Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kalian lagi ngapain?" suara bariton Ardan memotong keheningan, menggema dari arah anak tangga. Pria itu berdiri tegak dengan kemeja polosnya, menatap tajam ke arah dua orang yang masih terjebak dalam posisi intim tersebut.
"E-eh... Bang Ardan!" Ayu berseru panik. Secara refleks, ia menarik diri dari pelukan Arga, hampir saja menyenggol meja jika tidak segera menyeimbangkan diri.
Arga berdeham keras, merapikan jasnya dengan gerakan kaku yang berlebihan. Ia mencoba memulihkan harga dirinya yang runtuh, meski sorot matanya yang tidak tenang mengkhianati rasa gugup yang mulai merayap.
"Dia bosmu itu kan?" tanya Ardan dingin, tatapannya mengunci Arga tanpa ragu.
Ayu mengangguk cepat, wajahnya kini sudah sewarna kepiting rebus.
Ardan melangkah mendekat, memperhatikan Arga dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai yang sangat tajam, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh ancaman.
"Dengar ya, Pak Bos. Jika niatmu datang ke sini hanya untuk mempermainkan adikku, lebih baik kau enyah saja ke ujung dunia dan jauhi dia sejauh mungkin," ucap Ardan dengan nada rendah yang menekan. "Tapi... kalau niatmu baik dan bisa membuat adikku bahagia, aku akan menerima kehadiranmu dengan tangan terbuka."
Mata Ayu membulat sempurna. "Bang Ardan! Apa-apaan sih? Ini tidak seperti yang Abang kira!" teriak Ayu panik, tangannya bergerak liar mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya mustahil dijelaskan.
Ardan terkekeh, namun tatapannya tetap tertuju pada Arga. "Aku melihat semuanya dengan mataku sendiri, Ayu. Lagipula, mana ada bos besar yang rela capek-capek mendatangi rumah karyawannya secara mendadak kalau bukan karena ada 'maksud' tertentu? Benar begitu, kan, Bos Arga?"
Arga memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Dalam hati, ia mengumpat habis-habisan pada impulsivitasnya sendiri. Kenapa ia bisa begitu bodoh? Kenapa ia harus repot-repot menyetir sejauh ini hanya untuk menanyakan file yang sebenarnya ia tahu ada di mana?
Ia adalah Arga, CEO yang logis dan dingin. Namun di depan kakak Ayu, ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mengincar permata paling berharga di rumah itu.
Kopi ditanganya yang barusan ia tangkap masih mengepul dan untuk menenangkan diri ia mulai menyeruputnya.
Keheningan yang mencekam itu tiba-tiba pecah bukan oleh amarah, melainkan oleh sebuah pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulut Ardan dengan nada santai
"Jadi... kapan kau akan melamarnya?"
Uhuk! Uhuk-hook!
Arga yang baru saja nekat menyesap kopi panasnya untuk menutupi kecanggungan, langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah padam, sementara tangannya sibuk mencari tisu dengan gerakan panik yang sangat tidak mencerminkan seorang CEO.
Ayu? Gadis itu seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Matanya hampir keluar dari kelopaknya. "Bang Ardan! Mulutnya disekolahin dulu bisa tidak, sih?!" teriak Ayu frustrasi, wajahnya sudah tidak lagi merah, tapi sudah hampir meledak.
Ardan mengabaikan jeritan adiknya. Ia malah melangkah mendekat dan menepuk bahu Arga yang masih terbatuk-batuk dengan cukup keras. "Kenapa? Terlalu mendadak ya? Ya sudah, saya kasih waktu untuk berpikir. Tapi jangan lama-lama, saingan adikku ini banyak. Ada tukang antar paket yang sering tebar pesona, ada juga fotografer seniornya yang sering kasih perhatian lebih."
Arga akhirnya berhasil menguasai dirinya, meski napasnya masih sedikit pendek. Ia berdiri tegak, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah berceceran di lantai rumah Ayu.
"Melamar? Sepertinya Anda salah paham, Tuan Ardan," ucap Arga dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, walau matanya melirik Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hubungan kami murni... profesional."
