itu.

"Nggak bisa, Rhe! Sinyal di sini jelek banget, dan gue rasa mereka pake jammer di sekitar rumah Laras. Gue tadi nyoba telepon Pak Surya tapi dialihkan terus!" sahut Eno yang sibuk dengan dua ponsel di tangannya.

Dua jam perjalanan yang terasa seperti selamanya. Saat memasuki perbatasan kota, mereka melihat sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap melesat berlawanan arah.

"Itu mobil mereka!" Laras menunjuk dengan histeris. "Gue hafal plat nomornya, itu mobil kantor bokap!"

Bagas langsung membanting setir, melakukan U-turn yang sangat tajam di tengah jalan raya sampai ban mobil berdecit nyaring dan meninggalkan bau karet terbakar.

"Pegangan!" teriak Bagas.

Aksi kejar-kejaran pecah di jalanan pinggiran kota yang sepi. Mobil SUV itu menyadari mereka diikuti dan mulai menambah kecepatan. Mereka melintasi jalanan sempit di antara sawah-sawah yang gelap gulita.

"Mereka bawa Ibu!" Laras menangis, melihat bayangan dua orang wanita di kursi belakang SUV tersebut melalui kaca belakang yang samar.

SUV itu mencoba menyenggol mobil mereka agar keluar dari jalanan. Bagas berusaha tetap stabil, meski keringat dingin membanjiri wajahnya.

"Eno! Buka jendela!" perintah Bagas.

"Mau ngapain, Gas?!"

"Lempar apa aja! Ganggu fokus supirnya!"

Eno melihat ke sekitar, lalu dia menemukan botol air mineral besar dan... sepatu basket Bagas yang ada di bawah kursi. Tanpa pikir panjang, Eno melemparkan botol dan sepatu itu ke arah kaca depan SUV tersebut.

DUAK!

Sepatu Bagas menghantam kaca depan SUV tepat di sisi pengemudi. Si pengemudi kaget dan membanting setir ke kiri, membuat mobil itu terperosok ke dalam parit dangkal di pinggir sawah.

BRAAAKK!

Bagas langsung menginjak rem dalam-dalam. Sebelum mobil berhenti sempurna, dia sudah melompat keluar, diikuti Eno yang membawa kunci inggris besar dari bagasi.

"KELUAR LO SEMUA!" teriak Bagas sambil menendang pintu SUV yang ringsek itu.

Pintu terbuka. Dua orang pria berbadan kekar keluar dengan wajah beringas, tapi mereka langsung ciut melihat Bagas yang matanya merah penuh amuk, ditambah Eno yang sudah siap mengayunkan kunci inggris dengan gaya "badut mengamuk".

"Ibu!" Laras berlari ke arah kursi belakang.

Ibu Laras dan Ibu Bagas duduk di sana, tangan mereka terikat tapi mereka selamat, meski sangat ketakutan. Laras langsung memeluk ibunya sambil menangis sejadi-jadinya.

Bagas menatap salah satu pria pesuruh itu yang mencoba lari. Bagas menarik kerahnya dan memberikan satu pukulan telak di rahangnya. "Ini buat Ibu gue!"

BUGH!

Satu pukulan lagi. "Dan ini buat semua teror lo di kampus!"

Setengah jam kemudian, Pak Surya datang bersama tim kepolisian daerah. Ternyata Juna dan Gia berhasil menembus jalur komunikasi darat dan memberikan koordinat GPS mereka.

Di pinggir jalan yang gelap itu, di bawah lampu sorot mobil polisi, Bagas duduk di aspal bersama ibunya yang masih shock. Pak Surya mendekati putranya, meletakkan tangan di bahu Bagas dengan bangga.

"Kamu melakukan tugas Ayah dengan lebih baik, Gas," bisik Pak Surya.

Bagas hanya menunduk, napasnya mulai teratur. Dia melihat Laras yang juga sedang memeluk ibunya di kejauhan. Perang fisik malam ini mereka menangkan. Tapi mereka tahu, di Jakarta, Juna dan Gia sedang meledakkan "bom digital" yang akan mengakhiri kekuasaan Pak Gunawan selamanya.

"Gas," Eno mendekat sambil membawa sepatu basketnya yang tadi dilempar ke sawah. Sepatunya sudah penuh lumpur. "Sepatu lo satu lagi ilang di sawah. Kayaknya kita harus patungan beli sepatu baru dari uang hadiah NYIC."

Bagas tertawa pelan, tawa yang benar-benar lepas. "Ambil aja semua uangnya, No. Yang penting kita masih lengkap."

Tapi di tengah kelegaan itu, Gia menelepon lewat ponsel Laras. Suaranya terdengar sangat tegang. "Guys, kalian harus lihat berita sekarang. Pak Gunawan... dia kabur dari penjara saat kerusuhan di blok tahanan satu jam yang lalu."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!