"Profesional?" Ardan menaikkan satu alisnya, lalu menunjuk ke arah bibir Arga dengan ibu jarinya. "Profesional model apa yang melibatkan bibir bos dan karyawan bertemu di tempat kontruksi semalam? Apa itu bagian dari prosedur SOP terbaru di perusahaanmu?"
Skakmat.
Arga terdiam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ingin rasanya ia menghilang dari bumi saat ini juga. "Bang Ardan, berhenti... aku mohon..." rintihnya pelan.
Ardan tertawa kecil, lalu memakai kacamata hitamnya dan meraih kunci motor di meja. "Ya sudah, saya berangkat kerja dulu. Pak Bos, tolong habiskan kopinya. Kalau mau melamar, pastikan bawa martabak manis kesukaanku Jangan cuma bawa tampang ganteng dan mobil mewah."
Setelah Ardan keluar dan suara motornya menjauh, suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih canggung dari sebelumnya. Arga berdiri kaku, sementara Ayu masih menunduk dalam, tidak berani menatap mata pria yang baru saja menciumnya semalam dan kini secara tidak langsung diminta untuk melamarnya.
Ayu meremas ujung kaosnya, merasa sangat tidak enak dengan kelakuan abangnya yang baru saja pergi. Ia memberanikan diri menatap Arga yang masih berdiri kaku. "Pak Arga... saya minta maaf soal Bang Ardan. Dia memang suka bicara sembarangan, tolong jangan dimasukkan ke hati," ucap Ayu dengan suara kecil.
Arga menatap Ayu. Ada kilat rasa bersalah dan kasihan yang terpancar dari mata elangnya yang biasanya dingin. Pria itu menghela napas panjang, seolah ada beban ribuan ton yang menekan bahunya.
"Ayu," panggil Arga rendah. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, namun auranya terasa sangat jauh. "Maaf. Bukannya aku tidak mau menanggapi ucapan kakakmu. Tapi... sampai detik ini, ada wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak ingin mengkhianati perasaan itu, meski dia tidak ada di sini."
Deg.
Dunia Ayu seolah luruh seketika. Rasa sakit yang tajam dan tak terduga mulai menusuk ulu hatinya. Padahal ia tahu, hubungan mereka hanyalah ikatan profesional antara fotografer dan klien. Tidak kurang, tidak lebih. Tapi entah mengapa, pengakuan Arga barusan terasa seperti vonis mati bagi harapan yang bahkan belum sempat ia pupuk.
"Saya mengerti, Pak," balas Ayu cepat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak getir, berusaha keras menenangkan badai di dalam dadanya. "Dan saya juga tidak pernah berpikir sejauh itu kok. Jadi, Bapak tidak perlu khawatir."
Arga mengangguk pelan, merasa sedikit lega namun juga ada rasa sesak yang aneh. "Aku datang ke sini juga karena ingin meminta maaf soal kejadian semalam di parkiran. Aku..."
"Sudahlah, Pak. Tidak usah dipikirkan lagi," potong Ayu cepat sebelum Arga menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak sanggup mendengar penjelasan tentang ciuman itu jika hanya dianggap sebagai "kecelakaan" atau "pelampiasan".
"Saya sudah melupakannya. Jadi, tidak masalah," lanjut Ayu sambil berbalik badan. Ia memunggungi Arga, menyembunyikan matanya yang mulai menggenang dan suaranya yang mulai bergetar.
"Jika Pak Arga sudah tidak ada urusan lagi, silakan pulang. Ini hari libur saya, dan saya ingin menghabiskan waktu untuk tidur," ucapnya tanpa menoleh lagi. Ayu melangkah menaiki anak tangga satu demi satu dengan kaki yang terasa berat, meninggalkan Arga sendirian di ruang tamu.
Arga berdiri mematung di tengah ruangan berwarna pastel itu. Ia menatap punggung Ayu yang perlahan menghilang di balik pintu kamar atas. Perasaannya berkecamuk hebat,sebuah persimpangan antara rasa bersalah yang mendalam karena telah melukai gadis polos itu, namun di sisi lain, hatinya tetap terkunci rapat untuk satu nama: Yura.
Arga tahu ia baru saja mematahkan sesuatu yang berharga, tapi baginya, berpaling dari Yura adalah sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan. Ia pun berbalik, meninggalkan rumah penuh warna itu menuju dunianya yang kembali kelabu.
Bersambung....
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it